Munggahan dan Closingan Sekaligus: Potret Kita, Potret Bandung Menjelang Ramadan

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Senin 16 Feb 2026, 11:12 WIB
Ilustrasi -- Nasi Liwet Sunda (Foto: Pixabay)

Ilustrasi -- Nasi Liwet Sunda (Foto: Pixabay)

Menjelang bulan suci Ramadan, Bandung selalu hidup dengan warna budaya yang khas. Dua istilah muncul sebagai penanda momen ini, yakni munggahan dan closingan. Sekilas keduanya tampak bertolak belakang, bahkan bisa dianggap paradoks. Namun justru dari kontradiksi inilah wajah kejujuran beragama di kota ini terlihat lebih cair, otentik, dengan kadang terikat tradisi, dan kadang ‘nakal’, tapi selalu nyata dalam pengalaman sehari-hari. Dalam ruang batin kita.

Munggahan: Naik ke Bulan Suci

Munggahan berasal dari bahasa Jawa, unggah yang berarti naik yang lalu kemudian dalam konteks Indonesia kontemporer dipadankan dengan istilah upload. Dalam budaya Sunda unggah mendapatkan imbuhan, munggahan jadi bermakna mempersiapkan diri. Tradisi ini adalah cara masyarakat Sunda termasuk Bandung dalam menyambut Ramadan dengan jiwa yang bersih, sekaligus menata hubungan sosial dan spiritual. Menjelang puasa, keluarga, tetangga, dan kawan-kawan berkumpul untuk makan bersama, saling bermaafan, berbagi doa, dan meneguhkan ikatan kolektif. Munggahan adalah ekspresi rasa syukur, kehangatan relasi, dan kesadaran akan pentingnya memulai ibadah puasa dengan persiapan lahir-batin.

Di Bandung, suasana munggahan kerap terasa di setiap sudut. Pasar dan lapak pinggir jalan mulai ramai dengan jajanan khas untuk sahur dan berbuka, musala dan masjid menjadi pusat persiapan berbagai kegiatan, sementara toko-toko dipenuhi dengan iklan tematik sebagaimana reguler tiap tahunnya. Tradisi ini memperlihatkan cara agama dan budaya berpadu, membentuk momen yang intim lagi memikat. Munggahan soal menghidupkan kembali nilai-nilai sosial yang membuat masyarakat tetap terhubung satu sama lain.

Closingan: Penutupan Sebelum Bulan Suci

Di sisi lain, muncul closingan, istilah yang lahir dari budaya urban-modern, terutama di kalangan orang muda kota besar. Kata ini, yang berasal dari bahasa Inggris closing, bermakna penutupan. Dalam konteks Bandung menjelang Ramadan, closingan merujuk pada aktivitas terakhir sebelum puasa dimulai—biasanya terkait hiburan malam, nongkrong, atau kegiatan sosial yang sifatnya lebih bebas dan ‘nakal’. Tempat hiburan, klub, dan kafe biasanya menutup operasionalnya selama Ramadan, sehingga closingan menjadi semacam momen pamitan terhadap kesenangan duniawi sebelum memasuki bulan suci.

Closingan seringkali dipandang sebagai refleksi gaya hidup perkotaan. Sifatnya yang spontan, bebas, dan kadang jauh dari tradisi formal. Namun menariknya, fenomena ini juga merupakan bagian dari respons sosial terhadap Ramadan. Tradisi baru ynag menunjukkan bahwa praktik religius tidak selalu linear dan formal. Ia mengakui keberadaan manusia modern yang mencari ruang ekspresi sebelum memasuki disiplin ibadah yang ketat. Closingan adalah cerminan urbanitas yang fleksibel—sebuah adaptasi budaya yang mengikuti ritme kota, teknologi, dan tren sosial.

Tarung Makna

Jika dilihat sekilas, munggahan dan closingan tampak bertolak belakang. Satu tradisi lokal, satu gaya hidup urban, satu sakral dan kolektif, satu bebas dan individual. Namun di Bandung, kedua fenomena ini eksis berdampingan, kadang saling tarik-menarik, menciptakan spektrum pengalaman menjelang Ramadan yang unik. Dan kita berada di sebuah ruang di antara keduanya. Jujur saja.

Misalnya, pada satu hal, keluarga besar melakukan munggahan di rumah, menata meja makan dengan hidangan tradisional, berdoa bersama, dan saling maaf-memaafkan. Sementara itu, teman sebaya merayakan closingan di penginapan atau pusat hiburan, mengakhiri malam dengan santai, bercanda, dan menikmati kebebasan sementara. Kedua momen ini berbeda bentuk, tujuan, dan intensi, tetapi keduanya muncul dari kesadaran yang sama ialah menyambut Ramadan dengan cara mereka masing-masing.

Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Fenomena ini menegaskan satu hal penting bahwa keberagaman praktik beragama di Bandung tidak selalu rapi dalam kategori tradisi versus modern, formal versus informal, sakral versus sekuler. Ia sesungguhnya tak terduga dan hidup. Kadang terikat aturan, kadang menerabasnya, tetapi selalu mengungkapkan pengalaman nyata masyarakat dalam menyambut bulan puasa.

Kejujuran Beragama

Pertarikan posisi di antara munggahan dan closingan sesungguhnya adalah potret kejujuran beragama. Kehidupan kita di akar rumput tidak memaksakan satu model tunggal. Bandung dan pengisinya menavigasi tradisi dan urbanitas secara lentur. Dalam konteks ini, kejujuran beragama bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan atau dogma, tetapi bagaimana seseorang atau komunitas menghadirkan praktik religius yang nyata, relevan, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Terlepas dari masalah yang normatif. Dan inilah yang disebut dengan agama sehari-hari sebagaimana diungkapkan oleh Nancy Ammerman (Everyday Religion, 2007) dan Elizabeth Shakman Hurd (Beyond Religious Freedom, 2015).

Kehidupan yang kreatif—seperti yang terlihat dari kehadiran munggahan dan closingan—membuka ruang bagi kita untuk melihat agama sebagai pengalaman relasional dan dinamis. Tradisi leluhur tetap dihargai dan dijalankan, sementara kebiasaan urban muncul sebagai cara adaptif menghadapi kenyataan kota modern. Keduanya saling memantulkan, memperkaya, dan terkadang menegangkan satu sama lain, namun secara kolektif membentuk pengalaman keagamaan yang autentik.

Menariknya, kedua fenomena ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung mengelola identitasnya. Munggahan menekankan keterikatan pada keluarga, komunitas, dan nilai-nilai leluhur. Closingan menekankan ekspresi diri, kebebasan sosial, dan adaptasi terhadap lingkungan urban. Keduanya memberi ruang bagi individu untuk menegosiasikan cara mereka menghadapi bulan puasa baik secara sakral, formal, ataupun santai.

Hal ini juga mengingatkan kita bahwa praktik beragama tidak selalu homogen. Tidak semua orang akan menjalani munggahan dengan cara yang sama, begitu pula closingan. Termasuk ada yang menggabungkan keduanya, berkumpul bersama keluarga sambil sesekali bertemu teman di kafe untuk pamitan dengan dunia hiburan. Inilah realitas keberagaman kita, yang menegaskan bahwa agama di Bandung adalah sesuatu yang kontekstual.

Baca Juga: Kuda Api dan Transformasi Cepat Pengembangan Bakat

Munggahan dan closingan adalah dua wajah menjelang Ramadan yang menampilkan kontradiksi sekaligus kesan mendalam dalam kehidupan beragama di Bandung. Keduanya ada dalam satu waktu dan ruang, saling berinteraksi, dan menciptakan pengalaman religius yang kaya dan realistis. Potret antara munggahan dan closingan menunjukkan bahwa praktik keagamaan kita tidak harus selalu seragam atau resmi. Kejujuran beragama justru tampak ketika masyarakat mampu menghadirkan praktik yang sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan personal. Mereka merayakan bulan puasa dengan cara yang berbeda, tetapi sama-sama menegaskan nilai kebersamaan, kesadaran spiritual, dan keterhubungan dengan lingkungan sekitar.

Bandung, dengan segala keragaman dan dinamika urbannya, memperlihatkan kita yang berhadapan dengan ‘kebingungan’ ini. Ambivalensi adalah cermin dari realitas keberagaman kita—aneh dan penuh makna—yang memberi potret Bandung di zaman kiwari. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)