Kenapa Huruf ‘E’ Tak Mau Pergi: Putra vs. Putera, Sumatra vs. Sumatera

3 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Ada cerita menarik tentang huruf “e” dimulai dalam kata 'putra vs. putera' ataupun 'Sumatra vs. Sumatera'. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ada cerita menarik tentang huruf “e” dimulai dalam kata 'putra vs. putera' ataupun 'Sumatra vs. Sumatera'. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

AYOBANDUNG.ID — Bahasa Indonesia tidak pernah benar-benar statis. Ia tumbuh bersama sejarah, kebijakan negara, dan kebiasaan penuturnya.

Salah satu bab penting dalam perjalanan ini adalah proses pembakuan ejaan. Sejak diberlakukannya Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada 1972—yang kemudian diperbarui menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)—negara berupaya menyeragamkan cara menulis bahasa Indonesia agar lebih ringkas, konsisten, dan efisien.

Pembakuan ini bukan sekadar soal teknis penulisan. Ia membawa konsekuensi sosial dan kultural. Banyak bentuk lama yang perlahan “dipangkas” demi kesederhanaan fonetik, termasuk penghilangan huruf yang dianggap tidak perlu. Namun, seperti halnya kebiasaan manusia, perubahan aturan tidak selalu langsung diikuti oleh perubahan praktik. Di sinilah cerita menarik tentang huruf “e” dimulai.

Contoh paling populer adalah perdebatan antara “Sumatra” dan “Sumatera”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentuk baku yang direkomendasikan adalah “Sumatra”. Namun dalam praktik sehari-hari, termasuk dalam penamaan wilayah administratif seperti Sumatera Barat atau Sumatera Selatan, bentuk dengan huruf “e” justru lebih dominan.

Fenomena serupa juga terjadi pada pasangan “putra” dan “putera”. Secara kaidah, “putra” adalah bentuk baku. Akan tetapi, “putera” masih sering muncul di nama lembaga, dokumen lama, hingga merek institusi pendidikan.

Ilustrasi huruf “e”. (Sumber: Pexels | Foto: Ann H)
Ilustrasi huruf “e”. (Sumber: Pexels | Foto: Ann H)

Kasus-kasus ini memperlihatkan ketegangan klasik antara norma bahasa dan realitas sosial. Di satu sisi, lembaga bahasa mendorong standardisasi demi keteraturan. Di sisi lain, masyarakat mempertahankan bentuk yang sudah telanjur akrab secara emosional dan historis.

Akibatnya, bahasa Indonesia hidup dalam dua ruang sekaligus: ruang formal yang tunduk pada aturan baku, dan ruang sosial yang lebih lentur dan kontekstual.

Dari sudut pandang linguistik, kemunculan huruf “e” dalam kata-kata seperti “Sumatera” atau “putera” dapat dijelaskan melalui konsep epentesis, atau dalam istilah lokal sering disebut swarabakti. Secara sederhana, epentesis adalah proses penyisipan bunyi vokal untuk memudahkan pelafalan. Dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Melayu lama dan bahasa daerah di Nusantara, rangkaian konsonan tertentu dianggap “berat” diucapkan, sehingga penutur secara alami menambahkan vokal di tengahnya.

Baca Juga: Bahasa Terus Tumbuh, tapi Negara Selalu Tertinggal? Membaca Ulang Arah KBBI di Era Digital

Pada masa lalu, penyesuaian seperti ini dianggap wajar dan bahkan membantu proses adaptasi kata serapan, terutama dari bahasa Sanskerta dan Arab. Namun, seiring perkembangan linguistik modern dan upaya efisiensi ejaan, pendekatan ini mulai dikoreksi.

Bahasa Indonesia standar kini cenderung memilih bentuk yang lebih ringkas, selaras dengan pengucapan aktual dan prinsip ekonomi bahasa: sesingkat mungkin, selama makna tetap utuh.

Meski begitu, jejak epentesis tidak serta-merta hilang. Ia bertahan dalam ingatan kolektif, nama geografis, dan tradisi penamaan. Inilah yang membuat perdebatan ejaan tidak pernah sepenuhnya selesai. Bahasa bukan hanya sistem tanda, tetapi juga ruang identitas dan kebiasaan sosial.

Pada akhirnya, fenomena “huruf e yang tak mau pergi” menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar produk kebijakan, melainkan hasil tawar-menawar terus-menerus antara aturan, sejarah, dan praktik masyarakat. Mungkin di situlah daya tariknya: bahasa kita hidup, bergerak, dan kadang membangkang secara halus terhadap pakem yang sudah ditetapkan. (*)

Daftar Pustaka:

  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2023). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Jakarta: Kemendikbudristek.
  • Kompas.com. (2023). Sumatra atau Sumatera, Mana Kata yang Baku? Rubrik Skola.
  • Lanin, I. (2011). Swarabakti dalam Bahasa Indonesia. Blog Ivan Lanin.
  • Wikipedia Bahasa Indonesia. (2024). Daftar Kosakata Bahasa Indonesia yang Sering Salah Dieja.
  • Wikipedia Bahasa Inggris. (2024). Republican Spelling System (Ejaan Republik).
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)