Tahun Baru Imlek pada tahun 2026 adalah tahun ke-2577 dalam penanggalan Kongzili. Perayaan ini jatuh pada hari Selasa, 17 Februari 2026. Tahun baru Imlek 2577 menandakan datangnya Tahun Kuda Api. Itulah sebabnya secara filosofis kita perlu mencermati kelebihan binatang kuda yang memiliki sifat kuat dan cepat dalam pacuan atau persaingan.
Banyak kalangan memperkirakan tahun kuda adalah masa yang penuh dengan persaingan sengit dalam hal talenta atau bakat seseorang. Dengan demikian kita perlu stamina, kecepatan, dan kepahlawanan seperti layaknya sifat yang melekat pada binatang kuda. Memasuki tahun Kuda Api, barangsiapa tidak berani mengikuti pacuan bakat atau talenta, maka harapan dan impiannya bisa mati.
Perayaan Imlek di Kota Bandung seperti biasanya berpusat di kawasan Pecinan, terutama di Jalan Kelenteng yakni Vihara Satya Budhi sebagai pusat ibadah tertua, serta kawasan jalan Sudirman dan Jalan Cibadak (Vihara Dharma Ramsi) untuk pertunjukkan Barongsai. Bagi etnis Tionghoa perayaan Imlek yang esensial merupakan kesempatan untuk berkumpulnya keluarga inti.

Gelombang Mudik Terbesar
Spirit Imlek tahun ini menunjukkan betapa rakyat Tiongkok mampu menggetarkan dunia dengan arus mudik tahunan terbesar di planet Bumi. Arus mudik dimulai pada Senin (2/2/2026), atau 15 hari menjelang perayaan Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi 2026.
Menurut otoritas transportasi Tiongkok akan terjadi pergerakan penduduk hingga mencapai 9,5 miliar perjalanan penumpang.
Seluruh negara menikmati berkah mudik Imlek. Jumlah turis Tiongkok yang liburan ke luar negeri selama libur Imlek 2026 diperkirakan akan meningkat signifikan. Agen perjalanan wisata di Tiongkok mencatat wisatawan banyak yang memesan liburan ke Rusia, Australia, Thailand, dan Korea Selatan. Jepang, yang tahun lalu menjadi tujuan populer, mulai ditinggalkan.
Kota-kota di seluruh China dan miliaran etnis Tionghoa bersiap menyambut Tahun Baru Imlek pada 17 Februari, ketika shio akan berganti dari Tahun Ular menjadi Tahun Kuda. Kuda Api dianggap sebagai kombinasi yang kuat dalam shio Cina. Api Yang melambangkan aktivitas dan gairah, sedangkan Kuda mewakili kemandirian dan tindakan.
Transformasi Pengembangan Bakat
Salah satu implikasi pembenahan manajemen bakat adalah transformasi model pengembangan karyawan. Yang dulu diwarnai dengan prosedur yang beliku kini ditransformasikan dengan cepat menjadi initiate, engage, collaborate, dan evolve ( menjalin, berkolaborasi, melibatkan dan mengembangkan ). Aktivitas tersebut disertai dengan injeksi nilai-nilai korporasi seperti sikap percaya diri untuk berpikir besar dan menumbuhkan integritas diri dan team work yang kokoh.
Tata kelola ketenagakerjaan model Tiongkok yang dilandasi dengan spirit dan nilai-nilai tradisi. Spirit tersebut terkait dengan ajaran Confucius atau Kongfuci yang mana waktu kelahirannya menjadi tahun pertama Tahun Baru Imlek.
Spirit dan etos kerja SDM di Tiongkok itu dilandasi etika dan nilai-nilai Konfusian. Nilai-nlai dan etika Konfusian kini telah menjadi prinsip dasar konglomerasi yang sangat ampuh untuk senjata persaingan di era disrupsi teknologi.
Pada saat peringatan tahun baru Imlek kali ini, ada yang sangat menarik terkait dengan rekrutmen karyawan gaya Tiongkok yang amat cepat dan sangat dinamis. Ratusan juta pekerja di Tiongkok yang saat liburan Imlek kali ini sedang melakukan ritual mudik ke kampung halaman dengan memamerkan tingkat kesejahteraan yang bisa dibanggakan, merupakan gambaran betapa hebatnya sistem ketenagakerjaan di negeri Tiongkok.
Fenomena berpacu memperebutkan bakat pekerja bagi korporasi di Tiongkok sangat ketat. Pekerja di Tiongkok setiap saat dituntut untuk terus mengembangkan bakat dan kompetensinhya. Itu terlihat pada penyelenggaraan bursa tenaga kerja yang antara lain event Shenzhen General Talents Market yang sangat unik. Setiap harinya bursa tersebut diikuti oleh ratusan perusahaan besar yang merekrut karyawan berbakat dan langsung dipekerjakan keesok harinya. Sistem ketenagakerjaan berbasis bakat pada era disrupsi di Tiongkok kini sangat sesuai dengan perekonomian negara itu yang berpacu dengan kecepatan penuh.
Di banyak negara termasuk Indonesia, perang memperebutkan pekerja berbakat terkendala oleh kesenjangan atau disparitas mutu tenaga kerja. Ada disparitas pasar tenaga kerja yang sangat serius. Disparitas tersebut kurangnya tenaga kerja terampil atau ahli utamanya di sektor industri. Disisi lain kategori penganggur yang ada sebagian besar tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Disparitas akut tersebut sesuai dengan riset konsultan SDM terkemuka dunia, yakni Hays. Dalam laporan tahunannya yang bertajuk Hays Global Skills Index disebutkan terjadinya tren disparitas berupa semakin lebarnya jarak antara kebutuhan perusahaan akan pekerja berkompetensi dengan pencari kerja.
Hasil riset Hays diatas juga sangat relevan dengan kondisi di Indonesia yang hingga kini belum memiliki sistem nasional maupun daerah yang baik terkait pengembangan bakat dan kompetensi bagi warganya. Itulah sebabnya banyak korporasi padat teknologi di negeri ini yang sedang menghadapi kesulitan untuk merekrut karyawan yang berbakat dan yang mempunyai keterampilan khusus. Implikasinya, pertumbuhan ketenagakerjaan di Indonesia yang mencapai 2,9 juta per tahun, dimana sebagian besar atau sekitar 80 persen di antaranya tenaga kerja tidak terlatih atau tidak berbakat.
Pada tahun Kuda saatnya mengelola talenta lebih baik lagi. Ada nilai-nilai Imlek yang relevan untuk memperbaiki etos kerja bangsa. Selama ini etos kerja bangsa Indonesia masih belum menggembirakan jika dibandingkan dengan dengan negara-negara yang dikategorikan Macan Asia seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Vietnam dan lain-lain.
Empat Hari Raya Etnis Tionghoa
Pertama kali Imlek dihitung berdasarkan tahun pertama kelahiran Kongfuzi atau Confucius. Penentuan itu dilakukan oleh Kaisar Han Wudi sebagai penghormatan kepada Kongfuzi yang telah mencanangkan agar menggunakan sistem penanggalan Dinasti Xia dimana Tahun Baru dimulai pada tanggal 1 bulan kesatu. Oleh sebab itu sistem penanggalan ini dikenal pula dengan Kongzili.
Sebenarnya WNI keturunan Tiongkok sejak awal kemerdekaan RI telah memiliki landasan tentang kebebasan melakukan kegiatan beribadah. Pada 1946 Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Pemerintah tentang hari-hari raya umat beragama No.2/OEM-1946 yang menetapkan empat hari raya etnis Tionghoa yang terdiri dari Tahun Baru Imlek, hari wafatnya Khonghucu yakni tanggal 18 bulan 2 Imlek, Ceng Beng dan hari lahirnya Khonghucu yakni tanggal 27 bulan 2 Imlek.
Etnis Tionghoa di Indonesia memperoleh kebebasan merayakan Imlek pada 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif atau hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya. Baru pada 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003. (*)
