Pengasuhan Anak di Era Digital

Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan Kamis 06 Nov 2025, 18:50 WIB
Ilustrasi anak-anak Indonesia. (Sumber: Pexels/Teguh Dewanto)

Ilustrasi anak-anak Indonesia. (Sumber: Pexels/Teguh Dewanto)

Subuh hari Senin, 12 Jumadilawal 1447 H, mulai pukul 05.15 s/d 06.30 wib udara terasa sejuk menembus layar gawai para peserta Gerakan Subuh Mengaji (GSM) ‘Aisyiyah Jawa Barat. Dalam edisi ke-295 ini, kajian menghadirkan sosok akademisi dan pendidik inspiratif, Dr. Elfan Fanhas Fatwa Khomaeny. Wakil Rektor III UM Tasikmalaya tersebut  mengajak jamaah merenungi satu tema krusial: Pengasuhan Anak di Era Digital.

Di tengah derasnya arus teknologi, topik ini menjadi refleksi penting bagi keluarga Muslim modern: bagaimana mendidik anak agar tumbuh sesuai fitrahnya di dunia yang serba cepat dan terkoneksi, tanpa kehilangan arah spiritual dan nilai-nilai kemanusiaan.

Era digital membawa dua sisi: peluang dan ancaman. Teknologi menawarkan ruang belajar tanpa batas, namun sekaligus menghadirkan risiko yang menakutkan. Orang tua kini tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga “navigator” moral di tengah samudra informasi.

Dr. Elfan mengingatkan bahwa anak-anak hari ini tidak hidup di dunia digital, melainkan bersama dunia digital. Gawai, media sosial, dan algoritma menjadi bagian dari lingkungan tumbuh mereka. Maka, tantangannya bukan sekadar membatasi akses, tetapi menanamkan nilai agar anak mampu memilah dan memaknai apa yang mereka temui.

Setiap anak memiliki fase tumbuh kembang yang unik: fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Dalam pengasuhan modern, orang tua sering terjebak dalam kecepatan, ingin anak cepat bisa, cepat sukses, cepat dewasa. Padahal, seperti ditegaskan Dr. Elfan, “Setiap fase tumbuh butuh ruang alami agar jiwa anak tidak kehilangan keseimbangannya.”

Anak yang secara biologis “balig” belum tentu “baleg”, belum matang secara psikologis dan spiritual. Al-Qur’an dalam QS Al-Ahqaf ayat 14–15 menegaskan bahwa kedewasaan sejati tercapai saat manusia matang secara fisik, psikis, emosi, dan spiritual, terutama pada usia sekitar 40 tahun. Kematangan ini bukan hanya soal umur, tetapi kemampuan memahami diri, mengelola emosi, dan hidup dengan nilai serta tujuan yang bermakna.

Media digital memberi kemudahan, tetapi juga meninggalkan jejak pada tubuh dan jiwa anak. Kajian psikologi menunjukkan beberapa risiko serius: Cybercrime dan e-bullying yang melukai rasa aman dan kepercayaan diri, Gangguan tidur dan fisik akibat paparan cahaya layar berlebihan, Gangguan emosi dan sosial, di mana anak kehilangan kemampuan empati, fokus, dan komunikasi nyata.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi individu, tapi juga menipiskan kehangatan relasi keluarga. Maka, literasi digital berbasis nilai menjadi kebutuhan mendesak dalam setiap rumah.

Dr. Elfan mengelaborasi pengasuhan modern dengan tiga pendekatan transendensi yang berpadu indah: Pertama, Teori Transcendent Parenting (Sum Sum Lin), Menekankan optimalisasi pemanfaatan media digital dengan kesadaran nilai. Orang tua bukan musuh teknologi, tetapi pemandu yang menuntun anak agar teknologi menjadi alat kebaikan. Kedua, Konsep Self-Transcendence (Paul T. P. Wong), Mengajak manusia melampaui ego diri, dari motivasi eksternal menuju motivasi intrinsik. Kedewasaan sejati lahir ketika seseorang hidup berdasarkan nilai dan norma, bukan sekadar dorongan prestasi atau pengakuan.

Ketiga, Spiritual Transcendence (Ralph L. Piedmont). Menunjukkan dimensi spiritual yang memberi rasa keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri. Dalam konteks keluarga, ini berarti menumbuhkan kesadaran bahwa setiap manusia adalah bagian dari “orkestra kehidupan” saling terhubung, saling menumbuhkan.

Menariknya, hasil penelitian terhadap 6.634 orang tua menunjukkan bahwa semakin baik tingkat holistic transcendent parenting, maka tingkat kecemasan orang tua justru menurun. Mereka yang memandang pengasuhan sebagai ibadah dan perjalanan spiritual lebih tenang menghadapi tantangan anak-anak digital.

Namun ada anomali: pada tingkat holistic parenting yang terlalu tinggi, kecemasan justru meningkat karena ekspektasi yang berlebihan. Orang tua ingin anaknya “sempurna” sesuai nilai ideal, bukan sesuai proses tumbuh yang realistis.

Inilah titik refleksi penting: pengasuhan bukan kompetisi, tetapi perjalanan bersama. Orang tua bukan hakim, tetapi teladan; bukan pengontrol, tetapi penuntun.

Dalam Islam, kedewasaan (balig) bukan sekadar tanda biologis, tetapi juga kematangan spiritual (baleg). QS Al-Ahqaf 14–15 menggambarkan bahwa manusia baru mencapai kesempurnaan diri saat memiliki keseimbangan antara tubuh, pikiran, emosi, dan iman.

Dalam perspektif Paul T. Wong, kedewasaan sejati (self-transcendence) ditandai oleh: Motivasi yang berpindah dari eksternal menuju nilai intrinsik, Kehidupan yang dipandu norma dan makna, Kebahagiaan yang lahir dari rasa kagum, syukur, dan kepuasan batin, Keterhubungan spiritual, merasakan kesatuan hidup dan kehadiran Ilahi dalam keseharian.

Orang tua yang matang dalam spiritualitas akan lebih tenang, sabar, dan realistis menghadapi dinamika anak. Sebab, mereka sadar bahwa tugas pengasuhan adalah menuntun fitrah, bukan mencetak kesempurnaan.

Dr. Elfan menutup kajiannya dengan kalimat yang layak direnungkan:
“Orang tua tidak cukup hanya mendidik. Mereka harus menjadi contoh lebih dulu.”

Anak belajar bukan dari ceramah, melainkan dari kebiasaan. Cara orang tua berinteraksi dengan ponsel, berbicara, mengelola emosi, dan memanfaatkan waktu menjadi cermin pertama bagi anak.

Menjadi digital role model berarti menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan untuk kebaikan, belajar, dan dakwah bukan sekadar hiburan.

Baca Juga: Literasi Digital Sejak Dini, Bekal Anak Masa Kini

Gerakan Subuh Mengaji ‘Aisyiyah Jawa Barat telah menghadirkan ruang reflektif yang sangat dibutuhkan di tengah hiruk pikuk zaman. Dari majelis subuh selama satu jam, tersirat pesan yang jauh melampaui waktu:

Bahwa pengasuhan adalah ibadah panjang, pengabdian penuh cinta, dan investasi spiritual untuk peradaban. Di era digital yang serba canggih, keluarga tetap menjadi madrasah pertama dan utama tempat anak belajar makna, nilai, dan kasih sayang yang tak tergantikan oleh layar apa pun. Semoga. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi, Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Des 2025, 14:47 WIB

Orang Sunda 'Jago'-nya Ciptakan Akronim Nama Makanan yang Lucu dan Gampang Diingat

Semua akronim itu dibuat para penciptanya untuk memudahkan mengingat, selain juga ada unsur heureuy sesuai karakter urang Sunda.
Cimol. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: AWG97)
Beranda 05 Des 2025, 12:58 WIB

Banjir Bandang Cililin Bukan Lagi Bencana Tahunan, Tapi Alarm Kerusakan Hulu Bandung Barat

Air bah menyapu sedikitnya 5 hektare lahan pertanian, puluhan ton ternak ikan, serta merendam sentra wisata kuliner yang menjadi penggerak ekonomi warga.
Seorang pekerja sedang membersihkan wisata kuliner Lembah Curugan Gunung Putri yang diterjang banjir bandang, pada Kamis 4 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 12:54 WIB

Pedagang Kaki Lima dan Parkir Liar Hantui Mobilitas Kota Bandung

Kemacetan Kota Bandung diperparah akibat PKL dan parkir liar yang memakan badan jalan.
Aktivitas pedagang kaki lima mengurangi ruang kendaraan di ruas Jalan Moch. Toha, Kota Bandung, Selasa (2/12/25). (Sumber: Nathania)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 11:54 WIB

Dibangun untuk Olahraga, Taman Fitnes Tak Terawat malah Dipakai Nongkrong

Fasilitas yang berkarat dan kondisi taman yang tak terjaga membuat Taman Fitnes Jl. Teuku Umar tak optimal digunakan.
Tampak depan taman fitnes, dengan suasana sendu disore hari. (02/12/2025) (Sumber: Penulis | Foto: Syafitriani Rahmawati)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 10:46 WIB

Perpaduan Cita Rasa Yoghurt dan Ice Cream Tianlala

Perpaduan yogurt segar dan ice cream lembut di Tianlala menawarkan rasa unik yang sulit dilupakan. Suasananya nyaman, harganya ramah, membuat pengalaman mencicipinya semakin menyenangkan.
Tianlala seperti oase kecil yang bisa membangkitkan mood siapa saja yang lewat. (Sumber: Dok. Penulis).
Ayo Netizen 05 Des 2025, 09:38 WIB

Polemik Beton di Atas Awan, Infrastruktur Ikonik Bandung ‘Warisan RK’

Kritik kepada wali kota bandung atas aksi lempar melempar tanggung jawab terkait Teras Cihampelas.
Tulisan “Teras Cihampelas” yang dulu ramai, sekarang terlihat sunyi dan sepi 
(1/12/2025) (Sumber: Calya Pratista) (Sumber: Calya Pratista | Foto: Calya Pratista)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 08:45 WIB

Pisang Ijo Hadir dengan Inovasi Baru di Bojongsoang

Gerai Pisang Ijo di Bojongsoang menawarkan inovasi dengan es krim fla, dan keju.
Gerai Pisang Ijo menghadirkan cita rasa baru jajanan tradisional melalui perpaduan fla manis, keju, dan es krim yang berlokasi di Jalan Raya Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Sabtu (01/11/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ruth Sestovia Purba)
Beranda 05 Des 2025, 07:38 WIB

Sinyal Krisis Ekologis Mengintai Jawa Barat

Iwang mendesak agar pemerintah memperketat aktivitas di kawasan hutan dan memperkuat penegakan hukum sebelum kondisi berubah menjadi krisis ekologis yang lebih parah.
Air Sungai Cibitung di Kabupaten Bandung Barat meluap akibat tak mampu lagi menahan debit besar akibat hujan deras. (Sumber: sekitarbandung.com)
Beranda 04 Des 2025, 21:52 WIB

Ratusan Hektare Kebun Teh Malabar Hilang: Benarkah Karena HGU Habis dan Lemahnya Pengawasan?

Secara keseluruhan, dalam satu tahun terakhir, sekitar 150 hektare kebun teh telah hilang akibat penyerobotan dan pembabatan liar.
Ilustrasi kebun teh. (Foto: Rashid/Unsplash)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 20:11 WIB

Polisi Tidur Besar dan Tinggi di Batununggal Seakan Tak Ada Habisnya

Polisi tidur di Batununggal yang terlalu besar dan banyak membuat warga terganggu dan membahayakan pengendara.
Salah satu polisi tidur yang ada di jalan tersebut membuat warga resah. Batununggal, Kota Bandung, Selasa 2 Desember 2025. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Alyssa Aura Jacinta)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 18:41 WIB

Parkir liar di Jalan Riau Kota Bandung Rugikan Hak Pengguna Sepeda dan Pejalan Kaki

Jalan Riau Kota Bandung menjadi saksinya saat trotoar dan jalur pesepeda kehilangan haknya.
Kendaraan parkir sembarangan menutup jalur sepeda dan trotoar di Jalan Riau, Kota Bandung, sehingga mengganggu pengguna trotoar dan jalur sepeda.Jln.Riau, Kota Bandung, Jumat, 28 November 2025 (Sumber: Nazira Takiya | Foto: Nazira Tazkiya)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 18:19 WIB

Talenta Pelajar Bandung dan Urgensi Alat Peraga Pendidikan

Talenta pelajar di Bandung banyak yang sulit berkembang karena kondisi sekolah kekurangan alat peraga pendidikan dan fasilitas laboratorium sekolah.
Alat peraga pendidikan di Pudak Training Center Gedebage Bandung (Sumber: Dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 17:53 WIB

Tari Merak dan Dinamika Gen Z, Menari Sambil Mengejar Karier

Usia transisi antara remaja dan dewasa umumnya menjadi masa seseorang membangun karier.
Rani Nurhayani memperagakan keindahan kostum Tari Merak pada Jumat (31/10/2025) di Desa Cangkuang Kulon, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Nadia Khaerunnisa)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 17:45 WIB

Minimnya Penerangan di Sebagian Jalan Soekarno-Hatta Bandung pada Malam Hari

Kurangnya penerangan jalan pada beberapa titik Jalan Soekarno-Hatta Bandung menjadi keluhan warga dan pengguna jalan.
Salah satu ruas jalan Soekarno Hatta Bandung ketika malam hari yang minim dengan  penerangan, Minggu, 30 November 2025, Jalan Soekarno Hatta Bandung. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Sela Rika)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 16:46 WIB

Tahura Gunung Kunci Wisata Alam Bersejarah di Sumedang

Tahura Gunung Kunci di Sumedang bukan hanya tempat wisata alam yang asri, tapi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya penting.
Ruang bunker pertahanan Belanda yang mempunyai 17 ruangan di dalamnya, yang terletak di Desa Citamiyang, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Kamis ( 6/11/2025 ). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Aulira)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 16:35 WIB

Y2K Fever di Bandung: Gaya Lama yang Menjadi Simbol Diri Generasi Z

Gaya Y2K kini kembali menjadi tren lifestyle di kalangan Gen-Z.
Beberapa anak muda sedang berbelanja pakaian bergaya Y2K di toko Disclosure, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, pada Selasa (4/11/2025) (Sumber: Adventia)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 15:21 WIB

Bukan Sekadar Ngopi, Coffee Matter Jadi Tempat Nongkrong Plus Event Komunitas di Bandung

Lagi cari spot ngopi yang santai tapi tetep aesthetic? Coffee Matter bisa jadi jawabannya.
Sajian Coffee Matter. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Najla Fayrus)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 15:06 WIB

Antara Popularitas dan Progres: Sepuluh Bulan Pemerintahan Farhan–Erwin

Refleksi 10 bulan pemerintahan Farhan-Erwin.
Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Jelajah 04 Des 2025, 13:04 WIB

Jejak Lutung Kasarung, Film Indonesia Perdana Diputar di Bandung Tahun 1926

Sejarah pemutaran film Loetoeng Kasaroeng pada 1926 di Bandung, produksi pribumi pertama yang memadukan legenda Sunda, dukungan bangsawan Bandung, serta upaya teknis awal industri film Hindia Belanda.
Para pemain film Loetoeng Kasaroeng. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 12:52 WIB

Evaluasi Program Bandung Smart City: Inovasi Digital Berjalan, Penerapan Masih Tertinggal

Program Bandung Smart City dinilai belum optimal karena aplikasi error, layanan tidak terintegrasi, data lambat diperbarui, dan sosialisasi minim.
Tampilan beranda program layanan Bandung Smart City (Sumber: Website resmi Bandung Smart City | Foto: Screenshot Indah Sari Pertiwi)