Munggahan dan Closingan Sekaligus: Potret Kita, Potret Bandung Menjelang Ramadan

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi -- Nasi Liwet Sunda (Foto: Pixabay)
Ilustrasi -- Nasi Liwet Sunda (Foto: Pixabay)

Menjelang bulan suci Ramadan, Bandung selalu hidup dengan warna budaya yang khas. Dua istilah muncul sebagai penanda momen ini, yakni munggahan dan closingan. Sekilas keduanya tampak bertolak belakang, bahkan bisa dianggap paradoks. Namun justru dari kontradiksi inilah wajah kejujuran beragama di kota ini terlihat lebih cair, otentik, dengan kadang terikat tradisi, dan kadang ‘nakal’, tapi selalu nyata dalam pengalaman sehari-hari. Dalam ruang batin kita.

Munggahan: Naik ke Bulan Suci

Munggahan berasal dari bahasa Jawa, unggah yang berarti naik yang lalu kemudian dalam konteks Indonesia kontemporer dipadankan dengan istilah upload. Dalam budaya Sunda unggah mendapatkan imbuhan, munggahan jadi bermakna mempersiapkan diri. Tradisi ini adalah cara masyarakat Sunda termasuk Bandung dalam menyambut Ramadan dengan jiwa yang bersih, sekaligus menata hubungan sosial dan spiritual. Menjelang puasa, keluarga, tetangga, dan kawan-kawan berkumpul untuk makan bersama, saling bermaafan, berbagi doa, dan meneguhkan ikatan kolektif. Munggahan adalah ekspresi rasa syukur, kehangatan relasi, dan kesadaran akan pentingnya memulai ibadah puasa dengan persiapan lahir-batin.

Di Bandung, suasana munggahan kerap terasa di setiap sudut. Pasar dan lapak pinggir jalan mulai ramai dengan jajanan khas untuk sahur dan berbuka, musala dan masjid menjadi pusat persiapan berbagai kegiatan, sementara toko-toko dipenuhi dengan iklan tematik sebagaimana reguler tiap tahunnya. Tradisi ini memperlihatkan cara agama dan budaya berpadu, membentuk momen yang intim lagi memikat. Munggahan soal menghidupkan kembali nilai-nilai sosial yang membuat masyarakat tetap terhubung satu sama lain.

Closingan: Penutupan Sebelum Bulan Suci

Di sisi lain, muncul closingan, istilah yang lahir dari budaya urban-modern, terutama di kalangan orang muda kota besar. Kata ini, yang berasal dari bahasa Inggris closing, bermakna penutupan. Dalam konteks Bandung menjelang Ramadan, closingan merujuk pada aktivitas terakhir sebelum puasa dimulai—biasanya terkait hiburan malam, nongkrong, atau kegiatan sosial yang sifatnya lebih bebas dan ‘nakal’. Tempat hiburan, klub, dan kafe biasanya menutup operasionalnya selama Ramadan, sehingga closingan menjadi semacam momen pamitan terhadap kesenangan duniawi sebelum memasuki bulan suci.

Closingan seringkali dipandang sebagai refleksi gaya hidup perkotaan. Sifatnya yang spontan, bebas, dan kadang jauh dari tradisi formal. Namun menariknya, fenomena ini juga merupakan bagian dari respons sosial terhadap Ramadan. Tradisi baru ynag menunjukkan bahwa praktik religius tidak selalu linear dan formal. Ia mengakui keberadaan manusia modern yang mencari ruang ekspresi sebelum memasuki disiplin ibadah yang ketat. Closingan adalah cerminan urbanitas yang fleksibel—sebuah adaptasi budaya yang mengikuti ritme kota, teknologi, dan tren sosial.

Tarung Makna

Jika dilihat sekilas, munggahan dan closingan tampak bertolak belakang. Satu tradisi lokal, satu gaya hidup urban, satu sakral dan kolektif, satu bebas dan individual. Namun di Bandung, kedua fenomena ini eksis berdampingan, kadang saling tarik-menarik, menciptakan spektrum pengalaman menjelang Ramadan yang unik. Dan kita berada di sebuah ruang di antara keduanya. Jujur saja.

Misalnya, pada satu hal, keluarga besar melakukan munggahan di rumah, menata meja makan dengan hidangan tradisional, berdoa bersama, dan saling maaf-memaafkan. Sementara itu, teman sebaya merayakan closingan di penginapan atau pusat hiburan, mengakhiri malam dengan santai, bercanda, dan menikmati kebebasan sementara. Kedua momen ini berbeda bentuk, tujuan, dan intensi, tetapi keduanya muncul dari kesadaran yang sama ialah menyambut Ramadan dengan cara mereka masing-masing.

Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Fenomena ini menegaskan satu hal penting bahwa keberagaman praktik beragama di Bandung tidak selalu rapi dalam kategori tradisi versus modern, formal versus informal, sakral versus sekuler. Ia sesungguhnya tak terduga dan hidup. Kadang terikat aturan, kadang menerabasnya, tetapi selalu mengungkapkan pengalaman nyata masyarakat dalam menyambut bulan puasa.

Kejujuran Beragama

Pertarikan posisi di antara munggahan dan closingan sesungguhnya adalah potret kejujuran beragama. Kehidupan kita di akar rumput tidak memaksakan satu model tunggal. Bandung dan pengisinya menavigasi tradisi dan urbanitas secara lentur. Dalam konteks ini, kejujuran beragama bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan atau dogma, tetapi bagaimana seseorang atau komunitas menghadirkan praktik religius yang nyata, relevan, dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Terlepas dari masalah yang normatif. Dan inilah yang disebut dengan agama sehari-hari sebagaimana diungkapkan oleh Nancy Ammerman (Everyday Religion, 2007) dan Elizabeth Shakman Hurd (Beyond Religious Freedom, 2015).

Kehidupan yang kreatif—seperti yang terlihat dari kehadiran munggahan dan closingan—membuka ruang bagi kita untuk melihat agama sebagai pengalaman relasional dan dinamis. Tradisi leluhur tetap dihargai dan dijalankan, sementara kebiasaan urban muncul sebagai cara adaptif menghadapi kenyataan kota modern. Keduanya saling memantulkan, memperkaya, dan terkadang menegangkan satu sama lain, namun secara kolektif membentuk pengalaman keagamaan yang autentik.

Menariknya, kedua fenomena ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung mengelola identitasnya. Munggahan menekankan keterikatan pada keluarga, komunitas, dan nilai-nilai leluhur. Closingan menekankan ekspresi diri, kebebasan sosial, dan adaptasi terhadap lingkungan urban. Keduanya memberi ruang bagi individu untuk menegosiasikan cara mereka menghadapi bulan puasa baik secara sakral, formal, ataupun santai.

Hal ini juga mengingatkan kita bahwa praktik beragama tidak selalu homogen. Tidak semua orang akan menjalani munggahan dengan cara yang sama, begitu pula closingan. Termasuk ada yang menggabungkan keduanya, berkumpul bersama keluarga sambil sesekali bertemu teman di kafe untuk pamitan dengan dunia hiburan. Inilah realitas keberagaman kita, yang menegaskan bahwa agama di Bandung adalah sesuatu yang kontekstual.

Baca Juga: Kuda Api dan Transformasi Cepat Pengembangan Bakat

Munggahan dan closingan adalah dua wajah menjelang Ramadan yang menampilkan kontradiksi sekaligus kesan mendalam dalam kehidupan beragama di Bandung. Keduanya ada dalam satu waktu dan ruang, saling berinteraksi, dan menciptakan pengalaman religius yang kaya dan realistis. Potret antara munggahan dan closingan menunjukkan bahwa praktik keagamaan kita tidak harus selalu seragam atau resmi. Kejujuran beragama justru tampak ketika masyarakat mampu menghadirkan praktik yang sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan personal. Mereka merayakan bulan puasa dengan cara yang berbeda, tetapi sama-sama menegaskan nilai kebersamaan, kesadaran spiritual, dan keterhubungan dengan lingkungan sekitar.

Bandung, dengan segala keragaman dan dinamika urbannya, memperlihatkan kita yang berhadapan dengan ‘kebingungan’ ini. Ambivalensi adalah cermin dari realitas keberagaman kita—aneh dan penuh makna—yang memberi potret Bandung di zaman kiwari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)