Sejatinya kehadiran Tahun Baru Imlek (1 Imlek 2577) Kongzili kuda api yang jatuh pada tanggal 17 Februari 2026 ini diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat untuk merawat keragaman, menata ulang spirit kebangsaan dan berusaha menghidupkan budi pekerti di tengah-tengah memudarnya toleransi.
Dengan imlek kita dapat memberikan sikap keberagamaan yang terbuka, ramah, toleran, inklusif, adil dan mengakui perbedaan keyakinan (sekte, madzhab, aliran) bagi tumbuh dan berkembangnya kerukunan, harmoni antarumat beragama di Indonesia.

Merawat Harmoni
Harmoni Imlek Nusantara merupakan kolaborasi aktif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah di sejumlah provinsi di Indonesia dalam rangka memperingati Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
Kegiatan “Harmoni Imlek Nusantara” akan berlangsung pada 17 Februari - 3 Maret 2026 sebagai wujud perayaan budaya yang inklusif serta upaya mempererat persaudaraan kebangsaan.
Saat Kepala Staf Kepresidenan M. Qodari menghadiri peluncuran logo baru Imlek Nusantara 2026 di Auditorium Badan Komunikasi Pemerintah RI, Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2026).
Kastaf menegaskan bahwa momentum ini menjadi penanda kuat komitmen kebangsaan dan kenegaraan. Keragaman budaya dan keyakinan merupakan fondasi persatuan sekaligus kekuatan sosial yang harus senantiasa dijaga dan dirawat bersama. (www.ksp.go.id)
Ketua Umum Imlek Nasional 2026, Irene Umar, membeberkan logo Harmoni Imlek Nusantara 2026 ini merepresentasikan identitas dan ciri khas Indonesia, sekaligus mencerminkan akulturasi beragam budaya Tionghoa di Tanah Air.
Pada logo itu digambarkan dalam bentuk kuda lumping, yang terinspirasi dari kebudayaan Betawi. Warna merah yang dominan dipadukan dengan sentuhan putih pada rambut kuda yang menyerupai mahkota, melambangkan warna bendera kebangsaan Indonesia.
Mata api pada logo itu melambangkan semangat, keberanian, dan fokus batin, selaras dengan energi Kuda Api yang menyala untuk menggerakkan perubahan dan menerangi arah masa depan. Garis putih pada bagian mulut dan kaki kuda mengandung makna setiap ucapan dan langkah harus disertai kebijaksanaan, kesadaran, etika dalam mewujudkan harapan Indonesia Emas.
Ihwal dua garis putih pada bagian ekor kuda melambangkan keistimewaan perayaan Imlek tahun ini yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan bagi umat Muslim.
Irene berharap perayaan Harmoni Imlek Festival 2026 dapat menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata Imlek yang inklusif, yang dirayakan dalam suasana damai dan sejahtera.
“Inilah yang ingin kita tunjukkan, bahwa Indonesia tumbuh melalui harmoni. Perbedaan hadir sebagai kekuatan. Di luar dikenal dengan istilah unity in diversity. Kita bersatu, kita kokoh, dan kita kaya karena keberagaman. Itulah Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya. (Antara, 28 Januari 2026, 15.11 WIB).
Menurut Ongky Setio Kuncono, Ketua Penelitian dan Pengembangan Makin Boen Bio Surabaya, pendiri Study Park of Confusius (SPOC) menegaskan Imlek adalah Hari Raya Umat Khonghucu yang paling tua dibandingkan dengan kelima agama lainnya baik Islam, Hindu, Budha maupun Kristen.
Pasalnya memiliki keterkaitan dengan kelahiran Nabi KongZi, sehingga tahun baru Imlek boleh dikatakan memiliki makna ”Suara kebajikan yang dibawakan Nabi KongZi untuk umat manusia
Mengingat jasa dan kebesaran Nabi KongZi yang telah memberikan pencerahan kepada umat manusia di dunia untuk menegakkan Firman Tian, maka tahun baru Imlek di hitung dari kelahiran Nabi KongZi yakni Tahun 551 SM. Perhitungannya adalah 551+2026 =2577.
Pada tahun 2026 ini tahun baru Imlek jatuh pada 17 Februari perhitungan 2577. Bagi umat Khonghucu setiap peringatan Imlek selalu mengenang Nabi Agung KongZi yang membawakan ajaran suci dari Tian melalui Nabi KongZi untuk disebarkan pada umat manusia di dunia. (www.spocjournal.com).

Pesan Imlek
Hadirnya kepemimpinan yang adil dengan segala perbedaan menjadi modal utama untuk membuat negara yang damai, toleran, dan rukun.
Perbedaan yang ada tak membuat mereka berjauhan, justru berdekatan. Sering pergi bertamasya bersama-sama, lengkap dengan keluarga masing-masing.
Sheng Ren Kongzi, seorang junzi, insan beriman dan berbudi luhur, hidup rukun meski berbeda; sedang xiaoren, seorang yang rendah budi, tidak pernah rukun meski sama. (Budi S. Tanuwibowo, 2010:116)
Nabi kongzi memberikan keteladanan kepada kita semua untuk bersikap ramah tamah, baik hati, hormat, sederhana dan suka mengalah.
Zi Gong, “Guru mendapatkan kita karena sikapnya yang ramah tamah, baik hati, hormat, sederhana dan suka mengalah” (Kitab Sabda Suci 1:10.2).
Untuk menjadi manusia yang selalu meneladani Kongzi harus berperilaku Junzi, manusia yang menggoreskan tinta kehidupan di atas kertas putih sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan. Perilaku Junzi tentunya tidak lepas dari keteladanan Nabi Kongzi dan ajarannya tentang Junzi.
Keteladanan menyangkut tingkah laku Nabi Kongzi dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang bias kita tiru. Sedangkan ajaran Junzi adalah apa yang dikatakan (diajarkan) oleh Kongzi tentang menjadi seorang Junzi.
Keduanya dalam praktiknya tidak bisa dipisahkan, bahkan dalam pelaksanaannya (menyatu) dan harus dilakukan secara bersama-sama. (Setio Kuncono, 2014:6).

Kunci Perdamaian
Ingat, toleransi yang hanya didasarkan pada kesediaan menegangkan pada kehadiran pihak lain adalah toleransi yang semu belaka, karena toleransi yang sejati adalah toleransi yang mencakup kesediaan untuk mengakui validitas pihak lain, setidaknya ada elemen kebenaran dari pihak lain.
Seorang rohaniwan yang sejati haruslah dengan bebas menerima kebenaran yang terdapat dalam pihak lain dan juga mungkin menolak sudut pandang yang keliru yang ada dalam ajaran yang dihayati oleh dirinya setidaknya sebagai diri pribadi.
Confucius mengatakan bahwa manusialah yang harus mengembangkan agama, bukan sebaliknya. Maksudnya manusia diberikan tanggung jawab untuk turut merumuskan panduan menuju ketertiban pribadi dan masyarakat. Karena Tuhan telah memberikan kebenaran yang telah tertanam pada fitrah manusia, aktualisasinya menjadi tugas kita sebagai manusia.
Setiap orang mendapatkan kodrat kebaikan yang menjadi mandat pribadi dari Tuhan. Oleh karena zaman terus berkembang maka cara manusia dalam merespon perkembangan dunia pun harus disesuaikan dari waktu ke waktu, dengan kata lain bahwa setiap individu dipanggil untuk menjadi manusia yang berhati nurani dan bertindak akali. Maka dengan begitu agama dipandang menjadi faktor yang dinamis (homeostatis) bukan statis. (Kristan, 2010:124-125)
Saat ditanya mengenai makna Jen, Confucius menjawab, "Kata itu berarti mencintai sesama umat manusia," Ia memiliki penjelasan lebih lanjut, "Terdapat lima hal dan siapa pun yang bisa melaksanakannya disebut sebagai Jen.
Kelima hal itu ialah rasa hormat, toleransi, dapat dipercaya, ketekunan yang cerdas, dan kemurahan hati. Kalau seorang manusia mempunyai rasa hormat, maka ia tak akan dihina. Kalau ia mempunyai sikap toleran, maka ia akan diterima oleh banyak orang.
Jika ia dapat dipercaya, maka orang lain akan mempercayakan tanggung jawab padanya. Bila ia cerdas dan tekun, maka ia akan mencapai berbagai hasil. Kalau ia mempunyai sikap yang dipenuhi belas kasih, maka ia akan menjadi layak untuk memerintah orang lain." (Paul Strathern, 2001:15)

Toleransi sejati diwujudkan dalam sikap yang tidak memperselisihkan klaim orang lain terhadap kebenaran agamanya. Toleransi sebenarnya terhadap agama lain ditunjukkan dengan tidak adanya ekspresi mempertentangkan, tidak setuju terhadap klaim orang lain terhadap kebenaran agama, keyakinannya. (Stetson, 1994:77 dan Fuad Fachruddin, 2006:126).
Walhasil, toleransi merupakan warisan budaya leluhur bangsa Indonesia yang menjadi kunci dalam merawat keberagaman di Nusantara ini yang ikut andil pada perdamaian dunia.
Confucius meyakini bahwa tujuan pemerintah adalah kesejahteraan rakyat. Cara yang terbaik untuk memerintah dengan nilai moral dan contoh kehidupan yang baik dari pemimpinnya, bukan dengan cara negatif dari undang-undang dan penghukuman.
Calon pemerintah yang terbaik adalah mereka yang dibekali dengan kualitas kemanusiaan dan pengetahuan yang mendalam. Untuk alasan ini, Confucius memperhatikan perkembangan individu.
Ajaran Confucius berpusat di sekitar kesempurnaan manusia, kebaikan hati, yang kualitas utamanya adalah sopan santun, toleransi, iman, kerajaan, kebaikan, moderat, keberanian, kesetiaan, kesalehan (bakti anak pada orang tua). Confucius yakin bahwa elemen-elemen ini dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengembangan diri. Dengan demikian, yang terpenting adalah pembelajaran. (Michael C. Tang, 2004: 87).

Dalam konteks meminimalisir kegaduhan keagamaan digital ketegasan pemerintah agar menegakkan hukum harus dijalankan. Tidak tebang pilih. Tumpul ke atas, tajam ke bawah.
Keikutsertaan pemuka agama, tokoh masyarakat guna mengkampanyekan bijak dan cerdas dalam bermedia sosial mesti didorong. Caranya dengan bersikap bijaksana dalam bertindak dengan jari. Tidak membuat (membagikan) informasi (hoaks, ujian kebencian) dan berusaha menghadirkan konten yang mengajak cinta kasih, welas asih, pentingnya hidup rukun, toleran dan damai.
Bagi Confucius tak ada satu negara yang secara paksa bisa mengendalikan warga negaranya sepanjang waktu. Penguasa memerlukan kerja sama sukarela dari rakyat. Ini hanya muncul saat orang menyakini bahwa pemimpin mereka layak mendapatkan kerja sama. Guna dianggap layak, pemimpin harus orang yang berkarakter dan secara tulus mengabdikan diri pada kebaikan bersama serta memiliki karakter yang mendorong rasa hormat. Karena itu, te sejati adalah kekuatan dari teladan moral.
Kebaikan memasuki masyarakat melalui pengaruh-pengaruh para pemimpin yang dihormati dan dikagumi orang. Segala sesuatu berpulang pada kepala negara. Jika licik dan tak berguna, maka tak akan ada hal kebaikan yang terjadi. Namun, jika ia seorang "raja kesepakatan" sejati yang kesepakatan itu datang dari kebaikan hatinya, maka orang semacam itu akan mendapatkan sekelompok "sekutu tak ternilai."
Pengabdian mereka pada kesejahteraan umum akan mempercepat kesadaran publik para pemimpin setempat dan merasuk hingga mengilhami warga negara secara umum.
Baca Juga: Satu Minggu Menunggu Tanah Membatu
"Dia yang memerintah dengan te bagaikan bintang utara yang tetap di tempatnya seraya menarik bintang-bintang lain ke arahnya." (Huston Smith, 2015:194).
Mudah-mudahan dengan kita menjalankan nubuat Kongzi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pada saat Imlek tiba ini dapat mewujudkan masyarakat, bangsa dan negara tercinta yang damai, adil, toleran, harmonis, terbuka, jujur yang menjadi cita-cita bersama dalam membangun kerukunan antaragama, etnis.
Dengan demikian, inilah makna terdalam Imlek dalam menciptakan hidup rukun, harmoni dan toleransi sejati. Semoga. Selamat Imlek 2577. (*)
