Menonton Kolonialitas di Neftlix: Pinocchio, Pachamama, dan Over the Moon Tidak Hanya Jadi Film Animasi

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Film "Over the Moon" (2020). (Sumber: Netflix)
Film "Over the Moon" (2020). (Sumber: Netflix)

Bayangkan duduk di sofa dengan sebaskom keripik, menonton film animasi di Netflix. Warna‑warna cerah, musik yang mengalun, dan karakter yang lucu membuat kita larut. Tapi pernah nggak sih kepikiran, “Cerita ini sebenarnya tentang apa?” Lebih dari sekadar tontonan dan hiburan? Ketiga film—Guillermo del Toro’s Pinocchio (2022), Pachamama (2018), dan Over the Moon (2020)—secara tak langsung memberi kita cara baru memahami agama, budaya, identitas, dan kekuasaan. Kita bisa membacanya sebagai wacana tentang kolonialisme, pascakolonialisme, dan dekolonialisme, tanpa harus pusing dengan istilah akademik.

Ketiga film ini didistribusikan di platform global Netflix, yang kini menjadi rumah bagi banyak cerita lintas budaya. Paradoks antara komitmen pada inklusivitas atau pendangkalan perspektif yang dengan mudahnya dikomodifikasi. Sebuah fakta yang menunjukkan bahwa cara kita melihat cerita ini sangat dipengaruhi oleh siapa yang memilih dan menyebarkannya ke jutaan pemirsa dunia.

Guillermo del Toro’s Pinocchio (2022)

Kalau kita sudah menonton Pinocchio versi ini, rasanya memang seperti menyimak dongeng yang berbicara dengan nada sangat dewasa. Pinocchio bukan sekadar boneka kayu yang ingin menjadi anak manusia, tetapi tubuh kecil yang terus-menerus ditarik oleh aturan, kepatuhan, hukuman, dan definisi tentang anak baik. Hampir di setiap adegan ada suara normatif yang menekan “jangan menyimpang!”. Del Toro menempatkannya dalam konteks sejarah yang keras, Italia era rezim fasis Mussolini, dengan bayang-bayang militerisme, perang dunia, dan nasionalisme yang menuntut ketaatan total pada negara, gereja, dan otoritas laki-laki.

Latar Gereja Katolik tampil sebagai institusi disipliner—tempat moral, dosa, dan keselamatan diproduksi melalui kepatuhan bukan relasi. Pada saat yang sama, dunia sirkus memperlihatkan sisi lain dari kuasa, soal kapitalisasi tubuh dan talenta. Pinocchio boleh berbeda, asal perbedaannya bisa dijual, dipertontonkan, dan menguntungkan. Di sini kolonialitas bekerja secara halus lewat normalisasi, yang pantas hidup adalah ia yang berguna bagi pasar dan negara.

Del Toro menyisipkan lapisan eksistensial yang sunyi. Ada sosok ilahi—peri kayu dan figur-figur dunia kematian—yang memberi Pinocchio kehidupan tanpa syarat moral tertentu. Ia hidup karena semata diberi kesempatan untuk menjadi. Dunia kematian yang ia masuki berulang kali bukan sekadar ruang hukuman, melainkan ruang kontemplasi tentang kefanaan, pilihan, dan makna eksistensi. Di sana, pertanyaan mendasarnya “apa arti hidup jika waktu terbatas?” Justru melalui relasinya dengan kematian, Pinocchio menemukan kebebasan yang tak bisa dikontrol oleh gereja, negara, maupun pasar.

Pachamama (2018)

Pachamama membawa kita ke pegunungan Andes, ke dunia kosmologi yang berpusat pada Ibu Bumi. Kita mengikuti perjalanan seorang bocah dan teman-temannya Tepulpai dan Naira yang berusaha menyelamatkan artefak leluhur (huaca) dari tangan orang luar. Latar film ini dipenuhi ritual adat, harmoni manusia dan alam, serta simbol-simbol Agama Leluhur.

Namun begitu film ini menolak berhenti pada romantisasi tradisi. Ia memperlihatkan bahwa masyarakat lokal mengalami opresi ganda. Dari atas oleh elite Kekaisaran Inca Empire yang memusatkan kuasa dan ritual resmi, dan dari luar oleh kolonial bersenjata zirah besi (Spanyol) yang datang membawa kekerasan, penjarahan, dan logika dominasi. Artefak leluhur dirampas sebagai simbol pemutusan relasi religius dengan tanah dan nenek moyang. Di sini kolonialisme tampil terang sebagai usaha penghancuran kosmologi.

Dalam tekanan itu, nilai Pachamama menjadi poros perlawanan. Ibu Bumi merupakan subjek yang dihormati—tanah yang hidup, memberi, sekaligus menuntut tanggung jawab. Relasi dengan alam bersifat timbal balik bukan eksploitatif. Maka perjuangan anak-anak dalam film ini tidak sekadar menyelamatkan benda, tetapi menjaga keseimbangan dunia dengan mempertahankan cara hidup yang melihat bumi sebagai ibu. Di situlah wajah dekolonial yang hidup muncul, keberanian, imajinasi, dan kesadaran bahwa identitas budaya selalu dinegosiasikan di tengah tekanan kuasa yang bertingkat.

Over the Moon (2020)

Sebuah musikal animasi yang mengikuti perjalanan seorang anak perempuan, Fei Fei, yang membangun wahana ke bulan untuk bertemu Dewi Chang’e dari legenda Tiongkok. Secara visual ia penuh warna, lagu, dan imajinasi khas film anak-anak. Namun di kedalamannya, film ini menghadirkan dialektika yang menarik antara sains, mitologi, dan emosi keluarga. Fei Fei memulai perjalanannya dengan logika astronomi—perhitungan roket, eksperimen, pembuktian ilmiah bahwa bulan bisa dijangkau. Ia percaya sains dapat “membuktikan” keberadaan Chang’e. Tetapi ketika ia tiba di sana, dunia yang ditemuinya adalah lanskap religiusitas dan pengalaman personal yang hidup.

Film "Over the Moon" (2020). (Sumber: Netflix)
Film "Over the Moon" (2020). (Sumber: Netflix)

Ketegangan produktif itu bekerja ketika sains modern dan imajinasi kartun anak-anak tidak saling meniadakan, malah berdialog dengan tradisi. Legenda Chang'e tampak sebagai memori kolektif yang dirawat melalui ritual seperti kue bulan dan altar penghormatan bagi ibu yang telah tiada. Bulan menjadi ruang pertemuan antara rasionalitas dan duka, antara teknologi dan kenangan. Fei Fei tidak hanya ingin membuktikan mitos, juga sedang bernegosiasi dengan kehilangan ibunya, mencoba mempertahankan kesetiaan pada memori keluarga di tengah perubahan.

Nilai bakti dan kelekatan keluarga menjadi poros emosional film ini. Tradisi adalah jembatan yang menghubungkan generasi—antara anak, orang tua, dan mereka yang telah meninggal. Dengan begitu, film ini dapat dimaknai sebagai usaha menempatkan mitologi Tiongkok menjadi pusat narasi, menunjukkan bahwa modernitas ilmiah dan warisan tradisi dapat berdampingan. Dunia tidak harus dipahami hanya lewat satu bahasa pengetahuan. Ada ruang bagi sains, bagi imajinasi, dan bagi kesetiaan pada nilai keluarga yang membentuk kita.

Baca Juga: Kenangan Indah Menonton Film di Bioskop Bandung Era 1980-an dalam Nuansa Ramadan

Tontonan, Tuntunan

Jika kita melihat Pinocchio, Pachamama, dan Over the Moon secara bersamaan, tampak sebuah pola tentang bagaimana cerita bekerja dalam relasi kuasa. Pinocchio memperlihatkan narasi dominan yang membentuk standar moral yang terasa normal, padahal lahir dari struktur nilai tertentu. Pachamama menunjukkan bahwa budaya lokal tidak hanya menjadi korban dominasi, tetapi mampu bernegosiasi dan bertahan melalui ingatan, ritual, dan solidaritas komunitas. Sementara Over the Moon membuka ruang alternatif, menempatkan mitologi dan pengalaman non-Barat sebagai pusat cerita. Ketiganya memperlihatkan bahwa kisah bukan sekadar hiburan di layar gawai, akan tetapi bermanifestasi jadi arena tempat aturan, perlawanan, dan pembebasan saling berkelindan.

Kehadiran ketiga film ini di balik industri raksasa Netflix patut dicatat bahkan dicurigai, mengingatkan kita bahwa distribusi cerita berlangsung di era algoritma, strategi pasar, dan kurasi global yang ikut menentukan narasi mana yang menjangkau jutaan penonton. Artinya, menikmati film hari ini juga berarti menyadari logika produksi dan sirkulasi yang membingkainya. Cerita-cerita lokal bisa tampil mendunia, tetapi selalu dalam negosiasi dengan kepentingan cuan. Kesadaran ini membuat kita tidak hanya menjadi konsumen, juga penonton yang peka terhadap konteks di balik layar.

Begitulah, menonton menjadi lakon yang reflektif. Ketiga film tersebut mengajak kita bertanya, cerita mana yang selama ini kita anggap wajar? Siapa yang diberi ruang berbicara? Dan apa yang berubah ketika suara dari pinggiran tampil di panggung utama? Cerita selalu bergerak—mengikuti perubahan zaman, identitas, dan perjumpaan budaya. Karena itu, tugas kita sebagai penonton tidak hanya menekan tombol “play” saja, yang lebih penting membuka diri pada kemungkinan makna yang berlapis. Di sanalah film dengan akses berlangganan itu menjadi lebih dari tontonan, ia menjadi tuntunan bercermin, sekaligus jendela, untuk melihat dunia dengan mata yang baru. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)