Ketika Lari Membuka Ruang Inklusif bagi Disabilitas

3 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Ruang publik idealnya memberi tempat bagi semua warga untuk bergerak dan berpartisipasi tanpa hambatan. Dalam sebuah kegiatan lari di pusat Kota Bandung, gagasan inklusivitas itu diuji langsung di jalanan kota.

Minggu, 28 Desember 2025, pagi di Balai Kota Bandung dimulai dengan udara dingin dan kerumunan pelari yang bersiap di garis start. Di antara ratusan peserta yang mengikuti kegiatan lari, roda kursi dan langkah yang bergerak lebih perlahan tampak menyatu dalam barisan. Di titik ini, lari bukan lagi soal kecepatan, melainkan tentang siapa saja yang diberi ruang untuk bergerak bersama. Mereka berdiri dan bergerak di ruang yang sama, mengikuti ritme acara yang sejak awal mengusung semangat kebersamaan.

Salah satu peserta adalah Djumono (58), anggota komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Kehadirannya dalam Bandung Communication Run bukan sekadar partisipasi personal, melainkan bagian dari keterlibatan kolektif yang sengaja dibuka oleh panitia.

“Kami diminta untuk mengumpulkan teman-teman atlet disabilitas agar bisa ikut terlibat. Jadi acara ini memang acara inklusi,” ujar Djumono.

Bagi Djumono, kegiatan lari di ruang publik bukan pengalaman pertama. Ia telah beberapa kali mengikuti acara serupa. Namun, setiap kegiatan selalu menghadirkan tantangan yang berbeda, terutama dari sisi teknis di lapangan. Menurutnya, dibandingkan kegiatan sebelumnya, masih ada aspek pengamanan jalur yang perlu diperhatikan.

Djumono, atlet disabilitas yang berpartisipasi dalam Bandung Communication Run. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Djumono, atlet disabilitas yang berpartisipasi dalam Bandung Communication Run. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Persiapannya tadidi jalan memang masih kurang untuk penjagaan, terutama dibandingkan kegiatan-kegiatan sebelumnya,” katanya.

Meski demikian, pengalaman sosial selama kegiatan justru menjadi hal yang paling menonjol. Djumono merasa tidak ada jarak antara dirinya dengan peserta lain. Interaksi yang cair dan suasana kebersamaan membuat kegiatan ini terasa sebagai ruang publik yang hidup, bukan eksklusif bagi kelompok tertentu. Semua peserta bergerak dalam suasana yang sama.

“Alhamdulillah diterima. Teman-teman juga tidak sungkan. Masyarakat yang ikut kegiatan ini juga sama-sama lari gembira,” ujarnya.

Dari sisi panitia, jarak tempuh dibedakan antara peserta disabilitas dan non-disabilitas. Peserta disabilitas menempuh rute sejauh 2,5 kilometer, penyesuaian yang dinilai membantu kenyamanan selama kegiatan berlangsung. Penyesuaian jarak ini memungkinkan peserta disabilitas mengikuti acara tanpa harus memaksakan kondisi fisik.

“Untuk disabilitas jaraknya 2,5 kilometer, berbeda dengan yang non-disabilitas. Jadi teman-teman bisa mengikuti dengan benar-benar nyaman,” kata Jumono.

Selain pengaturan rute, kehadiran petugas lapangan juga menjadi faktor penting. Di sejumlah perempatan jalan, petugas membantu peserta saat menyeberang dan memastikan arus lalu lintas tetap aman. Bagi peserta disabilitas, pendampingan ini berperan besar dalam menciptakan rasa aman selama bergerak di ruang publik.

“Yang membantu itu penjagaan di perempatan-perempatan. Saat mau menyeberang, dibantu oleh teman-teman panitia,” ucapnya.

Namun, tidak semua aspek berjalan tanpa catatan. Waktu start yang dimulai terlalu pagi menjadi salah satu kendala yang dirasakan peserta disabilitas. Akses menuju lokasi pada dini hari dinilai masih menyulitkan, terutama bagi mereka yang membutuhkan bantuan atau moda transportasi tertentu.

“Start-nya kepagian, jam 05.45. Untuk teman-teman disabilitas, akses untuk bisa hadir ke sini juga berkesulitan,” tuturnya.

Lebih dari sekadar aktivitas olahraga, kegiatan ini memiliki makna kebersamaan bagi peserta disabilitas. Lari menjadi medium untuk berbaur dan merasakan ruang publik tanpa sekat sosial yang kerap muncul dalam keseharian.

“Maknanya adalah kebersamaan dan inklusivitas. Kita berbaur bersama masyarakat lainnya tanpa ada sekat,” kata Jumono.

Menurutnya, ruang publik yang inklusif bukan hanya kebutuhan kelompok disabilitas, melainkan kebutuhan semua warga. Setiap orang, dalam kondisi tertentu, berpotensi menjadi disabilitas, sehingga ruang kota perlu dirancang agar aman dan nyaman bagi siapa pun.

“Siapa pun orangnya bisa menjadi disabilitas. Karena itu ruang publik harus nyaman dan aman,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata. Djumono mendorong agar penyelenggara dan pemerintah lebih sering melibatkan penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan publik, sehingga kesadaran masyarakat terhadap isu disabilitas dapat tumbuh secara alami.

“Sering-sering libatkan kami di berbagai event. Supaya masyarakat lebih aware dan kepeduliannya meningkat,” pungkasnya.

Di akhir kegiatan, garis finis bukan menjadi penanda utama. Yang lebih penting adalah pengalaman bergerak bersama, ketika ruang publik tidak hanya dilalui, tetapi juga dirasakan sebagai milik bersama oleh semua orang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)