Memori Penuh Cinta Karedok Leunca Bu Imas, Seuhahnya Bikin Nagih!

5 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Penampakan Warung Nasi Ibu Imas (Sumber: Instagram/eatoutbdg)
Penampakan Warung Nasi Ibu Imas (Sumber: Instagram/eatoutbdg)

Kalau ada satu tempat yang bisa dibilang saksi perjalanan hidup saya awal 2010-an, jawabannya bukan kampus, bukan kosan, tapi Warung Nasi Bu Imas. Yups, betul banget kalau warung legendaris di Jalan Balonggede Bandung ini bukan sekadar tempat makan. Ia adalah universitas kehidupan versi kuliner — tempat di mana nasi, sambal, dan filsafat eksistensial karedok leunca bersatu dalam satu piring.

Saya masih ingat betul, sekitar tahun 2010, ketika itu, kawan saya mengajak jalan-jalan belanja ke seputaran Alun-alun. Setelah 5 hari akrab dengan aktus kuliah, ngopi sachet di kos, dan menunggu kiriman uang bulanan seperti menunggu wahyu; saat itu, di antara tumpukan tugas Filsafat Islam, saya dan teman-teman selalu punya satu pelarian spiritual sekaligus biologis: makan karedok leunca di Warung nasi Bu Imas.

Warungnya sederhana — dinding bata setengah terbuka, aroma sambal yang menyerang lobang hidungku, waw begitu kaki saya melangkah masuk ke dalam. Tapi justru di situlah daya tariknya.

Hari itu hari Rabu sore. Kami baru saja selesai kuliah filsafat yang bahasannya berat: eksistensi manusia dalam kerangka metafisik. Kepala pening, perut kosong, hati rapuh. Maka, seperti refleks Ivan Pavlov, kami langsung melangkah ke arah bus DAMRI berangkat ke alun-alun Bandung.

Teman saya, Ridwan, yang paling vokal soal perut, berteriak, “Bu Imas aja, atuh! Sekalian nambah makna hidup lewat sambal!”

Dan benar saja, lima belas menit kemudian kami sudah duduk di kursi kayu panjang dengan meja yang penuh bekas sambal merah menyala. Kami pesan menu khas Bu Imas: ayam goreng dadakan, tahu tempe, sambal ulek, dan karedok leunca.

“Teh, sambalnya banyakin ya,” kata Ridwan dengan percaya diri cengengesan.

Romantisme Karedok Leunca

Yang bikin warung Bu Imas istimewa adalah konsep serba dadakan. Ayamnya baru digoreng kalau dipesan, sambalnya diuleg langsung di cobek batu, dan semua bumbu diracik di depan mata. Tidak ada meal prep, tidak ada fast food, semua bergantung pada momen. Dan di situ letak filosofinya: makan bukan hanya soal kenyang, tapi soal menghadirkan diri sepenuhnya dalam rasa.

Ketika ayam mulai mendesis di minyak panas, aroma bawang dan cabai memenuhi udara. Ridwan pun menatap wajan seperti menatap masa depan.

“Sumpah, hidup tuh kayak ayam ini, ya. Cuma bisa matang kalau digoreng di panas yang tepat,” katanya.

Kami semua tertawa. Tapi di dalam tawa itu, ada kebenaran kecil yang anehnya terasa serius.

Begitu sambalnya datang — merah menyala seperti amarah dosen waktu sidang proposal — kami langsung menyerbu. Dan benar saja: sambal Bu Imas bukan main-main. Pedasnya seperti ujian akhir semester, datang bertubi-tubi tanpa belas kasihan. Tapi di balik perihnya itu, ada kelezatan yang membuatmu ingin terus lanjut. Mungkin, lahirnya istilah “Tobat Sambel” dari manusia yang nggak jera (bhs Sunda: deudeuyeun) makan sambal.

Setiap sendok nasi adalah perjalanan spiritual. Keringat bercucuran, lidah terbakar, tapi hati tenang. Dalam diam, saya sadar: sambal Bu Imas adalah metafora hidup — perih dulu, nikmat kemudian.

Lalu datanglah menu yang paling ikonik: karedok leunca. Bagi orang luar Bandung, mungkin leunca terdengar asing. Buah kecil hijau ini pahit, getir, dan biasanya hanya digemari orang yang sudah punya rasa percaya diri tinggi terhadap lidahnya. Tapi di tangan Bu Imas, leunca berubah jadi karya sastra.

Bumbu kacang yang diulek kasar, daun kemangi yang harum, dan leunca mentah yang renyah menciptakan harmoni rasa yang sulit dijelaskan. Setiap gigitan seperti nostalgia masa muda — ada getir, tapi bikin rindu.

Si Reni, satu-satunya perempuan di kelompok kami, nyeletuk sambil mengunyah, “Karedok leunca tuh kayak cinta pertama. Pahit, tapi kalau udah lewat, malah pengen lagi.”

Kami semua tertawa. Tapi lagi-lagi, di balik tawa itu ada filsafat kecil yang tak bisa dipungkiri: rasa pahit sering kali adalah pengingat paling manis.

Refleksi Filsuf Kuliner

Yang menarik dari Bu Imas bukan cuma makanannya, tapi atmosfernya. Di satu meja, mahasiswa berkacamata tebal berdiskusi soal teori Marx. Di meja sebelah, tukang ojek ngobrol soal ban bocor. Semua lebur dalam aroma sambal dan suara ceplak saat makan. Tidak ada kelas sosial, tidak ada status — semua setara di hadapan cengek.

Bu Imas seolah jadi sosok ibu kos spiritual yang menyediakan kehangatan bagi siapa pun yang singgah. Ia tidak pernah tergesa, tidak pernah marah meski warungnya ramai. Hanya dengan seulas senyum dan ulegan sambal, dia berhasil menciptakan harmoni antara lapar dan bahagia.

Saya sering berpikir, mungkin Bu Imas tanpa sadar adalah seorang filsuf kuliner. Ia tidak bicara tentang teori, tapi praktik. Ia mengajarkan kesabaran lewat proses menggoreng, kejujuran lewat rasa sambal, dan kebersamaan lewat piring yang dibagi ramai-ramai.

Kini, lebih dari satu dekade berlalu, hidup sudah membawa kami ke arah yang berbeda. Ares jadi guru, Rani kerja di luar kota, dan saya menulis artikel ini sambil menyesap kopi sambil membayangkan aroma sambal Bu Imas.

Setiap kali lewat alun-alun, saya menoleh mencari papan warung itu. Kadang masih ada, kadang sudah pindah. Tapi rasanya — rasa itu — tetap hidup di ingatan.

Ada momen-momen dalam hidup yang tidak bisa diulang, tapi bisa selalu diingat lewat aroma. Bagi saya, aroma sambal Bu Imas adalah mesin waktu: mengantar saya kembali ke masa kuliah, ke tawa bersama teman, ke rasa lapar yang jujur, dan ke bahagia yang sederhana.

Baca Juga: Ketenangan di Atas Ketinggian

Warung Nasi Bu Imas mengajarkan satu hal penting: kebahagiaan itu sering datang serba dadakan. Tidak perlu direncanakan, tidak harus sempurna. Kadang, cukup duduk di warung sederhana, makan nasi panas, sambal baru diuleg, dan tawa teman lama.

Sambal Bu Imas adalah pelajaran eksistensial yang tidak akan ditemukan di ruang kuliah mana pun: bahwa hidup, seperti cabai, harus diulek dulu biar keluar rasanya. Bahwa pedas bukan untuk dihindari, tapi untuk dinikmati.

“Hirup mah kawas sambel Bu Imas, nya,” kata si Ridwan dulu, sambil ngos-ngosan. “Pedas, tapi matak kangen.”

Dan saya pikir, dia benar. Karena sampai hari ini, tiap kali makan sambal di mana pun, saya selalu membandingkannya dengan Bu Imas — dan selalu kalah. Bukan karena rasanya saja, tapi karena di dalam setiap ulegannya, tersimpan masa muda, tawa, dan filosofi sederhana:
Bahwa dalam hidup yang serba cepat, kenikmatan sejati justru lahir dari hal-hal yang dibuat dengan pelan, jujur, dan penuh cinta. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)