Kenapa Huruf ‘E’ Tak Mau Pergi: Putra vs. Putera, Sumatra vs. Sumatera

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Kamis 29 Jan 2026, 15:39 WIB
Ada cerita menarik tentang huruf “e” dimulai dalam kata 'putra vs. putera' ataupun 'Sumatra vs. Sumatera'. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Ada cerita menarik tentang huruf “e” dimulai dalam kata 'putra vs. putera' ataupun 'Sumatra vs. Sumatera'. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

AYOBANDUNG.ID — Bahasa Indonesia tidak pernah benar-benar statis. Ia tumbuh bersama sejarah, kebijakan negara, dan kebiasaan penuturnya.

Salah satu bab penting dalam perjalanan ini adalah proses pembakuan ejaan. Sejak diberlakukannya Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada 1972—yang kemudian diperbarui menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)—negara berupaya menyeragamkan cara menulis bahasa Indonesia agar lebih ringkas, konsisten, dan efisien.

Pembakuan ini bukan sekadar soal teknis penulisan. Ia membawa konsekuensi sosial dan kultural. Banyak bentuk lama yang perlahan “dipangkas” demi kesederhanaan fonetik, termasuk penghilangan huruf yang dianggap tidak perlu. Namun, seperti halnya kebiasaan manusia, perubahan aturan tidak selalu langsung diikuti oleh perubahan praktik. Di sinilah cerita menarik tentang huruf “e” dimulai.

Contoh paling populer adalah perdebatan antara “Sumatra” dan “Sumatera”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentuk baku yang direkomendasikan adalah “Sumatra”. Namun dalam praktik sehari-hari, termasuk dalam penamaan wilayah administratif seperti Sumatera Barat atau Sumatera Selatan, bentuk dengan huruf “e” justru lebih dominan.

Fenomena serupa juga terjadi pada pasangan “putra” dan “putera”. Secara kaidah, “putra” adalah bentuk baku. Akan tetapi, “putera” masih sering muncul di nama lembaga, dokumen lama, hingga merek institusi pendidikan.

Ilustrasi huruf “e”. (Sumber: Pexels | Foto: Ann H)
Ilustrasi huruf “e”. (Sumber: Pexels | Foto: Ann H)

Kasus-kasus ini memperlihatkan ketegangan klasik antara norma bahasa dan realitas sosial. Di satu sisi, lembaga bahasa mendorong standardisasi demi keteraturan. Di sisi lain, masyarakat mempertahankan bentuk yang sudah telanjur akrab secara emosional dan historis.

Akibatnya, bahasa Indonesia hidup dalam dua ruang sekaligus: ruang formal yang tunduk pada aturan baku, dan ruang sosial yang lebih lentur dan kontekstual.

Dari sudut pandang linguistik, kemunculan huruf “e” dalam kata-kata seperti “Sumatera” atau “putera” dapat dijelaskan melalui konsep epentesis, atau dalam istilah lokal sering disebut swarabakti. Secara sederhana, epentesis adalah proses penyisipan bunyi vokal untuk memudahkan pelafalan. Dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Melayu lama dan bahasa daerah di Nusantara, rangkaian konsonan tertentu dianggap “berat” diucapkan, sehingga penutur secara alami menambahkan vokal di tengahnya.

Baca Juga: Bahasa Terus Tumbuh, tapi Negara Selalu Tertinggal? Membaca Ulang Arah KBBI di Era Digital

Pada masa lalu, penyesuaian seperti ini dianggap wajar dan bahkan membantu proses adaptasi kata serapan, terutama dari bahasa Sanskerta dan Arab. Namun, seiring perkembangan linguistik modern dan upaya efisiensi ejaan, pendekatan ini mulai dikoreksi.

Bahasa Indonesia standar kini cenderung memilih bentuk yang lebih ringkas, selaras dengan pengucapan aktual dan prinsip ekonomi bahasa: sesingkat mungkin, selama makna tetap utuh.

Meski begitu, jejak epentesis tidak serta-merta hilang. Ia bertahan dalam ingatan kolektif, nama geografis, dan tradisi penamaan. Inilah yang membuat perdebatan ejaan tidak pernah sepenuhnya selesai. Bahasa bukan hanya sistem tanda, tetapi juga ruang identitas dan kebiasaan sosial.

Pada akhirnya, fenomena “huruf e yang tak mau pergi” menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar produk kebijakan, melainkan hasil tawar-menawar terus-menerus antara aturan, sejarah, dan praktik masyarakat. Mungkin di situlah daya tariknya: bahasa kita hidup, bergerak, dan kadang membangkang secara halus terhadap pakem yang sudah ditetapkan. (*)

Daftar Pustaka:

  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2023). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Jakarta: Kemendikbudristek.
  • Kompas.com. (2023). Sumatra atau Sumatera, Mana Kata yang Baku? Rubrik Skola.
  • Lanin, I. (2011). Swarabakti dalam Bahasa Indonesia. Blog Ivan Lanin.
  • Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). Daftar Kosakata Bahasa Indonesia yang Sering Salah Dieja.
  • Wikipedia Bahasa Inggris. (2024). Republican Spelling System (Ejaan Republik).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)