Pengasuhan Anak di Era Digital

4 menit baca
Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan
Ilustrasi anak-anak Indonesia. (Sumber: Pexels/Teguh Dewanto)
Ilustrasi anak-anak Indonesia. (Sumber: Pexels/Teguh Dewanto)

Subuh hari Senin, 12 Jumadilawal 1447 H, mulai pukul 05.15 s/d 06.30 wib udara terasa sejuk menembus layar gawai para peserta Gerakan Subuh Mengaji (GSM) ‘Aisyiyah Jawa Barat. Dalam edisi ke-295 ini, kajian menghadirkan sosok akademisi dan pendidik inspiratif, Dr. Elfan Fanhas Fatwa Khomaeny. Wakil Rektor III UM Tasikmalaya tersebut  mengajak jamaah merenungi satu tema krusial: Pengasuhan Anak di Era Digital.

Di tengah derasnya arus teknologi, topik ini menjadi refleksi penting bagi keluarga Muslim modern: bagaimana mendidik anak agar tumbuh sesuai fitrahnya di dunia yang serba cepat dan terkoneksi, tanpa kehilangan arah spiritual dan nilai-nilai kemanusiaan.

Era digital membawa dua sisi: peluang dan ancaman. Teknologi menawarkan ruang belajar tanpa batas, namun sekaligus menghadirkan risiko yang menakutkan. Orang tua kini tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga “navigator” moral di tengah samudra informasi.

Dr. Elfan mengingatkan bahwa anak-anak hari ini tidak hidup di dunia digital, melainkan bersama dunia digital. Gawai, media sosial, dan algoritma menjadi bagian dari lingkungan tumbuh mereka. Maka, tantangannya bukan sekadar membatasi akses, tetapi menanamkan nilai agar anak mampu memilah dan memaknai apa yang mereka temui.

Setiap anak memiliki fase tumbuh kembang yang unik: fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Dalam pengasuhan modern, orang tua sering terjebak dalam kecepatan, ingin anak cepat bisa, cepat sukses, cepat dewasa. Padahal, seperti ditegaskan Dr. Elfan, “Setiap fase tumbuh butuh ruang alami agar jiwa anak tidak kehilangan keseimbangannya.”

Anak yang secara biologis “balig” belum tentu “baleg”, belum matang secara psikologis dan spiritual. Al-Qur’an dalam QS Al-Ahqaf ayat 14–15 menegaskan bahwa kedewasaan sejati tercapai saat manusia matang secara fisik, psikis, emosi, dan spiritual, terutama pada usia sekitar 40 tahun. Kematangan ini bukan hanya soal umur, tetapi kemampuan memahami diri, mengelola emosi, dan hidup dengan nilai serta tujuan yang bermakna.

Media digital memberi kemudahan, tetapi juga meninggalkan jejak pada tubuh dan jiwa anak. Kajian psikologi menunjukkan beberapa risiko serius: Cybercrime dan e-bullying yang melukai rasa aman dan kepercayaan diri, Gangguan tidur dan fisik akibat paparan cahaya layar berlebihan, Gangguan emosi dan sosial, di mana anak kehilangan kemampuan empati, fokus, dan komunikasi nyata.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi individu, tapi juga menipiskan kehangatan relasi keluarga. Maka, literasi digital berbasis nilai menjadi kebutuhan mendesak dalam setiap rumah.

Dr. Elfan mengelaborasi pengasuhan modern dengan tiga pendekatan transendensi yang berpadu indah: Pertama, Teori Transcendent Parenting (Sum Sum Lin), Menekankan optimalisasi pemanfaatan media digital dengan kesadaran nilai. Orang tua bukan musuh teknologi, tetapi pemandu yang menuntun anak agar teknologi menjadi alat kebaikan. Kedua, Konsep Self-Transcendence (Paul T. P. Wong), Mengajak manusia melampaui ego diri, dari motivasi eksternal menuju motivasi intrinsik. Kedewasaan sejati lahir ketika seseorang hidup berdasarkan nilai dan norma, bukan sekadar dorongan prestasi atau pengakuan.

Ketiga, Spiritual Transcendence (Ralph L. Piedmont). Menunjukkan dimensi spiritual yang memberi rasa keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri. Dalam konteks keluarga, ini berarti menumbuhkan kesadaran bahwa setiap manusia adalah bagian dari “orkestra kehidupan” saling terhubung, saling menumbuhkan.

Menariknya, hasil penelitian terhadap 6.634 orang tua menunjukkan bahwa semakin baik tingkat holistic transcendent parenting, maka tingkat kecemasan orang tua justru menurun. Mereka yang memandang pengasuhan sebagai ibadah dan perjalanan spiritual lebih tenang menghadapi tantangan anak-anak digital.

Namun ada anomali: pada tingkat holistic parenting yang terlalu tinggi, kecemasan justru meningkat karena ekspektasi yang berlebihan. Orang tua ingin anaknya “sempurna” sesuai nilai ideal, bukan sesuai proses tumbuh yang realistis.

Inilah titik refleksi penting: pengasuhan bukan kompetisi, tetapi perjalanan bersama. Orang tua bukan hakim, tetapi teladan; bukan pengontrol, tetapi penuntun.

Dalam Islam, kedewasaan (balig) bukan sekadar tanda biologis, tetapi juga kematangan spiritual (baleg). QS Al-Ahqaf 14–15 menggambarkan bahwa manusia baru mencapai kesempurnaan diri saat memiliki keseimbangan antara tubuh, pikiran, emosi, dan iman.

Dalam perspektif Paul T. Wong, kedewasaan sejati (self-transcendence) ditandai oleh: Motivasi yang berpindah dari eksternal menuju nilai intrinsik, Kehidupan yang dipandu norma dan makna, Kebahagiaan yang lahir dari rasa kagum, syukur, dan kepuasan batin, Keterhubungan spiritual, merasakan kesatuan hidup dan kehadiran Ilahi dalam keseharian.

Orang tua yang matang dalam spiritualitas akan lebih tenang, sabar, dan realistis menghadapi dinamika anak. Sebab, mereka sadar bahwa tugas pengasuhan adalah menuntun fitrah, bukan mencetak kesempurnaan.

Dr. Elfan menutup kajiannya dengan kalimat yang layak direnungkan:
“Orang tua tidak cukup hanya mendidik. Mereka harus menjadi contoh lebih dulu.”

Anak belajar bukan dari ceramah, melainkan dari kebiasaan. Cara orang tua berinteraksi dengan ponsel, berbicara, mengelola emosi, dan memanfaatkan waktu menjadi cermin pertama bagi anak.

Menjadi digital role model berarti menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan untuk kebaikan, belajar, dan dakwah bukan sekadar hiburan.

Baca Juga: Literasi Digital Sejak Dini, Bekal Anak Masa Kini

Gerakan Subuh Mengaji ‘Aisyiyah Jawa Barat telah menghadirkan ruang reflektif yang sangat dibutuhkan di tengah hiruk pikuk zaman. Dari majelis subuh selama satu jam, tersirat pesan yang jauh melampaui waktu:

Bahwa pengasuhan adalah ibadah panjang, pengabdian penuh cinta, dan investasi spiritual untuk peradaban. Di era digital yang serba canggih, keluarga tetap menjadi madrasah pertama dan utama tempat anak belajar makna, nilai, dan kasih sayang yang tak tergantikan oleh layar apa pun. Semoga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi publik, eks Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)