Transportasi Kota Bandung: Modernisasi atau Rebranding Masalah Lama?

3 menit baca
Claudia Ardhyani
Ditulis oleh Claudia Ardhyani diterbitkan
Angkot konvensional masih beroperasi di tengah semerawutnya jalanan di Bandung. (Sumber: Pribadi | Foto: Claudia Ardhyani K.)
Angkot konvensional masih beroperasi di tengah semerawutnya jalanan di Bandung. (Sumber: Pribadi | Foto: Claudia Ardhyani K.)

Bandung menempati posisi ke-12 sebagai kota termacet di dunia menurut TomTom Traffic Index pada 2024 seharusnya hal ini menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kota Bandung agar segera membenahi transportasi umumnya. Tingkat kemacetan yang mencapai hingga 48 persen bukan hanya statistik belaka, melainkan bukti nyata bahwa sistem transportasi publik di kota Bandung belum mampu menjadi tulang punggung bagi mobilitas warga. Fakta bahwa hanya 13 persen masyarakat menggunakan transportasi umum menyatakan satu hal mendasar bahwa publik belum percaya pada transpotasi umum.

Di tengah krisis kepercayaan tersebut, pemerintah kembali menawarkan solusi dengan memodernisasi angkutan kota sebagai solusi. Armada angkutan baru, sistem digital, dan konsep transportasi tertata dikemas sebagai jawaban atas kesemerawutan jalan di kota Bandung ini. Namun pertanyaan paling penting yang patut dipertanyakan adalah, apakah perubahan ini sungguh menyasar akar permasalahan atau hanya mengganti bungkus masalah lama dengan wajah baru yang modern ?

Selama puluhan tahun, persoalan mengenai transportasi umum di Bandung tidak pernah terletak pada kurangnya ide cemerlang pemerintah namun pada usaha dalam pengimplementasian yang masih tidak konsisten, kebijakan yang masih lemah serta minimnya keberanian untuk menertibkan sistem lama yang berantakan ini secara menyeluruh dan mendalam.

Karena tanpa evaluasi yang jujur terhadap kegagalan masa lalu, modernisasi berisiko mengulang kisah lama dengan biaya yang jauh lebih mahal dan besar.

Klaim terkait peningkatan kualitas kendaraan nyatanya tidak serta-merta menjamin perbaikan kualitas layanan. Selama jalur transportasi umum masih bercampur dengan kendaraan pribadi, angkutan modern tetap akan terjebak dalam kemacetan yang sama. Tanpa jalur khusus dan penegakan hukum yang tegas, transportasi publik akan kehilangan keunggulan utamanya: efisiensi waktu. Lebih lanjut permasalahan sumber daya manusia kerap diremehkan seakan akan dapat diselesaikan hanya dengan mengganti sistem setoran menjadi gaji bulanan.

Namun pada kenyataannya pendekatan ini terlalu naif. Profesionalisme pengemudi tidak lahir dari sistem upah semata, namun lahir dan terbentuk dari pelatihan berkelanjutan, evaluasi kinerja yang transparan, serta sanksi yang benar-benar diterapkan. Tanpa itu, perubahan hanya berhenti di atas kertas.Digitalisasi yang diagung-agungkan juga patut dipertanyakan.

Sistem pembayaran non-tunai, GPS, dan aplikasi pemantauan angkutan memang terdengar seperti ide bagus yang lebih baik, namun di kota dengan infrastruktur digital yang belum stabil, ketergantungan penuh pada teknologi justru membuka celah terhadap kegagalan baru program angkot pintar ini. Masalah teknis apa pun dapat merusak pengalaman pengguna aplikasi dan dapat memperkuat citra bahwa transportasi umum “selalu bermasalah” di mata publik.

Aspek lain yang kerap diabaikan adalah perilaku dan kebiasaan masyarakat. Warga Bandung telah lama hidup dengan sistem transportasi yang fleksibel, meski semrawut. Mengubah kebiasaan ini tidak bisa dilakukan secara instan melalui peluncuran program. Tanpa sosialisasi yang masif dan sosialisasi yang konsisten, fasilitas modern justru berpotensi menjadi ruang kosong yang tidak dimanfaatkan secara optimal.

Kritik juga disampaikan oleh Diana (20), seorang mahasiswi di Bandung, yang berpendapat bahwa modernisasi transportasi umum sering kali terlalu fokus pada tampilan saja dan mengabaikan kelancaran layanan yang diterima publik.

“Yang sering berubah itu kendaraan dan namanya, tapi masalah utamanya tetap sama. Jalurnya belum siap, sistemnya belum jelas. Kalau cuma ganti tampilan, ya hasilnya nggak akan jauh beda,” ujarnya.

Jika dicari tahu lebih dalam lagi, modernisasi angkutan kota seharusnya tidak diposisikan sebagai proyek prestise, melainkan sebagai reformasi sistematik. Tanpa keberanian pemerintah untuk menertibkan angkot konvensional secara tegas, menata ulang ruang jalan, dan membuka ruang evaluasi publik, modernisasi hanya akan menjadi proyek mahal yang gagal menjawab krisis kemacetan.

Pada akhirnya, Bandung tidak pernah kekurangan konsep, namun seringkali kekurangan keberanian dan konsistensi dalam mempertahankan kebijakan.

Selama program modernisasi transportasi hanya dilihat sebagai pembaruan armada saja, maka selama itu pula pembenahan sistem secara menyeluruh akan terhambat. Pertanyaannya bukan apakah transportasi modern bisa hadir, melainkan pada apakah pemerintah sudah sungguh-sungguh siap menjadikannya solusi nyata, bukan sekadar narasi semata. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Claudia Ardhyani
Suka sekali mendengar lagu dan membaca buku

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)