Resolusi Bandung 2026 dan Kerendahan Hati Ekologis

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Banjir di salah satu sudut kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Banjir di salah satu sudut kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)

SABAN kali musim hujan datang, sebagian wilayah Bandung selalu jadi langganan banjir. Sebagian orang pun terkaget-kaget dan panik. Hujan lalu diidentikkan dengan banjir.

Narasi publik pun tak jarang disederhanakan: hujan deras, lalu banjir. Seolah-olah air hujan adalah biang kerok tunggal. Padahal, air hanya datang sesuai hukum alam. Yang bermasalah justru cara kota ini menyambutnya.

Kita semua paham bahwa Bandung berdiri di sebuah cekungan. Dari sononya, kota ini memang tempat air berkumpul. Itu fakta geografis yang, mau tidak mau, harus kita terima dengan lapang dada. Persoalannya, sejak lama, kita memperlakukan cekungan ini seolah dataran kering biasa.

Drainase dibangun dengan logika membuang air secepat mungkin. Sungai dipersempit, ditutup beton, dipaksa lurus. Air dianggap musuh yang harus diusir, bukan tamu yang perlu dikelola.

Di sisi lain, lahan resapan menghilang pelan-pelan. Sawah dan rawa berubah jadi perumahan, kebun jadi kafe, tanah lapang jadi parkiran. Semua sah secara administratif, tapi rapuh secara ekologis.

Maka, jangan heran jika air akhirnya mencari jalannya sendiri yang ia sukai. Ia naik ke jalan, masuk rumah, merendam kantor dan sekolah. Bukan karena air jahat, tapi karena ruangnya telah kita diambil.

Di titik ini, banjir bukan lagi peristiwa alam. Ia sudah menjadi produk kebijakan jangka panjang. Akumulasi dari keputusan kecil yang tampak rasional di atas kertas, tapi kemudian bermasalah di lapangan.

Hujan ekstrem

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kita kiwari dengan gampang sering menyalahkan hujan ekstrem, tanpa bertanya lebih jauh: ekstrem menurut siapa? Curah hujan mungkin memang meningkat, tapi daya tampung kota justru menurun drastis. Ketimpangan inilah yang jarang dibahas lebih jauh.

Dalam kajian urban ecology, ada konsep urban resilience yang dikembangkan antara lain oleh CS Holling. Intinya sederhana, yakni kota yang tangguh bukan kota yang menolak alam, tapi yang mampu beradaptasi dengannya.

Bandung, sayangnya, kini lebih sibuk menunjukkan citra modern ketimbang membangun ketangguhan ekologis. Beton dianggap kemajuan, sementara tanah basah dianggap kemunduran.

Padahal air tidak pernah menuntut banyak. Ia hanya butuh ruang untuk meresap, mengalir perlahan, dan berhenti sejenak. Namun, kota ini semakin jarang memberinya kesempatan.

Kebijakan drainase pun sering berdiri sendiri, terpisah dari tata ruang. Sungai dikeruk, tapi hulu dibabat. Gorong-gorong diperlebar, tapi bangunan di atasnya terus bertambah.

Ini bukan soal niat buruk. Lebih sering soal kebijakan sektoral yang tidak sinkron. Dinas satu mengejar target, dinas lain mengejar izin, sementara air bergerak tanpa pernah membaca dokumen perencanaan kota.

Di sisi lain, kita juga selalu percaya pada solusi instan. Normalisasi sungai, pengerukan, pompa air. Semua itu penting, tapi tidak cukup. Seperti minum obat pereda nyeri tanpa mengobati biang utama penyakitnya.

Perubahan cara pandang

Potret derasnya air coklat selepas hujan di Sungai Cikapundung. (Sumber: Flickr | Foto: Ikhlasul Amal)
Potret derasnya air coklat selepas hujan di Sungai Cikapundung. (Sumber: Flickr | Foto: Ikhlasul Amal)

Resolusi Bandung 2026 terkait banjir seharusnya dimulai dari perubahan cara pandang, yakni dari melawan air menjadi berdamai dengan air, dari mengusir air menjadi mengelola air.

Berdamai dengan air berarti mengembalikan fungsi lahan resapan, Artinya berani menahan izin, merevisi tata ruang, bahkan membatalkan proyek yang merusak daya dukung lingkungan.

Ini juga berarti menghidupkan kembali sungai sebagai ruang hidup, bukan sekadar saluran air. Sungai yang sehat meluap dengan cara yang terkendali, bukan mengamuk tiba-tiba.

Kota-kota lain di dunia sudah lebih dahulu memulai. Mereka membangun kolam retensi, taman basah, atap hijau, dan meperluas ruang terbuka yang bisa tergenang sementara. Air dibiarkan singgah, bukan langsung diusir.

Bandung sebenarnya punya modal sosial dan intelektual yang kuat. Kampus perguruan tinggi seabrek, juga komunitas warga, hingga individu-individu yang peduli lingkungan tidak pernah kekurangan gagasan. 

Yang kerap absen justru keberanian politik untuk mengakui, lalu mengadopsi gagasan-gagasan itu sebagai kebijakan nyata, bukan sekadar bahan seminar atau laporan akhir tahun.

Di titik inilah partisipasi publik menjadi krusial. Warga Bandung bukan semata korban banjir yang menunggu bantuan, melainkan aktor penting dalam turut pengelolaan air sehari-hari. 

Dari membuat sumur resapan dan biopori di halaman rumah, hingga menjaga saluran lingkungan agar tidak tersumbat, semua itu adalah kerja kecil yang menuntut partisipasi publik yang dampaknya besar bagi perbaikan kota ini.

Ketika pemerintah dan warga bergerak di jalur yang sama, pengelolaan air niscaya tidak lagi reaktif, melainkan menjadi kebiasaan kolektif yang berkelanjutan.

Di sisi lain, transparansi data juga krusial. Peta rawan banjir, daya tampung sungai, dan izin alih fungsi lahan harus terbuka. Tanpa itu, publik hanya bisa marah tanpa arah.

Slogan hijau

Acih dan rumahnya yang terpaksa dia tinggalkan akibat bencana tanah bergerak di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Acih dan rumahnya yang terpaksa dia tinggalkan akibat bencana tanah bergerak di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)

Bandung sendiri tidak pernah kekurangan slogan hijau. Yang masih kurang adalah keberlanjutan kebijakan lintas periode. Air tidak peduli siapa wali kotanya, ia hanya mengikuti gravitasi dan ruang.

Di sinilah pentingnya kebijakan jangka panjang berkesinambungan yang melampaui masa jabatan. Pengelolaan air tidak bisa diselesaikan dalam satu periode jabatan politik.

Jika tidak, setiap pergantian kepemimpinan hanya akan mengulang siklus yang sama. Banjir datang, janji diucapkan, lalu dilupakan saat musim kemarau tiba.

Kota yang matang adalah kota yang mau belajar dari alam, bukan merasa lebih pintar darinya. Air sudah ada jauh sebelum gedung-gedung di kota ini berdiri.

Resolusi Bandung 2026 seharusnya bukan melulu perkara proyek-proyek megah, tapi juga perkara kerendahan hati ekologis, yaitu mengakui bahwa kota ini punya batas.

Jika Bandung mau bertahan, bukan sekadar berkembang, maka berdamai dengan air bukan sekadar opsi tambahan, melainkan syarat dasar untuk masa depan kota ini sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)