Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Selfie, Api-api, dan Empati

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Kamis 29 Jan 2026, 08:15 WIB
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 27 Januari 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 27 Januari 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Seorang relawan kemanusiaan pernah berkata, setiap bencana (longsor, banjir, tsunami) selalu mengundang kerumunan. Bukan hanya mereka yang datang membawa empati dan bantuan, melainkan yang hadir dengan kamera dan bergaya.

Ingat, dulu di Desa Gasol, Cianjur, salah satu wilayah yang hancur parah akibat gempa, terdapat papan kardus dipasang di tiang bambu di pinggir jalan. Tulisannya sederhana, tapi satir “Ini Bukan Wisata Bencana.”

Imbauan itu lahir bukan tanpa sebab. Pasalnya terlalu banyak orang berdatangan mulai dari yang mengaku relawan, pengantar bantuan, sampai sekadar penonton, lalu sebagian berpose bak turis, berswafoto dengan latar rumah runtuh dan hidup yang porak-poranda.

Bencana berubah menjadi tontonan, dan lokasi duka menjelma bak destinasi wisata sesaat. Kehancuran menjadi dekor, penderitaan disulap menjadi latar, dan empati direduksi menjadi unggahan. Sejak kapan duka harus dipamerkan agar terasa peduli? Ironisnya, di negeri ini, tragedi kerap lebih cepat dipotret daripada ditolong, lebih cepat viral daripada disembuhkan.

Proses evakuasi jenazah bencana longsor Cisarua, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Proses evakuasi jenazah bencana longsor Cisarua, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Gangguan Mental, Rendahnya Sensitivitas Sosial

Rizqy Amelia Zein, dosen Universitas Airlangga menjelaskan untuk yang suka mengambil selfie di lokasi bencana adalah perilaku yang tidak dapat dibenarkan karena dapat membahayakan dan kebiasaan ini menunjukkan gangguan mental (kejiwaan).

Ahli media Yasmin Ibrahim dari Queen Mary University di Inggris menyebut fenomena ini sebagai “selfie bencana” atau “pornografi bencana” dan sebagai “perilaku ganjil yang dimotivasi oleh keinginan mencapai kepuasan diri sendiri, dengan situasi pasca bencana sebagai latar belakang”.

Dalam pemikiran psikoanalis, Carl Jung berpendapat manusia secara alamiah memiliki ketertarikan menyaksikan penderitaan orang lain, selama penderitaan itu tidak menimpa dirinya. Jung menyebut kecenderungan ini sebagai corpse preoccupation, dorongan untuk menyaksikan hal-hal yang ganjil dan mengerikan, yang berpotensi menumpulkan empati.

Meskipun saat sebagian pihak berargumen dokumentasi di lokasi bencana diperlukan, misalnya sebagai bukti penyaluran bantuan. Alasan ini dapat diterima sepanjang tidak dilakukan untuk kepentingan pribadi, seperti meningkatkan popularitas di media sosial. Namun, ketika foto dijadikan sarana pencitraan diri, nilai kemanusiaan justru terpinggirkan dan terlupakan.

Di luar persoalan etika dan psikologis, mengambil selfie di lokasi bencana justru berbahaya dan berisiko mengancam jiwa. Dalam proses evakuasi, misalnya saat kebakaran hutan atau longsor, kehadiran orang-orang yang hanya ingin berfoto dapat menghambat kerja petugas dan membahayakan keselamatan bersama. (www.theconversation.com, Januari 11, 2019 4.21pm WIB).

Bila sebagian kalangan menganggap aksi selfie di lokasi bencana sebagai hal yang wajar. Namun, penilaian etis tetap diperlukan. Sherry Turkle, profesor psikologi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), menyatakan jika dulu manusia mengenal ungkapan “I think therefore I am”, maka di era media sosial bergeser menjadi “I share therefore I am”.

Berbagi memang tidak salah, tetapi ketika dilakukan secara berlebihan dan tanpa empati, justru dapat menimbulkan persoalan psikologis dan sosial. (Rhenald Kasali, 2018:143-146).

Dalam tulisan Elnado Legowo yang berjudul "Berfoto Selfie Mengurangi Empati Sosial" dijelaskan tak sedikit masyarakat Indonesia yang datang ke lokasi tsunami, banjir, longsor hanya untuk berfoto dan membagikannya ke media sosial. Perilaku ini menunjukkan masih rendahnya sensitivitas sosial di tengah masyarakat.

Sensitivitas sosial merupakan kemampuan untuk memahami kondisi, pikiran, dan perasaan orang lain. Ungkapan belasungkawa, doa, solidaritas di media sosial dapat menjadi wujud empati. Namun, ketika yang ditampilkan justru selfie dengan ekspresi bahagia di latar suasana duka, maka yang tampak adalah ketidakpedulian terhadap penderitaan korban.

Tentunya, fenomena ini mencerminkan lunturnya budaya kolektif, seperti gotong royong dan solidaritas sosial. Padahal, untuk konteks bencana, budaya kolektif seharusnya hadir dalam bentuk aksi nyata sebagai relawan dan bantuan kemanusiaan, bukan sekadar menjadi penonton.

Psikolog kebencanaan Listyo Yuwanto menegaskan lunturnya budaya kolektif dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat yang semakin kompetitif dan individualistis. Masyarakat cenderung lebih sibuk dengan media sosial dibandingkan membangun interaksi dan kepedulian terhadap sesama.

Longsoran tanah yang mengubur pemukiman warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Longsoran tanah yang mengubur pemukiman warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pentingnya Edukasi Empati di Era Digital

Melihat kondisi yang rumit, amit-amit bin Api-api itu menunjukkan pentingnya peran pemerintah dan lembaga pendidikan dalam memberikan edukasi empati kepada masyarakat. Selama ini, pendidikan lebih menekankan aspek kognitif dan religius, yang melupakan pembelajaran tentang empati (simpati) sosial.

Edukasi empati adalah pembelajaran untuk menempatkan diri pada posisi orang lain baik manusia, hewan, maupun lingkungan. Bila seseorang membayangkan dirinya sebagai korban bencana, maka akan tumbuh sensitivitas sosial yang mendorong lahirnya solidaritas, kepedulian dan budaya kolektif.

Di era digital, edukasi empati menjadi semakin relevan. Ketergantungan pada gawai sering kali membuat manusia menjauh dari realitas sosial. (www.indonesiana.id, Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB)

Dengan demikian, pemahaman tentang etika berswafoto dan bermedia sosial perlu ditanamkan sejak dini agar aktivitas digital tidak melukai hati nurani, nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menjadi teladan negatif bagi generasi muda.

Sudah saatnya kita berusaha menumbuhkan empati kepada korban bencana yang tidak cukup hanya dengan ucapan prihatin, komentar belas kasih dari kejauhan. Empati sejati hadir melalui kepedulian aksi nyata yang merasakan duka mereka, memahami beratnya kehilangan, sambil terus memberikan bantuan untuk meringankan beban mereka.

Dalam situasi bencana, kepanikan adalah musuh terbesar. Mental yang kuat, empati yang hidup, dan solidaritas sosial menjadi fondasi agar masyarakat mampu bertahan dan bangkit.

Walhasil, empati adalah energi sosial yang menggerakkan gotong royong, kepedulian sosial dan meneguhkan rasa kemanusiaan.

Harus diakui, di atas segalanya, asa, harapan menjadi cahaya yang menjaga manusia agar tetap melangkah dan terarah. Mudah-mudahan dengan secercah harapan membuat korban percaya bahwa setelah kesedihan akan ada pemulihan, kebahagiaan. Dengan empati, solidaritas, dan harapan, masyarakat terdampak bencana dapat bangkit kembali. Kita meyakini dalam setiap ujian, selalu ada jalan keluar yang disediakan Tuhan bagi mereka yang sabar, tabah dan tidak pongah.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.
Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)