Bosan dengan Aspal, Warga Kota Bandung Berlari ke Tengah Hutan

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Bandung di pagi hari menyimpan wajah lain. Ketika lalu lintas belum sepenuhnya padat, sebagian warga kota justru bergerak ke arah hutan. Mereka berlari menyusuri jalur tanah, melewati akar pohon dan tanjakan, menjauh dari aspal dan kebisingan.

Trail running, lari di lintasan alam, perlahan menjadi pilihan baru warga Bandung dalam berolahraga. Fenomena ini terlihat di berbagai titik, salah satunya di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Dago. Kawasan konservasi yang dikenal sebagai ruang wisata alam itu kini juga dimanfaatkan sebagai ruang olahraga oleh para pelari yang mencari suasana berbeda dari jalan raya.

Irfan Maulana (25), pelari trail asal Bandung, mengaku mulai rutin melakukan trail running sejak sekitar 2020. Sebelumnya, ia terbiasa berlari di jalanan kota. Peralihan ke jalur alam memberinya pengalaman yang sangat berbeda, baik secara fisik maupun mental.

“Kalau lari di jalan itu kita harus selalu waspada sama kendaraan dan polusi. Kadang fokusnya kebagi, antara jaga langkah sama lihat sekitar. Di trail beda, fokusnya lebih ke napas sama langkah kita sendiri. Medannya memang lebih berat, tapi justru di situ kita bisa lebih menikmati proses larinya,” ujar Irfan.

Irfan Maulana mulai menggemari trail running sejak sekitar 2020. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Irfan Maulana mulai menggemari trail running sejak sekitar 2020. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Menurut Irfan, karakter jalur trail membuat pelari tidak bisa memaksakan kecepatan. Tanjakan, turunan, serta kondisi tanah yang tidak rata menuntut konsentrasi penuh dan kesadaran terhadap tubuh.

“Di jalur trail kita nggak bisa maksa cepat. Tanjakan sama turunan bikin ritmenya lebih pelan, tapi lebih terasa. Badan sama pikiran jadi lebih sinkron,” katanya.

Pengalaman berlari di alam juga dirasakan Danar Nandana (19). Pemuda asal Bandung ini mengenal trail running sebagai olahraga yang menggabungkan aktivitas fisik dengan pengalaman berada di alam terbuka. Baginya, trail running menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan lari di jalan raya.

Trail running itu capek, tapi capeknya beda. Jalurnya naik turun, tanahnya nggak rata, jadi kita harus fokus. Tapi justru di situ rasanya lebih tenang dibanding lari di jalan raya yang ramai,” kata Danar.

Bagi Danar Nandana trail running memberikan tantangan yang berbeda dibandingkan lari di jalan raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagi Danar Nandana trail running memberikan tantangan yang berbeda dibandingkan lari di jalan raya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Danar menilai jalur alam membuat pengalaman berlari terasa lebih hidup. Setiap lintasan menghadirkan tantangan yang berbeda sehingga tidak terasa monoton.

“Kalau di jalan kan jalurnya gitu-gitu aja. Di trail, tiap jalur beda tantangannya, jadi nggak ngebosenin,” ujarnya.

Bandung, dengan karakter geografisnya yang dikelilingi perbukitan dan kawasan hijau, menjadi lingkungan yang mendukung berkembangnya trail running. Akses menuju kawasan alam relatif mudah dijangkau dari pusat kota, sehingga aktivitas ini dapat dilakukan tanpa harus pergi jauh.

Bagas Aji Prakoso (27), pelari trail lainnya, menilai kedekatan antara kawasan perkotaan dan alam menjadi salah satu faktor penting berkembangnya trail running di Bandung.

“Bandung itu enak buat trail running karena akses ke alamnya dekat. Dari pusat kota, nggak perlu jauh-jauh buat sampai ke jalur trail. Ini yang bikin banyak orang tertarik,” kata Bagas.

Menurut Bagas, tren trail running juga berkaitan dengan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Olahraga tidak lagi semata soal fisik, tetapi juga tentang mencari ruang yang lebih nyaman dan menenangkan.

“Sekarang orang-orang pengin olahraga yang bukan cuma buat fisik, tapi juga buat cari suasana. Trail running itu ketemu dua-duanya,” ujarnya.

Di sisi lain, meningkatnya aktivitas trail running di kawasan Tahura Djuanda turut menjadi perhatian pengelola. Sebab, Tahura bukan hanya ruang publik, tetapi juga kawasan konservasi yang memiliki fungsi utama perlindungan ekosistem.

Pengendali Ekosistem Hutan Tahura Djuanda, Dicky. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Pengendali Ekosistem Hutan Tahura Djuanda, Dicky. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Pengendali Ekosistem Hutan Tahura Djuanda, Dicky, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir aktivitas pengunjung untuk berolahraga memang terlihat meningkat, terutama pada pagi hari dan akhir pekan.

“Sekarang memang lebih banyak pengunjung yang datang ke Tahura untuk olahraga, termasuk lari. Biasanya kelihatan ramai di pagi hari dan akhir pekan,” ujar Dicky.

Menurut Dicky, perubahan pola kunjungan ini menunjukkan bahwa kawasan Tahura mulai dimaknai sebagai ruang aktivitas rutin warga kota. Namun, pengelola tetap harus memastikan fungsi utama kawasan hutan tetap terjaga.

“Kami tidak melarang orang berolahraga, tapi tetap ada aturan yang harus dipatuhi. Tidak semua jalur boleh digunakan karena ada area konservasi yang memang harus dilindungi,” katanya.

Dicky menjelaskan, salah satu tantangan dalam pengelolaan kawasan adalah munculnya jalur-jalur tidak resmi akibat aktivitas pengunjung. Jalur baru yang terbentuk tanpa perencanaan dapat merusak vegetasi dan mengganggu ekosistem hutan.

“Yang paling kami jaga itu supaya tidak ada jalur baru dan pengunjung tetap menjaga kebersihan. Kalau jalur baru muncul, itu bisa merusak vegetasi dan ekosistem,” ujarnya.

Di titik ini, fenomena trail running di Bandung berada dalam posisi tarik-ulur antara kebutuhan warga kota akan ruang olahraga yang sehat dan kewajiban menjaga kelestarian alam. Di satu sisi, trail running memberi alternatif aktivitas fisik yang lebih menenangkan dan menantang dibandingkan jalan raya. Di sisi lain, meningkatnya aktivitas manusia di kawasan hutan menuntut pengelolaan dan kesadaran bersama.

Bagi para pelari, etika menjadi bagian penting dari pengalaman trail running. Irfan menilai, berlari di alam justru mengajarkan sikap saling menghormati, baik terhadap sesama pengguna jalur maupun terhadap lingkungan.

“Kalau lari di alam, otomatis kita harus jaga sikap. Alamnya yang ngasih ruang, jadi kita juga harus tahu batas,” katanya.

Fenomena trail running di Bandung menunjukkan perubahan cara warga kota memaknai olahraga dan ruang. Lari tak lagi semata soal kecepatan dan jarak, melainkan tentang mencari keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan alam.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)