Transportasi Kota Bandung: Modernisasi atau Rebranding Masalah Lama?

Claudia Ardhyani
Ditulis oleh Claudia Ardhyani diterbitkan Kamis 01 Jan 2026, 12:00 WIB
Angkot konvensional masih beroperasi di tengah semerawutnya jalanan di Bandung. (Sumber: Pribadi | Foto: Claudia Ardhyani K.)

Angkot konvensional masih beroperasi di tengah semerawutnya jalanan di Bandung. (Sumber: Pribadi | Foto: Claudia Ardhyani K.)

Bandung menempati posisi ke-12 sebagai kota termacet di dunia menurut TomTom Traffic Index pada 2024 seharusnya hal ini menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kota Bandung agar segera membenahi transportasi umumnya. Tingkat kemacetan yang mencapai hingga 48 persen bukan hanya statistik belaka, melainkan bukti nyata bahwa sistem transportasi publik di kota Bandung belum mampu menjadi tulang punggung bagi mobilitas warga. Fakta bahwa hanya 13 persen masyarakat menggunakan transportasi umum menyatakan satu hal mendasar bahwa publik belum percaya pada transpotasi umum.

Di tengah krisis kepercayaan tersebut, pemerintah kembali menawarkan solusi dengan memodernisasi angkutan kota sebagai solusi. Armada angkutan baru, sistem digital, dan konsep transportasi tertata dikemas sebagai jawaban atas kesemerawutan jalan di kota Bandung ini. Namun pertanyaan paling penting yang patut dipertanyakan adalah, apakah perubahan ini sungguh menyasar akar permasalahan atau hanya mengganti bungkus masalah lama dengan wajah baru yang modern ?

Selama puluhan tahun, persoalan mengenai transportasi umum di Bandung tidak pernah terletak pada kurangnya ide cemerlang pemerintah namun pada usaha dalam pengimplementasian yang masih tidak konsisten, kebijakan yang masih lemah serta minimnya keberanian untuk menertibkan sistem lama yang berantakan ini secara menyeluruh dan mendalam.

Karena tanpa evaluasi yang jujur terhadap kegagalan masa lalu, modernisasi berisiko mengulang kisah lama dengan biaya yang jauh lebih mahal dan besar.

Klaim terkait peningkatan kualitas kendaraan nyatanya tidak serta-merta menjamin perbaikan kualitas layanan. Selama jalur transportasi umum masih bercampur dengan kendaraan pribadi, angkutan modern tetap akan terjebak dalam kemacetan yang sama. Tanpa jalur khusus dan penegakan hukum yang tegas, transportasi publik akan kehilangan keunggulan utamanya: efisiensi waktu. Lebih lanjut permasalahan sumber daya manusia kerap diremehkan seakan akan dapat diselesaikan hanya dengan mengganti sistem setoran menjadi gaji bulanan.

Namun pada kenyataannya pendekatan ini terlalu naif. Profesionalisme pengemudi tidak lahir dari sistem upah semata, namun lahir dan terbentuk dari pelatihan berkelanjutan, evaluasi kinerja yang transparan, serta sanksi yang benar-benar diterapkan. Tanpa itu, perubahan hanya berhenti di atas kertas.Digitalisasi yang diagung-agungkan juga patut dipertanyakan.

Sistem pembayaran non-tunai, GPS, dan aplikasi pemantauan angkutan memang terdengar seperti ide bagus yang lebih baik, namun di kota dengan infrastruktur digital yang belum stabil, ketergantungan penuh pada teknologi justru membuka celah terhadap kegagalan baru program angkot pintar ini. Masalah teknis apa pun dapat merusak pengalaman pengguna aplikasi dan dapat memperkuat citra bahwa transportasi umum “selalu bermasalah” di mata publik.

Aspek lain yang kerap diabaikan adalah perilaku dan kebiasaan masyarakat. Warga Bandung telah lama hidup dengan sistem transportasi yang fleksibel, meski semrawut. Mengubah kebiasaan ini tidak bisa dilakukan secara instan melalui peluncuran program. Tanpa sosialisasi yang masif dan sosialisasi yang konsisten, fasilitas modern justru berpotensi menjadi ruang kosong yang tidak dimanfaatkan secara optimal.

Kritik juga disampaikan oleh Diana (20), seorang mahasiswi di Bandung, yang berpendapat bahwa modernisasi transportasi umum sering kali terlalu fokus pada tampilan saja dan mengabaikan kelancaran layanan yang diterima publik.

“Yang sering berubah itu kendaraan dan namanya, tapi masalah utamanya tetap sama. Jalurnya belum siap, sistemnya belum jelas. Kalau cuma ganti tampilan, ya hasilnya nggak akan jauh beda,” ujarnya.

Jika dicari tahu lebih dalam lagi, modernisasi angkutan kota seharusnya tidak diposisikan sebagai proyek prestise, melainkan sebagai reformasi sistematik. Tanpa keberanian pemerintah untuk menertibkan angkot konvensional secara tegas, menata ulang ruang jalan, dan membuka ruang evaluasi publik, modernisasi hanya akan menjadi proyek mahal yang gagal menjawab krisis kemacetan.

Pada akhirnya, Bandung tidak pernah kekurangan konsep, namun seringkali kekurangan keberanian dan konsistensi dalam mempertahankan kebijakan.

Selama program modernisasi transportasi hanya dilihat sebagai pembaruan armada saja, maka selama itu pula pembenahan sistem secara menyeluruh akan terhambat. Pertanyaannya bukan apakah transportasi modern bisa hadir, melainkan pada apakah pemerintah sudah sungguh-sungguh siap menjadikannya solusi nyata, bukan sekadar narasi semata. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Claudia Ardhyani
Suka sekali mendengar lagu dan membaca buku

Berita Terkait

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)