Ketenangan di Atas Ketinggian

3 menit baca
Firqotu Naajiyah
Ditulis oleh Firqotu Naajiyah diterbitkan
Puncak panyawangan (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: Firqotu Naajiyah)
Puncak panyawangan (Sumber: dokumentasi penulis | Foto: Firqotu Naajiyah)

Di tengah hiruk pikuk kota yang bergerak tanpa jeda, semakin banyak orang memilih menjauh untuk sejenak berhenti. Alam, dengan jalur pendakian dan udara dinginnya, dipandang sebagai ruang sunyi yang mampu meredakan lelah. Ketinggian menawarkan jarak dari rutinitas harian, sekaligus menghadirkan janji ketenangan yang dipercaya dapat memulihkan diri. Tak heran, mendaki gunung kini tidak lagi sekadar hobi, melainkan bagian dari gaya hidup.

Namun, di balik narasi tentang alam sebagai ruang pemulihan, muncul pertanyaan yang jarang diajukan, apakah ketenangan benar-benar ditemukan hanya dengan berpindah tempat? Ketinggian memang memberi jarak dari kebisingan kota, tetapi tidak selalu menjauhkan seseorang dari beban pikiran yang dibawa.

Di sinilah pendakian perlu dilihat tidak sekadar sebagai pelarian, melainkan sebagai proses yang menuntut kesadaran, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap alam yang disinggahi. Mendaki pada dasarnya merupakan aktivitas fisik yang menuntut ketahanan tubuh dan kesiapan mental.

Perjalanan panjang, jalur yang menanjak, serta kondisi alam yang tidak selalu ramah melatih kekuatan fisik sekaligus kedisiplinan diri. Aktivitas ini mendorong tubuh untuk bergerak aktif, bernapas lebih teratur, dan beradaptasi dengan ritme yang lebih alami. Tidak mengherankan jika hiking kerap dipandang sebagai hobi yang menyehatkan, baik bagi tubuh maupun pikiran.

jalur pendakian gunung tangkuban perahu (Sumber: dokumentasi pribadi | Foto: Firqotu Naajiyah)
jalur pendakian gunung tangkuban perahu (Sumber: dokumentasi pribadi | Foto: Firqotu Naajiyah)

Lebih dari sekadar olahraga, mendaki juga mengajarkan proses. Setiap langkah mengharuskan kehati-hatian, kesabaran, dan kemampuan mengenali batas diri. Tidak semua perjalanan harus berakhir di puncak; keputusan untuk berhenti atau turun sering kali menjadi bagian dari kedewasaan dalam mendaki. Dalam proses inilah, hiking menjadi ruang belajar tentang tubuh dan kesadaran diri.

Daya tarik utama pendakian terletak pada alam yang masih relatif asri dan jauh dari kebisingan kota. Lanskap hijau, udara yang lebih bersih, serta ritme alam yang lebih tenang memberi kesempatan bagi seseorang untuk sejenak melepaskan diri dari tuntutan sehari-hari. Alam menghadirkan ruang jeda tempat untuk memperlambat langkah dan mengamati sekitar dengan lebih sadar.

Berada di tengah alam juga kerap memunculkan perspektif baru. Rasa kecil di hadapan luasnya bentang alam membuat banyak orang lebih reflektif, menyadari bahwa tidak semua hal harus dikejar dengan tergesa. Dalam konteks ini, ketenangan tidak hadir sebagai sesuatu yang instan, melainkan tumbuh dari proses menyatu dengan suasana dan ritme alam.

Meski demikian, ketenangan yang diharapkan dari pendakian tidak selalu hadir sebagaimana dibayangkan. Beban pikiran yang dibawa dari kota sering kali tetap menyertai hingga ke jalur pendakian. Kelelahan fisik, tekanan untuk mencapai puncak, atau ekspektasi berlebihan justru dapat menimbulkan ketegangan baru. Ketinggian memberi jarak secara fisik, tetapi tidak selalu menjauhkan seseorang dari persoalan batin.

Upass Hill - Tangkuban Perahu (Sumber: dokumentasi pribadi | Foto: Firqotu Naajiyah)
Upass Hill - Tangkuban Perahu (Sumber: dokumentasi pribadi | Foto: Firqotu Naajiyah)

Di sinilah muncul ilusi bahwa alam dapat menjadi jawaban atas segala kelelahan. Pendakian kemudian dipahami sebagai pelarian singkat, bukan proses pemulihan yang utuh. Ketika ketenangan dijadikan tujuan utama tanpa kesadaran diri, pengalaman mendaki berisiko kehilangan maknanya.

Seperti sebuah pengingat sederhana, “ketenangan bukan tentang sejauh mana langkah menjauh, melainkan seberapa jujur seseorang berdamai dengan dirinya sendiri.” Ketenangan yang dicari bukan soal seberapa tinggi tempat yang dituju, tetapi seberapa sadar setiap proses yang dijalani.

Baca Juga: Mahasiswa Akuntansi Syariah UIN SGD Bandung Taklukkan KTI Nasional dan Tembus Konferensi Global

Pada akhirnya, ketenangan tidak sepenuhnya menunggu di atas ketinggian. Alam hanya menyediakan ruang; makna dan pemulihan tetap dibentuk oleh cara manusia memaknainya. Mendaki dapat menjadi hobi yang menyehatkan, memberi jeda dari hiruk pikuk, sekaligus ruang belajar tentang batas diri dan tanggung jawab.

Namun, ketika pendakian dipahami semata sebagai pelarian atau solusi instan, ketenangan justru berisiko menjadi ilusi. Barangkali, ketenangan yang dicari bukan sekadar soal seberapa tinggi langkah diambil, melainkan seberapa sadar seseorang menjalani setiap prosesnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Firqotu Naajiyah
Explorer of Impact

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)