Menonton Kolonialitas di Neftlix: Pinocchio, Pachamama, dan Over the Moon Tidak Hanya Jadi Film Animasi

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Rabu 18 Feb 2026, 11:25 WIB
Film "Over the Moon" (2020). (Sumber: Netflix)

Film "Over the Moon" (2020). (Sumber: Netflix)

Bayangkan duduk di sofa dengan sebaskom keripik, menonton film animasi di Netflix. Warna‑warna cerah, musik yang mengalun, dan karakter yang lucu membuat kita larut. Tapi pernah nggak sih kepikiran, “Cerita ini sebenarnya tentang apa?” Lebih dari sekadar tontonan dan hiburan? Ketiga film—Guillermo del Toro’s Pinocchio (2022), Pachamama (2018), dan Over the Moon (2020)—secara tak langsung memberi kita cara baru memahami agama, budaya, identitas, dan kekuasaan. Kita bisa membacanya sebagai wacana tentang kolonialisme, pascakolonialisme, dan dekolonialisme, tanpa harus pusing dengan istilah akademik.

Ketiga film ini didistribusikan di platform global Netflix, yang kini menjadi rumah bagi banyak cerita lintas budaya. Paradoks antara komitmen pada inklusivitas atau pendangkalan perspektif yang dengan mudahnya dikomodifikasi. Sebuah fakta yang menunjukkan bahwa cara kita melihat cerita ini sangat dipengaruhi oleh siapa yang memilih dan menyebarkannya ke jutaan pemirsa dunia.

Guillermo del Toro’s Pinocchio (2022)

Kalau kita sudah menonton Pinocchio versi ini, rasanya memang seperti menyimak dongeng yang berbicara dengan nada sangat dewasa. Pinocchio bukan sekadar boneka kayu yang ingin menjadi anak manusia, tetapi tubuh kecil yang terus-menerus ditarik oleh aturan, kepatuhan, hukuman, dan definisi tentang anak baik. Hampir di setiap adegan ada suara normatif yang menekan “jangan menyimpang!”. Del Toro menempatkannya dalam konteks sejarah yang keras, Italia era rezim fasis Mussolini, dengan bayang-bayang militerisme, perang dunia, dan nasionalisme yang menuntut ketaatan total pada negara, gereja, dan otoritas laki-laki.

Latar Gereja Katolik tampil sebagai institusi disipliner—tempat moral, dosa, dan keselamatan diproduksi melalui kepatuhan bukan relasi. Pada saat yang sama, dunia sirkus memperlihatkan sisi lain dari kuasa, soal kapitalisasi tubuh dan talenta. Pinocchio boleh berbeda, asal perbedaannya bisa dijual, dipertontonkan, dan menguntungkan. Di sini kolonialitas bekerja secara halus lewat normalisasi, yang pantas hidup adalah ia yang berguna bagi pasar dan negara.

Del Toro menyisipkan lapisan eksistensial yang sunyi. Ada sosok ilahi—peri kayu dan figur-figur dunia kematian—yang memberi Pinocchio kehidupan tanpa syarat moral tertentu. Ia hidup karena semata diberi kesempatan untuk menjadi. Dunia kematian yang ia masuki berulang kali bukan sekadar ruang hukuman, melainkan ruang kontemplasi tentang kefanaan, pilihan, dan makna eksistensi. Di sana, pertanyaan mendasarnya “apa arti hidup jika waktu terbatas?” Justru melalui relasinya dengan kematian, Pinocchio menemukan kebebasan yang tak bisa dikontrol oleh gereja, negara, maupun pasar.

Pachamama (2018)

Pachamama membawa kita ke pegunungan Andes, ke dunia kosmologi yang berpusat pada Ibu Bumi. Kita mengikuti perjalanan seorang bocah dan teman-temannya Tepulpai dan Naira yang berusaha menyelamatkan artefak leluhur (huaca) dari tangan orang luar. Latar film ini dipenuhi ritual adat, harmoni manusia dan alam, serta simbol-simbol Agama Leluhur.

Namun begitu film ini menolak berhenti pada romantisasi tradisi. Ia memperlihatkan bahwa masyarakat lokal mengalami opresi ganda. Dari atas oleh elite Kekaisaran Inca Empire yang memusatkan kuasa dan ritual resmi, dan dari luar oleh kolonial bersenjata zirah besi (Spanyol) yang datang membawa kekerasan, penjarahan, dan logika dominasi. Artefak leluhur dirampas sebagai simbol pemutusan relasi religius dengan tanah dan nenek moyang. Di sini kolonialisme tampil terang sebagai usaha penghancuran kosmologi.

Dalam tekanan itu, nilai Pachamama menjadi poros perlawanan. Ibu Bumi merupakan subjek yang dihormati—tanah yang hidup, memberi, sekaligus menuntut tanggung jawab. Relasi dengan alam bersifat timbal balik bukan eksploitatif. Maka perjuangan anak-anak dalam film ini tidak sekadar menyelamatkan benda, tetapi menjaga keseimbangan dunia dengan mempertahankan cara hidup yang melihat bumi sebagai ibu. Di situlah wajah dekolonial yang hidup muncul, keberanian, imajinasi, dan kesadaran bahwa identitas budaya selalu dinegosiasikan di tengah tekanan kuasa yang bertingkat.

Over the Moon (2020)

Sebuah musikal animasi yang mengikuti perjalanan seorang anak perempuan, Fei Fei, yang membangun wahana ke bulan untuk bertemu Dewi Chang’e dari legenda Tiongkok. Secara visual ia penuh warna, lagu, dan imajinasi khas film anak-anak. Namun di kedalamannya, film ini menghadirkan dialektika yang menarik antara sains, mitologi, dan emosi keluarga. Fei Fei memulai perjalanannya dengan logika astronomi—perhitungan roket, eksperimen, pembuktian ilmiah bahwa bulan bisa dijangkau. Ia percaya sains dapat “membuktikan” keberadaan Chang’e. Tetapi ketika ia tiba di sana, dunia yang ditemuinya adalah lanskap religiusitas dan pengalaman personal yang hidup.

Film "Over the Moon" (2020). (Sumber: Netflix)
Film "Over the Moon" (2020). (Sumber: Netflix)

Ketegangan produktif itu bekerja ketika sains modern dan imajinasi kartun anak-anak tidak saling meniadakan, malah berdialog dengan tradisi. Legenda Chang'e tampak sebagai memori kolektif yang dirawat melalui ritual seperti kue bulan dan altar penghormatan bagi ibu yang telah tiada. Bulan menjadi ruang pertemuan antara rasionalitas dan duka, antara teknologi dan kenangan. Fei Fei tidak hanya ingin membuktikan mitos, juga sedang bernegosiasi dengan kehilangan ibunya, mencoba mempertahankan kesetiaan pada memori keluarga di tengah perubahan.

Nilai bakti dan kelekatan keluarga menjadi poros emosional film ini. Tradisi adalah jembatan yang menghubungkan generasi—antara anak, orang tua, dan mereka yang telah meninggal. Dengan begitu, film ini dapat dimaknai sebagai usaha menempatkan mitologi Tiongkok menjadi pusat narasi, menunjukkan bahwa modernitas ilmiah dan warisan tradisi dapat berdampingan. Dunia tidak harus dipahami hanya lewat satu bahasa pengetahuan. Ada ruang bagi sains, bagi imajinasi, dan bagi kesetiaan pada nilai keluarga yang membentuk kita.

Baca Juga: Kenangan Indah Menonton Film di Bioskop Bandung Era 1980-an dalam Nuansa Ramadan

Tontonan, Tuntunan

Jika kita melihat Pinocchio, Pachamama, dan Over the Moon secara bersamaan, tampak sebuah pola tentang bagaimana cerita bekerja dalam relasi kuasa. Pinocchio memperlihatkan narasi dominan yang membentuk standar moral yang terasa normal, padahal lahir dari struktur nilai tertentu. Pachamama menunjukkan bahwa budaya lokal tidak hanya menjadi korban dominasi, tetapi mampu bernegosiasi dan bertahan melalui ingatan, ritual, dan solidaritas komunitas. Sementara Over the Moon membuka ruang alternatif, menempatkan mitologi dan pengalaman non-Barat sebagai pusat cerita. Ketiganya memperlihatkan bahwa kisah bukan sekadar hiburan di layar gawai, akan tetapi bermanifestasi jadi arena tempat aturan, perlawanan, dan pembebasan saling berkelindan.

Kehadiran ketiga film ini di balik industri raksasa Netflix patut dicatat bahkan dicurigai, mengingatkan kita bahwa distribusi cerita berlangsung di era algoritma, strategi pasar, dan kurasi global yang ikut menentukan narasi mana yang menjangkau jutaan penonton. Artinya, menikmati film hari ini juga berarti menyadari logika produksi dan sirkulasi yang membingkainya. Cerita-cerita lokal bisa tampil mendunia, tetapi selalu dalam negosiasi dengan kepentingan cuan. Kesadaran ini membuat kita tidak hanya menjadi konsumen, juga penonton yang peka terhadap konteks di balik layar.

Begitulah, menonton menjadi lakon yang reflektif. Ketiga film tersebut mengajak kita bertanya, cerita mana yang selama ini kita anggap wajar? Siapa yang diberi ruang berbicara? Dan apa yang berubah ketika suara dari pinggiran tampil di panggung utama? Cerita selalu bergerak—mengikuti perubahan zaman, identitas, dan perjumpaan budaya. Karena itu, tugas kita sebagai penonton tidak hanya menekan tombol “play” saja, yang lebih penting membuka diri pada kemungkinan makna yang berlapis. Di sanalah film dengan akses berlangganan itu menjadi lebih dari tontonan, ia menjadi tuntunan bercermin, sekaligus jendela, untuk melihat dunia dengan mata yang baru. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Bandung 07 Apr 2026, 19:47

Strategi Market Chicken Steak Bertahan di Tengah Geliat Kuliner Pasar Cihapit

Siapa sangka ada kelezatan steak di sudut pasar tradisional? Simak kisah Sutrisno mengubah peluang jadi keunikan kuliner di Pasar Cihapit yang kini jadi primadona.

Kios Market Chicken Steak milik Sutrisno yang menghadirkan menu Barat di tengah deretan kuliner tradisional Pasar Cihapit, Bandung. Meski berukuran terbatas, kios ini menjadi destinasi baru bagi pemburu kuliner. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Komunitas 07 Apr 2026, 18:44

Ekspresi Tanpa Suara, Komunitas Karya Seni Tuli Bangun Jembatan antara Teman Tuli dan Dengar

Ruang ini menjadi tempat berbagi cerita, belajar, dan mengekspresikan diri tanpa batas, sekaligus mempererat hubungan antara teman tuli dan teman dengar dalam semangat saling memahami.

Suasana hangat pertemuan Karya Seni Tuli dipenuhi interaksi melalui bahasa isyarat, tawa, dan semangat berkarya bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 07 Apr 2026, 16:23

Tumbuh Pesat! Penyaluran Kredit UMKM Jawa Barat Tembus Rp186 Triliun, Kota Bandung Jadi Motor Utama

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat.

Ilustrasi. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 07 Apr 2026, 15:22

Panduan Wisata Talaga Bodas Garut, Kawah Belerang yang Pernah jadi Primadona Orang Eropa

Talaga Bodas pernah populer sejak abad ke-19 melalui kartu pos kolonial, sebelum kembali bangkit sebagai destinasi wisata alam unggulan di Garut.

Objek Wisata Talaga Bodas, Garut. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 14:35

Pendidikan Bertumbuh Dimulai dari Guru yang Growth Mindset

Pendidik adalah agen pembelajar sepanjang hidup untuk memberikan stimulus kepada para murid dalam menuntun menumbuhkembangkan potensi secara kodrati.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 11:04

Kisah Pendatang yang Tak Sengaja Ciptakan ‘Batagor’ Makanan Favorit Kota Bandung

Batagor pertama kali muncul di Bandung pada tahun 1970-an.

Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ikon 07 Apr 2026, 10:25

Hikayat Jalan Soekarno Hatta Bandung, Bypass Lurus Panjang Buatan Orde Baru

Dibangun pada 1980-an sebagai jalan elak, Jalan Soekarno Hatta kini berubah menjadi koridor padat yang merekam pertumbuhan Bandung dari pinggiran ke pusat aktivitas.

Suasana Jalan Soekarno Hatta, Bandung. (Foto: Irfan Al Faritsi/Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 08:57

Inilah 5 Hierarki Kebutuhan Mahasiswa dari Garut di UIN Bandung Tahun 2002

Tahun 2002, saya resmi jadi mahasiswa di UIN Bandung. Modalnya? Nekat.

Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 18:12

Tantangan Komunikasi Perantau

Pasca mudik Lebaran, kota-kota besar didatangi para perantau baru.

Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 06 Apr 2026, 17:02

Menghadapi "Paradoks Rebana", Antara Ambisi Industri dan Realitas Kompetensi Lokal

Kawasan Metropolitan Rebana yang meliputi Cirebon (Kota), Cirebon (Kabupaten), Indramayu, Majalengka, Kuningan hingga Subang kini tengah bersiap menjadi motor penggerak ekonomi masa depan Jawa Barat.

Kawasan Rebana kini telah didukung oleh konektivitas terbaik salah satunya Pelabuhan Patimban untuk ekspor-impor, yang merupakan magnet bagi investor global. (Sumber: portalkemhub.go.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 17:02

10 Netizen Terpilih Maret 2026: Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan

Tulisan-tulisan terbaik yang masuk ke kanal Ayo Netizen sepanjang Maret 2026.

Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Apr 2026, 15:46

Panduan Pendakian Gunung Gede Pangrango: Tiga Jalur Pilihan, Kuota, dan Biaya

Informasi jalur pendakian Gunung Gede Pangrango, sistem kuota, biaya SIMAKSI, serta tips penting agar pendakian aman dan sesuai aturan.

Puncak Gunung Gede Pangrango. (Sumber: Wikimedia)
Komunitas 06 Apr 2026, 15:38

Isyarat yang Menyatukan, Belajar Memahami Tanpa Suara

Pertemuan sederhana di sebuah kafe di Bandung menghadirkan ruang belajar bahasa isyarat sekaligus membuka jalan bagi tumbuhnya empati antara teman tuli dan teman dengar.

Suasana ngobrol Komunitas Karya Seni Tuli dipenuhi gerakan tangan, tawa tanpa suara, dan interaksi yang terjalin lewat bahasa isyarat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 15:01

Arus Balik yang Meledak di Bandung Pasca Lebaran 1986

Pada suatu akhir pekan di bulan Juni 1986 itu, Bandung menjadi saksi dari gelombang harapan yang datang bersama arus balik Lebaran.

Halaman muka Harian Umum MANDALA Bandung, terbitan 13 Juni 1986, yang menyoroti membludaknya arus balik Lebaran menuju Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Bandung 06 Apr 2026, 14:07

Eksistensi Scoop and Skoops, Padukan Konsep Kekinian dan Keaslian Rasa Gelato di The Hallway Space

Gerai gelato Scoop and Skoops memadukan konsep industri F&B kekinian dengan lokasi strategis yang menonjolkan konsep sederhana namun modern.

Gerai gelato Scoop and Skoops memadukan konsep industri F&B kekinian dengan lokasi strategis yang menonjolkan konsep sederhana namun modern. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 13:16

Badai Belum Berlalu, Perlu Komitmen Menjaga Langit Biru

Alam memberi sinyal yang tergambar di langit kepada manusia jika akan terjadi peristiwa yang luar biasa.

Pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang di Kota Bandung memakan korban jiwa, Jumat (3/4/2026). (Sumber: Sumber : BPBD Kota Bandung)
Sejarah 06 Apr 2026, 12:54

Sejarah Perjanjian Cirebon 1681, Penanda Peta Dominasi Kompeni di Tanah Jawa

Perjanjian 1681 antara Cirebon dan VOC jadi titik balik hilangnya kedaulatan dan salah satu pemicu awal dominasi Belanda di Jawa Barat.

Perjanjian Cirebon 1861 (Sumber: historyofcirebon.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 11:43

Bahu Jalan Tol Merupakan Ruang Darurat yang Tidak Boleh Disalahgunakan

Penyalahgunaan bahu jalan tol meningkatkan risiko kecelakaan fatal.

Sebuah kendaraan hancur setelah menabrak bagian belakang bus di Jalan Tol Padaleunyi KM 140 arah Bandung, Rabu (1/4/2026). (Sumber: Instagram/@ridwanzaelanii)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 09:37

Merawat Empati Kemanusiaan

Agama mesti hadir untuk membela kemanusiaan dalam realitas kehidupan, tanpa memandang perbedaan agama, suku, etnis, golongan, kelompok, maupun jenis kelamin.

Ilustrasi empati kemanusiaan, tim relawan sedang membantu evakuasi korban banjir (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 05 Apr 2026, 19:24

Cuaca Ekstrem di Bandung Raya dan Tantangan Infrastruktur Jalan

Cuaca ekstrem di Bandung Raya mengungkap tantangan infrastruktur jalan.

Pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang di Jalan Bojong Raya Caringin, Kota Bandung memakan korban jiwa, Jumat (3/4/2026). (Sumber: Dok. BPBD Kota Bandung)