Kampung Sagara Kembang menggelar kegiatan Hajat Uar dan Munggahan yang diisi dengan tasyakuran bersama pada Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada pukul 13.00 WIB di kediaman bengkel Hens Motor dengan suasana sederhana namun penuh kebersamaan.
Acara ini dihadiri oleh warga Kampung Sagara Kembang dari berbagai unsur, mulai dari Kadus, pengurus RT, RW, hingga anak-anak. Warga tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari istighosah, doa, tahlil, hingga makan bersama sebagai wujud rasa syukur.
Dalam sambutannya, panitia kegiatan, Abilah Frasetia, menyampaikan bahwa Hajat Uar merupakan tradisi warisan nenek moyang yang perlu dijaga, namun tetap harus selaras dengan ajaran Islam.
Baca Juga: Ramadan Saat Tepat Membangun Hubungan Industrial yang Konstruktif
Hajat Uar merupakan tradisi yang harus dijaga karena menjadi bukti kecintaan masyarakat terhadap tanah leluhur. Namun, pelaksanaannya tidak boleh disertai niat memuja para leluhur, karena hal itu dilarang dalam Islam. Jika niatnya sebagai bentuk tasyakur bin ni’mah atau ungkapan syukur atas nikmat Allah, maka hal tersebut diperbolehkan.
Hal ini sejalan dengan kaidah fikih:
المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
Dalil ini berarti melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.
Dari Hajat Uar ini, masyarakat diharapkan dapat mengambil ibrah untuk terus bersyukur, terlebih menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Melalui kegiatan tasyakuran Hajat Uar dan Munggahan ini, masyarakat berharap kebersamaan dan silaturahmi antarwarga semakin erat, sekaligus menjaga tradisi leluhur dengan nilai-nilai keislaman yang lebih baik. Kegiatan pun ditutup dengan doa bersama dan santap hidangan secara gotong royong sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan warga. (*)
