Kekuasaan Itu Bernama Perawatan: Menerima Tubuh yang Ringkih dan Rentan

7 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Tangan manusia. (Sumber: Pexels/Tan Danh)
Tangan manusia. (Sumber: Pexels/Tan Danh)

Tubuh ideal hanyalah milik segelintir orang. Itu pun masih boleh diragukan. Selebihnya hanyalah buatan. Akal-akalan iklan, algoritma, regulasi, dan industri yang bersekongkol menciptakan tubuh impian yang tak pernah sungguh ada. Tubuh tak lagi sekadar jasad, ia jadi medan politik yang diam-diam mengatur hidup sehari-hari.

Lihatlah syarat kerja yang meminta surat sehat jasmani dan rohani, seolah tubuh yang sakit tak pantas mencari nafkah. Atau ajang pencarian ikon anak daerah, tempat tubuh disaring sebagai lambang moral dan estetika. Wajah cerah, postur tegak, senyum terkendali, tutur lembut, dicari teladan badan.

Bahkan di sekolah, rambut satu sentimeter saat ospek pun bisa jadi ukuran patuh. Di tempat lain, tubuh perempuan dibuka dan diperiksa atas nama kesucian. Begitulah tubuh diatur dan dipertontonkan, seakan-akan ia bukan lagi ruang pribadi, melainkan panggung bagi moral publik.

Perawatan Sebagai Wacana Kekuasaan

Hari-hari belakangan ini, kita menilai kulit dan daging dari piksel yang telah disesuaikan dengan selera kekuasaan. Kita menimbang martabat lewat likes dan views, dan selalu menyesuaikan tubuh agar selaras dengan selera pasar.

Raga dikontrol lewat angka seperti berat badan, kadar lemak, ukuran pinggang, bahkan jumlah langkah per hari. Aplikasi pelacak aktivitas olahraga sangat gandrung. Begitu masifnya pandangan ini sampai kita dibuat malu pada perut sendiri, lipatan-lipatan, curiga pada kulit yang mulai menua.

Kemudian kita diseragamkan atas nama perawatan, dikendalikan oleh ekonomi ketakutan. Maka berhamburanlah uang demi sehat dan investasi di wajah? Sekarang makin tampak bahwa kesehatan adalah konstruksi sosial. Dokter dan pakar medis menentukan normal-tidaknya bentuk tubuh, mereka tidak pernah sekalipun berbicara di ruang hampa. Influencer, endorsement, dan brand ambassador menetapkan mana yang indah.

Ekonomi kapitalistik dan meritokrasi bilang “demi produktivitas”, “demi versi terbaik dari dirimu”. Tapi ujung-ujungnya dipekerjakan dengan upah yang tidak layak. Gaji kita habis hanya untuk “service” badan dan demi mendulang kekayaan si pemilik modal. 

Dan lucunya kita patuh begitu saja, dengan senang hati. Membayar mahal produk skincare, keanggotaan gym, pilates, dan padel. Kita menolak lapar dengan bangga dan gaya, sehat sekaligus branded katanya. Kita menutupi jerawat dengan rasa bersalah, antipati pada komedo dan pori-pori jeruk. Semua dengan biaya yang tidak sedikit.

Kita memoles bahkan menyensor, menilai diri dari sudut pandang penguasa. Kita menjadi sipir bagi tubuh sendiri. Badan ideal, dengan demikian, bukan sekadar fantasi estetika, tapi strategi siasat penguasaan orang lain lewat jalan tubuh-tubuh yang ditaklukan. Sebab dalam tubuh yang dicap bugar dan good looking, dunia dan semua orang terasa lebih mudah menerima kita, begitu bukan yang kita anut selama ini? Sedangkan tubuh yang tak sesuai norma dianggap gagal, kotor, tidak produktif, dan ujungnya disingkirkan.

Menjadi Ringkih

Mari kita pergi ke kenyataan, menengok tubuh kita sendiri yang jauh lebih kompleks dan jujur. Ayo tatap dalam-dalam lewat cermin, temukan dengan jeli bagian-bagian yang kita tutupi sebagai rahasia yang tak diumbar. Ia pastinya adalah campuran antara belikat dan kerempeng, gumpalan yang mudah sangan mudah diejek “gendut”. Atau antara area gelap dan terang yang tak merata, belang. Atau juga ukuran-ukuran privasi yang katanya tidak biasa, membuat kita malu.

Ada tahi lalat di tempat yang tidak kita inginkan, tanda lahir dan tompel berbulu yang bentuknya tak beraturan, atau bagian tertentu yang asimetris. Rambut selalu lepek dan rontok, kulit yang mudah iritasi-alergi, termasuk lipatan tertentu yang cenderung menghitam.

Menyedihkan, semuanya dikutuk oleh keadaan sebatas jelek dan “burik”. Namun inilah kita, yang sungguh berketubuhan tanpa pernah bisa menjadi steril seutuhnya. Kita begitu jago, sering menutupi itu semua dengan rapi. Baju, aksesoris, filter kamera, atau sekadar pose tertentu yang menyembunyikan bagian yang dianggap menjijikan.

Kita lupa, bahwa setiap goresan, tonjolan, atau lekuk yang tidak sesuai standar adalah bukti nyata dari arsip kehidupan yang sangat wajar. Bekas jahitan sehabis jatuh sewaktu kecil dulu, sebaran bintik hitam setelah pemulihan cacar, atau stretch mark di pinggul setelah hamil.

Ilustrasi tren perawatan kecantikan. (Sumber: Ist)
Ilustrasi tren perawatan kecantikan. (Sumber: Ist)

Urat menonjol di betis bapak yang seumur hidup bekerja keras, kaki kapalan ibu yang puluhan tahun berdiri jadi kuli di jongko orang lain. Ada pun kulit menggelap karena paparan matahari bagi para pekerja luar ruang, tangan kasar yang menandai tenaga buruh, punggung bungkuk para lansia yang pernah menanggung berat dunia, bahkan kantung mata yang hitam akibat malam-malam panjang menjaga anak atau bekerja lembur.

Semuanya adalah catatan tubuh yang tak bisa dibuang begitu saja, mereka menyimpan pengalaman. Merekam rintihan kemanusiaa kita. Dan semestinya kita resapi perlahan.

Kerentanan yang Indah

Tubuh terus berubah, ia tak pernah bohong. Ia juga selalu memberi tanda. Ketika kita lelah, ia pegal. Ketika takut, ia gemetar. Ketika sedih, ia menitikkan air mata. Namun beribu-ribu sayang, kita hidup di zaman yang mengajarkan untuk curiga pada banyak fenomena yang terjadi di tubuh sendiri. Tubuh dijadikan proyek perbaikan tanpa henti, diarahkan untuk menjadikannya lebih layak dipandangi secara murahan dengan harga yang tak masuk akal.

Padahal tubuh tak pernah salah. Yang salah adalah cara kita memandangnya, cara kita mengurusnya dalam kubangan nir-kemanusiaan. Kita memuja yang mulus dan memusuhi yang retak, padahal justru di dalam retakan itulah kehidupan yang sebenarnya merekah. Sebab ia bekerja sesuai kaidahnya. 

Sadarlah bahawa tubuh yang waras adalah tubuh yang bisa sakit dan menanggung derita, bagian dari dunia kita. Kulit bisa sobek, daging bisa mengendur, tulang bisa patah. Inilah yang seharusnya kita pahami, sehingga kita bisa memperlakukannya dengan elok.

Sebab tubuh adalah pintu pengalaman paling dasar manusia. Ia jalan penting kesejahteraan kita. Dari tubuh kita belajar anekarupa rasa dan sensasi. Darinya juga kita belajar batas-batas, dari tenaga hingga waktu kesembuhan.

Tubuh adalah jembatan antara “aku” dan dunia luar, celah di mana yang lain bisa masuk memperkaya atau melukai. Tubuh kita tidak kedap dunia. Ia selalu terbuka dan berdialog. Dan di situlah letak keindahannya, bahwa tubuh adalah tempat kita bersentuhan dengan realitas. Sekalipun banyak bahayanya.

Setiap sentuhan adalah pengingat bahwa kita ada. Anak kecil yang memeluk ibunya, tangan teman yang merangkul bahu, pasangan yang bergandengan di trotoar, bahkan tepukan perawat ketika menyuntikkan obat. Percayalah semuanya itu peristiwa tubuh yang sungguh indah. Di baliknya, mungkin ada hangat, nyeri, nyaman, bahkan takut. Entahlah, dunia kita tidak hanya dipahami lewat pikiran, tapi juga lewat kulit dan gesekan yang terjadi di antaranya.

Dan di dalam itulah kita menjadi manusia, menjadi rentan sekaligus, bukan karena satu dan lain hal. Tapi karena semata-mata kita adalah manusia. Kita yang kena pada ketetapan alam, sebagaimana hal-hal lainnya di semesta ini yang melapuk. Bukan karena kita lemah, tapi karena kerentanan adalah bagian dari struktur keberadaan itu sendiri. Fana.

Menerimanya

Dalam bias yang terlanjur mendalam tentang tubuh yang berada di angan-angan, banyak orang mengira akan lekas memulih dan mencapai versi paling menakjubkannya. Berhentilah, sebab sebagian besar darinya hanyalah omong kosong. Semuanya hanya kata-kata manis yang kadung menyesatkan. Telanlah keniscayaan, bahwa tubuh kita itu memang rentan dan rapuh.

Tentu hal ini bukan fatalisme. Tapi sebuah bentuk kesadaran yang hendak mengembalikan pemeliharaan tubuh pada cara-caranya yang wajar. Dengan usaha-usaha yang masuk akal. Makan yang berkualitas, olahraga teratur, dan tidur yang cukup. Berbeda 100% dengan gaya hidup yang elitis.

Tugas kita itu hidup, menjadikan setiap anggota badan dalam keseluruhan tubuh ini terkoneksi, berfungsi, menjalani hari-harinya. Kita hanya mengantarkannya menuju kelak akhir penghabisan, pembusukan ragawi.

Maka dari itu, rangkullah tubuh kita sekarang. Terimalah segala apa yang oleh kekuasaan disebut sebagai kekurangan. Marilah kita berpelukan bersama tubuh-tubuh yang disingkirkan oleh norma sosial kita.

Ada banyak bentuk anti-kemanusiaan yang hingga hari ini masih meminggirkan tubuh. Tubuh disabilitas, misalnya, yang dianggap cacat. Begitu juga tubuh tua yang diabaikan dipandang telah selesai kehilangan masa produktivitasnya. Tubuh perempuan yang diatur, tubuh berwarna yang direndahkan, tubuh pekerja yang dieksploitasi, tubuh ragam gender dan seksualitas yang dibunuh, tubuh miskin yang dikorbankan.

Di sinilah makin kentara bahwa standar tubuh ideal bukan cuma soal estetika, tapi juga politik yang serius. Siapa yang dianggap layak tampil, siapa yang tidak pantas dilihat. Padahal setiap tubuh adalah anugerah semesta, sekecil apapun keberadaannya, adalah perwujudan martabat manusia. Banyak dari rupanya yang hadir tanpa pernah diminta, tapi kenapa yang berbeda malah dipinggirkan?

Menerima tubuh berarti menerima kehidupan sebagaimana adanya. Tubuh bukan musuh yang harus ditundukkan, melainkan teman seperjalanan yang terus mengingatkan bahwa kita hidup di dunia yang sementara.

Tidak apa-apa jika perut tidak rata, tidak apa-apa jika kulit tidak putih, tidak apa-apa jika kita punya banyak bekas luka. Tubuh kita bukan dosa, bukan aib, bukan kegagalan. Ia hanya sedang bercerita. Dan ketika suatu saat tubuh mulai melemah, itu pun bukan akhir. Itu adalah cara tubuh memberitahu bahwa ia sudah bekerja keras menanggung hidup ini bersama kita.

Bahwa di balik segala sakit dan letih, ada cinta yang diam-diam tumbuh. Cinta pada kehidupan yang pernah kita alami, cinta pada tubuh yang tak pernah berhenti menjadi rumah bagi setiap dari kita. Beristirahatlah, berilah jeda sebagai haknya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 07 Jul 2026, 15:29

Jelajah Waduk Saguling, PLTA Surga Budidaya Ikan dan Wisata Favorit Pemancing

Waduk Saguling tidak hanya memasok listrik, tetapi juga menjadi sentra perikanan air tawar dengan puluhan ribu keramba jaring apung di Bandung Barat.

Waduk Saguling. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 10:49

Mengepakkan Sayap Ekonomi Kerakyatan Ketika Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara

Semenjak dinamakan Husein Sastranegara menjadi bandara komersial telah memberikan manfaat yang luas bagi penerbangan domestik maupun internasional.

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 07 Jul 2026, 09:06

Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

Di tengah sepinya Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap bertahan sebagai penjahit pakaian thrifting. Feature ini mengangkat perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus menjaga profesi warisan orang tuanya.

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)