Ketika Lari Membuka Ruang Inklusif bagi Disabilitas

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Selasa 30 Des 2025, 13:57 WIB
Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Ruang publik idealnya memberi tempat bagi semua warga untuk bergerak dan berpartisipasi tanpa hambatan. Dalam sebuah kegiatan lari di pusat Kota Bandung, gagasan inklusivitas itu diuji langsung di jalanan kota.

Minggu, 28 Desember 2025, pagi di Balai Kota Bandung dimulai dengan udara dingin dan kerumunan pelari yang bersiap di garis start. Di antara ratusan peserta yang mengikuti kegiatan lari, roda kursi dan langkah yang bergerak lebih perlahan tampak menyatu dalam barisan. Di titik ini, lari bukan lagi soal kecepatan, melainkan tentang siapa saja yang diberi ruang untuk bergerak bersama. Mereka berdiri dan bergerak di ruang yang sama, mengikuti ritme acara yang sejak awal mengusung semangat kebersamaan.

Salah satu peserta adalah Djumono (58), anggota komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Kehadirannya dalam Bandung Communication Run bukan sekadar partisipasi personal, melainkan bagian dari keterlibatan kolektif yang sengaja dibuka oleh panitia.

“Kami diminta untuk mengumpulkan teman-teman atlet disabilitas agar bisa ikut terlibat. Jadi acara ini memang acara inklusi,” ujar Djumono.

Bagi Djumono, kegiatan lari di ruang publik bukan pengalaman pertama. Ia telah beberapa kali mengikuti acara serupa. Namun, setiap kegiatan selalu menghadirkan tantangan yang berbeda, terutama dari sisi teknis di lapangan. Menurutnya, dibandingkan kegiatan sebelumnya, masih ada aspek pengamanan jalur yang perlu diperhatikan.

Djumono, atlet disabilitas yang berpartisipasi dalam Bandung Communication Run. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Djumono, atlet disabilitas yang berpartisipasi dalam Bandung Communication Run. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Persiapannya tadidi jalan memang masih kurang untuk penjagaan, terutama dibandingkan kegiatan-kegiatan sebelumnya,” katanya.

Meski demikian, pengalaman sosial selama kegiatan justru menjadi hal yang paling menonjol. Djumono merasa tidak ada jarak antara dirinya dengan peserta lain. Interaksi yang cair dan suasana kebersamaan membuat kegiatan ini terasa sebagai ruang publik yang hidup, bukan eksklusif bagi kelompok tertentu. Semua peserta bergerak dalam suasana yang sama.

“Alhamdulillah diterima. Teman-teman juga tidak sungkan. Masyarakat yang ikut kegiatan ini juga sama-sama lari gembira,” ujarnya.

Dari sisi panitia, jarak tempuh dibedakan antara peserta disabilitas dan non-disabilitas. Peserta disabilitas menempuh rute sejauh 2,5 kilometer, penyesuaian yang dinilai membantu kenyamanan selama kegiatan berlangsung. Penyesuaian jarak ini memungkinkan peserta disabilitas mengikuti acara tanpa harus memaksakan kondisi fisik.

“Untuk disabilitas jaraknya 2,5 kilometer, berbeda dengan yang non-disabilitas. Jadi teman-teman bisa mengikuti dengan benar-benar nyaman,” kata Jumono.

Selain pengaturan rute, kehadiran petugas lapangan juga menjadi faktor penting. Di sejumlah perempatan jalan, petugas membantu peserta saat menyeberang dan memastikan arus lalu lintas tetap aman. Bagi peserta disabilitas, pendampingan ini berperan besar dalam menciptakan rasa aman selama bergerak di ruang publik.

“Yang membantu itu penjagaan di perempatan-perempatan. Saat mau menyeberang, dibantu oleh teman-teman panitia,” ucapnya.

Namun, tidak semua aspek berjalan tanpa catatan. Waktu start yang dimulai terlalu pagi menjadi salah satu kendala yang dirasakan peserta disabilitas. Akses menuju lokasi pada dini hari dinilai masih menyulitkan, terutama bagi mereka yang membutuhkan bantuan atau moda transportasi tertentu.

“Start-nya kepagian, jam 05.45. Untuk teman-teman disabilitas, akses untuk bisa hadir ke sini juga berkesulitan,” tuturnya.

Lebih dari sekadar aktivitas olahraga, kegiatan ini memiliki makna kebersamaan bagi peserta disabilitas. Lari menjadi medium untuk berbaur dan merasakan ruang publik tanpa sekat sosial yang kerap muncul dalam keseharian.

“Maknanya adalah kebersamaan dan inklusivitas. Kita berbaur bersama masyarakat lainnya tanpa ada sekat,” kata Jumono.

Menurutnya, ruang publik yang inklusif bukan hanya kebutuhan kelompok disabilitas, melainkan kebutuhan semua warga. Setiap orang, dalam kondisi tertentu, berpotensi menjadi disabilitas, sehingga ruang kota perlu dirancang agar aman dan nyaman bagi siapa pun.

“Siapa pun orangnya bisa menjadi disabilitas. Karena itu ruang publik harus nyaman dan aman,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata. Djumono mendorong agar penyelenggara dan pemerintah lebih sering melibatkan penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan publik, sehingga kesadaran masyarakat terhadap isu disabilitas dapat tumbuh secara alami.

“Sering-sering libatkan kami di berbagai event. Supaya masyarakat lebih aware dan kepeduliannya meningkat,” pungkasnya.

Di akhir kegiatan, garis finis bukan menjadi penanda utama. Yang lebih penting adalah pengalaman bergerak bersama, ketika ruang publik tidak hanya dilalui, tetapi juga dirasakan sebagai milik bersama oleh semua orang.

Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)