Tahura Djuanda Hadirkan Wisata Edukasi Bernilai Konservasi: Batu Batik dan Flora Langka Jadi Daya Tarik Baru

3 menit baca
Nazwa Revanindyaa
Ditulis oleh Nazwa Revanindyaa diterbitkan
Anggrek terkecil di dubia jadi bintang baru kawasan konservasi (04/11/2025) (Sumber: Dok.pribadi | Foto: Nazwa Revanindya)
Anggrek terkecil di dubia jadi bintang baru kawasan konservasi (04/11/2025) (Sumber: Dok.pribadi | Foto: Nazwa Revanindya)

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, yang terletak di kawasan Dago, Jl. Pakar Bar. Jl. Ir. H. Juanda No.99, Ciburial Kec. Cimenyan, Kabupaten Bandung, bukan hanya menjadi ruang hijau untuk wisata alam, tetapi juga pusat konservasi dan edukasi lingkungan.

Dalam kunjungan lapangan dan sesi wawancara dengan salah satu pengelola kawasan Tahura, terungkap sejumlah fakta menarik yang jarang dipublikasikan, seperti keberadaan batu bermotif batik alami, anggrek terkecil di dunia, hingga bunga bangkai yang hanya mekar dalam siklus tertentu di Tahura, pada Selasa (04/11/2025).

Menurut salah satu staff di ruang informasi yaitu Sonya Nurul Fathiya, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Kec. Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat resmi dibuka untuk umum sejak tahun 1985 dan memiliki luas lebih dari 590 hektare. Kawasan ini merupakan perpaduan antara fungsi konservasi, penelitian, wisata, dan edukasi.

“Tahura bukan sekadar tempat rekreasi. Di sini, kami ingin masyarakat belajar langsung tentang keanekaragaman hayati dan pentingnya menjaga alam,” ujar salah satu staff saat ditemui di ruang informasi.

Salah satu hal yang membedakan Taman hutan raya dengan taman hutan lainnya adalah keberadaan objek wisata yang unik seperti batu batik dan flora langka yang masih terjaga keasliannya. Selain itu, terdapat jalur trekking panjang yang menghubungkan beberapa kawasan alam termasuk Curug Omas.

“Kami mengatur zonasi agar wisata, edukasi, dan konservasi berjalan seimbang. Ada area yang bisa dikunjungi bebas, dan ada yang hanya untuk penelitian,” jelas narasumber.

Kawasan ini ternyata menyimpan keunikan yang belum banyak diketahui publik. Salah satunya adalah batuan bermotif batik, yang terbentuk secara alami dari endapan mineral dan aliran air selama ratusan tahun. Motif pada batu ini menyerupai pola batik sehingga menjadi spot yang diminati pengunjung untuk dokumentasi edukasi dan fotografi.

Tidak hanya itu, di area konservasi flora, terdapat anggrek terkecil di dunia (Taeniophyllum SP) yang hanya berukuran beberapa milimeter. Tahura juga menjadi habitat bunga terkecil di dunia, serta bunga bangkai (Amorphophallus titanum) yang hanya mekar setiap tiga tahun sekali. Siklus mekarnya bunga bangkai bergantung pada kondisi iklim dan stabilitas tanah. Ketika mekar, aromanya sangat kuat dan biasanya langsung menarik perhatian peneliti.

Selain flora, fauna yang menghuni Tahura cukup beragam, mulai dari lutung, monyet ekor panjang, hingga burung endemik seperti elang Jawa. Keberadaan satwa liar ini menjadi indikator ekologis bahwa kawasan hutan masih dalam kondisi sehat dan stabil. Pengunjung bahkan dapat melihat langsung aktivitas satwa tanpa harus masuk terlalu jauh ke dalam hutan.

Tahura juga terus melakukan inovasi melalui sistem tiket digital, pemasangan kamera trap untuk pemantauan satwa, serta program reboisasi yang melibatkan masyarakat sekitar dan komunitas pecinta alam.

“Setiap langkah yang kami lakukan mengarah pada wisata berkelanjutan. Kami ingin wisatawan menikmati alam, tetapi tetap sadar akan peran mereka untuk menjaga kelestariannya,” tambah narasumber.

Baca Juga: Remaja dan Luka Sunyi Dunia Maya

Selain itu, terdapat jalur trekking menuju Curug Koleang, sebuah spot wisata yang sempat ditutup sementara karena kondisi akses yang tidak memungkinkan. Saat ini, pengelola sedang mengembangkan perbaikan akses sehingga ke depannya rute ini dapat dikunjungi kembali oleh wisatawan umum sebagai jalur edukasi konservasi.

Sebelum mengakhiri wawancara, pengelola menyampaikan harapannya untuk generasi muda agar lebih peduli pada keberlangsungan lingkungan.

“Kami berharap anak muda tidak hanya datang untuk foto, tetapi juga belajar dari alam dan ikut menjaga hutan. Pelestarian bukan tugas pengelola saja, tapi tanggung jawab bersama,” tutupnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)