Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Memori Penuh Cinta Karedok Leunca Bu Imas, Seuhahnya Bikin Nagih!

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Selasa 23 Des 2025, 20:37 WIB
Penampakan Warung Nasi Ibu Imas (Sumber: Instagram/eatoutbdg)

Penampakan Warung Nasi Ibu Imas (Sumber: Instagram/eatoutbdg)

Kalau ada satu tempat yang bisa dibilang saksi perjalanan hidup saya awal 2010-an, jawabannya bukan kampus, bukan kosan, tapi Warung Nasi Bu Imas. Yups, betul banget kalau warung legendaris di Jalan Balonggede Bandung ini bukan sekadar tempat makan. Ia adalah universitas kehidupan versi kuliner — tempat di mana nasi, sambal, dan filsafat eksistensial karedok leunca bersatu dalam satu piring.

Saya masih ingat betul, sekitar tahun 2010, ketika itu, kawan saya mengajak jalan-jalan belanja ke seputaran Alun-alun. Setelah 5 hari akrab dengan aktus kuliah, ngopi sachet di kos, dan menunggu kiriman uang bulanan seperti menunggu wahyu; saat itu, di antara tumpukan tugas Filsafat Islam, saya dan teman-teman selalu punya satu pelarian spiritual sekaligus biologis: makan karedok leunca di Warung nasi Bu Imas.

Warungnya sederhana — dinding bata setengah terbuka, aroma sambal yang menyerang lobang hidungku, waw begitu kaki saya melangkah masuk ke dalam. Tapi justru di situlah daya tariknya.

Hari itu hari Rabu sore. Kami baru saja selesai kuliah filsafat yang bahasannya berat: eksistensi manusia dalam kerangka metafisik. Kepala pening, perut kosong, hati rapuh. Maka, seperti refleks Ivan Pavlov, kami langsung melangkah ke arah bus DAMRI berangkat ke alun-alun Bandung.

Teman saya, Ridwan, yang paling vokal soal perut, berteriak, “Bu Imas aja, atuh! Sekalian nambah makna hidup lewat sambal!”

Dan benar saja, lima belas menit kemudian kami sudah duduk di kursi kayu panjang dengan meja yang penuh bekas sambal merah menyala. Kami pesan menu khas Bu Imas: ayam goreng dadakan, tahu tempe, sambal ulek, dan karedok leunca.

“Teh, sambalnya banyakin ya,” kata Ridwan dengan percaya diri cengengesan.

Romantisme Karedok Leunca

Yang bikin warung Bu Imas istimewa adalah konsep serba dadakan. Ayamnya baru digoreng kalau dipesan, sambalnya diuleg langsung di cobek batu, dan semua bumbu diracik di depan mata. Tidak ada meal prep, tidak ada fast food, semua bergantung pada momen. Dan di situ letak filosofinya: makan bukan hanya soal kenyang, tapi soal menghadirkan diri sepenuhnya dalam rasa.

Ketika ayam mulai mendesis di minyak panas, aroma bawang dan cabai memenuhi udara. Ridwan pun menatap wajan seperti menatap masa depan.

“Sumpah, hidup tuh kayak ayam ini, ya. Cuma bisa matang kalau digoreng di panas yang tepat,” katanya.

Kami semua tertawa. Tapi di dalam tawa itu, ada kebenaran kecil yang anehnya terasa serius.

Begitu sambalnya datang — merah menyala seperti amarah dosen waktu sidang proposal — kami langsung menyerbu. Dan benar saja: sambal Bu Imas bukan main-main. Pedasnya seperti ujian akhir semester, datang bertubi-tubi tanpa belas kasihan. Tapi di balik perihnya itu, ada kelezatan yang membuatmu ingin terus lanjut. Mungkin, lahirnya istilah “Tobat Sambel” dari manusia yang nggak jera (bhs Sunda: deudeuyeun) makan sambal.

Setiap sendok nasi adalah perjalanan spiritual. Keringat bercucuran, lidah terbakar, tapi hati tenang. Dalam diam, saya sadar: sambal Bu Imas adalah metafora hidup — perih dulu, nikmat kemudian.

Lalu datanglah menu yang paling ikonik: karedok leunca. Bagi orang luar Bandung, mungkin leunca terdengar asing. Buah kecil hijau ini pahit, getir, dan biasanya hanya digemari orang yang sudah punya rasa percaya diri tinggi terhadap lidahnya. Tapi di tangan Bu Imas, leunca berubah jadi karya sastra.

Bumbu kacang yang diulek kasar, daun kemangi yang harum, dan leunca mentah yang renyah menciptakan harmoni rasa yang sulit dijelaskan. Setiap gigitan seperti nostalgia masa muda — ada getir, tapi bikin rindu.

Si Reni, satu-satunya perempuan di kelompok kami, nyeletuk sambil mengunyah, “Karedok leunca tuh kayak cinta pertama. Pahit, tapi kalau udah lewat, malah pengen lagi.”

Kami semua tertawa. Tapi lagi-lagi, di balik tawa itu ada filsafat kecil yang tak bisa dipungkiri: rasa pahit sering kali adalah pengingat paling manis.

Refleksi Filsuf Kuliner

Yang menarik dari Bu Imas bukan cuma makanannya, tapi atmosfernya. Di satu meja, mahasiswa berkacamata tebal berdiskusi soal teori Marx. Di meja sebelah, tukang ojek ngobrol soal ban bocor. Semua lebur dalam aroma sambal dan suara ceplak saat makan. Tidak ada kelas sosial, tidak ada status — semua setara di hadapan cengek.

Bu Imas seolah jadi sosok ibu kos spiritual yang menyediakan kehangatan bagi siapa pun yang singgah. Ia tidak pernah tergesa, tidak pernah marah meski warungnya ramai. Hanya dengan seulas senyum dan ulegan sambal, dia berhasil menciptakan harmoni antara lapar dan bahagia.

Saya sering berpikir, mungkin Bu Imas tanpa sadar adalah seorang filsuf kuliner. Ia tidak bicara tentang teori, tapi praktik. Ia mengajarkan kesabaran lewat proses menggoreng, kejujuran lewat rasa sambal, dan kebersamaan lewat piring yang dibagi ramai-ramai.

Kini, lebih dari satu dekade berlalu, hidup sudah membawa kami ke arah yang berbeda. Ares jadi guru, Rani kerja di luar kota, dan saya menulis artikel ini sambil menyesap kopi sambil membayangkan aroma sambal Bu Imas.

Setiap kali lewat alun-alun, saya menoleh mencari papan warung itu. Kadang masih ada, kadang sudah pindah. Tapi rasanya — rasa itu — tetap hidup di ingatan.

Ada momen-momen dalam hidup yang tidak bisa diulang, tapi bisa selalu diingat lewat aroma. Bagi saya, aroma sambal Bu Imas adalah mesin waktu: mengantar saya kembali ke masa kuliah, ke tawa bersama teman, ke rasa lapar yang jujur, dan ke bahagia yang sederhana.

Baca Juga: Ketenangan di Atas Ketinggian

Warung Nasi Bu Imas mengajarkan satu hal penting: kebahagiaan itu sering datang serba dadakan. Tidak perlu direncanakan, tidak harus sempurna. Kadang, cukup duduk di warung sederhana, makan nasi panas, sambal baru diuleg, dan tawa teman lama.

Sambal Bu Imas adalah pelajaran eksistensial yang tidak akan ditemukan di ruang kuliah mana pun: bahwa hidup, seperti cabai, harus diulek dulu biar keluar rasanya. Bahwa pedas bukan untuk dihindari, tapi untuk dinikmati.

“Hirup mah kawas sambel Bu Imas, nya,” kata si Ridwan dulu, sambil ngos-ngosan. “Pedas, tapi matak kangen.”

Dan saya pikir, dia benar. Karena sampai hari ini, tiap kali makan sambal di mana pun, saya selalu membandingkannya dengan Bu Imas — dan selalu kalah. Bukan karena rasanya saja, tapi karena di dalam setiap ulegannya, tersimpan masa muda, tawa, dan filosofi sederhana:
Bahwa dalam hidup yang serba cepat, kenikmatan sejati justru lahir dari hal-hal yang dibuat dengan pelan, jujur, dan penuh cinta. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)