Sukabumi identik dengan udara dingin yang melegenda. Merujuk pada indeks kualitas udara tahunan, Sukabumi sering kali masuk dalam jajaran kota paling asri dan minim polusi di Jawa Barat.
Sebagai warga asli, saya merasakan kontras yang unik. Hidup di antara kepungan pabrik, namun di saat yang sama, embusan angin pegunungan tetap terasa di depan mata.
Sayangnya, banyaknya pabrik di sini sering kali menciptakan standar hidup yang melelahkan. Banyak warga Sukabumi yang akhirnya sulit menerapkan gaya hidup hemat (frugal living) maupun hidup tenang (slow living). Ada gengsi sosial yang besar, atau mungkin sekadar belum tahu cara mengelola prioritas di tengah tuntutan zaman.
Gaji UMK vs Gengsi
Jika bicara angka, UMK di Kota Sukabumi berada di kisaran Rp2,6 juta dan Kabupaten di angka Rp3,4 juta. Bagi mereka yang sudah berkeluarga, nominal ini sering kali hanya "numpang lewat".
Saya sering melihat realita di mana gaji habis sekadar untuk gaya hidup nongkrong atau cicilan yang dipaksakan. Padahal, ketenangan hidup harusnya dimulai dengan berani tidak mengejar pengakuan orang lain.
Menerapkan frugal living bukan berarti menjadi pelit. Ini soal menjaga aset agar masa depan lebih terjamin.
Tantangannya memang berat, terutama bagi yang menjadi tulang punggung keluarga atau harus membiayai pendidikan adik. Jujur saja, itu susah. Ada beban besar di pundak yang membuat pilihan untuk berhemat terasa hampir mustahil.
Memilih Kualitas, Bukan Merek
Meskipun berat, kita harus percaya kalau roda itu berputar. Sambil menunggu kehidupan yang lebih baik, kita bisa mulai dari langkah teknis yang sederhana. Misalnya, lebih memilih membeli makan secara langsung daripada melalui platform digital yang mahal di ongkos kirim.
Dalam hal kebutuhan gaya hidup juga sama; lebih baik memilih produk seharga Rp1 juta dengan kualitas yang hampir mirip daripada mengejar merek Rp5 juta hanya demi status.
Saat finansial mulai tertata, kita baru punya ruang untuk menikmati apa itu slow living. Setelah lelah bekerja di pabrik atau kantor, cobalah berhenti sejenak untuk menghirup udara dingin Sukabumi. Stres pekerjaan sering kali bisa luruh hanya dengan menikmati alam tanpa perlu sibuk memikirkan validasi di media sosial.
Baca Juga: JPO di Lokasi Strategis Kota Bandung Kinclong, yang di Pinggiran Dibiarkan Seadanya
Bahagia dalam Sepiring Liwet
Standar bahagia sebenarnya tidak serumit itu. Di tanah Sunda, kita punya tradisi makan nasi liwet. Menu ini istimewa bukan soal kemewahannya, tapi soal kebersamaannya.
Menikmati nasi liwet di atas daun pisang bersama keluarga atau rekan kerja adalah bentuk kebahagiaan jujur yang sering kali dirindukan saat kita jauh dari Sukabumi.
Pada akhirnya, kita tidak perlu menunggu kaya raya untuk bisa menikmati hidup tenang. Mulailah menghargai apa yang ada sekarang. Dengan sedikit keberanian untuk hidup hemat dan kemauan untuk melambat, kita bisa mulai menata hidup yang lebih berkualitas di kota ini. (*)
