Di Balik Seragam Putih Karate, Ada Lelah yang Dipeluk Diam-Diam

5 menit baca
Sekar Arum
Ditulis oleh Sekar Arum diterbitkan
Seragam putih itu pernah kebesaran di tubuhnya. Kini, Azza Atia Umayro berdiri di atas matras sebagai atlet Karate Telkom University. (Sumber: Dokumentasi pribadi Azza)
Seragam putih itu pernah kebesaran di tubuhnya. Kini, Azza Atia Umayro berdiri di atas matras sebagai atlet Karate Telkom University. (Sumber: Dokumentasi pribadi Azza)

Pagi itu, matras dojo masih dingin. Bau karet bercampur peluh lama yang menempel di udara berpadu dengan gema aba-aba sensei (pelatih)  memantul di dinding ruangan. Di sudut Dojo seorang anak perempuan kecil berdiri mengenakan seragam putih yang kebesaran. Tangannya mengepal, bukan karena marah, melainkan karena belum tahu apa yang sedang ia hadapi. Ia belum mengerti arti disiplin, apalagi makna bertarung. Ia hanya tahu satu hal yakni mengikuti langkah kakak-kakaknya.

“Awalnya aku cuma ngikut kakak-kakak aku latihan. Waktu itu aku masih TK, bahkan cuma sekadar main,” kenang Azza Athia Hummairoh.

Dari ruang latihan sederhana itulah perjalanan Azza dimulai,  sebuah perjalanan panjang seorang perempuan yang tumbuh dan bertahan di dunia karate, cabang olahraga yang selama ini kerap dilekatkan pada citra maskulin. Kisah Azza bukan semata perihal prestasi, melainkan tentang proses menegosiasikan diri, menghadapi stigma, dan menemukan identitas di ruang yang tak selalu ramah bagi perempuan.

Karate tidak datang sebagai pilihan besar dalam hidup Azza. Ia hadir perlahan, melalui keseharian keluarga. Azza tumbuh dan besar di Sumatera Barat dalam keluarga dengan delapan bersaudara, tujuh di antaranya perempuan. Empat bersaudara mengenal karate sejak kecil. Orang tuanya bukan atlet profesional, namun olahraga telah menjadi kebiasaan  dalam keluarga.

“Ayahku suka banget olahraga karena dari delapan bersaudara cuma satu yang laki-laki, kayaknya makannya karate diarahkan ke anak-anaknya sejak kecil,” tutur Azza.

Bagi keluarga Azza, karate bukan ambisi mengejar medali, melainkan rutinitas yang membentuk disiplin sejak dini.

Namun, kebiasaan tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika latihan terasa melelahkan, bahkan menekan. “Kami pernah pura-pura sakit, nyembunyiin perlengkapan biar nggak latihan,” katanya sambil tertawa kecil.

Keinginan untuk berhenti pernah muncul, tetapi rutinitas yang terus dijalani perlahan membentuk daya tahan. Dukungan keluarga dan semangat kakak-kakanya yang telah lebih dulu menapakkan kaki di dunia karate membawa diri Azza perlahan mulai mengenal arti bertahan, bukan karena paksaan, melainkan karena terbiasa menghadapi Lelah yang perlahan berubah menjadi dorongan untuk tetap melangkah dan menguatkan diri.

Ketahanan itu mulai terlihat dalam jejak prestasi. Sejak usia sekolah dasar hingga menengah, Azza rutin mengikuti berbagai kejuaraan. Ia meraih juara pertama pada 2012, 2014, dan 2016, disusul juara dua pada 2017, serta juara pertama dan ketiga pada 2018. Memasuki usia dewasa, prestasinya berlanjut pada level yang lebih luas: Juara 1 Kejuaraan Daerah Inkanas Sumatera Barat 2022,  Juara 2 Kejurda Forki Sumatera Barat 2022,  Juara 1 Sirkuit III Jawa Barat 2023, Juara 2 dan Juara 3 Liga Esa Unggul Nasional 2024, Juara 1 dan Juara 3 Gadjah Mada Open International Karate Championship II 2025, Juara 1 Sebelas Maret Open International Karate Championship II 2025.

Namun, kemenangan tidak pernah datang tanpa beban.

“Capek itu pasti, bukan cuma fisik, tapi mental. Ada masa-masa ngerasa nggak cukup baik.” Ujar  Azza.

Di titik inilah karate tidak lagi sekadar soal  kekuatan tubuh. Sebagai perempuan di cabang olahraga yang mayoritas diisi laki-laki, Azza menyadari adanya lapisan pengalaman tambahan. Ekspektasi kerap berbeda, begitu pula cara pandang lingkungan.

Memasuki bangku kuliah di Program Studi Ilmu Komunikasi, Telkom University, Azza tetap melanjutkan karate melalui UKM Karate. Ia kemudian dipercaya menjadi ketua. Di posisi ini, tekanan terasa lebih nyata.

“Ada momen di mana perempuan dianggap kurang cocok, waktu awal-awal, pendapat aku kayak nggak didengar,” katanya pelan.

Azza tidak menunjuk siapa pun sebagai pihak yang salah. Ia memahami pengalaman tersebut sebagai bagian dari dinamika ruang olahraga yang belum sepenuhnya netral gender, ruang di mana perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk  mendapatkan pengakuan yangsetara.

Azza Atia Umayro (kanan) bertanding pada ajang Liga Esa Unggul Nasional 2024. (Sumber: Dok. Pribadi/Azza Atia Umayro)
Azza Atia Umayro (kanan) bertanding pada ajang Liga Esa Unggul Nasional 2024. (Sumber: Dok. Pribadi/Azza Atia Umayro)

Alih-alih menjadikannya luka, Azza memilih menjadikannya kesadaran. Ia tetap berlatih, tetap hadir dan  tetap bertanding. Karate mengajarkannya mengelola emosi, menerima kekalahan, dan mengenali batas diri.

“Aku belajar disiplin, ngatur emosi, sama nerima kalah, menang-kalah itu biasa,” ujarnya.

Memimpin UKM Karate memberinya pelajaran baru. Ia belajar bersikap tegas tanpa harus kehilangan empati, mengambil keputusan tanpa meniadakan suara lain, dan berdiri sebagai perempuan tanpa harus meniru gaya maskulin. Baginya, kepemimpinan bukan soal gender, melainkan integritas.

Karate, bagi Azza, akhirnya bukan sekadar olahraga. Ia menjadi medium pembentukan karakter tentang disiplin, pengendalian diri, dan kejujuran pada kemampuan sendiri.

“Karate ngajarin aku buat kenal diri sendiri, dimana aku jadi tahu batas, tapi juga tahu kapan harus maju.” Ujar Azza penuh keteguhan.

Azza tidak sedang berusaha membuktikan bahwa perempuan lebih kuat dari laki-laki. Ia juga tidak berambisi meruntuhkan siapa pun. Yang ia lakukan hanyalah hadir sepenuhnya di ruang yang ia pilih, dan bertahan di sana dengan caranya sendiri. Kini, ketika menoleh ke belakang, Azza melihat karate sebagai bagian penting dalam hidupnya. Ia berharap semakin banyak perempuan berani memasuki dunia bela diri tanpa takut pada stigma.

“Karate itu bukan soal cowok atau cewek tapi soal siapa yang mau bertahan, Kalau mau, ya jalanin nggak usah takut duluan.” Ucap Azza dengan tegas.

Baca Juga: Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Hebohkan Bandung

Sepuluh tahun lebih Azza menjalani hiruk pikuk karate. Kini, matras dojo tak lagi terasa asing bagi Azza. Dingin yang dulu membuatnya menggigil kini hanya menjadi bagian dari rutinitas. Seragam putih yang dulu kebesaran, sekerang telah pas di tubuhnya, bukan hanya secara ukuran, tetapi juga secara makna.

Ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti menang dan keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan atau tendangan. Di ruang yang lama dianggap milik laki-laki, Azza memilih hadir sebagai dirinya sendiri tanpa harus meniru, tanpa perlu membuktikan siapa yang lebih kuat. Bagi Azza, karate bukan tentang siapa yang paling tangguh, melainkan siapa yang mau terus melangkah dan di atas matras itu, ia menemukan satu pelajaran yakni keberanian adalah keputusan untuk tidak pergi dan terus berusaha.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)