Resolusi Bandung 2026 dan Kerendahan Hati Ekologis

Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Jumat 02 Jan 2026, 08:30 WIB
Banjir di salah satu sudut kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)

Banjir di salah satu sudut kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)

SABAN kali musim hujan datang, sebagian wilayah Bandung selalu jadi langganan banjir. Sebagian orang pun terkaget-kaget dan panik. Hujan lalu diidentikkan dengan banjir.

Narasi publik pun tak jarang disederhanakan: hujan deras, lalu banjir. Seolah-olah air hujan adalah biang kerok tunggal. Padahal, air hanya datang sesuai hukum alam. Yang bermasalah justru cara kota ini menyambutnya.

Kita semua paham bahwa Bandung berdiri di sebuah cekungan. Dari sononya, kota ini memang tempat air berkumpul. Itu fakta geografis yang, mau tidak mau, harus kita terima dengan lapang dada. Persoalannya, sejak lama, kita memperlakukan cekungan ini seolah dataran kering biasa.

Drainase dibangun dengan logika membuang air secepat mungkin. Sungai dipersempit, ditutup beton, dipaksa lurus. Air dianggap musuh yang harus diusir, bukan tamu yang perlu dikelola.

Di sisi lain, lahan resapan menghilang pelan-pelan. Sawah dan rawa berubah jadi perumahan, kebun jadi kafe, tanah lapang jadi parkiran. Semua sah secara administratif, tapi rapuh secara ekologis.

Maka, jangan heran jika air akhirnya mencari jalannya sendiri yang ia sukai. Ia naik ke jalan, masuk rumah, merendam kantor dan sekolah. Bukan karena air jahat, tapi karena ruangnya telah kita diambil.

Di titik ini, banjir bukan lagi peristiwa alam. Ia sudah menjadi produk kebijakan jangka panjang. Akumulasi dari keputusan kecil yang tampak rasional di atas kertas, tapi kemudian bermasalah di lapangan.

Hujan ekstrem

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Kita kiwari dengan gampang sering menyalahkan hujan ekstrem, tanpa bertanya lebih jauh: ekstrem menurut siapa? Curah hujan mungkin memang meningkat, tapi daya tampung kota justru menurun drastis. Ketimpangan inilah yang jarang dibahas lebih jauh.

Dalam kajian urban ecology, ada konsep urban resilience yang dikembangkan antara lain oleh CS Holling. Intinya sederhana, yakni kota yang tangguh bukan kota yang menolak alam, tapi yang mampu beradaptasi dengannya.

Bandung, sayangnya, kini lebih sibuk menunjukkan citra modern ketimbang membangun ketangguhan ekologis. Beton dianggap kemajuan, sementara tanah basah dianggap kemunduran.

Padahal air tidak pernah menuntut banyak. Ia hanya butuh ruang untuk meresap, mengalir perlahan, dan berhenti sejenak. Namun, kota ini semakin jarang memberinya kesempatan.

Kebijakan drainase pun sering berdiri sendiri, terpisah dari tata ruang. Sungai dikeruk, tapi hulu dibabat. Gorong-gorong diperlebar, tapi bangunan di atasnya terus bertambah.

Ini bukan soal niat buruk. Lebih sering soal kebijakan sektoral yang tidak sinkron. Dinas satu mengejar target, dinas lain mengejar izin, sementara air bergerak tanpa pernah membaca dokumen perencanaan kota.

Di sisi lain, kita juga selalu percaya pada solusi instan. Normalisasi sungai, pengerukan, pompa air. Semua itu penting, tapi tidak cukup. Seperti minum obat pereda nyeri tanpa mengobati biang utama penyakitnya.

Perubahan cara pandang

Potret derasnya air coklat selepas hujan di Sungai Cikapundung. (Sumber: Flickr | Foto: Ikhlasul Amal)
Potret derasnya air coklat selepas hujan di Sungai Cikapundung. (Sumber: Flickr | Foto: Ikhlasul Amal)

Resolusi Bandung 2026 terkait banjir seharusnya dimulai dari perubahan cara pandang, yakni dari melawan air menjadi berdamai dengan air, dari mengusir air menjadi mengelola air.

Berdamai dengan air berarti mengembalikan fungsi lahan resapan, Artinya berani menahan izin, merevisi tata ruang, bahkan membatalkan proyek yang merusak daya dukung lingkungan.

Ini juga berarti menghidupkan kembali sungai sebagai ruang hidup, bukan sekadar saluran air. Sungai yang sehat meluap dengan cara yang terkendali, bukan mengamuk tiba-tiba.

Kota-kota lain di dunia sudah lebih dahulu memulai. Mereka membangun kolam retensi, taman basah, atap hijau, dan meperluas ruang terbuka yang bisa tergenang sementara. Air dibiarkan singgah, bukan langsung diusir.

Bandung sebenarnya punya modal sosial dan intelektual yang kuat. Kampus perguruan tinggi seabrek, juga komunitas warga, hingga individu-individu yang peduli lingkungan tidak pernah kekurangan gagasan. 

Yang kerap absen justru keberanian politik untuk mengakui, lalu mengadopsi gagasan-gagasan itu sebagai kebijakan nyata, bukan sekadar bahan seminar atau laporan akhir tahun.

Di titik inilah partisipasi publik menjadi krusial. Warga Bandung bukan semata korban banjir yang menunggu bantuan, melainkan aktor penting dalam turut pengelolaan air sehari-hari. 

Dari membuat sumur resapan dan biopori di halaman rumah, hingga menjaga saluran lingkungan agar tidak tersumbat, semua itu adalah kerja kecil yang menuntut partisipasi publik yang dampaknya besar bagi perbaikan kota ini.

Ketika pemerintah dan warga bergerak di jalur yang sama, pengelolaan air niscaya tidak lagi reaktif, melainkan menjadi kebiasaan kolektif yang berkelanjutan.

Di sisi lain, transparansi data juga krusial. Peta rawan banjir, daya tampung sungai, dan izin alih fungsi lahan harus terbuka. Tanpa itu, publik hanya bisa marah tanpa arah.

Slogan hijau

Acih dan rumahnya yang terpaksa dia tinggalkan akibat bencana tanah bergerak di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Acih dan rumahnya yang terpaksa dia tinggalkan akibat bencana tanah bergerak di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)

Bandung sendiri tidak pernah kekurangan slogan hijau. Yang masih kurang adalah keberlanjutan kebijakan lintas periode. Air tidak peduli siapa wali kotanya, ia hanya mengikuti gravitasi dan ruang.

Di sinilah pentingnya kebijakan jangka panjang berkesinambungan yang melampaui masa jabatan. Pengelolaan air tidak bisa diselesaikan dalam satu periode jabatan politik.

Jika tidak, setiap pergantian kepemimpinan hanya akan mengulang siklus yang sama. Banjir datang, janji diucapkan, lalu dilupakan saat musim kemarau tiba.

Kota yang matang adalah kota yang mau belajar dari alam, bukan merasa lebih pintar darinya. Air sudah ada jauh sebelum gedung-gedung di kota ini berdiri.

Resolusi Bandung 2026 seharusnya bukan melulu perkara proyek-proyek megah, tapi juga perkara kerendahan hati ekologis, yaitu mengakui bahwa kota ini punya batas.

Jika Bandung mau bertahan, bukan sekadar berkembang, maka berdamai dengan air bukan sekadar opsi tambahan, melainkan syarat dasar untuk masa depan kota ini sendiri. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

Menyalakan Api Kehidupan

Ayo Netizen 01 Jan 2026, 20:01 WIB
Menyalakan Api Kehidupan

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)