Beragama di Tengah Pusaran Algoritma

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Minggu 01 Feb 2026, 07:48 WIB
Kita hidup di zaman ketika kebenaran kalah cepat dari trending topic. (Sumber: Instagram @aliadhim @dawuhguru)

Kita hidup di zaman ketika kebenaran kalah cepat dari trending topic. (Sumber: Instagram @aliadhim @dawuhguru)

Rupanya kehadiran AI, algoritma, dan platform ChatGPT membawa dampak serius terhadap literasi dan otoritas keagamaan. Situasi ini menjadi tantangan baru yang tidak bisa dihindari, dan sudah seharusnya direspons secara sadar dan kritis oleh manusia, termasuk pemuka (tokoh) agama.

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, M. Amin Abdullah, mengakui AI telah melahirkan fragmentasi otoritas keagamaan. Kini umat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada lembaga-lembaga otoritatif seperti Bahtsul Masail NU, Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Sebagai gantinya, justru bermunculan fatwa-fatwa baru dari berbagai sumber. Suka atau tidak, fragmentasi otoritas keagamaan merupakan kenyataan yang sedang berlangsung dan tidak dapat dihindari.

Ketika algoritma mengetuk pintu agama, para ulama pun berkumpul untuk menimbang arah (Sumber: Instagram @uinsk | Foto: Istimewa)
Ketika algoritma mengetuk pintu agama, para ulama pun berkumpul untuk menimbang arah (Sumber: Instagram @uinsk | Foto: Istimewa)

Menurunnya Literasi dan Otoritas Keagamaan

Pada saat yang sama, muncul pula fenomena komodifikasi agama, yang sebagian orang menjadikan agama sebagai komoditas demi keuntungan ekonomi yang cepat. Pada titik ini, yang paling mengkhawatirkan adalah menurunnya literasi keagamaan, terutama di kalangan generasi muda.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Noorhaidi Hasan, menjelaskan dampak kehadiran media baru terhadap Islam sebenarnya telah diprediksi para ilmuwan sejak lama. Salah satu dampak utamanya fragmentasi otoritas keagamaan. Namun, fragmentasi ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, dapat dipahami sebagai bentuk demokratisasi agama.

Fragmentasi membuka peluang bagi siapa saja untuk berbicara dan terlibat dalam perdebatan mengenai simbol, doktrin, dan makna agama dalam kehidupan. Objektifikasi agama menjadi semakin luas dan memberi ruang partisipasi yang lebih besar bagi publik.

Namun, di sisi lain, fragmentasi ini memberi ruang bagi siapa saja untuk berbicara atas nama agama tanpa landasan keilmuan yang memadai. Tidak jarang, pandangan-pandangan yang disampaikan bersifat serampangan dan dilepaskan begitu saja ke ruang publik. Kompleksitas ini menjadi semakin berbahaya ketika tafsir-tafsir radikal diarahkan untuk membenarkan pikiran dan tindakan tertentu.

Parahnya, tafsir agama dipelintir demi legitimasi ideologi dan aksi kekerasan yang melukai hati nurani dan kemanusiaan (www.islami.co dan www.uin-suka.ac.id)

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Infokom, KH Masduki Baidlowi, mengingatkan umat akan bahaya belajar agama melalui algoritma. Menurutnya, pembelajaran agama yang sepenuhnya bergantung pada algoritma berpotensi besar menyesatkan.

Algoritma memiliki sisi gelap yang perlu diwaspadai, salah satunya melalui fenomena echo chamber. Dalam kondisi ini, seseorang hanya terpapar informasi yang sejalan dengan keyakinannya sendiri, tanpa melakukan verifikasi dan penyeimbangan informasi.

Echo chamber (ruang gema) adalah situasi ketika individu terus-menerus menerima pandangan yang seragam. Akibatnya, bias pribadi semakin menguat, sudut pandang menjadi sempit, dan kemampuan untuk memahami perspektif yang berbeda semakin melemah dan mengumpulkan daya nalar kritis, terutama di era digital yang dikendalikan oleh algoritma media sosial.

Tidak kalah penting adalah munculnya fenomena “algoritma religius”, yakni saat seseorang menjalani keberagamaan dengan sepenuhnya bergantung pada mesin pencari, media sosial, aplikasi Google dan ChatGPT.

Algoritma memiliki keterbatasan mendasar, yang sering kali mengambil teks-teks agama secara parsial, tanpa konteks, dan tanpa sanad keilmuan. Berguru kepada algoritma ini sangat berbahaya karena keilmuan tanpa sanad berpotensi disusupi kesesatan.

Terlebih lagi pada algoritma menafsirkan Al-Qur’an yang berdasarkan logika mesin, bukan melalui metodologi para ulama. Inilah yang menjadikan pembelajaran agama berbasis algoritma sebagai ancaman serius bagi keberagamaan yang sehat akal (www.mui.or.id).

Algoritma adalah urutan langkah logis yang terstruktur untuk menyelesaikan suatu masalah. Menurut KBBI, algoritma diartikan sebagai “prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas”. (Sumber: www.codepolitan.com | Foto: Prasatya)
Algoritma adalah urutan langkah logis yang terstruktur untuk menyelesaikan suatu masalah. Menurut KBBI, algoritma diartikan sebagai “prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas”. (Sumber: www.codepolitan.com | Foto: Prasatya)

Paradoks Manusia Jari, Kekuatan Klik!

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Pasalnya, untuk di zaman sekarang ini, yang diam bisa bersuara, dan yang tak kita pilih bisa jadi yang paling sering muncul. Apalagi yang sengaja kita klik.

Algoritma media sosial merupakan bagian integral dari pengalaman digital yang kita hadapi sehari-hari. Di balik tampilan konten yang terlihat seolah-olah acak (berdasarkan pilihan pribadi), sebenarnya ada serangkaian instruksi matematis yang menentukan apa yang dilihat pengguna di platform seperti Facebook, Instagram, Twitter (X), TikTok, dan lain-lain.

Algoritma ini didesain untuk menyaring, menampilkan, dan menyusun konten yang paling relevan (menarik) berdasarkan interaksi, preferensi, dan perilaku pengguna.

Saat ini seolah tidak ada yang lebih pasti daripada itu. Dengan kepastian dalam layar itu, homo Sapiens berubah menjadi homo digital. Bersama dengan itu pula, kepastian-layar menggeser kepastian-realitas.

Homo digitalis (manusia jari) memastikan keberadaannya lewat jari yang meng-klik. Namun, kepastian itulah yang perlu kita sangsikan di sini, jika kita tidak ingin seluruhnya dikendalikan genius malignus zaman kita yang menukar eksistensi korporeal dengan eksistensi digital. Dunia aktual yang ke dalamnya kita terlibat sebagai darah dan daging terus dikolonisasi dengan suatu dunia keseolahan yang bertempat di mana pun, sekaligus tidak di mana pun. Dari situ keseolahan mulai menyihir siapa pun.

Ego merasa pasti akan eksistensinya bukan dari dirinya, melainkan dari citra yang tidak jarang mengecoh. Dia membuka smartphone pagi-pagi dan melihat dirinya terpampang di Facebook atau kicauannya dikomentari di Twitter (X). Di sana ada personal brand-nya. Dia pun yakin bahwa doa sungguh ada dan bukan delusi. Buktinya, foto, teks atau videonya ada di sana. Sewaktu-waktu, si ego bertindak, dengan klik untuk apa saja agar tetap update.

Berpikir tidak penting lagi, yang terpenting adalah klik agar si ego exists dalam media-media sosial. Berbeda dari apa yang dikemukakan Descartes di awal modernitas, si ego di zaman kita tidak menyangsikan eksistensi digitalnya. Padahal masih dapat disangsikan apakah citra-citra dalam dunia digital dan isi komunikasi di dalam media-media sosial bukan kecohan suatu genius malignus.

Eksistensi si ego tidak ditentukan oleh kesangsiannya, melainkan oleh kepastiannya, bahwa dia telah mem-post, membalas chats, mendapat likes, atau merekrut sejumlah besar followers. Untuk itu tidak perlu pikir-pikir, melainkan cukup klik. "Aku klik, maka aku ada", premo ergo sum.

Komunikasi digital, terutama lewat media-media sosial, memang di satu sisi membuka ruang kebebasan komunikatif, tetapi di lain sisi tidak lebih dari echo chamber dan confirmation bias, maka media sosial dapat menjadi "sekolah" fanatisme dan ekshibisionisme sikap-sikap ekstrem. Fanatisme di era media sosial bukan sikap alamiah individu, melainkan produk ciptaan digital invisible hands, yakni hot politis atau algoritma dalam industri media.

Sikap reaksioner, hipersensitivitas, agresi dan kekasaran adalah hasil modifikasi perilaku lewat algoritma media sosial. Makin banyak keterlibatan pada sebuah isu, makin diketahui perasaan, selera, pikiran pengguna, maka makin persis mengendalikan perilakunya. Di sini distingsi antara motivasi internal dan eksternal dalam fanatisme tetap berguna untuk merespons fenomena ini secara bijaksana.

Bot politis yang secara otomatis mengirim kicauan kebencian tiap menit dapat merubah kondisi internal manusia. Bot hanya merangsang dari luar, sementara keputusan ada di dalam diri ego, selama kekuatan karakter masih sanggup menahan sugesti dari luar. (F. Budi Hardiman, 2021:14-15 dan 64-65)

Beragama di tengah pusaran algoritma itu memasuki lanskap spiritual baru yang perlahan berubah arah, bukan tanpa kompas dan panah.

Saat di ruang digital, otoritas keagamaan, pemahaman doktrin, hingga cara beribadah tidak lagi sepenuhnya dibentuk oleh perjumpaan tradisional, melainkan hadir dalam layar, linimasa, dan rekomendasi yang bekerja senyap dan lenyap.

Pasalnya, media sosial dan kecerdasan buatan (AI) menjadi perantara baru dalam pengalaman beragama, menghadirkan kemudahan sekaligus kebingungan.

Baca Juga: Membedah Pasar Motor Jawa Barat: Alasan Mengapa Skutik 125cc Tetap Jadi Primadona di Tengah Macetnya Bandung

Algoritma, yang dirancang untuk menyesuaikan selera dan kebiasaan, sering kali menciptakan ruang gema (echo chamber) yang mengulang keyakinan sama, searah, menenangkan yang sudah jadi pondasi, namun jarang menggugah untuk bertanya dan direnungkan bersama.

Dalam ruang, situasi dan perjumpaan semacam ini, keberagamaan berisiko menyempit, kehilangan dialog, dan terjebak dalam kepastian yang terasa aman, nyaman, hingga semu dan tak menentu.

Pada titik inilah pertanyaan menjadi penting dan mendasar, apakah agama masih kita hayati sebagai jalan pencarian makna dan penuntun moral, ataukah perlahan berubah menjadi sekadar konten yang dipilih, dibagikan, dan dikonsumsi mengikuti irama algoritma?

Refleksi ini menuntut kesadaran agar pusaran digital tidak mengaburkan kedalaman spiritual, keyakinan yang seharusnya menuntun hidup manusia agar lebih baik dan terarah. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

Ayo Netizen 30 Jan 2026, 13:06

Urug Cisarua

Urug Cisarua

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)