Lapangan Futsal: Ruang Kedua Anak Muda Kota Bandung

4 menit baca
Adil Rafsanjani
Ditulis oleh Adil Rafsanjani diterbitkan
Lapangan Futsal Zone 73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Muhammad Adil Rafsanjani)
Lapangan Futsal Zone 73 Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Muhammad Adil Rafsanjani)

Malam baru saja turun di kawasan Bandung Timur. Lampu-lampu putih memantul di lantai hijau sintetis, membentuk bayangan panjang para pemain yang sedang berlari mengejar bola. Sorakan, tawa, dan sesekali keluhan kecil membaur dalam udara yang mulai dingin.

Di Zone 73 Futsal, tempat ini tak pernah benar-benar sepi. Dari sore hingga larut malam, lapangan selalu hidup oleh deru sepatu dan semangat anak-anak muda yang mencari tempat pelarian dari rutinitas kota.

“Kalau udah main futsal, semua beban hilang,” kata Aqil (21), mahasiswa salah satu kampus Negri di Bandung, yang hampir setiap akhir pekan menghabiskan waktunya di sini. “Capek, iya. Tapi di sini tuh rasanya kayak rumah kedua.”

Ruang Kedua di Tengah Himpitan Kota

Bandung dikenal sebagai kota kreatif yang selalu sibuk. Jalanan padat, tugas kuliah menumpuk, tekanan hidup kadang membuat anak muda kehilangan ruang untuk sekadar bernapas. Di tengah hiruk-pikuk itu, lapangan futsal menjadi semacam oasis—tempat untuk berlari, tertawa, dan menyalurkan energi muda.

Menurut Dr. Dian Prasetyo, dosen sosiologi perkotaan di Universitas Islam Nusantara, fenomena futsal sebagai ruang sosial bukan hal sepele.

“Bagi anak muda perkotaan, lapangan futsal berfungsi seperti third place—tempat ketiga setelah rumah dan kampus atau tempat kerja,” ujarnya saat dihubungi. “Di sana mereka membangun interaksi sosial, belajar kerja sama, sekaligus melepaskan stres dari tekanan kehidupan kota.”

Futsal menjadi sarana ekspresi yang menyatukan berbagai latar belakang. Tak peduli mahasiswa, pegawai, atau ojek online—semua sejajar di lapangan. Perbedaan pekerjaan atau status sosial seakan lenyap begitu peluit ditiup.

Tim Futsal Kpi UIN Bandung (Sumber: Dok Pribadi | Foto: Adil Rafsanjani)
Tim Futsal Kpi UIN Bandung (Sumber: Dok Pribadi | Foto: Adil Rafsanjani)

Futsal Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Bandung

Di antara banyak komunitas futsal di Bandung, ada satu yang tak kalah menarik perhatian: tim futsal Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Tim ini lahir bukan semata karena hobi, tetapi karena semangat kebersamaan yang tinggi di antara para mahasiswa KPI.

Setiap minggu sore, para anggota rutin berkumpul di lapangan futsal sekitar kampus, di kawasan Cibiru. Mereka datang dengan sepatu futsal sederhana, bola yang sudah agak usang, dan semangat yang tak pernah padam.
“Awalnya cuma main bareng habis kuliah. Lama-lama jadi rutinitas yang ditunggu-tunggu,” ujar Adom (22), salah satu anggota tim.

Bagi mahasiswa KPI, futsal bukan hanya olahraga, tetapi juga media komunikasi yang nyata. Di lapangan, mereka belajar bekerja sama, membaca situasi, dan saling memahami tanpa banyak kata.
“Nilai-nilai komunikasi itu terasa banget waktu main,” kata Aufar, mahasiswa semester lima. “Kadang, satu tatapan atau isyarat tangan aja udah cukup buat ngerti apa yang harus dilakukan.”

Selain untuk menyalurkan hobi, kegiatan futsal juga mempererat solidaritas antarangkatan.
“Sering banget kita main bareng kakak tingkat atau adik tingkat. Dari situ, hubungan jadi akrab, bahkan kadang mereka bantu dalam urusan kuliah juga,” tambahnya sambil tersenyum.

Lebih dari itu, futsal KPI juga menjadi ruang aman untuk berbagi cerita dan tawa. Banyak mahasiswa mengaku menemukan teman sejati dari pertemuan rutin ini.
“Capeknya main tuh malah bikin pikiran lebih ringan. Kita ngobrol, bercanda, dan ngerasa jadi bagian dari keluarga besar,” ujar Rifa, mahasiswi KPI yang sering datang sebagai suporter setia.

Tak jarang, kegiatan ini juga dijadikan ajang silaturahmi dengan jurusan lain melalui fun match antarfakultas. Dari lapangan kecil di pojok kampus, mereka belajar bahwa komunikasi tak hanya lahir dari ruang kelas, tapi juga dari semangat kerja sama dan sportivitas.

Lebih dari Sekadar Olahraga

Di balik serunya pertandingan, futsal menyimpan makna yang lebih dalam bagi sebagian pemain.
Faris (20), anggota komunitas futsal di kawasan Cicaheum, mengaku menemukan banyak pelajaran hidup di lapangan.

“Kalau lagi kalah, aku belajar sabar. Kalau menang, aku belajar rendah hati. Futsal itu kayak hidup—nggak selalu soal menang atau kalah, tapi tentang gimana kita bermain jujur dan kompak.”

Psikolog olahraga, dr. Rina Yuliani, M.Psi., menyebut aktivitas seperti futsal memiliki dampak besar pada kesehatan mental anak muda.

“Selain meningkatkan kebugaran fisik, futsal juga memicu hormon endorfin yang membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan,” jelasnya.

Ia menambahkan, aktivitas berkelompok seperti ini juga memberi efek sosial yang positif. “Anak muda merasa diterima dan dihargai di lingkungan mereka. Itu penting untuk keseimbangan emosi.”

Bagi mahasiswa KPI, lapangan futsal juga menjadi tempat berlatih kejujuran dan tanggung jawab. “Kita nggak cuma main buat menang,” ujar Rizky. “Kita main buat belajar menghargai orang lain, kayak di dunia komunikasi yang butuh kerja sama dan saling mendengar.”

Baca Juga: Kenapa Mahasiswa Bangga Begadang? Sains Membongkar Kebiasaannya

Bagi sebagian besar anak muda Bandung, futsal lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah bentuk pelarian dari penat, wadah membangun hubungan sosial, bahkan cara menemukan makna hidup yang sederhana.
“Kalau main bareng teman, itu udah cukup bikin bahagia,” kata Andra. “Kita nggak mikirin siapa paling jago. Yang penting, semua senang.”

Dalam setiap pantulan bola, terselip semangat untuk terus bergerak, berjuang, dan tidak menyerah. Nilai-nilai sportivitas, kerja sama, dan kebersamaan tumbuh secara alami di antara mereka—tanpa ceramah, tanpa tekanan.

Baca Juga: Bisakah Transportasi Publik Memutus Rantai Kemacetan?

Ketika ruang publik kota semakin sempit, lapangan futsal hadir sebagai ruang kedua yang memberi makna baru bagi anak muda Bandung, termasuk mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Di sana, mereka bisa berlari tanpa takut dihakimi, tertawa tanpa pura-pura, dan menemukan versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Di bawah sorot lampu yang tak pernah padam, bola terus bergulir, membawa cerita-cerita kecil tentang persahabatan, perjuangan, dan kebahagiaan yang sederhana.

Dan mungkin, di antara tawa dan keringat itu, tersimpan harapan yang sama: agar selalu ada ruang bagi mereka untuk tumbuh, bermain, dan merasa pulang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)