Bandung sebagai Kota Wisata Bermimpi Terbebas dari Gelar ‘Kota Termacet di Indonesia’

4 menit baca
Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan
Kota Bandung kini menjelma menjadi kota wisata unggulan dan menjadi destinasi para wisatawan lokal maupun mancanegara. (Sumber: Unsplash | Foto: Hani Fildzah)
Kota Bandung kini menjelma menjadi kota wisata unggulan dan menjadi destinasi para wisatawan lokal maupun mancanegara. (Sumber: Unsplash | Foto: Hani Fildzah)

SEPERTI halnya Kota Yogyakarta, Kota Bandung kini menjelma menjadi kota wisata unggulan dan menjadi destinasi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Tak hanya di hari-hari libur dan weekend, di hari biasa pun para wisatawan—dengan memakai bus atau kendaraan pribadi--kerap berdatangan.

Sejumlah alasan mengapa para wisatawan memilih Bandung sebagai tujuan wisata? Alasan ini masuk list mereka: Udaranya sejuk dan banyak pepohonan; beragam kuliner yang memanjakan dan selalu saja ada yang baru; sebagai kota pendidikan (ITB, Unpad, UPI, UIN, dll.); cocok juga untuk wisata religi (Masjid Al-Jabbar); daya tarik alamnya yang cantik mempesona--pegunungan, kebun the (Lembang, Ciwidey, Pangalengan); budaya heritage (Gedung Merdeka, Gedung Sate, Savoy Homan); dan ekonomi kreatif (kuliner, factory outlet, kafe). Namun, sayangnya justru hal itu menjadi salah satu munculnya masalah utama Kota Bandung, yakni: kemacetan.. 

Kemacetan di Kota Bandung semakin parah karena pertumbuhan kendaraan pribadi yang tinggi.  Saat ini, menurut data, ada lebih dari 2,5 juta kendaraan di Kota Bandung. Jumlah itu hampir setara dengan jumlah penduduk Kota Bandung itu sendiri. Banyaknya jumlah kendaraan pribadi menurut sejumlah pengamat adalah salah satu penyebab kemacetan. 

Urbanisasi dan kurangnya transportasi publik yang efektif. Angkot sebagai sarana transportasi umum yang seharusnya bisa mengatasi kemacetan justru kerap dianggap jadi pangkal macet karena angkot sering berhenti seenaknya.

Menurut pengamat transportasi dari ITB Sony Sulaksono, ada 38 rute angkot di Kota Bandung. Bandung punya Damri. Bandung punya Trans Metro Bandung. Bandung punya Trans Metro Pasundan. Bandung punya Trans Jabar. Ada bus wisata Bandros. Semua itu modal besar yang luar biasa. Mengapa semua modal itu tidak ditata kelola, kenapa enggak disubsidi?

Sejumlah penyebab lain penyebab kemacetan adalah sempitnya Jalan jalan di Kota Bandung; bertambahnya tempat berbelanja; Lampu merah yang lama; pasar kaget, dan lain-lain.

Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)
Kemacetan bukan sekadar gangguan lalu lintas, tapi cerminan tata kelola kota yang belum sepenuhnya adaptif terhadap lonjakan urbanisasi dan perubahan perilaku mobilitas warganya. (Sumber: Ayobandung.id)

Kombinasi semua itu membuat Kota Bandung menjadi salah satu Kota Termacet di Indonesia 2024 oleh TomTom Traffic Index. Dalam penelitian TomTom, disebutkan rata-rata waktu tempuh di kota yang mendapat julukan “Kota Kembang” itu mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer. Dalam waktu tempuh perjalanan 10 kilometer, Bandung mengungguli Medan (32 menit 3 detik), Palembang (27 menit 55 detik), Surabaya (26 menit 59 detik), dan Jakarta (25 menit 31 detik). Tak hanya berperingkat nomor 1 di Indonesia, tetapi Kota Bandung berperingkat ke-12 di dunia dalam kategori waktu terlama yang hilang di jam sibuk. 

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, tak menampik hasil penelitian yang dilakukan TomTom itu. Menurutnya, di sejumlah titik Kota Bandung kerap terjadi kemacetan. Terutama, di tiga titik jalan utama ini. 

Titik pertama, adalah Jalan Sukarno Hatta dari sebelah barat hingga ke timur karena jalan ini merupakan jalan akses utama warga--baik dari barat, selatan, dan timur—menuju Kota Bandung. Biasanya kemacetan terjadi di pukul 6 hingga pukul 10 pagi dan pada saat bubaran kantor pukul 16.00-19.00 WIB. 

Baca Juga: Libur Akhir Tahun: Berkah Ekonomi, PR Sampah, dan Kemacetan Kota Wisata

Titik kedua Jalan Ahmad Yani hingga Jalan A.H. Nasution; dan titik ketiga adalah tiga ruas jalan menuju ke utara—Jalan Ir. H. Juanda (Dago), Jalan Sukajadi, dan Jalan Setiabudi—di sini saat pagi kepadatan kendaraan biasa saja, tapi kepadatan kendaraan mulai pukul 16.00 hingga pukul 19.00 WIB.

Menurut catatan penulis, masih ada titik-titik kemacetan yang luput disebut Kang Farhan: Jalan Kiaracondong dan Terusan Kiaracondong; Jalan Kopo (Wahid Hasyim), Jalan Buah Batu dan Terusan Buah Batu, Jalan Gatot Subroto, Jalan Lingkar BKR, dan Jalan Asia Afrika. Belum lagi di jalan-jalan sentra kuliner seperti jalan Balonggede, jalan Lengkong Kecil. Kalau begitu, hampir seluruh ruas jalan, dong? Apalagi di saat hari Sabtu dan Minggu.

Lalu, apa upaya atau tata kelola Kang Farhan dalam menanggulangi tingkat kemacetan di Kota Bandung? Rupanya Kang Farhan sedang mencari solusi kemacetan berbasis teknologi. Selama ini Farhan menyoroti pentingnya pengaturan waktu dan pemanfaatan sistem kendali lalu lintas seperti ATCS  (Area Traffic Control System) untuk mengatur durasi lampu merah secara real-time. Upaya lain adalah sedang dikembangkan pembangunan BRT (Bus Rapid Transit) Bandung Raya.. 

Langkah-langkah ini diambil karena kemacetan masih menjadi persoalan utama Kota Bandung. Dikatakan Farhan, ia pun ingin mengundang TomTom bekerja sama. Siapa tahu mereka bisa membantu memecahkan kemacetan di Kota Bandung. Semoga saja Bandung terbebas dari gelar “Kota Termacet No. 1 di Indonesia”. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)