Bandung yang Tenang tanpa Gangguan Modus Penipuan

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Modus Penipuan Voucher Kanker di depan Masjid Salman ITB (17/12/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Modus Penipuan Voucher Kanker di depan Masjid Salman ITB (17/12/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Siang itu, pada 17 Desember 2025 saya sedang bersantai di pelataran masjid Salman ITB selepas mengikuti salah satu kegiatan literasi. Memandang hilir-mudik para mahasiswa dengan berbagai macam kepentingan. Menikmati semilir angin yang dihasilkan berbagai macam pohon rindang yang berdiri gagah disekitaran taman.

Dari jauh nampak dua orang mahasiswa laki-laki yang sedang berjalan menuju pelataran masjid. Mereka duduk tepat 50 meter di depan saya. Keduanya membuka kotak bekal nasi juga jajanan sambil berbincang mengenai perkuliahan.

Tak lama dari itu datang seorang perempuan dengan nada yang sangat jelas berkata: "Kakak, mohon maaf mengganggu waktunya, boleh minta waktunya sebentar kak. Gak lama ko cuman 5 menit aja."

Mendengar itu rasanya ingin memberi tahu bahwa itu termasuk ke dalam modus penipuan. Tapi ada sedikit segan untuk memberitahu karena saya pribadi tidak mengenal kedua mahasiswa tersebut.

Tak disangka kedua laki-laki itu mempersilahkan perempuan tersebut untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Terdengar secara samar bahwa perempuan tersebut memperkenalkan perihal yayasan kanker. Kemudian menawarkan kedua mahasiswa tersebut untuk membeli voucher makanan yang bisa di klaim ke beberapa restoran yang dianggap menjadi bagian dari donasi untuk badan amal kanker. Tentu banyak terdapat kerancuan dari penawaran tersebut.

Setelah penjelasan yang dirasa seperti meyakinkan ternyata kedua mahasiswa tersebut menolak tawaran perempuan tadi dan berkata: "Saya udah dua kali dapat yang beginian, kak," sambil sedikit tertawa yang membuat perempuan tersebut bergegas segera menghampiri teman perempuan yang lain yang juga sedang menawarkan hal serupa kepada sejumlah mahasiswa yang menuju pelataran Masjid Salman ITB.

Tak lama dari itu terdengar salah seorang mahasiswa di depan saya berkata demikian, "Ah, itu mah modus, kebiasaan orang kaya gitu emang harus dikasih pelajaran," ungkapnya pada seorang teman disampingnya.

Kejadian tersebut mengingatkan saya pada pengalaman serupa yang saya dapatkan di kantin Salman ITB. Saat sedang makan bersama teman ada seorang pria yang menawarkan hal yang sama. Namun kali ini saya jauh lebih tenang menghadapinya karena jauh sebelumnya saya pernah tertipu dengan modus yang sama di tahun 2018.

Saat itu saya sedang berkunjung ke Ciwalk Bandung untuk mencari pekerjaan sampingan di sebuah stand brand kosmetik yang cukup terkenal di Bandung. Namun alih-alih saya menemukan tempat untuk walk interview-- saya justru bertemu dengan dua orang perempuan yang berpenampilan seperti mahasiswa menghampiri saya.

Masih dengan sapaan yang sama: "Kakak mohon maaf mengganggu waktunya, boleh saya minta waktunya sebentar." Sebagai orang yang tidak enakan saat itu saya mengiyakan saja. Modus yang digunakan sangat template, pertama menarik empati kita dengan memperkenalkan badan amal kanker yang mereka kelola dengan memperlihatkan sejumlah dokumentasi penyitas. Sebagai sesama perempuan melihat korban kanker perempuan lainnya tentu siapa yang tidak berempati. Kedua, setelah empati kita tersentuh-- yang bersangkutan meyakinkan bahwa ini bukan bermaksud meminta sumbangan tapi meminta kerelaan hati untuk membantu penyitas kanker.

Selanjutnya kedua perempuan tersebut meminta saya untuk menyumbang dengan nominal yang cukup besar dengan penawaran awal Rp. 200.000 melalui voucher makanan yang bisa diklaim pada setiap restoran yang terafiliasi dengan badan amal kanker tersebut.

Tentu sebagai pencari kerja sampingan yang saat itu saya hanya membawa Rp.20.000 untuk ongkos saja merasa tidak sanggup jika harus memenuhi permintaan tersebut. Mendengar demikian kedua perempuan tersebut menawarkan pilihan lain untuk menggunakan kartu debit dan mengambil uang tunai di ATM. Saat itu saya tidak punya kartu ATM tapi yang bersangkutan tetap memaksa dan akan mengantar saya ke ATM terdekat untuk mengambil uang tunai.

Rasanya saat itu saya mulai merasa terintimidasi oleh keduanya. Saya sampaikan bahwa saya tidak membawa uang lebih jadi saya memutuskan untuk tidak membantu. Namun keduanya sangat piawai menekan saya untuk merasa tidak enak jika tidak membantu.

"Ya sudah, kakak ada uang cash berapa di saku?" Tanya-nya dengan penuh desakan.

"Cuman Rp.20.000 saja ka untuk ongkos ini juga."

"Gak papa ka Rp.20.000 saja sudah membantu untuk donasi kanker, kok."

Dengan situasi seperti itu rasanya saya tidak bisa menolak dan memberikan uang ongkos itu secara cuma-cuma. Akhirnya saya pulang jalan kaki dari Ciwalk menuju kosan saya di Kebon Kopi Cimahi selama kurang lebih 1 jam.

Semenjak kejadian tersebut saya cari tahu tentang badan amal yang bersangkutan dan ternyata ini merupakan salah satu modus penipuan.

Tujuh tahun berselang saya kira modus seperti ini sudah tidak ada. Hingga saya bertemu kembali dengan oknum serupa di kawasan Masjid Salman ITB. Rasanya sangat disayangkan karena Bandung dipenuhi dengan oknum -oknum seperti ini yang terkadang saya pribadi menjadi tidak nyaman ketika berkegiatan di ruang publik seperti taman, masjid atau pusat keramaian kota seperti alun-alun, mall atau jalan Braga.

Menggangu Kenyamanan Wisatawan atau Warga Lokal

Jujur sebagai warga Kota Bandung saya pribadi merasa tidak nyaman dengan kehadiran para oknum penipu yang berkedok badan amal untuk menipu para korbannya. Kejadian seperti ini hampir tersebar di beberapa titik pusat keramaian di Kota Bandung.

Misalnya saja ketika berkunjung ke Alun-alun Kota Bandung atau sejumlah jalan Braga-- modus seperti ini akan sangat mudah ditemui -- hanya saja memakai produk dan cara yang berbeda.

Waktu itu saya bersama teman berniat untuk bersantai di deretan kursi yang ada di Jalan Braga. Tak lama berselang datang dua orang menawarkan produk minuman dengan dalih membantu usaha UMKM. Namun harga yang ditawarkan untuk satu buah minuman sedikit lebih mahal karena harganya per botolnya Rp.50.000 dan orang yang bersangkutan meminta saya untuk membeli 2 botol dengan dalih jualan agar cepat habis sehingga dirinya bisa segera memenuhi tugas kuliah kewirausahaan di kampusnya.

Tentu masih banyak modus serupa yang berkeliaran di Kota Bandung yang menurut saya pribadi sangat mengganggu kenyamanan wisatawan. Penawaran yang memaksa seringkali membuat saya stres saat menghadapi modus seperti itu.

Menurut saya hal ini juga bisa menjadi citra buruk bagi Kota Bandung jika masalah demikian dianggap sepele.

Perhatian Pemerintah Setempat dan Kesadaran Masyarakat

Modus penipuan memang agak sulit untuk diberantas karena para oknum selalu punya modus terbaru untuk mencari korbannya. Namun sebagai warga Kota Bandung saya selalu punya optimisme agar pemerintah setempat bisa memperhatikan permasalahan ini. Saya berharap para pemilik kebijakan bisa menertibkan para oknum tersebut demi Bandung yang lebih tenang dan aman.

Pihak yang berwenang dengan hukum juga wajib membuat peraturan dan penerapan sanksi kepada mereka yang melakukan modus penipuan. Tentu tujuannya selain membuat jera bisa menekan angka kriminalitas jauh lebih besar.

Selain itu juga mesti ada kolaborasi dengan kesadaran masyarakat perihal hal ini. Menjadi warga Bandung yang tidak hanya punya empati yang tinggi tapi juga diimbangi dengan rasionalitas sehingga tidak mudah untuk dibohongi. Dengan pemahaman literasi yang lebih baik -- saya yakin kesadaran masyarakat bisa menekan angka kriminalitas penipuan bertumbuh semakin subur.

Menjadi orang baik memang termasuk ke dalam akhlak yang mulia. Tapi jangan jadi orang baik yang bodoh karena mudah untuk dibohongi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)