AYOBANDUNG.ID - Ruang publik idealnya memberi tempat bagi semua warga untuk bergerak dan berpartisipasi tanpa hambatan. Dalam sebuah kegiatan lari di pusat Kota Bandung, gagasan inklusivitas itu diuji langsung di jalanan kota.
Minggu, 28 Desember 2025, pagi di Balai Kota Bandung dimulai dengan udara dingin dan kerumunan pelari yang bersiap di garis start. Di antara ratusan peserta yang mengikuti kegiatan lari, roda kursi dan langkah yang bergerak lebih perlahan tampak menyatu dalam barisan. Di titik ini, lari bukan lagi soal kecepatan, melainkan tentang siapa saja yang diberi ruang untuk bergerak bersama. Mereka berdiri dan bergerak di ruang yang sama, mengikuti ritme acara yang sejak awal mengusung semangat kebersamaan.
Salah satu peserta adalah Djumono (58), anggota komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Kehadirannya dalam Bandung Communication Run bukan sekadar partisipasi personal, melainkan bagian dari keterlibatan kolektif yang sengaja dibuka oleh panitia.
“Kami diminta untuk mengumpulkan teman-teman atlet disabilitas agar bisa ikut terlibat. Jadi acara ini memang acara inklusi,” ujar Djumono.
Bagi Djumono, kegiatan lari di ruang publik bukan pengalaman pertama. Ia telah beberapa kali mengikuti acara serupa. Namun, setiap kegiatan selalu menghadirkan tantangan yang berbeda, terutama dari sisi teknis di lapangan. Menurutnya, dibandingkan kegiatan sebelumnya, masih ada aspek pengamanan jalur yang perlu diperhatikan.

“Persiapannya tadidi jalan memang masih kurang untuk penjagaan, terutama dibandingkan kegiatan-kegiatan sebelumnya,” katanya.
Meski demikian, pengalaman sosial selama kegiatan justru menjadi hal yang paling menonjol. Djumono merasa tidak ada jarak antara dirinya dengan peserta lain. Interaksi yang cair dan suasana kebersamaan membuat kegiatan ini terasa sebagai ruang publik yang hidup, bukan eksklusif bagi kelompok tertentu. Semua peserta bergerak dalam suasana yang sama.
“Alhamdulillah diterima. Teman-teman juga tidak sungkan. Masyarakat yang ikut kegiatan ini juga sama-sama lari gembira,” ujarnya.
Dari sisi panitia, jarak tempuh dibedakan antara peserta disabilitas dan non-disabilitas. Peserta disabilitas menempuh rute sejauh 2,5 kilometer, penyesuaian yang dinilai membantu kenyamanan selama kegiatan berlangsung. Penyesuaian jarak ini memungkinkan peserta disabilitas mengikuti acara tanpa harus memaksakan kondisi fisik.
“Untuk disabilitas jaraknya 2,5 kilometer, berbeda dengan yang non-disabilitas. Jadi teman-teman bisa mengikuti dengan benar-benar nyaman,” kata Jumono.
Selain pengaturan rute, kehadiran petugas lapangan juga menjadi faktor penting. Di sejumlah perempatan jalan, petugas membantu peserta saat menyeberang dan memastikan arus lalu lintas tetap aman. Bagi peserta disabilitas, pendampingan ini berperan besar dalam menciptakan rasa aman selama bergerak di ruang publik.
“Yang membantu itu penjagaan di perempatan-perempatan. Saat mau menyeberang, dibantu oleh teman-teman panitia,” ucapnya.
Namun, tidak semua aspek berjalan tanpa catatan. Waktu start yang dimulai terlalu pagi menjadi salah satu kendala yang dirasakan peserta disabilitas. Akses menuju lokasi pada dini hari dinilai masih menyulitkan, terutama bagi mereka yang membutuhkan bantuan atau moda transportasi tertentu.
“Start-nya kepagian, jam 05.45. Untuk teman-teman disabilitas, akses untuk bisa hadir ke sini juga berkesulitan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar aktivitas olahraga, kegiatan ini memiliki makna kebersamaan bagi peserta disabilitas. Lari menjadi medium untuk berbaur dan merasakan ruang publik tanpa sekat sosial yang kerap muncul dalam keseharian.
“Maknanya adalah kebersamaan dan inklusivitas. Kita berbaur bersama masyarakat lainnya tanpa ada sekat,” kata Jumono.
Menurutnya, ruang publik yang inklusif bukan hanya kebutuhan kelompok disabilitas, melainkan kebutuhan semua warga. Setiap orang, dalam kondisi tertentu, berpotensi menjadi disabilitas, sehingga ruang kota perlu dirancang agar aman dan nyaman bagi siapa pun.
“Siapa pun orangnya bisa menjadi disabilitas. Karena itu ruang publik harus nyaman dan aman,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata. Djumono mendorong agar penyelenggara dan pemerintah lebih sering melibatkan penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan publik, sehingga kesadaran masyarakat terhadap isu disabilitas dapat tumbuh secara alami.
“Sering-sering libatkan kami di berbagai event. Supaya masyarakat lebih aware dan kepeduliannya meningkat,” pungkasnya.
Di akhir kegiatan, garis finis bukan menjadi penanda utama. Yang lebih penting adalah pengalaman bergerak bersama, ketika ruang publik tidak hanya dilalui, tetapi juga dirasakan sebagai milik bersama oleh semua orang.
