Di Balik Seragam Putih Karate, Ada Lelah yang Dipeluk Diam-Diam

Sekar Arum
Ditulis oleh Sekar Arum diterbitkan Rabu 31 Des 2025, 14:24 WIB
Seragam putih itu pernah kebesaran di tubuhnya. Kini, Azza Atia Umayro berdiri di atas matras sebagai atlet Karate Telkom University. (Sumber: Dokumentasi pribadi Azza)

Seragam putih itu pernah kebesaran di tubuhnya. Kini, Azza Atia Umayro berdiri di atas matras sebagai atlet Karate Telkom University. (Sumber: Dokumentasi pribadi Azza)

Pagi itu, matras dojo masih dingin. Bau karet bercampur peluh lama yang menempel di udara berpadu dengan gema aba-aba sensei (pelatih)  memantul di dinding ruangan. Di sudut Dojo seorang anak perempuan kecil berdiri mengenakan seragam putih yang kebesaran. Tangannya mengepal, bukan karena marah, melainkan karena belum tahu apa yang sedang ia hadapi. Ia belum mengerti arti disiplin, apalagi makna bertarung. Ia hanya tahu satu hal yakni mengikuti langkah kakak-kakaknya.

Awalnya aku cuma ngikut kakak-kakak aku latihan. Waktu itu aku masih TK, bahkan cuma sekadar main,” kenang Azza Athia Hummairoh.

Dari ruang latihan sederhana itulah perjalanan Azza dimulai,  sebuah perjalanan panjang seorang perempuan yang tumbuh dan bertahan di dunia karate, cabang olahraga yang selama ini kerap dilekatkan pada citra maskulin. Kisah Azza bukan semata perihal prestasi, melainkan tentang proses menegosiasikan diri, menghadapi stigma, dan menemukan identitas di ruang yang tak selalu ramah bagi perempuan.

Karate tidak datang sebagai pilihan besar dalam hidup Azza. Ia hadir perlahan, melalui keseharian keluarga. Azza tumbuh dan besar di Sumatera Barat dalam keluarga dengan delapan bersaudara, tujuh di antaranya perempuan. Empat bersaudara mengenal karate sejak kecil. Orang tuanya bukan atlet profesional, namun olahraga telah menjadi kebiasaan  dalam keluarga.

Ayahku suka banget olahraga karena dari delapan bersaudara cuma satu yang laki-laki, kayaknya makannya karate diarahkan ke anak-anaknya sejak kecil,” tutur Azza.

Bagi keluarga Azza, karate bukan ambisi mengejar medali, melainkan rutinitas yang membentuk disiplin sejak dini.

Namun, kebiasaan tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika latihan terasa melelahkan, bahkan menekan. “Kami pernah pura-pura sakit, nyembunyiin perlengkapan biar nggak latihan,” katanya sambil tertawa kecil.

Keinginan untuk berhenti pernah muncul, tetapi rutinitas yang terus dijalani perlahan membentuk daya tahan. Dukungan keluarga dan semangat kakak-kakanya yang telah lebih dulu menapakkan kaki di dunia karate membawa diri Azza perlahan mulai mengenal arti bertahan, bukan karena paksaan, melainkan karena terbiasa menghadapi Lelah yang perlahan berubah menjadi dorongan untuk tetap melangkah dan menguatkan diri.

Ketahanan itu mulai terlihat dalam jejak prestasi. Sejak usia sekolah dasar hingga menengah, Azza rutin mengikuti berbagai kejuaraan. Ia meraih juara pertama pada 2012, 2014, dan 2016, disusul juara dua pada 2017, serta juara pertama dan ketiga pada 2018. Memasuki usia dewasa, prestasinya berlanjut pada level yang lebih luas: Juara 1 Kejuaraan Daerah Inkanas Sumatera Barat 2022,  Juara 2 Kejurda Forki Sumatera Barat 2022,  Juara 1 Sirkuit III Jawa Barat 2023, Juara 2 dan Juara 3 Liga Esa Unggul Nasional 2024, Juara 1 dan Juara 3 Gadjah Mada Open International Karate Championship II 2025, Juara 1 Sebelas Maret Open International Karate Championship II 2025.

Namun, kemenangan tidak pernah datang tanpa beban.

“Capek itu pasti, bukan cuma fisik, tapi mental. Ada masa-masa ngerasa nggak cukup baik.” Ujar  Azza.

Di titik inilah karate tidak lagi sekadar soal  kekuatan tubuh. Sebagai perempuan di cabang olahraga yang mayoritas diisi laki-laki, Azza menyadari adanya lapisan pengalaman tambahan. Ekspektasi kerap berbeda, begitu pula cara pandang lingkungan.

Memasuki bangku kuliah di Program Studi Ilmu Komunikasi, Telkom University, Azza tetap melanjutkan karate melalui UKM Karate. Ia kemudian dipercaya menjadi ketua. Di posisi ini, tekanan terasa lebih nyata.

Ada momen di mana perempuan dianggap kurang cocok, waktu awal-awal, pendapat aku kayak nggak didengar,” katanya pelan.

Azza tidak menunjuk siapa pun sebagai pihak yang salah. Ia memahami pengalaman tersebut sebagai bagian dari dinamika ruang olahraga yang belum sepenuhnya netral gender, ruang di mana perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk  mendapatkan pengakuan yangsetara.

Azza Atia Umayro (kanan) bertanding pada ajang Liga Esa Unggul Nasional 2024. (Sumber: Dok. Pribadi/Azza Atia Umayro)
Azza Atia Umayro (kanan) bertanding pada ajang Liga Esa Unggul Nasional 2024. (Sumber: Dok. Pribadi/Azza Atia Umayro)

Alih-alih menjadikannya luka, Azza memilih menjadikannya kesadaran. Ia tetap berlatih, tetap hadir dan  tetap bertanding. Karate mengajarkannya mengelola emosi, menerima kekalahan, dan mengenali batas diri.

Aku belajar disiplin, ngatur emosi, sama nerima kalah, menang-kalah itu biasa,” ujarnya.

Memimpin UKM Karate memberinya pelajaran baru. Ia belajar bersikap tegas tanpa harus kehilangan empati, mengambil keputusan tanpa meniadakan suara lain, dan berdiri sebagai perempuan tanpa harus meniru gaya maskulin. Baginya, kepemimpinan bukan soal gender, melainkan integritas.

Karate, bagi Azza, akhirnya bukan sekadar olahraga. Ia menjadi medium pembentukan karakter tentang disiplin, pengendalian diri, dan kejujuran pada kemampuan sendiri.

Karate ngajarin aku buat kenal diri sendiri, dimana aku jadi tahu batas, tapi juga tahu kapan harus maju.” Ujar Azza penuh keteguhan.

Azza tidak sedang berusaha membuktikan bahwa perempuan lebih kuat dari laki-laki. Ia juga tidak berambisi meruntuhkan siapa pun. Yang ia lakukan hanyalah hadir sepenuhnya di ruang yang ia pilih, dan bertahan di sana dengan caranya sendiri. Kini, ketika menoleh ke belakang, Azza melihat karate sebagai bagian penting dalam hidupnya. Ia berharap semakin banyak perempuan berani memasuki dunia bela diri tanpa takut pada stigma.

Karate itu bukan soal cowok atau cewek tapi soal siapa yang mau bertahan, Kalau mau, ya jalanin nggak usah takut duluan.” Ucap Azza dengan tegas.

Baca Juga: Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Hebohkan Bandung

Sepuluh tahun lebih Azza menjalani hiruk pikuk karate. Kini, matras dojo tak lagi terasa asing bagi Azza. Dingin yang dulu membuatnya menggigil kini hanya menjadi bagian dari rutinitas. Seragam putih yang dulu kebesaran, sekerang telah pas di tubuhnya, bukan hanya secara ukuran, tetapi juga secara makna.

Ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti menang dan keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan atau tendangan. Di ruang yang lama dianggap milik laki-laki, Azza memilih hadir sebagai dirinya sendiri tanpa harus meniru, tanpa perlu membuktikan siapa yang lebih kuat. Bagi Azza, karate bukan tentang siapa yang paling tangguh, melainkan siapa yang mau terus melangkah dan di atas matras itu, ia menemukan satu pelajaran yakni keberanian adalah keputusan untuk tidak pergi dan terus berusaha.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sekar Arum
Tentang Sekar Arum
berkarya dengan empati

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)