Kamus Bahasa Indonesia vs Aplikasi AI: Siapa yang Kini Membentuk Standar Berbahasa?

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Senin 02 Feb 2026, 09:55 WIB
Salah satu alat bantu untuk meningkatkan daya nalar manusia dengan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). (Sumber: Pexels/Matheus Bertelli)

Salah satu alat bantu untuk meningkatkan daya nalar manusia dengan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). (Sumber: Pexels/Matheus Bertelli)

AYOBANDUNG.ID -- Orang hari ini tidak perlu lagi membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ketika ragu memilih kata; dan cukup bertanya kepada kecerdasan buatan.

Dari menulis email resmi, caption media sosial, hingga draf artikel, AI mulai menjadi “rujukan bahasa” baru. Pergeseran ini terlihat sepele, tetapi sesungguhnya menyimpan pertanyaan besar: siapa yang kini membentuk standar Bahasa Indonesia, lembaga bahasa atau mesin algoritma?

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan teknologi berbasis bahasa melonjak tajam. Aplikasi penerjemah, pemeriksa tata bahasa, hingga chatbot penulis telah masuk ke ruang personal dan profesional. Bahasa Indonesia, sebagai salah satu bahasa dengan penutur terbanyak di dunia, menjadi ladang data yang subur bagi sistem kecerdasan buatan global. Namun, di saat yang sama, otoritas kebahasaan perlahan bergeser dari manusia ke mesin.

Secara historis, standar baku dan tidak baku Bahasa Indonesia dibentuk oleh institusi resmi, dunia pendidikan, media massa, dan komunitas akademik. Guru, editor, dan redaktur menjadi penjaga gerbang bahasa. Mereka menentukan mana yang layak tayang, mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang dianggap menyimpang dari kaidah.

Kini, peran itu mulai diambil alih oleh sistem otomatis. Banyak penulis pemula lebih percaya pada saran AI daripada catatan editor manusia. Pun ketimbang mengintip KBBI. Tidak sedikit mahasiswa menganggap hasil parafrase mesin sebagai bentuk bahasa “paling benar”. Bahkan, di ruang redaksi pun, AI mulai dipakai untuk menyunting struktur kalimat dan merapikan gaya bahasa.

Masalahnya, AI tidak bekerja berdasarkan norma budaya atau nilai kebahasaan nasional. Ia bekerja berdasarkan statistik: pola paling sering muncul, struktur yang dianggap “aman”, dan bentuk yang netral secara global. Akibatnya, yang lahir bukan selalu bahasa yang tepat konteks, melainkan bahasa yang rata, seragam, dan kadang kehilangan nuansa.

Antara Bahasa Baku dan “Rasa Algoritma”

Salah satu dampak paling terasa adalah munculnya gaya bahasa baru yang terasa kaku atau terlalu steril. Kalimat hasil AI cenderung formal, panjang, dan minim emosi. Di sisi lain, dalam konteks populer, AI juga sering memproduksi bahasa yang terlalu santai tanpa mempertimbangkan situasi komunikasi.

Dalam praktik jurnalistik, ini bisa berbahaya. Bahasa berita tidak hanya soal tata bahasa, tetapi juga sensitivitas sosial, politik, dan budaya. Satu pilihan kata yang keliru dapat mengubah makna, memicu salah tafsir, atau bahkan menyinggung kelompok tertentu. AI belum memiliki kepekaan sosial seperti manusia. Ia tidak memahami trauma kolektif, dinamika politik lokal, atau simbol budaya yang hidup di masyarakat.

Jika standar bahasa diserahkan sepenuhnya pada mesin, kita berisiko kehilangan kekayaan ekspresi yang selama ini menjadi ciri Bahasa Indonesia: fleksibel, kontekstual, dan berakar pada realitas sosial.

Kecerdasan buatan. (Sumber: Pexels | Foto: Airam Dato-on)
Kecerdasan buatan. (Sumber: Pexels | Foto: Airam Dato-on)

Dampak pada Jurnalisme dan Pendidikan

Di ruang redaksi, penggunaan AI memang meningkatkan efisiensi. Teks bisa diproduksi lebih cepat, kesalahan teknis bisa diminimalkan, dan pekerjaan administratif bisa dipangkas. Namun, ada harga yang harus dibayar: homogenisasi gaya bahasa.

Jika banyak media menggunakan pola penyuntingan yang sama dari sistem otomatis, maka gaya penulisan antar media akan semakin mirip. Keunikan redaksi, karakter editorial, dan ciri khas gaya bahasa perlahan menghilang. Media berubah menjadi produk algoritmik, bukan lagi karya editorial.

Di dunia pendidikan, tantangannya tidak kalah serius. Mahasiswa dan pelajar semakin terbiasa menyerahkan proses berpikir bahasa kepada mesin. Mereka tidak lagi berlatih menyusun argumen, memilih diksi, atau membangun struktur kalimat. Bahasa menjadi hasil instan, bukan proses intelektual.

Dalam jangka panjang, ini dapat melemahkan kompetensi literasi. Generasi muda bisa mahir menggunakan alat, tetapi miskin penguasaan bahasa secara substantif.

Baca Juga: ‘Urat Jagat’ karya Ari Andriansyah Raih Hadiah Sastera Rancagé 2026

Selain itu, ada dimensi ekonomi yang jarang dibicarakan dalam isu ini: bahasa sebagai sumber daya digital. Data bahasa Indonesia dikumpulkan, diproses, dan dimanfaatkan oleh perusahaan teknologi global untuk melatih model AI. Dari percakapan media sosial, artikel berita, hingga dokumen publik, semuanya menjadi bahan bakar algoritma.

Namun, nilai ekonomi yang dihasilkan dari data tersebut tidak selalu kembali ke ekosistem kebahasaan nasional. Indonesia menyumbang data, tetapi tidak memegang kendali atas platform. Dalam istilah ekonomi digital, ini mirip dengan negara pengekspor bahan mentah yang tidak menguasai industri pengolahannya.

Jika tidak ada strategi nasional yang serius, Bahasa Indonesia berisiko hanya menjadi objek eksploitasi data, bukan subjek yang menentukan arah teknologi kebahasaan.

Baca Juga: Pasar Kaget yang Tidak Mengagetkan, tetapi Membahagiakan

Di sinilah peran negara menjadi krusial. Badan Bahasa dan institusi kebahasaan tidak bisa lagi hanya fokus pada kamus cetak, pedoman ejaan, atau seminar akademik. Mereka perlu masuk ke ruang digital secara aktif.

Standar Bahasa Indonesia harus hadir dalam bentuk yang kompatibel dengan teknologi: korpus digital terbuka, API kebahasaan, kamus daring yang terintegrasi, dan panduan gaya berbasis data. Jika lembaga resmi tidak mengisi ruang ini, maka platform teknologi akan mengisinya dengan standar mereka sendiri.

Tindakan ini bukan melawan AI, tetapi memastikan bahwa nilai kebahasaan nasional ikut tertanam dalam sistem teknologi yang digunakan publik.

Angle berita dimulai dari cara menulismu yang akan memakai kalimat aktif atau pasif. (Sumber: Pexels | Foto: Suzy Hazelwood)
Angle berita dimulai dari cara menulismu yang akan memakai kalimat aktif atau pasif. (Sumber: Pexels | Foto: Suzy Hazelwood)

Di tengah kemajuan teknologi, posisi manusia seharusnya tidak tergeser, melainkan bergeser peran. AI bisa menjadi asisten, tetapi keputusan akhir harus tetap di tangan manusia.

Editor, guru, jurnalis, dan penulis perlu meningkatkan literasi AI, bukan untuk menyerah pada mesin, tetapi untuk menggunakannya secara kritis. Bahasa Indonesia harus diperlakukan sebagai ruang kreatif dan intelektual, bukan sekadar output otomatis.

Walhasil, bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah cara berpikir, identitas kolektif, dan fondasi kebudayaan. Jika standar bahasa sepenuhnya ditentukan oleh algoritma, yang hilang bukan hanya kaidah, tetapi juga makna.

Di era kecerdasan buatan, tantangan kita bukan menolak teknologi, melainkan memastikan bahwa manusia tetap menjadi penentu arah. Bahasa Indonesia harus berkembang bersama AI, bukan dikendalikan olehnya. (*)

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)