Sejak Kapan Pohon Cemara Digunakan jadi Hiasan Natal?

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi Pohon Cemara saat Natal.
Ilustrasi Pohon Cemara saat Natal.

AYOBANDUNG.ID - Saban masuk Desember, pohon cemara mendadak naik pangkat. Dari flora biasa di dataran tnggi pegunungan, ia berubah menjadi pusat perhatian ruang tamu, lobi hotel, hingga pusat perbelanjaan. Lampu dipasang, ornamen digantung, dan hadiah ditumpuk di bawahnya. Pohon Natal hari ini tampak seperti simbol yang sudah final, mapan, dan tak terbantahkan. Padahal, perjalanan sejarahnya panjang, berlapis, dan penuh belokan budaya yang tak selalu rapi.

Jauh sebelum kalender Masehi diperkenalkan, manusia sudah memberi makna khusus pada tanaman hijau yang tidak gugur di musim dingin. Sekitar 2000 tahun sebelum Masehi, bangsa Mesir Kuno menggunakan daun palem hijau dalam ritual penghormatan kepada Ra, dewa matahari, sebagai simbol kemenangan kehidupan atas kematian. Di Roma Kuno, sejak abad ke-2 sebelum Masehi, festival Saturnalia yang berlangsung setiap 17–23 Desember dirayakan dengan menghias kuil dan rumah menggunakan ranting hijau, menandai harapan akan kembalinya musim tanam.

Di Eropa Utara, masyarakat Nordik dan Celtic pada periode pra-Kristen sekitar abad ke-1 hingga ke-8 menganggap cemara dan pinus sebagai tanaman pelindung spiritual. Cabang-cabangnya digantung di pintu rumah untuk menghalau roh jahat selama malam-malam terpanjang dalam setahun. Pada perayaan titik balik matahari musim dingin, sekitar 21 atau 22 Desember, tanaman hijau dibawa masuk ke rumah sebagai simbol bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar mati, meski alam tampak membeku.

Baca Juga: Sejarah Gereja Santo Petrus, Katedral Tertua di Bandung

Tradisi membawa tanaman hijau ke dalam ruang domestik ini menjadi fondasi budaya yang kelak memudahkan cemara “beradaptasi” dengan perayaan Natal. Ketika Kekristenan menyebar luas di Eropa antara abad ke-4 hingga ke-10, praktik lama tidak sepenuhnya dihapus, melainkan diberi makna baru.

Dari Pohon Surga Abad Pertengahan ke Ruang Tamu Modern

Jejak paling awal pohon Natal dalam bentuk yang mendekati versi modern muncul di wilayah Jerman pada Abad Pertengahan. Sekitar abad ke-14 dan ke-15, gereja-gereja di kawasan ini rutin menggelar drama religius menjelang 24 Desember. Dalam pementasan kisah Adam dan Hawa, sebuah pohon cemara digunakan sebagai properti utama untuk melambangkan Taman Eden. Pohon ini dikenal sebagai paradise tree dan dihiasi apel merah sebagai simbol buah terlarang.

Tanggal 24 Desember dipilih bukan tanpa alasan. Dalam kalender liturgi Kristen awal, hari tersebut diperingati sebagai hari Adam dan Hawa. Di masyarakat yang sebagian besar belum bisa membaca, pohon dengan apel merah menjadi alat visual yang efektif. Dari sinilah cemara mulai memperoleh peran simbolis yang lebih permanen.

Baca Juga: Sejarah Black Death, Wabah Kematian Perusak Tatanan Eropa Lama

Dokumentasi tertulis memperkuat cerita ini. Pada tahun 1510, catatan di Riga—kini ibu kota Latvia, saat itu bagian dari wilayah budaya Jerman—menyebutkan sebuah pohon yang dihias dan dipamerkan oleh serikat pedagang sebelum akhirnya dibakar sebagai bagian dari perayaan. Pada tahun 1539, Katedral Strasbourg mencatat penggunaan pohon Natal, meski masih tanpa hiasan. Bahkan, pada akhir abad ke-16, otoritas lokal di wilayah Alsace mengatur tinggi maksimal pohon Natal sekitar delapan Schuh atau sekitar 120 sentimeter, agar tidak berlebihan.

Lukisan karya karya Lawrence Alma-Tadema (1880) tentang Saturnalia (Sumber: Wikimedia)
Lukisan karya karya Lawrence Alma-Tadema (1880) tentang Saturnalia (Sumber: Wikimedia)

Catatan paling terkenal berasal dari tahun 1605, juga di Strasbourg, yang menggambarkan pohon Natal dihiasi apel, mawar kertas, dan permen. Pada periode yang sama, tradisi Christmas pyramid—struktur kayu berbentuk segitiga bertingkat—berkembang di Jerman Timur. Sekitar abad ke-16, kedua tradisi ini melebur, menghasilkan bentuk pohon Natal yang kita kenal: cemara tegak, berhias, dan bercahaya.

Legenda Martin Luther sering ditempatkan di sekitar tahun 1536, ketika tokoh Reformasi Protestan itu disebut terinspirasi oleh cahaya bintang di antara ranting cemara dan menghias pohon dengan lilin. Namun, bukti historis menunjukkan bahwa penggunaan lilin secara luas baru tercatat pada abad ke-17 dan ke-18. Meski begitu, cerita tersebut telanjur hidup dan ikut memperkaya mitologi Natal.

Baca Juga: Sejarah Letusan Krakatau 1883, Kiamat Kecil yang Guncang Iklim Bumi

Pohon Natal mulai menyebar ke luar Jerman pada akhir abad ke-18. Di Inggris, catatan tentang pohon Natal muncul pada 1790-an melalui Ratu Charlotte, istri Raja George III, yang lahir di Mecklenburg-Strelitz, Jerman. Namun, popularitas massal baru meledak setelah tahun 1848, ketika sebuah ilustrasi keluarga Ratu Victoria dan Pangeran Albert di sekitar pohon Natal dipublikasikan luas. Dalam waktu kurang dari satu dekade, pohon Natal menjadi bagian dari budaya rumah tangga kelas menengah Inggris.

Amerika Serikat memiliki perjalanan yang lebih berliku. Komunitas Moravia Jerman di Bethlehem, Pennsylvania, tercatat mendirikan pohon Natal pada tahun 1747. Namun, hingga awal abad ke-19, tradisi ini ditentang keras oleh kalangan Puritan. Bahkan, Undang-Undang Massachusetts tahun 1659 secara eksplisit melarang perayaan Natal. Baru pada 1840-an, seiring gelombang imigrasi Jerman dan perubahan selera budaya, pohon Natal mulai diterima luas. Pada tahun 1851, Mark Carr menjual pohon Natal komersial pertama di New York, menandai lahirnya industri musiman baru.

Revolusi berikutnya datang dari teknologi. Pada 1882, Edward H. Johnson memasang rangkaian 80 lampu listrik berwarna merah, putih, dan biru di pohon Natal rumahnya di New York. Inovasi ini mahal dan eksklusif hingga awal abad ke-20, tetapi perlahan mengakhiri era lilin yang rawan kebakaran. Produksi massal lampu listrik setelah 1900 membuat pohon Natal menyala lebih aman dan lebih lama.

Kekhawatiran lingkungan memunculkan alternatif baru. Pada 1883, Sears, Roebuck & Company mulai menjual pohon Natal buatan dari bulu angsa. Pada 1901, W.V. McGalliard menanam sekitar 25.000 pohon cemara di New Jersey, membuka jalan bagi perkebunan pohon Natal berkelanjutan. Di sisi lain, pohon buatan dari aluminium dan plastik mendominasi pasar pada 1950-an hingga 1960-an.

Ironisnya, Gereja Katolik baru secara resmi mengadopsi pohon Natal Vatikan pada tahun 1982, di bawah Paus Yohanes Paulus II—hampir lima abad setelah tradisi ini mapan di kalangan Lutheran Jerman.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Kini, pohon Natal berdiri di hampir setiap belahan dunia, dari Eropa hingga Asia Timur, dari Amerika hingga negara tropis yang tak pernah mengenal salju. Ia bisa religius, bisa sekuler, bisa juga sekadar dekorasi. Namun satu hal tetap sama sejak ribuan tahun lalu: cemara selalu dipanggil saat manusia ingin merayakan cahaya di tengah gelap.

Pohon Natal bukan sekadar produk tradisi Kristen, melainkan hasil panjang pertemuan ritual kuno, teater abad pertengahan, teknologi modern, dan selera populer. Setiap Desember, ketika cemara kembali berdiri dan lampu dinyalakan, manusia sebenarnya sedang mengulang kebiasaan tua dengan bahasa zaman baru—meyakini, sekali lagi, bahwa musim dingin pasti berlalu.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)