Di balik wajah Bandung yang kian modern, ada tradisi yang terus berdenyut di antara anak-anak mudanya. Munggahan, kebiasaan berkumpul dan makan bersama keluarga atau kerabat menjelang Ramadhan, masih dianggap sebagai simbol kesiapan batin dan lahir sebelum memasuki bulan suci.
Dalvin Rafi Prayoga dan Faisal Jaya Saputra merupakan anak muda yang masih menjalankan tradisi di Kecamatan Babakan Ciparay di Kota Bandung, Jawa Barat. Mereka berdua adalah anak muda berdarah asli Sunda dan dikenal oleh temannya sebagai orang yang aktif dalam merencanakan munggahan setiap tahunnya. Mereka menceritakan bagaimana Munggahan sebagai salah satu harta budaya yang berharga. Budaya Munggahan atau makan bersama menjadi kebudayaan yang kata mereka harus selalu dilestarikan. (28/10/2025)
Tradisi ini, menurut Dalvin, berakar dari kata “unggah” yang berarti naik, menjadikannya sebuah persiapan spiritual.
“Munggahan jadi simbol pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memulai ibadah puasa,” jelasnya.
Momen ini sekaligus menjadi ajang menjalin silaturahmi yang kerap terlewatkan karena kesibukan harian.
Seiring perkembangan zaman, Munggahan memang mengalami penyesuaian, namun perubahan ini justru dimanfaatkan oleh Dalvin dan Faisal. Evolusi teknologi, terutama media sosial, kini berfungsi sebagai alat komunikasi yang efisien untuk mengkoordinasi acara tersebut.
Faisal menekankan bahwa media sosial membantu mempermudah proses perencanaan.
“Kalau mau makan di luar, nentuin bakal makan apa dan tempatnya di mana juga jadi lebih mudah, soalnya kita tinggal cari tempat viral gitu terus bisa lihat review orang juga,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi dan tradisi dapat berjalan beriringan.

Faisal melihat media sosial sebagai sarana untuk mempromosikan budaya. Daripada merasa malu, ia menyarankan agar anak muda memanfaatkan platform seperti TikTok untuk menunjukkan perkembangan positif dari budaya lokal.
“Media sosial dapat menjadi pendukung kita untuk membuat konten TikTok bersama dan menunjukkan bahwa budaya kita ini justru semakin berkembang dan mudah dikenal di era media sosial sekarang,” ujarnya.
Baca Juga: Bisakah Frugal Living dan Slow Living Diterapkan di Sukabumi?
Dalam pelaksanaan Munggahan, setiap orang memiliki peran spesifik; Dalvin seringkali bertugas mencari dan menentukan lokasi kumpul.
Sementara itu, Faisal lebih banyak mengatur urusan makanan dan membawa hidangan pelengkap seperti tumpeng mini atau lauk pauk. Kerjasama ini memastikan tradisi tetap berjalan lancar dan meriah.
Sebagai anak muda yang hidup di tengah budaya ini, harapan terbesar mereka adalah agar generasi penerus tidak malu dengan identitas budayanya. Mereka bertekad agar Munggahan, yang kini menjadi kebiasaan untuk mempererat silaturahmi, dapat terus bertahan dan dilakukan di tengah kesibukan yang ada. Kisah mereka adalah bukti nyata bahwa di tengah pesatnya perkembangan Bandung, tradisi leluhur akan terus hidup selama ada yang bersedia menjaga. (*)
