Bandung dan Pungutan Liar Wisata yang Tak Pernah Usai

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Parkir Liar kepada Peserta AHY Fun Run 5K di Lapangan Saparua Bandung (Sumber: Printerest)
Parkir Liar kepada Peserta AHY Fun Run 5K di Lapangan Saparua Bandung (Sumber: Printerest)

Bumi Pasundan lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum. MAW Brouwer

Kutipan dari pastor tersebut terpampang nyata dalam tembok yang dilewati menuju jalan Asia Afrika. Adapun kutipan ini bersumber dari tulisannya di koran nasional pada 10 Juli 1975. Menurut saya kutipan ini juga sangat merepresentasikan Kota Bandung yang sejak zaman dahulu di anugerahi oleh bentangan alam pegunungan dan perbukitan yang indah.

Bandung memang kota yang tak pernah lepas dari potensi wisata alam yang indah, potensi wisata tempat bersejarah hingga potensi wisata kekinian yang didesain secara modern. Anugerah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Kota Bandung. Tak hanya itu bahkan bisa menghidupkan ekonomi berbagai masyarakat yang hidup didalamnya.

Satu hal yang sangat disayangkan adalah hadirnya pungutan liar hampir di setiap wisata yang ada. Mulai dari wisata skala kecil hingga besar, mulai dari pungutan liar hingga parkir liar, mulai dari wisata alam hingga daerah wisata kuliner.

Baru-baru ini di sekitar tempat saya tinggal ada pasar malam dadakan yang nomaden ke beberapa daerah. Tahun sebelumnya pasar malam ini cukup sepi karena selalu turun hujan. Namun satu minggu ini dengan cuaca yang cerah, pasar malam lebih ramai dikunjungi. Saat melewati pasar malam beberapa hari buka tempat ini langsung dihadiri oleh sejumlah anak muda yang mendadak jadi tukang parkir. Membludaknya pengunjung tentu menjadi kesempatan bagi masyarakat sekitar yang juga mencari keuntungan lewat motor-motor yang terparkir.

Dua tahun ke belakang saya pribadi pun pernah mengalami pungutan liar saat memasuki kawasan Taman Langit Pangalengan. Setelah dimintai uang untuk tiket masuk, pulangnya saya bersama teman harus membayar biaya parkir sebesar Rp.10.000. Kemudian pada awal tahun 2025 sedang ramai wisata gratis yaitu Upas Hills hanya membayar Rp.5000 untuk parkir. Hanya saja setelah viral karena banyak pendaki yang tertarik mendadak ada pungutan liar yang dimintai sejumlah orang yang mengaku pengurus dari kawasan gunung tangkuban perahu sebanyak Rp.40.000.

Info ini saya dapatkan dari beberapa sumber informasi melalui medsos saat ada konten kreator yang mewawancarai sejumlah pihak sambil merekamnya. Sementara teman saya dari Subang yang sempat berangkat ke sana mengaku mendapatkan pungutan liar saat tiba di puncak dengan nominal yang sama.

Bandung tak hanya dikenal sebagai kota kreatif dan surga belanja, tapi juga mulai menapaki jalur baru dalam industri pariwisata yakni wisata halal. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung tak hanya dikenal sebagai kota kreatif dan surga belanja, tapi juga mulai menapaki jalur baru dalam industri pariwisata yakni wisata halal. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Begitu juga dengan wisata yang ada di Kawasan Gunung Puntang. Sejumlah tiket masuk dibanderol seenaknya. Lalu mendadak turun setelah tidak ada uang kembalian. Lucunya saat dimintai bukti karcis, penjaga tidak memberikan dan menyuruh saya bersama teman untuk segera masuk saja. Belum lagi untuk mengakses beberapa fasilitas seperti cafe dan curug harus kembali membayar Rp.10.000. Padahal sebelum ada Cafe, lahan situs radio itu bisa diakses secara gratis.

Sejumlah berita di media juga menunjukkan realitas yang sama. Dilansir dari PRFM pada Oktober 2025 ada pungutan liar yang viral di media sosial tepatnya di Warung Nasi Bu Imas. Pengunjung yang menggunakan mobil dimintai uang parkir sejumlah Rp.30.000. Padahal dari informasi yang dihimpun dari PRFM, melalui hasil penyelidikan diketahui lokasi yang menjadi pugutan liar merupakan lahan berizin yang dikelola Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung.

Aksi pungli akan makin marak terjadi saat memasuki musim diliburan di akhir tahun. Biasanya orang-orang ini akan mematok harga setinggi-tingginya untuk mendulang keuntungan yang besar saat momentum terjadi.

Dilansir darti detik.com kejadian pemungutan liar juga terjadi saat momen Idul Fitri 2024. Aksi pungli tersebut oleh tiga orang bang jago di Kawasan Perkebunan Teh Lonsum Leuweung Panjang, Kampung Citawa, Desa Tarumawijaya, Kecamatan Kertasari. Tak hanya pemaksaan pungli tapi terjadi kekerasan yang dilakukan bang jago saat mengaku tersinggung oleh ucapan korban.

Kegiatan pungli memang cukup menguras perencanaan finansial liburan. Tentu selain membuat hati kesal pungli juga dapat memicu ketidaknyaman pengunjung untuk datang kembali ke tempat wisata yang bersangkutan. Lambat-laun tentu jika tidak ada penindaklanjutan dari pemerhati kebijakan maka aksi pungli akan semakin menjamur dan tidak akan pernah usai.

Fenomena ini menjadi pertanyaan mengapa permasalahan pungutan liar di tempat wisata Kota Bandung seakan tidak pernah usai. Semakin diusut rasanya makin terus bertumbuh hanya berpindah tempat saja. Hal ini membawa kepada beberapa spekulasi pada apakah maraknya sejumlah pungutan liar karena gagalnya pemerintah memberikan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Atau justru sudah menjadi profesi yang dinormalisasi karena dianggap mudah dan tidak memerlukan modal. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)