Bandung yang Tenang tanpa Gangguan Modus Penipuan

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Kamis 01 Jan 2026, 12:57 WIB
Modus Penipuan Voucher Kanker di depan Masjid Salman ITB (17/12/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Modus Penipuan Voucher Kanker di depan Masjid Salman ITB (17/12/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Siang itu, pada 17 Desember 2025 saya sedang bersantai di pelataran masjid Salman ITB selepas mengikuti salah satu kegiatan literasi. Memandang hilir-mudik para mahasiswa dengan berbagai macam kepentingan. Menikmati semilir angin yang dihasilkan berbagai macam pohon rindang yang berdiri gagah disekitaran taman.

Dari jauh nampak dua orang mahasiswa laki-laki yang sedang berjalan menuju pelataran masjid. Mereka duduk tepat 50 meter di depan saya. Keduanya membuka kotak bekal nasi juga jajanan sambil berbincang mengenai perkuliahan.

Tak lama dari itu datang seorang perempuan dengan nada yang sangat jelas berkata: "Kakak, mohon maaf mengganggu waktunya, boleh minta waktunya sebentar kak. Gak lama ko cuman 5 menit aja."

Mendengar itu rasanya ingin memberi tahu bahwa itu termasuk ke dalam modus penipuan. Tapi ada sedikit segan untuk memberitahu karena saya pribadi tidak mengenal kedua mahasiswa tersebut.

Tak disangka kedua laki-laki itu mempersilahkan perempuan tersebut untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Terdengar secara samar bahwa perempuan tersebut memperkenalkan perihal yayasan kanker. Kemudian menawarkan kedua mahasiswa tersebut untuk membeli voucher makanan yang bisa di klaim ke beberapa restoran yang dianggap menjadi bagian dari donasi untuk badan amal kanker. Tentu banyak terdapat kerancuan dari penawaran tersebut.

Setelah penjelasan yang dirasa seperti meyakinkan ternyata kedua mahasiswa tersebut menolak tawaran perempuan tadi dan berkata: "Saya udah dua kali dapat yang beginian, kak," sambil sedikit tertawa yang membuat perempuan tersebut bergegas segera menghampiri teman perempuan yang lain yang juga sedang menawarkan hal serupa kepada sejumlah mahasiswa yang menuju pelataran Masjid Salman ITB.

Tak lama dari itu terdengar salah seorang mahasiswa di depan saya berkata demikian, "Ah, itu mah modus, kebiasaan orang kaya gitu emang harus dikasih pelajaran," ungkapnya pada seorang teman disampingnya.

Kejadian tersebut mengingatkan saya pada pengalaman serupa yang saya dapatkan di kantin Salman ITB. Saat sedang makan bersama teman ada seorang pria yang menawarkan hal yang sama. Namun kali ini saya jauh lebih tenang menghadapinya karena jauh sebelumnya saya pernah tertipu dengan modus yang sama di tahun 2018.

Saat itu saya sedang berkunjung ke Ciwalk Bandung untuk mencari pekerjaan sampingan di sebuah stand brand kosmetik yang cukup terkenal di Bandung. Namun alih-alih saya menemukan tempat untuk walk interview-- saya justru bertemu dengan dua orang perempuan yang berpenampilan seperti mahasiswa menghampiri saya.

Masih dengan sapaan yang sama: "Kakak mohon maaf mengganggu waktunya, boleh saya minta waktunya sebentar." Sebagai orang yang tidak enakan saat itu saya mengiyakan saja. Modus yang digunakan sangat template, pertama menarik empati kita dengan memperkenalkan badan amal kanker yang mereka kelola dengan memperlihatkan sejumlah dokumentasi penyitas. Sebagai sesama perempuan melihat korban kanker perempuan lainnya tentu siapa yang tidak berempati. Kedua, setelah empati kita tersentuh-- yang bersangkutan meyakinkan bahwa ini bukan bermaksud meminta sumbangan tapi meminta kerelaan hati untuk membantu penyitas kanker.

Selanjutnya kedua perempuan tersebut meminta saya untuk menyumbang dengan nominal yang cukup besar dengan penawaran awal Rp. 200.000 melalui voucher makanan yang bisa diklaim pada setiap restoran yang terafiliasi dengan badan amal kanker tersebut.

Tentu sebagai pencari kerja sampingan yang saat itu saya hanya membawa Rp.20.000 untuk ongkos saja merasa tidak sanggup jika harus memenuhi permintaan tersebut. Mendengar demikian kedua perempuan tersebut menawarkan pilihan lain untuk menggunakan kartu debit dan mengambil uang tunai di ATM. Saat itu saya tidak punya kartu ATM tapi yang bersangkutan tetap memaksa dan akan mengantar saya ke ATM terdekat untuk mengambil uang tunai.

Rasanya saat itu saya mulai merasa terintimidasi oleh keduanya. Saya sampaikan bahwa saya tidak membawa uang lebih jadi saya memutuskan untuk tidak membantu. Namun keduanya sangat piawai menekan saya untuk merasa tidak enak jika tidak membantu.

"Ya sudah, kakak ada uang cash berapa di saku?" Tanya-nya dengan penuh desakan.

"Cuman Rp.20.000 saja ka untuk ongkos ini juga."

"Gak papa ka Rp.20.000 saja sudah membantu untuk donasi kanker, kok."

Dengan situasi seperti itu rasanya saya tidak bisa menolak dan memberikan uang ongkos itu secara cuma-cuma. Akhirnya saya pulang jalan kaki dari Ciwalk menuju kosan saya di Kebon Kopi Cimahi selama kurang lebih 1 jam.

Semenjak kejadian tersebut saya cari tahu tentang badan amal yang bersangkutan dan ternyata ini merupakan salah satu modus penipuan.

Tujuh tahun berselang saya kira modus seperti ini sudah tidak ada. Hingga saya bertemu kembali dengan oknum serupa di kawasan Masjid Salman ITB. Rasanya sangat disayangkan karena Bandung dipenuhi dengan oknum -oknum seperti ini yang terkadang saya pribadi menjadi tidak nyaman ketika berkegiatan di ruang publik seperti taman, masjid atau pusat keramaian kota seperti alun-alun, mall atau jalan Braga.

Menggangu Kenyamanan Wisatawan atau Warga Lokal

Jujur sebagai warga Kota Bandung saya pribadi merasa tidak nyaman dengan kehadiran para oknum penipu yang berkedok badan amal untuk menipu para korbannya. Kejadian seperti ini hampir tersebar di beberapa titik pusat keramaian di Kota Bandung.

Misalnya saja ketika berkunjung ke Alun-alun Kota Bandung atau sejumlah jalan Braga-- modus seperti ini akan sangat mudah ditemui -- hanya saja memakai produk dan cara yang berbeda.

Waktu itu saya bersama teman berniat untuk bersantai di deretan kursi yang ada di Jalan Braga. Tak lama berselang datang dua orang menawarkan produk minuman dengan dalih membantu usaha UMKM. Namun harga yang ditawarkan untuk satu buah minuman sedikit lebih mahal karena harganya per botolnya Rp.50.000 dan orang yang bersangkutan meminta saya untuk membeli 2 botol dengan dalih jualan agar cepat habis sehingga dirinya bisa segera memenuhi tugas kuliah kewirausahaan di kampusnya.

Tentu masih banyak modus serupa yang berkeliaran di Kota Bandung yang menurut saya pribadi sangat mengganggu kenyamanan wisatawan. Penawaran yang memaksa seringkali membuat saya stres saat menghadapi modus seperti itu.

Menurut saya hal ini juga bisa menjadi citra buruk bagi Kota Bandung jika masalah demikian dianggap sepele.

Perhatian Pemerintah Setempat dan Kesadaran Masyarakat

Modus penipuan memang agak sulit untuk diberantas karena para oknum selalu punya modus terbaru untuk mencari korbannya. Namun sebagai warga Kota Bandung saya selalu punya optimisme agar pemerintah setempat bisa memperhatikan permasalahan ini. Saya berharap para pemilik kebijakan bisa menertibkan para oknum tersebut demi Bandung yang lebih tenang dan aman.

Pihak yang berwenang dengan hukum juga wajib membuat peraturan dan penerapan sanksi kepada mereka yang melakukan modus penipuan. Tentu tujuannya selain membuat jera bisa menekan angka kriminalitas jauh lebih besar.

Selain itu juga mesti ada kolaborasi dengan kesadaran masyarakat perihal hal ini. Menjadi warga Bandung yang tidak hanya punya empati yang tinggi tapi juga diimbangi dengan rasionalitas sehingga tidak mudah untuk dibohongi. Dengan pemahaman literasi yang lebih baik -- saya yakin kesadaran masyarakat bisa menekan angka kriminalitas penipuan bertumbuh semakin subur.

Menjadi orang baik memang termasuk ke dalam akhlak yang mulia. Tapi jangan jadi orang baik yang bodoh karena mudah untuk dibohongi. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jan 2026, 11:05 WIB

Interior Bus Listrik Metro sebagai Pengalaman Ruang Bergerak di Kota Bandung

Transportasi publik dalam konteks ini, dipahami sebagai ruang interior bergerak yang dialami secara nyata oleh pengguna/penumpang.
Bus listrik metro. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Biz 24 Jan 2026, 21:30 WIB

Menyelami Dinamika Properti Indonesia: Antara Regulasi, Pasar, dan Integritas Developer

Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti.
Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti. (Sumber: Freepik)
Beranda 24 Jan 2026, 09:15 WIB

Memaknai Filosofi Warna Wayang Golek sebagai Cermin Karakter dan Arti Kehidupan

Tak hanya posisi mahkota, warna pada wajah wayang juga menjadi kunci untuk memahami filosofi karakter.
Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 22:10 WIB

Normalisasi Sungai Mandiri: Kepemimpinan RT/RW Menjawab Tantangan Banjir

Kabupaten Bandung termasuk wilayah yang hampir setiap musim penghujan mengalami banjir di sejumlah titik.
Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 20:43 WIB

Kualitas Perjalanan Warga Bandung Menurun, Evaluasi Infrastruktur Transportasi Mengemuka

Kemacetan di Bandung membuat perjalanan harian warga lebih lama, menurunkan produktivitas, dan menurunkan kenyamanan mobilitas. Perlu pengaturan lalu-lintas lebih baik.
Pengendara terjebak macet di Buah Batu Ketika hujan turun, Senin (01/12/2025). (Foto: Nabila Khairunnisa P)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 19:47 WIB

Lisa Blackpink di Bandung Barat: Antara Gengsi Global dan Ujian Tatakrama Kita

Lisa Blackpink syuting di Bandung Barat? Intip alasan Netflix memilih Citatah dan bagaimana warga menyikapi bocornya lokasi syuting tersebut.
Salah satu tebing karst yang terus dijaga bersama adalah Tebing Citatah 125 karena di sinilah sejarah panjat tebing Indonesia bermula. (Sumber: Eiger)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 17:24 WIB

Industri Sepak Bola Putri Indonesia Sedang Bertumbuh di Tengah Kekosongan Liga Resmi

Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat.
Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat. (Sumber: MilkLife Soccer Challenge)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:58 WIB

Menata Ulang Wajah Transportasi Bandung

Lalu lintas Bandung yang terbilang sangat padat telah menjadi masalah bagi warga sejak tahun 2024.
Kemacetan Bandung Pada malam hari (21.52 WIB) di Jln. Terusan Buah Batu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Muhammad Airell Fairuzia)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:24 WIB

Kota Wisata dengan Beban Mobilitas Tinggi: Tantangan Tata Transportasi Bandung

Pemerintah sudah mencoba menerapkan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan kemacetan, namun masih tak kunjung menemukan solusi yang tepat.
Kemacetan arus lalu lintas di ruas jalan Buah Batu, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, menjadi pemandangan sehari hari bagi warga yang melintas (03/12/2025). (Sumber: Ramadhan Dwiadya Nugraha)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 15:58 WIB

Menjaga Pertumbuhan di Tengah Krisis Fiskal: Strategi Obligasi dan Sukuk Jawa Barat

Ekonomi Jawa Barat pada Triwulan II 2025 tumbuh solid sebesar 5,23% year-on-year. Namun, di balik angka yang tampak menjanjikan itu, terdapat bayangan tantangan fiskal yang semakin nyata.
Ilustrasi obligasi dan sukuk daerah memperluas inklusi keuangan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 15:01 WIB

Ketika Mobilitas Tersendat, Kepercayaan Publik Ikut Tergerus

Kemacetan yang terus menerus terjadi membuat masyarakat Bandung semakin resah.
Pengendara mobil dan motor yang menunggu macet di malam hari (02/11/2025). (Foto: Sherina Khairunisa)
Ayo Jelajah 23 Jan 2026, 14:03 WIB

Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja

Judi online jaringan Kamboja menjalar hingga Bandung lewat iklan kerja digital. Anak muda direkrut sebagai operator dari rumah kontrakan atau luar negeri dengan janji gaji bulanan yang terlihat wajar.
Ilustrasi judi Kamboja.
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 13:38 WIB

Dana Indonesiana Tertunda, Pelestari Budaya Ngada Alami Tekanan Mental

Dana Indonesiana belum cair, program budaya Ngada tertunda, pelakunya menghadapi tekanan sosial dan mental di kampungnya sendiri.
Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 12:08 WIB

Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung

Januari 2026 tiba, udara Bandung terasa berbeda.
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 10:07 WIB

Semestinya Kita Berefleksi dari Bencana Sumatra

Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka dari satu wilayah, melainkan cermin rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi bencana yang berulang.
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Beranda 23 Jan 2026, 06:49 WIB

Konsistensi infoantapani Menyapa Warga Antapani Selama 12 Tahun, Bukan Cuma Urusan Algoritma dan Engagement

Akun ini tidak ingin dipandang sebagai media yang semata-mata mengutamakan kecepatan, namun juga tidak memilih gaya bahasa yang saklek, kaku, atau terlalu formal.
Owner dan founder @infoantapani, Venda Setya Nugraha. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 06:33 WIB

Bunderan Cibiru dan Tumpukan Kendaraan

Bunderan Cibiru menjadi salah satu titik macet yang ada di Bandung.
Macet menjelang Malam Natal dan Tahun Baru. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 22 Jan 2026, 21:00 WIB

Hanya 'Keajaiban' yang Bisa Menuntaskan Masalah Kemacetan di Kota Bandung

Macetnya Kota Bandung kerap menjadi sorotan, bagaimana cara mengatasinya?
Padatnya Kota Bandung pada sore hari, Rabu (3/12/2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Venecia Fiantika)
Ayo Biz 22 Jan 2026, 18:39 WIB

Industri Belajar Bernapas Hijau: Ketika Sustainability Jadi Nafas Baru

Dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, industri dapat menekan dampak negatif melalui efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan.
Dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, industri dapat menekan dampak negatif melalui efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 22 Jan 2026, 18:14 WIB

Cinta Bobotoh pada PERSIB, Sebuah Kesetiaan Tanpa Syarat

Kesetiaan Bobotoh terhadap PERSIB Bandung yang tidak bergantung pada kemenangan atau prestasi semata.
Jadi warna lain yang menyapa di laga Persib, Bobotoh Unyu-unyu bukan sekadar pendukung tapi wajah baru dalam dinamika suporter sepak bola Indonesia. (Sumber: dok. Bobotoh Unyu-unyu)