Beragama di Tengah Pusaran Algoritma

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Kita hidup di zaman ketika kebenaran kalah cepat dari trending topic. (Sumber: Instagram @aliadhim @dawuhguru)
Kita hidup di zaman ketika kebenaran kalah cepat dari trending topic. (Sumber: Instagram @aliadhim @dawuhguru)

Rupanya kehadiran AI, algoritma, dan platform ChatGPT membawa dampak serius terhadap literasi dan otoritas keagamaan. Situasi ini menjadi tantangan baru yang tidak bisa dihindari, dan sudah seharusnya direspons secara sadar dan kritis oleh manusia, termasuk pemuka (tokoh) agama.

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, M. Amin Abdullah, mengakui AI telah melahirkan fragmentasi otoritas keagamaan. Kini umat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada lembaga-lembaga otoritatif seperti Bahtsul Masail NU, Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Sebagai gantinya, justru bermunculan fatwa-fatwa baru dari berbagai sumber. Suka atau tidak, fragmentasi otoritas keagamaan merupakan kenyataan yang sedang berlangsung dan tidak dapat dihindari.

Ketika algoritma mengetuk pintu agama, para ulama pun berkumpul untuk menimbang arah (Sumber: Instagram @uinsk | Foto: Istimewa)
Ketika algoritma mengetuk pintu agama, para ulama pun berkumpul untuk menimbang arah (Sumber: Instagram @uinsk | Foto: Istimewa)

Menurunnya Literasi dan Otoritas Keagamaan

Pada saat yang sama, muncul pula fenomena komodifikasi agama, yang sebagian orang menjadikan agama sebagai komoditas demi keuntungan ekonomi yang cepat. Pada titik ini, yang paling mengkhawatirkan adalah menurunnya literasi keagamaan, terutama di kalangan generasi muda.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, menjelaskan dampak kehadiran media baru terhadap Islam sebenarnya telah diprediksi para ilmuwan sejak lama. Salah satu dampak utamanya fragmentasi otoritas keagamaan. Namun, fragmentasi ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, dapat dipahami sebagai bentuk demokratisasi agama.

Fragmentasi membuka peluang bagi siapa saja untuk berbicara dan terlibat dalam perdebatan mengenai simbol, doktrin, dan makna agama dalam kehidupan. Objektifikasi agama menjadi semakin luas dan memberi ruang partisipasi yang lebih besar bagi publik.

Namun, di sisi lain, fragmentasi ini memberi ruang bagi siapa saja untuk berbicara atas nama agama tanpa landasan keilmuan yang memadai. Tidak jarang, pandangan-pandangan yang disampaikan bersifat serampangan dan dilepaskan begitu saja ke ruang publik. Kompleksitas ini menjadi semakin berbahaya ketika tafsir-tafsir radikal diarahkan untuk membenarkan pikiran dan tindakan tertentu.

Parahnya, tafsir agama dipelintir demi legitimasi ideologi dan aksi kekerasan yang melukai hati nurani dan kemanusiaan (www.islami.co dan www.uin-suka.ac.id)

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Infokom, KH Masduki Baidlowi, mengingatkan umat akan bahaya belajar agama melalui algoritma. Menurutnya, pembelajaran agama yang sepenuhnya bergantung pada algoritma berpotensi besar menyesatkan.

Algoritma memiliki sisi gelap yang perlu diwaspadai, salah satunya melalui fenomena echo chamber. Dalam kondisi ini, seseorang hanya terpapar informasi yang sejalan dengan keyakinannya sendiri, tanpa melakukan verifikasi dan penyeimbangan informasi.

Echo chamber (ruang gema) adalah situasi ketika individu terus-menerus menerima pandangan yang seragam. Akibatnya, bias pribadi semakin menguat, sudut pandang menjadi sempit, dan kemampuan untuk memahami perspektif yang berbeda semakin melemah dan mengumpulkan daya nalar kritis, terutama di era digital yang dikendalikan oleh algoritma media sosial.

Tidak kalah penting adalah munculnya fenomena “algoritma religius”, yakni saat seseorang menjalani keberagamaan dengan sepenuhnya bergantung pada mesin pencari, media sosial, aplikasi Google dan ChatGPT.

Algoritma memiliki keterbatasan mendasar, yang sering kali mengambil teks-teks agama secara parsial, tanpa konteks, dan tanpa sanad keilmuan. Berguru kepada algoritma ini sangat berbahaya karena keilmuan tanpa sanad berpotensi disusupi kesesatan.

Terlebih lagi pada algoritma menafsirkan Al-Qur’an yang berdasarkan logika mesin, bukan melalui metodologi para ulama. Inilah yang menjadikan pembelajaran agama berbasis algoritma sebagai ancaman serius bagi keberagamaan yang sehat akal (www.mui.or.id).

Algoritma adalah urutan langkah logis yang terstruktur untuk menyelesaikan suatu masalah. Menurut KBBI, algoritma diartikan sebagai “prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas”. (Sumber: www.codepolitan.com | Foto: Prasatya)
Algoritma adalah urutan langkah logis yang terstruktur untuk menyelesaikan suatu masalah. Menurut KBBI, algoritma diartikan sebagai “prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas”. (Sumber: www.codepolitan.com | Foto: Prasatya)

Paradoks Manusia Jari, Kekuatan Klik!

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Pasalnya, untuk di zaman sekarang ini, yang diam bisa bersuara, dan yang tak kita pilih bisa jadi yang paling sering muncul. Apalagi yang sengaja kita klik.

Algoritma media sosial merupakan bagian integral dari pengalaman digital yang kita hadapi sehari-hari. Di balik tampilan konten yang terlihat seolah-olah acak (berdasarkan pilihan pribadi), sebenarnya ada serangkaian instruksi matematis yang menentukan apa yang dilihat pengguna di platform seperti Facebook, Instagram, Twitter (X), TikTok, dan lain-lain.

Algoritma ini didesain untuk menyaring, menampilkan, dan menyusun konten yang paling relevan (menarik) berdasarkan interaksi, preferensi, dan perilaku pengguna.

Saat ini seolah tidak ada yang lebih pasti daripada itu. Dengan kepastian dalam layar itu, homo Sapiens berubah menjadi homo digital. Bersama dengan itu pula, kepastian-layar menggeser kepastian-realitas.

Homo digitalis (manusia jari) memastikan keberadaannya lewat jari yang meng-klik. Namun, kepastian itulah yang perlu kita sangsikan di sini, jika kita tidak ingin seluruhnya dikendalikan genius malignus zaman kita yang menukar eksistensi korporeal dengan eksistensi digital. Dunia aktual yang ke dalamnya kita terlibat sebagai darah dan daging terus dikolonisasi dengan suatu dunia keseolahan yang bertempat di mana pun, sekaligus tidak di mana pun. Dari situ keseolahan mulai menyihir siapa pun.

Ego merasa pasti akan eksistensinya bukan dari dirinya, melainkan dari citra yang tidak jarang mengecoh. Dia membuka smartphone pagi-pagi dan melihat dirinya terpampang di Facebook atau kicauannya dikomentari di Twitter (X). Di sana ada personal brand-nya. Dia pun yakin bahwa doa sungguh ada dan bukan delusi. Buktinya, foto, teks atau videonya ada di sana. Sewaktu-waktu, si ego bertindak, dengan klik untuk apa saja agar tetap update.

Berpikir tidak penting lagi, yang terpenting adalah klik agar si ego exists dalam media-media sosial. Berbeda dari apa yang dikemukakan Descartes di awal modernitas, si ego di zaman kita tidak menyangsikan eksistensi digitalnya. Padahal masih dapat disangsikan apakah citra-citra dalam dunia digital dan isi komunikasi di dalam media-media sosial bukan kecohan suatu genius malignus.

Eksistensi si ego tidak ditentukan oleh kesangsiannya, melainkan oleh kepastiannya, bahwa dia telah mem-post, membalas chats, mendapat likes, atau merekrut sejumlah besar followers. Untuk itu tidak perlu pikir-pikir, melainkan cukup klik. "Aku klik, maka aku ada", premo ergo sum.

Komunikasi digital, terutama lewat media-media sosial, memang di satu sisi membuka ruang kebebasan komunikatif, tetapi di lain sisi tidak lebih dari echo chamber dan confirmation bias, maka media sosial dapat menjadi "sekolah" fanatisme dan ekshibisionisme sikap-sikap ekstrem. Fanatisme di era media sosial bukan sikap alamiah individu, melainkan produk ciptaan digital invisible hands, yakni hot politis atau algoritma dalam industri media.

Sikap reaksioner, hipersensitivitas, agresi dan kekasaran adalah hasil modifikasi perilaku lewat algoritma media sosial. Makin banyak keterlibatan pada sebuah isu, makin diketahui perasaan, selera, pikiran pengguna, maka makin persis mengendalikan perilakunya. Di sini distingsi antara motivasi internal dan eksternal dalam fanatisme tetap berguna untuk merespons fenomena ini secara bijaksana.

Bot politis yang secara otomatis mengirim kicauan kebencian tiap menit dapat merubah kondisi internal manusia. Bot hanya merangsang dari luar, sementara keputusan ada di dalam diri ego, selama kekuatan karakter masih sanggup menahan sugesti dari luar. (F. Budi Hardiman, 2021:14-15 dan 64-65)

Beragama di tengah pusaran algoritma itu memasuki lanskap spiritual baru yang perlahan berubah arah, bukan tanpa kompas dan panah.

Saat di ruang digital, otoritas keagamaan, pemahaman doktrin, hingga cara beribadah tidak lagi sepenuhnya dibentuk oleh perjumpaan tradisional, melainkan hadir dalam layar, linimasa, dan rekomendasi yang bekerja senyap dan lenyap.

Pasalnya, media sosial dan kecerdasan buatan (AI) menjadi perantara baru dalam pengalaman beragama, menghadirkan kemudahan sekaligus kebingungan.

Baca Juga: Membedah Pasar Motor Jawa Barat: Alasan Mengapa Skutik 125cc Tetap Jadi Primadona di Tengah Macetnya Bandung

Algoritma, yang dirancang untuk menyesuaikan selera dan kebiasaan, sering kali menciptakan ruang gema (echo chamber) yang mengulang keyakinan sama, searah, menenangkan yang sudah jadi pondasi, namun jarang menggugah untuk bertanya dan direnungkan bersama.

Dalam ruang, situasi dan perjumpaan semacam ini, keberagamaan berisiko menyempit, kehilangan dialog, dan terjebak dalam kepastian yang terasa aman, nyaman, hingga semu dan tak menentu.

Pada titik inilah pertanyaan menjadi penting dan mendasar, apakah agama masih kita hayati sebagai jalan pencarian makna dan penuntun moral, ataukah perlahan berubah menjadi sekadar konten yang dipilih, dibagikan, dan dikonsumsi mengikuti irama algoritma?

Refleksi ini menuntut kesadaran agar pusaran digital tidak mengaburkan kedalaman spiritual, keyakinan yang seharusnya menuntun hidup manusia agar lebih baik dan terarah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

Ayo Netizen 30 Jan 2026, 13:06

Urug Cisarua

Urug Cisarua

News Update

Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)