Sekolah Bengkel Akhlak?

4 menit baca
Disya Dwi Nurhidayah
Ditulis oleh Disya Dwi Nurhidayah diterbitkan
Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah (Sumber: Disya Dwi Nurhidayah Tahun 2025 | Foto: Disya Dwi Nurhidayah)
Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah (Sumber: Disya Dwi Nurhidayah Tahun 2025 | Foto: Disya Dwi Nurhidayah)

Mengawali di awal tahun kasus kriminalisasi guru saat ini terjadi kembali. Kasus Ibu Tri, seorang guru honorer di Jambi nyaris dipenjara karena mencukur rambut murid yang tidak sesuai dengan ketentuan sekolah. Rasa-rasanya saat ini guru semakin ditekan dengan berbagai aturan terhadap murid melalui berbagai surat edaran di setiap daerah "Guru Tidak Boleh Membentak" "Guru Tidak Boleh Memarahi Murid" dan lain sebagainya.

Saya tidak membenarkan jika ada guru yang menampar siswa. Saya pribadi menyadari bahwa lingkungan pendidikan harus nyaman dan tidak boleh ada tindak kekerasan. Kondisi tersebut sebetulnya sangat dilematis karena Guru tidak bisa memilih untuk mendidik. Ibarat dokter tidak bisa memilih penyakit pasien yang datang. Begitupun di sekolah, murid-murid dengan keunikan sikap dan wataknya yang berbeda. Akan tetapi, tidak jarang menemukan murid yang susah untuk diatur.

Perlu diketahui yang paling sulit menjadi Guru adalah "Mendidik". Disitulah sekolah menjadi ruang, namun terkadang sekolah akhir-akhir ini hanya menjadi "Bengkel Akhlak". Saya juga sebagai pendidik yang mengajar di wilayah kawasan industri, bahkan anak didik saya berasal dari latar belakang yang kurang perhatian orang tua karena sibuk kerja atau orang tua ada yang menjadi TKW, terkadang tak jarang banyak murid berperilaku liar karena orang tua sibuk bekerja menjadi buruh pabrik.

Namun, hal tersebut menjadi kebingungan tersendiri karena banyak orang tua yang tidak terima jika anaknya ditegur. Adakalanya terbawa suasana dalam amarah murid yang sulit diberi nasihat. Akan tetapi, saya mencoba untuk mensiasati semua itu dalam versi mendidik saya untuk bisa dicoba dan dilakukan oleh guru-guru dimanapun berada.

Saya biasa mengawali pembelajaran untuk mengecek kedisiplinan dari atas kepala sampai bawah kaki. Biasanya saya lakukan saat absensi, walaupun memakan waktu. Akan tetapi, kegiatan tersebut penting dilakukan karena secara tidak langsung kita punya kedekatan emosional dengan anak. Lebih hafal mengingat karakter anak.

Dampaknya juga akan dirasakan oleh kita sebagai Guru, lambat laun alur yang dilakukan setiap hari ini akan menempel dan membiasakan para murid, bahkan ketika murid tidak terbiasa memakai atribut lengkap, mereka akan meminta maaf tanpa diminta. Serta bisa lebih mudah terjaring murid-murid yang tidak disiplin supaya diberikan pembinaan lebih lanjut.

Berikutnya, terkadang masih banyak Guru yang "ngejudge" murid tidak bisa apa-apa. Perlu diingat, setiap anak punya karakter dan ciri khas bahkan kemampuan yang tidak bisa sama ratakan. Menjadi Guru kita tidak boleh terobsesi untuk menjadi murid pintar akan pelajaran yang kita ajarkan, melainkan sebagai guru kita perlu peka terhadap murid-murid bahwa dengan cara "Refleksi" tidak harus mengarah pada materi saja, tetapi berkaitan dengan personal diri anak supaya diarahkan, dilaporkan, dan dibina oleh sekolah untuk bisa kerjasama dengan komunitas sekitar yang berkaitan dengan minat bakat kreativitas anak.

Selanjutnya menangani anak yang jarang masuk jam pelajaran. Hal ini terkadang menjadi masalah massal. Akan tetapi, kita perlu tahu penyebabnya. Bahkan saya pernah menemukan murid jarang sekali masuk jam pelajaran saya. Terkadang kita lupa, bahkan hanya langsung memakinya. Akan tetapi, cobalah kita untuk membicarakan dengan anak didik secara perlahan-lahan dengan terbuka. Barangkali ada suatu hal yang disembunyikan. Bisa saja karena takut salah satu pelajaran tertentu di sekolahnya.

Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)
Anak sekolah di Indonesia. (Sumber: indonesia.go.id)

Lalu, memberikan hukuman juga penting. Terkadang di era saat ini, hukuman tidak memberikan efek jera, melainkan mengubah mindset anak menjadi kebiasaan manja. Contoh saja, ketika saya pernah memberikan hukuman mendidik kepada murid yang tidak mengerjakan tugas, hukumannya adalah memungut sampah di lingkungan sekolah. Saat ini hukuman tersebut tidak memberikan efek jera, malahan menjadi perubahan pola pikir murid, seperti "Tidak apa-apa mengerjakan tugas, toh akan disuruh membersihkan lingkungan sekitar". Hal itu malah menjadi solusi alternatif instan untuk murid bahkan menjadi zona aman.

Sebaiknya, guru saat ini perlu menjadi guru misterius, sulit ditebak oleh murid karena itu manjadi bahan kewaspadaan murid melakukan suatu tindakan. Bukan berarti tidak boleh untuk memberikan hukuman membersihkan lingkungan. Boleh saja, tetapi alurnya perlu diubah, ketika ada murid mendapat peringatan, boleh sesekali mendapat hukuman membersihkan lingkungan. Akan tetapi, jika ada murid melanggar di kemudian hari, ubahlah kembali hukuman mendidiknya, misalnya ada murid yang terlambat masuk kelas karena main futsal bukan di jam pelajarannya, saya malah menyuruh anak untuk mempraktikan gerakan menggiring bola depan kelas berulang kali sampai lelah.

Baca Juga: Kenapa Huruf ‘E’ Tak Mau Pergi: Putra vs. Putera, Sumatra vs. Sumatera

Ketika ada murid yang menjadi hama untuk mengganggu rekannya saat kegiatan belajar mengajar, saya mempersilakan anak tersebut berdiri untuk menjelaskan materi yang telah saya sampaikan sampai waktu jam pelajaran selesai. Hal tersebut dilakukan memberikan penyadaran bahwa setiap yang dilakukan ada waktu dan tempat, lalu setiap tindakan ada konsekuensi yang didapatkan.

Terakhir yang paling penting adalah kunjungan ke rumah murid yang sedang dalam binaan, entah atas prestasinya atau masalah pribadinya. Terkadang guru malas untuk kunjungan ke rumah murid. Padahal bukan hanya tugas wali kelas, melainkan seluruh guru mata pelajaran. Hal tersebut saya lakukan ketika menemukan salah satu murid yang sering tidak masuk dan tidak mengerjakan tugas saat jam pelajaran yang saya ajarkan. Melalui kunjungan ke rumah murid akan lebih mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi agar bisa meminta izin menjadi siswa binaan inklusif di sekolah supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam mendidik anak di sekolah.

Dengan demikian, cara-cara tersebut adalah versi yang pernah saya lakukan dan bisa menjadi alternatif Guru-Guru hebat kita dimanapun berada. Sebagaimana memberikan hukuman berat untuk sebuah bantahan itu jangan dilakukan. Hukuman berat hanya boleh diberikan ketika perilaku yang sudah benar-benar merusak dan membahayakan orang lain. Tidak ada yang membenarkan jika hukuman itu dapat membuat murid untuk bersikap hormat, bahkan yang terjadi hanya rasa takut yang diajarkan melalui hukuman, bukan rasa hormat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Disya Dwi Nurhidayah
Mengajar, Travelling, Berakhir Puitis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)