Bandung di Bawah Langit Gelisah

Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan Jumat 07 Nov 2025, 18:54 WIB
Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Banjir pada tanggal 3 November 2025 di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Setengah jam hujan deras dan angin kencang di kawasan Ujungberung, Bandung Timur, pada awal November lalu sudah cukup untuk menguji banyak hal, kekuatan atap rumah warga, kesiapsiagaan aparat, dan kemampuan sistem kota dalam menahan guncangan kecil dari langit. Puluhan rumah rusak, beberapa pohon tumbang, dan aliran listrik terputus di sejumlah titik.

Peristiwa itu bukanlah bencana besar, tetapi peringatan keras. Di kota dengan topografi cekung, dikelilingi pegunungan, dan beriklim lembap seperti Bandung, setiap peristiwa cuaca ekstrem, betapapun singkat selalu membawa pesan bahwa urusan langit dan bumi tak bisa lagi dipisahkan dari urusan tata kelola manusia.

BMKG telah memperingatkan, selama 7–10 hari ke depan, wilayah Bandung Raya akan berada dalam kondisi cuaca dinamis, dipengaruhi oleh Madden-Julian Oscillation dan anomali suhu permukaan laut. Pola awan hujan yang semula terkonsentrasi di siang hari kini bergeser ke sore dan malam. Intensitas angin meningkat, suhu udara siang naik cepat, sementara kelembapan bertahan tinggi. Kombinasi yang sempurna untuk melahirkan hujan lebat, petir, dan angin puting beliung lokal.

Namun, yang lebih menakutkan dari cuaca ekstrem bukanlah kekuatan alamnya, melainkan ketidaksiapan sosial dan kelembagaan kita menghadapinya.

Bandung secara geografis berada di cekungan yang dikelilingi gunung. Setiap tetes hujan yang jatuh di Lembang, Cimenyan, atau Dago pada akhirnya mengalir ke jantung kota seperti Cikudapateuh, Batununggal, dan Gedebage. Ketika volume air meningkat, sistem drainase yang sempit dan saluran yang tersumbat menjadi bumerang. Dalam satu jam, jalan bisa berubah menjadi sungai kecil, dan rumah warga menjadi bendungan darurat.

Fenomena ini berulang setiap tahun, tetapi responsnya seringkali musiman. Kita menunggu laporan rusaknya rumah, baru kemudian muncul reaksi cepat. Kita menunggu genangan menelan jalan utama, baru mengingat pentingnya normalisasi saluran air. Padahal, mitigasi bencana perkotaan seharusnya menjadi kerja harian, bukan hanya reaksi darurat.

Kota Bandung sudah memiliki Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi tiga tantangan klasik yaitu koordinasi sektoral, keterbatasan data, dan lemahnya partisipasi masyarakat.

BPBD bekerja di satu sisi, Dinas PUPR di sisi lain, sementara dinas lingkungan hidup berjuang sendiri mengendalikan sampah yang ikut menumpuk di selokan.

Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Bandung memiliki citra kota kreatif, kota kuliner, dan kota pendidikan. Tapi di tengah semua label itu, kita kerap lupa bahwa Bandung juga kota rawan. Rawan longsor di Cimenyan dan Mandalamekar, rawan genangan di Gedebage, rawan angin kencang di Ujungberung.

Kesiapsiagaan bencana bukan hanya soal logistik dan posko, melainkan juga kemampuan sosial untuk merespons lebih cepat daripada bencananya sendiri. Sayangnya, di tingkat warga, sistem peringatan dini berbasis komunitas belum terbangun secara serius. Warga belum memiliki kanal pelaporan cepat selain media sosial pribadi. Ketika angin datang dan atap beterbangan, kebanyakan hanya berharap pada bantuan spontan tetangga.

Padahal, pengalaman di beberapa kota Asia menunjukkan, community-based disaster risk reduction (CBDRR) terbukti efektif dalam mengurangi dampak bencana mikro. Di Manila, Bangkok, dan Surabaya, sistem peringatan dini sudah terintegrasi sampai level RW dengan pelatihan sederhana. Bandung belum sampai ke sana.

ASN dan Peran Publik Baru

Bagi aparatur sipil negara (ASN) di kewilayahan, bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan ujian manajemen publik. Seberapa cepat mereka mendata kerusakan, mengoordinasikan warga, dan melaporkan kebutuhan logistik darurat menjadi ukuran nyata dari kapasitas birokrasi yang tanggap.

Namun, sering kali, ASN di lapangan bekerja dengan sumber daya minim. Data risiko bencana yang mereka miliki masih berbasis dokumen cetak, tidak terhubung dengan sistem informasi spasial yang dinamis. Padahal, di era digital, setiap laporan warga bisa langsung dipetakan. Setiap kejadian bisa menjadi data. Setiap data bisa menjadi dasar kebijakan real-time.

Kita memerlukan ASN yang tidak hanya administratif, tetapi juga naratif dan proaktif yang mampu menjelaskan risiko kepada warga dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh. Dalam kondisi seperti ini, komunikasi publik menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

Kota modern adalah kota yang mampu membaca langit melalui data.
BMKG telah membuka data cuaca dalam format terbuka. Perguruan tinggi seperti ITB dan Unpad memiliki sistem sensor hujan mikro yang tersebar di beberapa titik. Potensi ini bisa disinergikan menjadi dashboard risiko perkotaan yang diperbarui setiap hari dan diakses publik.

Melalui sistem seperti ini, pemerintah bisa memprediksi area rawan genangan, mengirim peringatan dini ke warga lewat pesan singkat, hingga mengatur jadwal pembuangan sampah agar tidak bersamaan dengan puncak hujan. Kota Bandung memiliki kapasitas intelektual untuk mewujudkan itu, yang dibutuhkan hanyalah kemauan politik dan konsistensi anggaran.

Dalam manajemen risiko, ada satu prinsip sederhana: bencana kecil adalah peringatan besar.
Setiap rumah yang rusak karena angin, setiap pohon tumbang di jalan kota, setiap listrik padam di tengah hujan semua adalah early warning system sosial bahwa sistem kita masih rapuh.

Pemerintah kota perlu menggunakan momentum ini untuk melakukan audit kesiapsiagaan cepat,  berapa posko yang aktif, berapa jalur evakuasi yang layak, dan berapa lama waktu respons setelah laporan masuk. Lebih jauh lagi, Pemkot perlu melibatkan komunitas kampus, relawan, dan dunia usaha dalam membangun kota tangguh iklim (climate-resilient city).

Tidak ada bencana yang benar-benar alami. Semua bencana adalah hasil pertemuan antara alam dan manusia. Jika sistem sosialnya kuat, yang datang hanyalah gangguan. Jika sistemnya rapuh, yang datang adalah tragedi.

Menata Ulang Relasi dengan Alam

Di banyak kota, bencana telah memaksa warga menata ulang relasi dengan alam. Di Bandung, hal itu seharusnya tidak perlu menunggu banjir besar. Mulailah dari hal sederhana seperti tidak menutup saluran air rumah dengan semen, tidak membakar sampah di musim kering, dan menanam pohon di pekarangan.

Namun, perubahan perilaku warga tidak akan terjadi jika pemerintah tidak memberikan contoh yang konsisten. Setiap proyek drainase, trotoar, dan pembangunan jalan harus memiliki komponen mitigasi iklim. Setiap izin bangunan harus memuat kajian risiko lingkungan. Kota yang tangguh bukanlah kota yang tidak pernah kebanjiran, melainkan kota yang mampu belajar dari setiap tetes hujan.

Baca Juga: Ciwidey Segar Menggoda, Jalan Gelap Mengintai Bahaya

Bandung yang kita cintai bukan hanya tentang aroma hujan dan langit kelabu yang romantis. Ia juga tentang kemampuan kita sebagai warga dan birokrasi untuk membaca tanda-tanda zaman.
Cuaca ekstrem adalah ujian, bukan untuk menakuti, tetapi untuk memperkuat cara kita hidup bersama.

Di masa depan, ketika hujan turun deras di sore hari, warga tidak lagi menunggu laporan bencana di televisi. Mereka akan tahu ke mana harus melapor, siapa yang harus dihubungi, dan apa yang harus dilakukan. Itulah wajah baru kota Tangguh yaitu ketika reaksi warga dan birokrasi lebih cepat daripada bencananya sendiri.

Bandung hari ini mungkin masih di bawah langit yang gelisah, tapi justru di sanalah kita diuji, apakah kota ini hanya kreatif di waktu cerah, atau juga tangguh di tengah badai. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Guruh Muamar Khadafi
Analis Kebijakan Ahli Muda, Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta ASN Nasional Lembaga Administrasi Negara
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Jan 2026, 20:53 WIB

Ketika Seni Menjadi Bahasa Mitigasi: Upaya Sesar Lembang Kalcer Menjinakkan Ketakutan Bencana

Sesar Lembang Kalcer memanfaatkan seni dan aktivasi komunitas sebagai bahasa mitigasi untuk membangun kesadaran bencana tanpa menebar ketakutan di Bandung.
Anak-anak berlarian di atas sorot lampu yang menyapu rumput di Titik Kumpul–Backyard, Bandung, sebagai bagian dari aktivasi seni Sesar Lembang Kalcer dalam menyampaikan literasi mitigasi bencana secara ramah.
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 20:12 WIB

Ketika Satu Menit Bisa Mengubah Hati

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh.
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, satu menit mungkin terasa remeh. Tapi di tangan yang tepat, satu menit bisa jadi pengingat, bahkan titik balik untuk yang sedang hilang arah (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: FN)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 18:06 WIB

Kuliah di Bandung, di Menara Gading WEIRD: Catatan untuk 2026

Kawasan kampus yang unggul literasi dan reputasi, tetapi berjarak dari realitas sosial-ekologis kota. Kita menagih kembali tanggung jawab etis akademik.
Ilustrasi mahasiswa di Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Zayyinatul Millah)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 13:09 WIB

Wargi Bandung 'Gereget' Pelayanan Dasar Masyarakat Tidak Optimal

Skeptis terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandung demi pelayanan yang lebih baik.
Braga pada malam hari dan merupakan salah satu icon Kota Bandung, Rabu (3/12/2024). (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nayla Andini)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 11:01 WIB

Kabupaten Brebes Pasar Raya Geowisata Kelas Dunia

Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, memenuhi banyak kriteria untuk menjadi destinasi geowisata.
Fauna awal yang menjelajah Brebes sejak 2,4 juta tahun yang lalu. (Sumber: Istimewa)
Ayo Jelajah 11 Jan 2026, 11:00 WIB

Riwayat Bandit Kambuhan yang Tumbang di Cisangkuy

Cerita kriminal 1941 tentang Soehali residivis yang tewas tenggelam saat mencoba melarikan diri dari pengawalan.
Ilustrasi
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 09:51 WIB

Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Jumat Berkah bukan sekadar soal memberi dan menerima, menjadi momentum yang tepat untuk terus menebar kebaikan dan kebenaran.
Pelaksanaan Jumat Berkah dilakukan secara bergantian oleh masing-masing DWP unit fakultas, pascasarjana, dan al-jamiah (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)
Beranda 11 Jan 2026, 08:09 WIB

Cerita Warga Jelang Laga Panas Persib vs Persija, Euforia Nobar Menyala di Kiaracondong dan Cigereleng

Menurutnya, menyediakan ruang nobar justru menjadi cara paling realistis untuk mengelola antusiasme bobotoh dibandingkan berkumpul tanpa fasilitas atau memaksakan datang ke stadion.
Wildan Putra Haikal bersama kawan-kawannya di Cigereleng bersiap menggelar nobar Persib vs Persija. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)