KBBI Bukan Kitab Suci, Juga Bukan Penampung Sembarang 'Kata Viral'

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Rabu 28 Jan 2026, 06:15 WIB
Ilustrasi buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Jaredd Craig)

Ilustrasi buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Jaredd Craig)

Gelombang kritik terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kembali menyeruak. Mulai dari perubahan ejaan Thailand menjadi Tailan, masuknya kata kapitil dan galgah, hingga terpilihnya palum sebagai Kata Tahun Ini 2025.

Di media sosial, Badan Bahasa bahkan dituding “kurang kerjaan”. Tuduhan ini terdengar ringan, tetapi sesungguhnya menyingkap persoalan serius: bagaimana publik memahami fungsi kamus dan kebijakan bahasa nasional.

KBBI bukan kitab suci. Pernyataan ini benar. Namun menyimpulkan bahwa KBBI bisa diubah seenaknya juga keliru. Kamus besar adalah produk ilmiah yang bekerja di antara dua dunia: data penggunaan bahasa dan standar kebahasaan.

Masuknya kapitil dan galgah memicu reaksi emosional, karena dianggap janggal dan vulgar. Padahal keduanya diberi label “cakapan”, yang berarti tidak diperuntukkan bagi dokumen resmi.

Artinya, KBBI tidak mengangkatnya menjadi norma, tetapi sekadar mencatat realitas pemakaian. Dalam konteks pendidikan bahasa, ini penting. Penutur perlu tahu mana yang formal, mana yang hanya hidup di ruang percakapan.

Kontroversi Tailan memperlihatkan dimensi yang lebih politis. Pengalihaksaraan nama negara bukan proyek iseng. Ia mengikuti pedoman internasional pembakuan toponim dan sekaligus menjadi simbol kedaulatan bahasa.

Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial. (Sumber: Unsplash/Fahmi Ramadhan)
Bahasa tidak hanya sekadar alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi, tetapi dapat memengaruhi juga perubahan sosial. (Sumber: Unsplash/Fahmi Ramadhan)

Dengan menulis “Tailan”, bahasa Indonesia menegaskan bahwa ia tidak sekadar menyalin bunyi asing, tetapi mengadaptasinya sesuai sistem fonetik sendiri. Ini bukan soal estetika, melainkan soal posisi bahasa nasional di tengah globalisasi.

Di sisi lain, terpilihnya palum sebagai Kata Tahun Ini menunjukkan arah yang patut diapresiasi. Kata dari bahasa Pakpak ini mengisi kekosongan makna: antonim tunggal untuk “haus”. Lebih dari sekadar inovasi leksikal, ini adalah pengakuan bahwa bahasa daerah bukan beban masa lalu, melainkan sumber daya masa depan bahasa Indonesia.

Dari sudut pandang kebijakan publik, KBBI sebenarnya sedang menjalankan fungsi pasar bahasa. Ada ratusan ribu usulan kata, tetapi tidak semuanya lolos. Ada proses verifikasi, penyuntingan, dan validasi. Namun pasar ini juga dikontrol oleh penerimaan sosial. Jika sebuah kata terus menuai resistensi, Badan Bahasa membuka opsi peninjauan ulang. Artinya, otoritas ilmiah tidak bekerja di ruang hampa.

Masalahnya, komunikasi kebijakan bahasa masih lemah. Publik sering kali hanya melihat hasil akhir tanpa memahami proses di baliknya. Akibatnya, setiap pembaruan dipersepsikan sebagai eksperimen acak, bukan kerja kurasi ilmiah.

Baca Juga: Seni Menggunakan Huruf Miring dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan. Ia harus merespons arus media sosial, kreativitas generasi muda, serta tuntutan global, tanpa kehilangan ketertiban sistemnya. KBBI menjadi medan tarik-menarik antara stabilitas dan perubahan.

Karena itu, kritik publik seharusnya tidak berhenti pada ejekan. Yang dibutuhkan adalah pengawasan kritis yang cerdas: menuntut transparansi proses, mendorong komunikasi yang lebih terbuka, dan memastikan bahwa kebijakan bahasa tetap berpihak pada kepentingan publik.

KBBI memang bukan kitab suci. Tetapi masa depan bahasa Indonesia juga tidak boleh dipertaruhkan pada logika viral semata. Di antara dua kutub inilah pekerjaan besar kebahasaan seharusnya dijalankan: menjaga ketertiban, tanpa mematikan pertumbuhan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)
Beranda 13 Feb 2026, 08:13 WIB

Di Saat Media Arus Utama Tersandera Iklan, Zine Menemukan Jalannya Sendiri

Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.
Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 07:36 WIB

Distraksi Massal: Alasan Mengapa Kita Sengaja Dibuat Sibuk dengan Skandal

Melalui analogi novel Tere Liye, artikel ini mengajak pembaca untuk berhenti terjebak dalam debat kusir dan kembali fokus pada navigasi diri di ambang bulan Ramadan.
Salah satu buku novel karya Tere Liye. (Dokumentasi Penulis)
Bandung 12 Feb 2026, 21:44 WIB

Tren Lebaran 2026: J&C Cookies Usung Konsep "Kukis Kalcer" dan Camilan Gluten Free

Tradisi mudik dan silaturahmi Idul Fitri 2026 diprediksi akan semakin berwarna dengan munculnya tren kuliner baru yang lebih inklusif.
J&C Cookies memperkenalkan lini produk terbaru mereka yang dirancang untuk memenuhi selera generasi masa kini tanpa meninggalkan cita rasa autentik yang telah melegenda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 12 Feb 2026, 21:22 WIB

Bandung Zine Fest 2026, Ruang Kolektif Media Alternatif dari Shanghai Hingga Garut

Lebih dari sekadar ajang pameran, festival ini menjadi ruang silaturahmi bagi penerbit mandiri yang tidak bergantung pada modal besar.
Suasana Bandung Zine Fest 2026 di Gedung Tjap Sahabat di Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 20:22 WIB

Ramadan Tanpa Petasan, Bermain Lodong dan Belesong pun Jadi

Sejak dahulu petasan dan lodong selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan.
Lodong selalu jadi pertanda datangnya Bulan Ramadan di sejumlah daerah Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 16:22 WIB

Kartu Mati, Pengobatan Terhenti

Penonaktifan jutaan peserta PBI BPJS membuat warga Bandung kehilangan akses berobat. Padahal Islam punya cara pandang yang khas terkait kesehatan masyarakat.
Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan kartu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 13:43 WIB

Komunikasi Keluarga dalam Mengatasi Bunuh Diri

Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua.
Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua. (Sumber: Unsplash | Foto: K. Mitch Hodge)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 11:18 WIB

Tradisi ‘Nglabur’ Rumah saat Ramadan, Filosofi Bersih Diri dan Mencerahkan Suasana Hati

Melabur alias mengecat tembok dengan gamping menciptakan hasil akhir yang artistik, bertekstur, alami, dan ramah lingkungan.
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 08:49 WIB

3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka dan Pendiri Hizbullah Priangan menjadi novelty dalam kajian tokoh KH Anwar Musaddad yang membuktikan jasa, kiprah dan perjuangan (pahlawan) kemanusiaan.
Cover buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Mayantara 12 Feb 2026, 07:04 WIB

Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Jelang Ramadan, salah satu fenomena yang terus menguat adalah keranjingan scrolling video pendek religi.
Ilustrasi muslimah sedang memandang smartphone. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 11 Feb 2026, 21:40 WIB

Ngabuburit di Bandung Tahun 1980-an

Tentang awal Ramadan dan ngabuburit warga Kota Bandung tahun 1980-an.
Gedung de Majestic, salah satu bioskop tertua di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 11 Feb 2026, 20:08 WIB

Rahasia Putu Ayu Simpang Dago Bertahan 18 Tahun di Tengah Gempuran Dessert Kekinian

Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya.
Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)