KBBI Bukan Kitab Suci, Juga Bukan Penampung Sembarang 'Kata Viral'

2 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Ilustrasi buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Jaredd Craig)
Ilustrasi buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Jaredd Craig)

Gelombang kritik terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kembali menyeruak. Mulai dari perubahan ejaan Thailand menjadi Tailan, masuknya kata kapitil dan galgah, hingga terpilihnya palum sebagai Kata Tahun Ini 2025.

Di media sosial, Badan Bahasa bahkan dituding “kurang kerjaan”. Tuduhan ini terdengar ringan, tetapi sesungguhnya menyingkap persoalan serius: bagaimana publik memahami fungsi kamus dan kebijakan bahasa nasional.

KBBI bukan kitab suci. Pernyataan ini benar. Namun menyimpulkan bahwa KBBI bisa diubah seenaknya juga keliru. Kamus besar adalah produk ilmiah yang bekerja di antara dua dunia: data penggunaan bahasa dan standar kebahasaan.

Masuknya kapitil dan galgah memicu reaksi emosional, karena dianggap janggal dan vulgar. Padahal keduanya diberi label “cakapan”, yang berarti tidak diperuntukkan bagi dokumen resmi.

Artinya, KBBI tidak mengangkatnya menjadi norma, tetapi sekadar mencatat realitas pemakaian. Dalam konteks pendidikan bahasa, ini penting. Penutur perlu tahu mana yang formal, mana yang hanya hidup di ruang percakapan.

Kontroversi Tailan memperlihatkan dimensi yang lebih politis. Pengalihaksaraan nama negara bukan proyek iseng. Ia mengikuti pedoman internasional pembakuan toponim dan sekaligus menjadi simbol kedaulatan bahasa.

Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial. (Sumber: Unsplash/Fahmi Ramadhan)
Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial. (Sumber: Unsplash/Fahmi Ramadhan)

Dengan menulis “Tailan”, bahasa Indonesia menegaskan bahwa ia tidak sekadar menyalin bunyi asing, tetapi mengadaptasinya sesuai sistem fonetik sendiri. Ini bukan soal estetika, melainkan soal posisi bahasa nasional di tengah globalisasi.

Di sisi lain, terpilihnya palum sebagai Kata Tahun Ini menunjukkan arah yang patut diapresiasi. Kata dari bahasa Pakpak ini mengisi kekosongan makna: antonim tunggal untuk “haus”. Lebih dari sekadar inovasi leksikal, ini adalah pengakuan bahwa bahasa daerah bukan beban masa lalu, melainkan sumber daya masa depan bahasa Indonesia.

Dari sudut pandang kebijakan publik, KBBI sebenarnya sedang menjalankan fungsi pasar bahasa. Ada ratusan ribu usulan kata, tetapi tidak semuanya lolos. Ada proses verifikasi, penyuntingan, dan validasi. Namun pasar ini juga dikontrol oleh penerimaan sosial. Jika sebuah kata terus menuai resistensi, Badan Bahasa membuka opsi peninjauan ulang. Artinya, otoritas ilmiah tidak bekerja di ruang hampa.

Masalahnya, komunikasi kebijakan bahasa masih lemah. Publik sering kali hanya melihat hasil akhir tanpa memahami proses di baliknya. Akibatnya, setiap pembaruan dipersepsikan sebagai eksperimen acak, bukan kerja kurasi ilmiah.

Baca Juga: Seni Menggunakan Huruf Miring dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan. Ia harus merespons arus media sosial, kreativitas generasi muda, serta tuntutan global, tanpa kehilangan ketertiban sistemnya. KBBI menjadi medan tarik-menarik antara stabilitas dan perubahan.

Karena itu, kritik publik seharusnya tidak berhenti pada ejekan. Yang dibutuhkan adalah pengawasan kritis yang cerdas: menuntut transparansi proses, mendorong komunikasi yang lebih terbuka, dan memastikan bahwa kebijakan bahasa tetap berpihak pada kepentingan publik.

KBBI memang bukan kitab suci. Tetapi masa depan bahasa Indonesia juga tidak boleh dipertaruhkan pada logika viral semata. Di antara dua kutub inilah pekerjaan besar kebahasaan seharusnya dijalankan: menjaga ketertiban, tanpa mematikan pertumbuhan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)