Selfie, Api-api, dan Empati

4 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 27 Januari 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 27 Januari 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Seorang relawan kemanusiaan pernah berkata, setiap bencana (longsor, banjir, tsunami) selalu mengundang kerumunan. Bukan hanya mereka yang datang membawa empati dan bantuan, melainkan yang hadir dengan kamera dan bergaya.

Ingat, dulu di Desa Gasol, Cianjur, salah satu wilayah yang hancur parah akibat gempa, terdapat papan kardus dipasang di tiang bambu di pinggir jalan. Tulisannya sederhana, tapi satir “Ini Bukan Wisata Bencana.”

Imbauan itu lahir bukan tanpa sebab. Pasalnya terlalu banyak orang berdatangan mulai dari yang mengaku relawan, pengantar bantuan, sampai sekadar penonton, lalu sebagian berpose bak turis, berswafoto dengan latar rumah runtuh dan hidup yang porak-poranda.

Bencana berubah menjadi tontonan, dan lokasi duka menjelma bak destinasi wisata sesaat. Kehancuran menjadi dekor, penderitaan disulap menjadi latar, dan empati direduksi menjadi unggahan. Sejak kapan duka harus dipamerkan agar terasa peduli? Ironisnya, di negeri ini, tragedi kerap lebih cepat dipotret daripada ditolong, lebih cepat viral daripada disembuhkan.

Proses evakuasi jenazah bencana longsor Cisarua, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Proses evakuasi jenazah bencana longsor Cisarua, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Gangguan Mental, Rendahnya Sensitivitas Sosial

Rizqy Amelia Zein, dosen Universitas Airlangga menjelaskan untuk yang suka mengambil selfie di lokasi bencana adalah perilaku yang tidak dapat dibenarkan karena dapat membahayakan dan kebiasaan ini menunjukkan gangguan mental (kejiwaan).

Ahli media Yasmin Ibrahim dari Queen Mary University di Inggris menyebut fenomena ini sebagai “selfie bencana” atau “pornografi bencana” dan sebagai “perilaku ganjil yang dimotivasi oleh keinginan mencapai kepuasan diri sendiri, dengan situasi pasca bencana sebagai latar belakang”.

Dalam pemikiran psikoanalis, Carl Jung berpendapat manusia secara alamiah memiliki ketertarikan menyaksikan penderitaan orang lain, selama penderitaan itu tidak menimpa dirinya. Jung menyebut kecenderungan ini sebagai corpse preoccupation, dorongan untuk menyaksikan hal-hal yang ganjil dan mengerikan, yang berpotensi menumpulkan empati.

Meskipun saat sebagian pihak berargumen dokumentasi di lokasi bencana diperlukan, misalnya sebagai bukti penyaluran bantuan. Alasan ini dapat diterima sepanjang tidak dilakukan untuk kepentingan pribadi, seperti meningkatkan popularitas di media sosial. Namun, ketika foto dijadikan sarana pencitraan diri, nilai kemanusiaan justru terpinggirkan dan terlupakan.

Di luar persoalan etika dan psikologis, mengambil selfie di lokasi bencana justru berbahaya dan berisiko mengancam jiwa. Dalam proses evakuasi, misalnya saat kebakaran hutan atau longsor, kehadiran orang-orang yang hanya ingin berfoto dapat menghambat kerja petugas dan membahayakan keselamatan bersama. (www.theconversation.com, Januari 11, 2019 4.21pm WIB).

Bila sebagian kalangan menganggap aksi selfie di lokasi bencana sebagai hal yang wajar. Namun, penilaian etis tetap diperlukan. Sherry Turkle, profesor psikologi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), menyatakan jika dulu manusia mengenal ungkapan “I think therefore I am”, maka di era media sosial bergeser menjadi “I share therefore I am”.

Berbagi memang tidak salah, tetapi ketika dilakukan secara berlebihan dan tanpa empati, justru dapat menimbulkan persoalan psikologis dan sosial. (Rhenald Kasali, 2018:143-146).

Dalam tulisan Elnado Legowo yang berjudul "Berfoto Selfie Mengurangi Empati Sosial" dijelaskan tak sedikit masyarakat Indonesia yang datang ke lokasi tsunami, banjir, longsor hanya untuk berfoto dan membagikannya ke media sosial. Perilaku ini menunjukkan masih rendahnya sensitivitas sosial di tengah masyarakat.

Sensitivitas sosial merupakan kemampuan untuk memahami kondisi, pikiran, dan perasaan orang lain. Ungkapan belasungkawa, doa, solidaritas di media sosial dapat menjadi wujud empati. Namun, ketika yang ditampilkan justru selfie dengan ekspresi bahagia di latar suasana duka, maka yang tampak adalah ketidakpedulian terhadap penderitaan korban.

Tentunya, fenomena ini mencerminkan lunturnya budaya kolektif, seperti gotong royong dan solidaritas sosial. Padahal, untuk konteks bencana, budaya kolektif seharusnya hadir dalam bentuk aksi nyata sebagai relawan dan bantuan kemanusiaan, bukan sekadar menjadi penonton.

Psikolog kebencanaan Listyo Yuwanto menegaskan lunturnya budaya kolektif dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat yang semakin kompetitif dan individualistis. Masyarakat cenderung lebih sibuk dengan media sosial dibandingkan membangun interaksi dan kepedulian terhadap sesama.

Longsoran tanah yang mengubur pemukiman warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Longsoran tanah yang mengubur pemukiman warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pentingnya Edukasi Empati di Era Digital

Melihat kondisi yang rumit, amit-amit bin Api-api itu menunjukkan pentingnya peran pemerintah dan lembaga pendidikan dalam memberikan edukasi empati kepada masyarakat. Selama ini, pendidikan lebih menekankan aspek kognitif dan religius, yang melupakan pembelajaran tentang empati (simpati) sosial.

Edukasi empati adalah pembelajaran untuk menempatkan diri pada posisi orang lain baik manusia, hewan, maupun lingkungan. Bila seseorang membayangkan dirinya sebagai korban bencana, maka akan tumbuh sensitivitas sosial yang mendorong lahirnya solidaritas, kepedulian dan budaya kolektif.

Di era digital, edukasi empati menjadi semakin relevan. Ketergantungan pada gawai sering kali membuat manusia menjauh dari realitas sosial. (www.indonesiana.id, Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB)

Dengan demikian, pemahaman tentang etika berswafoto dan bermedia sosial perlu ditanamkan sejak dini agar aktivitas digital tidak melukai hati nurani, nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menjadi teladan negatif bagi generasi muda.

Sudah saatnya kita berusaha menumbuhkan empati kepada korban bencana yang tidak cukup hanya dengan ucapan prihatin, komentar belas kasih dari kejauhan. Empati sejati hadir melalui kepedulian aksi nyata yang merasakan duka mereka, memahami beratnya kehilangan, sambil terus memberikan bantuan untuk meringankan beban mereka.

Dalam situasi bencana, kepanikan adalah musuh terbesar. Mental yang kuat, empati yang hidup, dan solidaritas sosial menjadi fondasi agar masyarakat mampu bertahan dan bangkit.

Walhasil, empati adalah energi sosial yang menggerakkan gotong royong, kepedulian sosial dan meneguhkan rasa kemanusiaan.

Harus diakui, di atas segalanya, asa, harapan menjadi cahaya yang menjaga manusia agar tetap melangkah dan terarah. Mudah-mudahan dengan secercah harapan membuat korban percaya bahwa setelah kesedihan akan ada pemulihan, kebahagiaan. Dengan empati, solidaritas, dan harapan, masyarakat terdampak bencana dapat bangkit kembali. Kita meyakini dalam setiap ujian, selalu ada jalan keluar yang disediakan Tuhan bagi mereka yang sabar, tabah dan tidak pongah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.
Tag Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)