Literasi Digital Sejak Dini, Bekal Anak Masa Kini

4 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Ilustrasi teknologi digital di sekitar anak-anak saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ilustrasi teknologi digital di sekitar anak-anak saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)

Anak-anak masa kini tumbuh bersama layar, sebagaimana generasi sebelumnya yang tumbuh bersama buku dan permainan di halaman rumah. Gawai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan sejak usia balita. Anak-anak menonton video kartun di YouTube, bermain gim edukatif, atau ikut panggilan video dengan keluarga jauh. Teknologi digital menawarkan hiburan, kemudahan, sekaligus peluang belajar baru.

Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang ketergantungan layar dan dampaknya terhadap tumbuh kembang anak.

Di sinilah pentingnya literasi digital sejak dini, bukan untuk menjauhkan anak dari teknologi, melainkan untuk menyiapkan mereka agar bijak dan bertanggung jawab di dunia yang serba terhubung.

Antara Hiburan dan Ketergantungan

Fenomena anak-anak yang terlalu lama bermain dengan gadget kini menjadi isu serius di banyak negara. Sebuah survei Kementerian Kominfo (2023) menunjukkan, lebih dari 60% anak Indonesia usia 5–11 tahun menggunakan internet setiap hari, sebagian besar untuk menonton video atau bermain games. Aktivitas ini seringkali tidak diimbangi dengan pendampingan orang tua, sehingga anak mudah terpapar konten yang tidak sesuai usia.

Dampaknya nyata, para ahli kesehatan anak mencatat adanya peningkatan kasus speech delay, gangguan tidur, serta penurunan kemampuan sosial pada anak yang terlalu lama menatap layar.

Namun menariknya, penelitian lain menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu berdampak negative, selama ada pendampingan dan arahan yang tepat. Gadget bukan musuh, melainkan alat yang harus dipahami dan dikelola.

Banyak orang tua mengira literasi digital berarti sekadar bisa menggunakan perangkat atau aplikasi, padahal maknanya jauh lebih dalam. UNESCO (2021) mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan untuk “mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menciptakan informasi melalui teknologi digital secara aman dan etis.”

Artinya, anak-anak bukan hanya diajari cara menonton video atau bermain games, tapi juga belajar mengenali mana informasi yang benar, mana yang menyesatkan, serta bagaimana bersikap sopan dan aman di dunia maya.

Di usia dini, hal ini tentu dilakukan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Misalnya, mengenalkan konsep waktu layar (screen time) melalui permainan, menjelaskan bahwa tidak semua video di internet “benar”, atau mengajak anak membuat konten sederhana, seperti menggambar, bercerita, atau membuat foto bersama yang kemudian dibahas maknanya. Dengan begitu, teknologi menjadi sarana eksplorasi dan pembelajaran, bukan pelarian dari interaksi sosial.

Anak-anak belajar dari meniru. Jika orang tua sibuk menatap layar, anak pun akan menganggap itu hal biasa. Maka, literasi digital di rumah harus dimulai dari keteladanan orang tua. Bukan sekadar melarang, tapi mencontohkan cara berinteraksi sehat dengan teknologi.

Psikolog anak Elizabeth Milovidov (2022) menyebut konsep “co-use” atau penggunaan Bersama, yaitu ketika orang tua ikut terlibat dalam aktivitas digital anak. Misalnya, menonton video bersama lalu berdiskusi tentang pesan di dalamnya. Pendekatan ini terbukti lebih efektif daripada sekadar memberi batas waktu tanpa penjelasan.

Selain itu, penting juga membuat aturan keluarga digital yang disepakati bersama. Misalnya, tidak ada gawai saat makan, waktu layar maksimal dua jam sehari, atau tidak membawa gawai ke kamar tidur. Aturan ini bukan untuk membatasi semata, melainkan untuk melatih disiplin dan kontrol diri.

Lingkungan Kedua Literasi Digital

Literasi digital membantu mereka memahami cara kerja media sosial. (Sumber: Pexels/Akhil Antony)
Literasi digital membantu mereka memahami cara kerja media sosial. (Sumber: Pexels/Akhil Antony)

Pendidikan literasi digital tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga. Sekolah memiliki peran strategis untuk memperkuat nilai-nilai tanggung jawab digital. Guru dapat mengenalkan konsep dasar seperti privasi, keamanan data, dan etika daring dalam bentuk yang mudah dipahami.

Contohnya, salah satu sekolah dasar di Yogyakarta, program “Kelas Aman Digital” melatih anak-anak untuk mengenali hoaks dan belajar berbagi informasi yang baik. Anak diajak bermain peran menjadi “detektif kebenaran”, memeriksa mana berita yang bisa dipercaya. Aktivitas seperti ini membentuk kebiasaan berpikir kritis sejak dini, tanpa harus membuat suasana belajar terasa menegangkan.

Program seperti ini sejalan dengan Kebijakan Literasi Digital Nasional yang dicanangkan pemerintah sejak 2021. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan kemampuan teknis, tapi membangun karakter digital yang sehat, cerdas, beretika, dan berempati.

Anak-anak yang lahir hari ini akan tumbuh di dunia yang jauh lebih kompleks daripada generasi sebelumnya. Dunia mereka dipenuhi algoritma, kecerdasan buatan, dan interaksi lintas budaya di ruang digital. Karena itu, literasi digital bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan bekal hidup utama.

Tanpa kemampuan memilah informasi dan mengatur diri, anak mudah terbawa arus konten yang tak terkendali. Namun dengan literasi digital, mereka belajar mengenali nilai, empati, dan tanggung jawab, kualitas yang membuat manusia tetap manusia di tengah derasnya teknologi.

Membangun literasi digital sejak dini bukan proyek instan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil, mengajak anak berdialog tentang apa yang ia lihat di layar, memberi waktu bermain di alam, membacakan buku, atau sekadar menyediakan ruang hening tanpa notifikasi.

Keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata adalah kunci. Anak perlu tahu bahwa layar hanyalah satu jendela untuk mengenal dunia, bukan dunia itu sendiri. Ketika teknologi diajarkan dengan nilai, maka anak-anak tidak akan sekadar “terampil menggunakan”, tapi juga bijak memilih dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan secara digital.

Baca Juga: Tembok Demokrasi dalam Keadilan Buku-Buku Cetak

Di era ketika layar menjadi bagian dari kehidupan sejak usia dini, literasi digital bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Tugas kita bukan melarang anak berinteraksi dengan teknologi, tetapi membekali mereka dengan kemampuan memahami dan menggunakannya secara sehat.

Seperti bekal perjalanan, literasi digital membantu anak menapaki masa depan dengan arah yang jelas. Ia bukan sekadar soal “bisa pakai gadget”, tapi tentang tumbuh menjadi manusia yang cerdas, kritis, dan berempati di dunia yang semakin terhubung.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)