Lapangan Futsal: Ruang Kedua Anak Muda Kota Bandung

Adil Rafsanjani
Ditulis oleh Adil Rafsanjani diterbitkan Kamis 08 Jan 2026, 11:01 WIB
Lapangan Futsal Zone 73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Muhammad Adil Rafsanjani)

Lapangan Futsal Zone 73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Muhammad Adil Rafsanjani)

Malam baru saja turun di kawasan Bandung Timur. Lampu-lampu putih memantul di lantai hijau sintetis, membentuk bayangan panjang para pemain yang sedang berlari mengejar bola. Sorakan, tawa, dan sesekali keluhan kecil membaur dalam udara yang mulai dingin.

Di Zone 73 Futsal, tempat ini tak pernah benar-benar sepi. Dari sore hingga larut malam, lapangan selalu hidup oleh deru sepatu dan semangat anak-anak muda yang mencari tempat pelarian dari rutinitas kota.

“Kalau udah main futsal, semua beban hilang,” kata Aqil (21), mahasiswa salah satu kampus Negri di Bandung, yang hampir setiap akhir pekan menghabiskan waktunya di sini. “Capek, iya. Tapi di sini tuh rasanya kayak rumah kedua.”

Ruang Kedua di Tengah Himpitan Kota

Bandung dikenal sebagai kota kreatif yang selalu sibuk. Jalanan padat, tugas kuliah menumpuk, tekanan hidup kadang membuat anak muda kehilangan ruang untuk sekadar bernapas. Di tengah hiruk-pikuk itu, lapangan futsal menjadi semacam oasis—tempat untuk berlari, tertawa, dan menyalurkan energi muda.

Menurut Dr. Dian Prasetyo, dosen sosiologi perkotaan di Universitas Islam Nusantara, fenomena futsal sebagai ruang sosial bukan hal sepele.

“Bagi anak muda perkotaan, lapangan futsal berfungsi seperti third place—tempat ketiga setelah rumah dan kampus atau tempat kerja,” ujarnya saat dihubungi. “Di sana mereka membangun interaksi sosial, belajar kerja sama, sekaligus melepaskan stres dari tekanan kehidupan kota.”

Futsal menjadi sarana ekspresi yang menyatukan berbagai latar belakang. Tak peduli mahasiswa, pegawai, atau ojek online—semua sejajar di lapangan. Perbedaan pekerjaan atau status sosial seakan lenyap begitu peluit ditiup.

Tim Futsal Kpi UIN Bandung (Sumber: Dok Pribadi | Foto: Adil Rafsanjani)
Tim Futsal Kpi UIN Bandung (Sumber: Dok Pribadi | Foto: Adil Rafsanjani)

Futsal Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Bandung

Di antara banyak komunitas futsal di Bandung, ada satu yang tak kalah menarik perhatian: tim futsal Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Tim ini lahir bukan semata karena hobi, tetapi karena semangat kebersamaan yang tinggi di antara para mahasiswa KPI.

Setiap minggu sore, para anggota rutin berkumpul di lapangan futsal sekitar kampus, di kawasan Cibiru. Mereka datang dengan sepatu futsal sederhana, bola yang sudah agak usang, dan semangat yang tak pernah padam.
“Awalnya cuma main bareng habis kuliah. Lama-lama jadi rutinitas yang ditunggu-tunggu,” ujar Adom (22), salah satu anggota tim.

Bagi mahasiswa KPI, futsal bukan hanya olahraga, tetapi juga media komunikasi yang nyata. Di lapangan, mereka belajar bekerja sama, membaca situasi, dan saling memahami tanpa banyak kata.
“Nilai-nilai komunikasi itu terasa banget waktu main,” kata Aufar, mahasiswa semester lima. “Kadang, satu tatapan atau isyarat tangan aja udah cukup buat ngerti apa yang harus dilakukan.”

Selain untuk menyalurkan hobi, kegiatan futsal juga mempererat solidaritas antarangkatan.
“Sering banget kita main bareng kakak tingkat atau adik tingkat. Dari situ, hubungan jadi akrab, bahkan kadang mereka bantu dalam urusan kuliah juga,” tambahnya sambil tersenyum.

Lebih dari itu, futsal KPI juga menjadi ruang aman untuk berbagi cerita dan tawa. Banyak mahasiswa mengaku menemukan teman sejati dari pertemuan rutin ini.
“Capeknya main tuh malah bikin pikiran lebih ringan. Kita ngobrol, bercanda, dan ngerasa jadi bagian dari keluarga besar,” ujar Rifa, mahasiswi KPI yang sering datang sebagai suporter setia.

Tak jarang, kegiatan ini juga dijadikan ajang silaturahmi dengan jurusan lain melalui fun match antarfakultas. Dari lapangan kecil di pojok kampus, mereka belajar bahwa komunikasi tak hanya lahir dari ruang kelas, tapi juga dari semangat kerja sama dan sportivitas.

Lebih dari Sekadar Olahraga

Di balik serunya pertandingan, futsal menyimpan makna yang lebih dalam bagi sebagian pemain.
Faris (20), anggota komunitas futsal di kawasan Cicaheum, mengaku menemukan banyak pelajaran hidup di lapangan.

“Kalau lagi kalah, aku belajar sabar. Kalau menang, aku belajar rendah hati. Futsal itu kayak hidup—nggak selalu soal menang atau kalah, tapi tentang gimana kita bermain jujur dan kompak.”

Psikolog olahraga, dr. Rina Yuliani, M.Psi., menyebut aktivitas seperti futsal memiliki dampak besar pada kesehatan mental anak muda.

“Selain meningkatkan kebugaran fisik, futsal juga memicu hormon endorfin yang membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan,” jelasnya.

Ia menambahkan, aktivitas berkelompok seperti ini juga memberi efek sosial yang positif. “Anak muda merasa diterima dan dihargai di lingkungan mereka. Itu penting untuk keseimbangan emosi.”

Bagi mahasiswa KPI, lapangan futsal juga menjadi tempat berlatih kejujuran dan tanggung jawab. “Kita nggak cuma main buat menang,” ujar Rizky. “Kita main buat belajar menghargai orang lain, kayak di dunia komunikasi yang butuh kerja sama dan saling mendengar.”

Baca Juga: Kenapa Mahasiswa Bangga Begadang? Sains Membongkar Kebiasaannya

Bagi sebagian besar anak muda Bandung, futsal lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah bentuk pelarian dari penat, wadah membangun hubungan sosial, bahkan cara menemukan makna hidup yang sederhana.
“Kalau main bareng teman, itu udah cukup bikin bahagia,” kata Andra. “Kita nggak mikirin siapa paling jago. Yang penting, semua senang.”

Dalam setiap pantulan bola, terselip semangat untuk terus bergerak, berjuang, dan tidak menyerah. Nilai-nilai sportivitas, kerja sama, dan kebersamaan tumbuh secara alami di antara mereka—tanpa ceramah, tanpa tekanan.

Baca Juga: Bisakah Transportasi Publik Memutus Rantai Kemacetan?

Ketika ruang publik kota semakin sempit, lapangan futsal hadir sebagai ruang kedua yang memberi makna baru bagi anak muda Bandung, termasuk mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Di sana, mereka bisa berlari tanpa takut dihakimi, tertawa tanpa pura-pura, dan menemukan versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Di bawah sorot lampu yang tak pernah padam, bola terus bergulir, membawa cerita-cerita kecil tentang persahabatan, perjuangan, dan kebahagiaan yang sederhana.

Dan mungkin, di antara tawa dan keringat itu, tersimpan harapan yang sama: agar selalu ada ruang bagi mereka untuk tumbuh, bermain, dan merasa pulang. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Adil Rafsanjani
Mahasiswa Semester 5 Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)