Malam baru saja turun di kawasan Bandung Timur. Lampu-lampu putih memantul di lantai hijau sintetis, membentuk bayangan panjang para pemain yang sedang berlari mengejar bola. Sorakan, tawa, dan sesekali keluhan kecil membaur dalam udara yang mulai dingin.
Di Zone 73 Futsal, tempat ini tak pernah benar-benar sepi. Dari sore hingga larut malam, lapangan selalu hidup oleh deru sepatu dan semangat anak-anak muda yang mencari tempat pelarian dari rutinitas kota.
“Kalau udah main futsal, semua beban hilang,” kata Aqil (21), mahasiswa salah satu kampus Negri di Bandung, yang hampir setiap akhir pekan menghabiskan waktunya di sini. “Capek, iya. Tapi di sini tuh rasanya kayak rumah kedua.”
Ruang Kedua di Tengah Himpitan Kota
Bandung dikenal sebagai kota kreatif yang selalu sibuk. Jalanan padat, tugas kuliah menumpuk, tekanan hidup kadang membuat anak muda kehilangan ruang untuk sekadar bernapas. Di tengah hiruk-pikuk itu, lapangan futsal menjadi semacam oasis—tempat untuk berlari, tertawa, dan menyalurkan energi muda.
Menurut Dr. Dian Prasetyo, dosen sosiologi perkotaan di Universitas Islam Nusantara, fenomena futsal sebagai ruang sosial bukan hal sepele.
“Bagi anak muda perkotaan, lapangan futsal berfungsi seperti third place—tempat ketiga setelah rumah dan kampus atau tempat kerja,” ujarnya saat dihubungi. “Di sana mereka membangun interaksi sosial, belajar kerja sama, sekaligus melepaskan stres dari tekanan kehidupan kota.”
Futsal menjadi sarana ekspresi yang menyatukan berbagai latar belakang. Tak peduli mahasiswa, pegawai, atau ojek online—semua sejajar di lapangan. Perbedaan pekerjaan atau status sosial seakan lenyap begitu peluit ditiup.

Futsal Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Bandung
Di antara banyak komunitas futsal di Bandung, ada satu yang tak kalah menarik perhatian: tim futsal Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Tim ini lahir bukan semata karena hobi, tetapi karena semangat kebersamaan yang tinggi di antara para mahasiswa KPI.
Setiap minggu sore, para anggota rutin berkumpul di lapangan futsal sekitar kampus, di kawasan Cibiru. Mereka datang dengan sepatu futsal sederhana, bola yang sudah agak usang, dan semangat yang tak pernah padam.
“Awalnya cuma main bareng habis kuliah. Lama-lama jadi rutinitas yang ditunggu-tunggu,” ujar Adom (22), salah satu anggota tim.
Bagi mahasiswa KPI, futsal bukan hanya olahraga, tetapi juga media komunikasi yang nyata. Di lapangan, mereka belajar bekerja sama, membaca situasi, dan saling memahami tanpa banyak kata.
“Nilai-nilai komunikasi itu terasa banget waktu main,” kata Aufar, mahasiswa semester lima. “Kadang, satu tatapan atau isyarat tangan aja udah cukup buat ngerti apa yang harus dilakukan.”
Selain untuk menyalurkan hobi, kegiatan futsal juga mempererat solidaritas antarangkatan.
“Sering banget kita main bareng kakak tingkat atau adik tingkat. Dari situ, hubungan jadi akrab, bahkan kadang mereka bantu dalam urusan kuliah juga,” tambahnya sambil tersenyum.
Lebih dari itu, futsal KPI juga menjadi ruang aman untuk berbagi cerita dan tawa. Banyak mahasiswa mengaku menemukan teman sejati dari pertemuan rutin ini.
“Capeknya main tuh malah bikin pikiran lebih ringan. Kita ngobrol, bercanda, dan ngerasa jadi bagian dari keluarga besar,” ujar Rifa, mahasiswi KPI yang sering datang sebagai suporter setia.
Tak jarang, kegiatan ini juga dijadikan ajang silaturahmi dengan jurusan lain melalui fun match antarfakultas. Dari lapangan kecil di pojok kampus, mereka belajar bahwa komunikasi tak hanya lahir dari ruang kelas, tapi juga dari semangat kerja sama dan sportivitas.
Lebih dari Sekadar Olahraga
Di balik serunya pertandingan, futsal menyimpan makna yang lebih dalam bagi sebagian pemain.
Faris (20), anggota komunitas futsal di kawasan Cicaheum, mengaku menemukan banyak pelajaran hidup di lapangan.
“Kalau lagi kalah, aku belajar sabar. Kalau menang, aku belajar rendah hati. Futsal itu kayak hidup—nggak selalu soal menang atau kalah, tapi tentang gimana kita bermain jujur dan kompak.”
Psikolog olahraga, dr. Rina Yuliani, M.Psi., menyebut aktivitas seperti futsal memiliki dampak besar pada kesehatan mental anak muda.
“Selain meningkatkan kebugaran fisik, futsal juga memicu hormon endorfin yang membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan,” jelasnya.
Ia menambahkan, aktivitas berkelompok seperti ini juga memberi efek sosial yang positif. “Anak muda merasa diterima dan dihargai di lingkungan mereka. Itu penting untuk keseimbangan emosi.”
Bagi mahasiswa KPI, lapangan futsal juga menjadi tempat berlatih kejujuran dan tanggung jawab. “Kita nggak cuma main buat menang,” ujar Rizky. “Kita main buat belajar menghargai orang lain, kayak di dunia komunikasi yang butuh kerja sama dan saling mendengar.”
Baca Juga: Kenapa Mahasiswa Bangga Begadang? Sains Membongkar Kebiasaannya
Bagi sebagian besar anak muda Bandung, futsal lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah bentuk pelarian dari penat, wadah membangun hubungan sosial, bahkan cara menemukan makna hidup yang sederhana.
“Kalau main bareng teman, itu udah cukup bikin bahagia,” kata Andra. “Kita nggak mikirin siapa paling jago. Yang penting, semua senang.”
Dalam setiap pantulan bola, terselip semangat untuk terus bergerak, berjuang, dan tidak menyerah. Nilai-nilai sportivitas, kerja sama, dan kebersamaan tumbuh secara alami di antara mereka—tanpa ceramah, tanpa tekanan.
Baca Juga: Bisakah Transportasi Publik Memutus Rantai Kemacetan?
Ketika ruang publik kota semakin sempit, lapangan futsal hadir sebagai ruang kedua yang memberi makna baru bagi anak muda Bandung, termasuk mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Di sana, mereka bisa berlari tanpa takut dihakimi, tertawa tanpa pura-pura, dan menemukan versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Di bawah sorot lampu yang tak pernah padam, bola terus bergulir, membawa cerita-cerita kecil tentang persahabatan, perjuangan, dan kebahagiaan yang sederhana.
Dan mungkin, di antara tawa dan keringat itu, tersimpan harapan yang sama: agar selalu ada ruang bagi mereka untuk tumbuh, bermain, dan merasa pulang. (*)
