Bervakansi ke Tahura, Medium untuk Menepi dan Menyembuhkan

6 menit baca
Yayang Nanda Budiman
Ditulis oleh Yayang Nanda Budiman diterbitkan
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung (Sumber: Document Pribadi | Foto: Yayang Nanda Budiman)
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda Bandung (Sumber: Document Pribadi | Foto: Yayang Nanda Budiman)

Adakalanya ritme kehidupan yang tengah kita hadapi berjalan monoton dan repetitif. Bangun tidur, mandi, sarapan, kerja, pulang dan tidur kembali untuk mengawali semuanya dari awal.

Apakah hidup yang layak dijalani ketika ia tidak mempunyai makna objektif? Pertanyaan mendasarkan yang sempat diajukan juga oleh Albert Camus dalam Mitos Sisifus.

Sebagai tokoh dalam mitologi Yunani, Sisifus dihukum untuk terjebak dalam siklus absurditas yang serupa: terus-menerus mendorong ke puncak gunung, hanya untuk melihat batu yang ia bawa jatuh kembali. Begitu seterusnya, tanpa akhir dan tidak ada tujuan yang hendak dicapai. 

Jalan Braga Bandung (Sumber: Document Pribadi | Foto: Yayang Nanda Budiman)
Jalan Braga Bandung (Sumber: Document Pribadi | Foto: Yayang Nanda Budiman)

Kota Bandung, dengan segala macam romantisme dan euforia yang dipamerkan di beranda sosial media, tak jarang terasa menyerupai jarum jam yang berputar tak kenal lelah.

Belum genap tidur lelap dengan mimpi indah yang telah kita bayangkan terjadi di masa depan, realitas membangunkan kita kembali untuk segera menyeka wajah dan mempersiapkan diri kembali menerabas sesaknya jalan Pasteur menuju kantor.

Di antara persimpangan jalan Kiaracondong dengan jeda lampu merah yang mengajarkan kita soal kesabaran, ada banyak rekam lelah yang serupa, meski isi kepala sudah mendesak untuk meminta jeda. 

Meski tidak sedang berupaya untuk meromantisir pelarian atasnama penyembuhan, tapi barangkali kita pun menyadari bahwa dalam kehidupan yang padat mesti ada satu ruang khusus untuk menjernihkan kembali isi kepala ke format semula dan menepi sejenak dari ritme rutinitas yang kian menyebalkan.  

Dengan kata lain, bukan untuk mengibarkan bendera putih, melainkan hanya untuk menarik napas agak lebih dalam dari semestinya.

Bertepatan di hari Selasa, layaknya hari Senin, di mana orang-orang sedang benar-benar bertarung dengan tugas-tugas kantor yang padat, saya memutuskan untuk bervakansi ke salah satu sudut Kota Bandung. Namanya, Tahura atau Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda: tempat yang tak hanya menampilkan keasrian, tapi juga menyediakan ruang untuk jeda dan bertahan dalam diam. 

Tahura dan Ruang Jeda dari Ingar-Bingar Kota

Sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Bandung, terdapat jalan yang terlalu besar di daerah Dago yang menuntun saya menuju gerbang utama taman yang cukup luas, asri dan terawat. Serupa dimensi transisi, jalan itu seolah membawa saya melintas dunia lain yang kontradiktif.

Dari suara pimpinan kantor yang marah-marah, suara klakson dan ingar orang-orang di pusat perbelanjaan, menjadi siulan angin yang menggesek dedaunan, kicauan burung yang kawin di ranting dahan, dan gemuruh air yang jatuh dari kejauhan. Di pintu masuk, aroma hutan mempersilahkan saya untuk bergegas masuk lebih dalam. 

Taman Tahura Bandung (Sumber: Document Pribadi | Foto: Yayang Nanda Budiman)
Taman Tahura Bandung (Sumber: Document Pribadi | Foto: Yayang Nanda Budiman)

Berbeda dari destinasi wisata lain yang ramai oleh konsep modernitas, Tahura tampil dalam keasrian dan kesederhanaan. Lebih dari itu, ia serupa teman lama yang menyambut kehadiran kita dengan peluk hangat dalam diam, tapi menenangkan.

Tahura bukan hanya kawasan konservasi, tapi juga ruang penyembuhan: melalui langkah di atas tanah yang lembab, suara dedaunan yang jatuh diam-diam, dari cahaya yang memaksa menerobos ranting-ranting pinus di sepanjang jalan. 

Jarum jam telah menunjukan pukul 8 pagi, langkah perlahan mulai menelusuri jalan setapak, melewati setiap jengkal sejarah yang tertanam di taman ini.

Katanya, kawasan Tahura merupakan bagian dari Hutang Lindung Gunung Pulosari, sebuah cekungan alami yang diperkirakan sudah ada sejak masa purbakala.

Tempat ini kemudian berganti nama menjadi Taman Wisata Alam Curug Dago hingga pada Januari 1985, kawasan ini diresmikan sebagai hutan raya pertama di Indonesia bertepatan dengan hari ulang tahun Ir. H. Djuanda. 

Kawasan Tahura tidak hanya menjadi ekosistem bagi ragam flora dan fauna, terdapat juga sejumlah titik destinasi yang bisa kita sambangi, seperti Goa Jepang, Goa Belanda hingga Curug Omas. Di balik sejarah yang melatar belakanginya, barangkali tak banyak diketahui oleh generasi kita yang terlalu larut dalam layar ponsel pintar. 

Baca Juga: Ketentuan Kirim Artikel ke Ayobandung.id, Total Hadiah Rp1,5 Juta per Bulan

Mengawali perjalanan ini, Goa Jepang menjadi spot destinasi yang pertama disambangi. Berbekal rasa penasaran yang besar, suasana di dalam nampak cukup gelap dan lembab seperti gua-gua pada umumnya.

Namun yang membedakan adalah ia menyimpan pesan yang sudah lama terkubur oleh waktu. Di tengah keheningan,dari dalam sini kita dapat lebih peka mendengar suara hati yang selama ini tersisihkan. 

Di tengah perjalanan panjang itu, nalar mulai berdialog: “Tahura serupa jeda panjang yang seringkali kita abaikan. Padahal, hidup tak sepenuhnya hanya untuk menyelesaikan rutinitas. Sepertihalnya manusia, kita juga berhak untuk jeda sejenak, menikmati hidup dari sudut yang lebih tenang dan diam.”

Kita pun tahu, kota selalu sibuk berkutat dalam kompetisi dan pencapaian. Tapi di sini, kita akan mulai menikmati sisi lain yang tak ditemukan di sudut kota: apa artinya hidup yang tak terburu-buru. Bahkan, untuk jatuh pun ranting akan mendarat pelan, seolah tengah mencari pendaratan yang tepat bahwa tanah tempatnya berlabuh adalah humus yang subur. 

Setapak Jalan untuk Menyembuhkan

Di balik percakapan yang tengah berlangsung, tepat di jantung hutan, sebuah shelter kecil berdiri dari jarak yang tak terlalu dekat. Nampak bukan tempat mewah yang dirancang dengan konsep kekinian dan dipatenkan, hanya sekedar bangunan kayu dengan bangku yang tertata memanjang, tapi cukup untuk menampung segala lelah yang telah saya pikul.

Sembari meregangkan sejenak otot betis yang mulai terasa pegal, perbekalan yang sebelum dibawa telah dihidangkan: nasi timbel dan beberapa potong perkedel yang sebelumnya telah dibeli, tepat sebelum Curug Omas.

Menurut para pengunjung, namanya Perkedel Ceu Kokom. Belum ada informasi yang termuat di Google siapa yang pertama kali mempopulerkannya. Meski lokasinya cukup jauh, tapi jika akhir pekan tempat ini akan selalu disesaki oleh antrian pelanggan. Bahkan, di hari kerja sekalipun, antrian masih nampak mengisi hampir semua kursi.

Tidak heran, karena terkadang rasa yang jujur memang layak untuk dinantikan. Selain perihal citarasa, suasana pun berkontribusi membuatnya semakin istimewa. Di tengah hutan, dengan kondisi fisik yang mulai letih dan pikiran yang perlahan jernih, hidangan sederhana pun terasa serupa jamuan hotel bintang lima. Bagaimana tidak, makan nasi timbel dengan lauk perkedel sambil menatap dedaunan yang diterpa angin, adalah nikmat yang tak bisa didustakan.

Baca Juga: 6 Tulisan Orisinal Terbaik Mei 2025, Total Hadiah Rp1,5 Juta untuk Netizen Aktif Berkontribusi

Kendati jam operasionalnya terbatas dari pukul 8 pagi hingga 4 sore, tapi waktu rasanya berputar jauh lebih pelan dari semestinya. Di Tahura, waktu seolah menurunkan intensitasnya. Entah karena tidak diburu, atau mungkin karena saya baru sadar bahwa selama ini kita terlalu lama menyelami rutinitas kehidupan dalam siklus yang tak pernah dipertanyakan. 

Tak terasa setengah jam dihabiskan hanya untuk duduk diam lebih lama dari yang direncanakan. Mengamati setiap kepakan sayap sepasang burung yang bertengger di tepi dahan, mendengar desir angin yang berbisik pelan. Meski perayaan ini sederhana, tapi ia telah berhasil menjernihkan ruang benak yang selama ini penuh sesak oleh segudang tuntutan. 

Puncaknya, langkah ini telah menyelesaikan perjalanan panjang. Tubuh terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Bukan karena beban telah seluruhnya enyah, tapi karena kita mulai belajar untuk sedikit memberi jeda pada kehidupan yang serba cepat.

Menutup langkah ini, Tahura adalah medium untuk menepi dan menyembuhkan. Ruang dimana saya menyadari bahwa tenang bukan berarti tak berambisi.

Dari Tahura kita belajar bahwa kehidupan bukan soal siapa yang mampu berlari, tapi tentang sadar kapan waktu yang tepat bagi kita untuk berhenti dan memberi sedikit jeda, menghela nafas dalam dan mensyukuri setiap jengkal kehidupan yang selama ini tersisihkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)