Kamus Bahasa Indonesia vs Aplikasi AI: Siapa yang Kini Membentuk Standar Berbahasa?

4 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Salah satu alat bantu untuk meningkatkan daya nalar manusia dengan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). (Sumber: Pexels/Matheus Bertelli)
Salah satu alat bantu untuk meningkatkan daya nalar manusia dengan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). (Sumber: Pexels/Matheus Bertelli)

AYOBANDUNG.ID -- Orang hari ini tidak perlu lagi membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ketika ragu memilih kata; dan cukup bertanya kepada kecerdasan buatan.

Dari menulis email resmi, caption media sosial, hingga draf artikel, AI mulai menjadi “rujukan bahasa” baru. Pergeseran ini terlihat sepele, tetapi sesungguhnya menyimpan pertanyaan besar: siapa yang kini membentuk standar Bahasa Indonesia, lembaga bahasa atau mesin algoritma?

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan teknologi berbasis bahasa melonjak tajam. Aplikasi penerjemah, pemeriksa tata bahasa, hingga chatbot penulis telah masuk ke ruang personal dan profesional. Bahasa Indonesia, sebagai salah satu bahasa dengan penutur terbanyak di dunia, menjadi ladang data yang subur bagi sistem kecerdasan buatan global. Namun, di saat yang sama, otoritas kebahasaan perlahan bergeser dari manusia ke mesin.

Secara historis, standar baku dan tidak baku Bahasa Indonesia dibentuk oleh institusi resmi, dunia pendidikan, media massa, dan komunitas akademik. Guru, editor, dan redaktur menjadi penjaga gerbang bahasa. Mereka menentukan mana yang layak tayang, mana yang perlu diperbaiki, dan mana yang dianggap menyimpang dari kaidah.

Kini, peran itu mulai diambil alih oleh sistem otomatis. Banyak penulis pemula lebih percaya pada saran AI daripada catatan editor manusia. Pun ketimbang mengintip KBBI. Tidak sedikit mahasiswa menganggap hasil parafrase mesin sebagai bentuk bahasa “paling benar”. Bahkan, di ruang redaksi pun, AI mulai dipakai untuk menyunting struktur kalimat dan merapikan gaya bahasa.

Masalahnya, AI tidak bekerja berdasarkan norma budaya atau nilai kebahasaan nasional. Ia bekerja berdasarkan statistik: pola paling sering muncul, struktur yang dianggap “aman”, dan bentuk yang netral secara global. Akibatnya, yang lahir bukan selalu bahasa yang tepat konteks, melainkan bahasa yang rata, seragam, dan kadang kehilangan nuansa.

Antara Bahasa Baku dan “Rasa Algoritma”

Salah satu dampak paling terasa adalah munculnya gaya bahasa baru yang terasa kaku atau terlalu steril. Kalimat hasil AI cenderung formal, panjang, dan minim emosi. Di sisi lain, dalam konteks populer, AI juga sering memproduksi bahasa yang terlalu santai tanpa mempertimbangkan situasi komunikasi.

Dalam praktik jurnalistik, ini bisa berbahaya. Bahasa berita tidak hanya soal tata bahasa, tetapi juga sensitivitas sosial, politik, dan budaya. Satu pilihan kata yang keliru dapat mengubah makna, memicu salah tafsir, atau bahkan menyinggung kelompok tertentu. AI belum memiliki kepekaan sosial seperti manusia. Ia tidak memahami trauma kolektif, dinamika politik lokal, atau simbol budaya yang hidup di masyarakat.

Jika standar bahasa diserahkan sepenuhnya pada mesin, kita berisiko kehilangan kekayaan ekspresi yang selama ini menjadi ciri Bahasa Indonesia: fleksibel, kontekstual, dan berakar pada realitas sosial.

Kecerdasan buatan. (Sumber: Pexels | Foto: Airam Dato-on)
Kecerdasan buatan. (Sumber: Pexels | Foto: Airam Dato-on)

Dampak pada Jurnalisme dan Pendidikan

Di ruang redaksi, penggunaan AI memang meningkatkan efisiensi. Teks bisa diproduksi lebih cepat, kesalahan teknis bisa diminimalkan, dan pekerjaan administratif bisa dipangkas. Namun, ada harga yang harus dibayar: homogenisasi gaya bahasa.

Jika banyak media menggunakan pola penyuntingan yang sama dari sistem otomatis, maka gaya penulisan antar media akan semakin mirip. Keunikan redaksi, karakter editorial, dan ciri khas gaya bahasa perlahan menghilang. Media berubah menjadi produk algoritmik, bukan lagi karya editorial.

Di dunia pendidikan, tantangannya tidak kalah serius. Mahasiswa dan pelajar semakin terbiasa menyerahkan proses berpikir bahasa kepada mesin. Mereka tidak lagi berlatih menyusun argumen, memilih diksi, atau membangun struktur kalimat. Bahasa menjadi hasil instan, bukan proses intelektual.

Dalam jangka panjang, ini dapat melemahkan kompetensi literasi. Generasi muda bisa mahir menggunakan alat, tetapi miskin penguasaan bahasa secara substantif.

Baca Juga: ‘Urat Jagat’ karya Ari Andriansyah Raih Hadiah Sastera Rancagé 2026

Selain itu, ada dimensi ekonomi yang jarang dibicarakan dalam isu ini: bahasa sebagai sumber daya digital. Data bahasa Indonesia dikumpulkan, diproses, dan dimanfaatkan oleh perusahaan teknologi global untuk melatih model AI. Dari percakapan media sosial, artikel berita, hingga dokumen publik, semuanya menjadi bahan bakar algoritma.

Namun, nilai ekonomi yang dihasilkan dari data tersebut tidak selalu kembali ke ekosistem kebahasaan nasional. Indonesia menyumbang data, tetapi tidak memegang kendali atas platform. Dalam istilah ekonomi digital, ini mirip dengan negara pengekspor bahan mentah yang tidak menguasai industri pengolahannya.

Jika tidak ada strategi nasional yang serius, Bahasa Indonesia berisiko hanya menjadi objek eksploitasi data, bukan subjek yang menentukan arah teknologi kebahasaan.

Baca Juga: Pasar Kaget yang Tidak Mengagetkan, tetapi Membahagiakan

Di sinilah peran negara menjadi krusial. Badan Bahasa dan institusi kebahasaan tidak bisa lagi hanya fokus pada kamus cetak, pedoman ejaan, atau seminar akademik. Mereka perlu masuk ke ruang digital secara aktif.

Standar Bahasa Indonesia harus hadir dalam bentuk yang kompatibel dengan teknologi: korpus digital terbuka, API kebahasaan, kamus daring yang terintegrasi, dan panduan gaya berbasis data. Jika lembaga resmi tidak mengisi ruang ini, maka platform teknologi akan mengisinya dengan standar mereka sendiri.

Tindakan ini bukan melawan AI, tetapi memastikan bahwa nilai kebahasaan nasional ikut tertanam dalam sistem teknologi yang digunakan publik.

Angle berita dimulai dari cara menulismu yang akan memakai kalimat aktif atau pasif. (Sumber: Pexels | Foto: Suzy Hazelwood)
Angle berita dimulai dari cara menulismu yang akan memakai kalimat aktif atau pasif. (Sumber: Pexels | Foto: Suzy Hazelwood)

Di tengah kemajuan teknologi, posisi manusia seharusnya tidak tergeser, melainkan bergeser peran. AI bisa menjadi asisten, tetapi keputusan akhir harus tetap di tangan manusia.

Editor, guru, jurnalis, dan penulis perlu meningkatkan literasi AI, bukan untuk menyerah pada mesin, tetapi untuk menggunakannya secara kritis. Bahasa Indonesia harus diperlakukan sebagai ruang kreatif dan intelektual, bukan sekadar output otomatis.

Walhasil, bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah cara berpikir, identitas kolektif, dan fondasi kebudayaan. Jika standar bahasa sepenuhnya ditentukan oleh algoritma, yang hilang bukan hanya kaidah, tetapi juga makna.

Di era kecerdasan buatan, tantangan kita bukan menolak teknologi, melainkan memastikan bahwa manusia tetap menjadi penentu arah. Bahasa Indonesia harus berkembang bersama AI, bukan dikendalikan olehnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)