Solah, JI/NII, dan Kamus

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Solahudin penulis buku “JI sampai NKRI” usai acara bedah buku di Aula MUI Kota Tangerang, Kamis (19/9/2025). (Sumber: Diskominfo | Foto: ABDUL HAKIM FAJARULLAH)
Solahudin penulis buku “JI sampai NKRI” usai acara bedah buku di Aula MUI Kota Tangerang, Kamis (19/9/2025). (Sumber: Diskominfo | Foto: ABDUL HAKIM FAJARULLAH)

Saat pulang kerja, seorang kawan menyapaku di pengkolan jalan menuju Manisi Cibiru. Laki-laki bertubuh gemuk itu berkata, “Kenapa tidak menulis tentang sosok Solahudin, pengamat terorisme yang meninggal hari Jumat? Bukankah pernah berdiskusi bersama?”

Jawabku singkat, “Muhun, Nyerat!”

Pikiranku melayang pada masa sebelum tragedi covid-19. Tergambar jelas sosok yang kerap disapa Kang Solah, teringat dengan tegas pendapatnya saat membahas terorisme, ekstremisme, fundamentalisme, radikalisme. Ingatanku menyeruak pada dua maha karya monumentalnya, seperti buku NII sampai JI : Salafy Jihadisme di Indonesia, (Komunitas Bambu, 2011), JI sampai NKRI: Deradikalisasi Kolektif Jemaah Islamiyah, (Komunitas Bambu, 2025).

Ya, kabar wafatnya memang tersebar beruntun melalui pesan singkat, media sosial, dan berbagai situs web.

Yayasan Fahmina turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya Bapak Solahudin, Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia (UI), wafat Jumat, 26 Desember 2025. Almarhum telah mendedikasikan ilmu dan pemikirannya bagi upaya memahami, mencegah, dan menanggulangi terorisme serta konflik sosial dengan pendekatan akademik yang jernih dan berperspektif kemanusiaan. Semoga segala amal kebaikan beliau diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kekuatan.

Keluarga Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merasakan kehilangan dan ikut berbelasungkawa atas berpulangnya kawan kami, Solahudin. Doa-doa terbaik buat kawan Solahudin. 🥀

Keluarga besar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) berduka atas wafatnya Pendiri dan Pembina kami, Solahudin Bin Udju Hartman. Terima kasih atas ilmu dan keteladanan dalam bersama-sama membangun perdamaian di Indonesia. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Aamiin.

Kabar wafatnya memang tersebar di media sosial (Sumber: Instagram @aji.indonesia dan @yayasanfahmina | Foto: Istimewa)
Kabar wafatnya memang tersebar di media sosial (Sumber: Instagram @aji.indonesia dan @yayasanfahmina | Foto: Istimewa)

Kamus Berjalan Jaringan Terorisme

Mari kita baca tulisan Hasibullah Satrawi, Direktur Eksekutif Aliansi Indonesia Damai (AIDA) berjudul “Sang Kamus” Jaringan Terorisme dan Ekstremisme.

Kesaksian terhadap sosok Solahudin, seorang peneliti dan pegiat isu ekstremisme yang dikenalnya sejak awal 2010-an melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Jakarta. Dari perjumpaan profesional itu berkembang hubungan yang lebih dekat, intim, termasuk silaturahmi ke rumahnya di Depok dan keterlibatannya dalam pelbagai kegiatan sosial, termasuk di Pondok Pesantren Yatim.

Interaksi yang semakin intens, baik dalam aktivitas lembaga lain maupun di AIDA (Aliansi Indonesia Damai) yang turut didirikan Solahudin, sungguh memperlihatkan konsistensi dan dedikasinya dalam kerja-kerja perdamaian.

Betapa tidak, di matanya Kang Solah yang akrab disapa, sebagai figur yang sangat mendalam pengetahuannya mengenai jaringan terorisme dan ekstremisme di Indonesia. Bukan tanpa alasan untuk di lingkungan AIDA dikenal sebagai “kamus berjalan” karena penguasaan detail tokoh, jaringan, dan dinamika kelompok ekstrem.

Keahlian ini tercermin dalam karya-karyanya, terutama buku NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia yang menjadi rujukan luas di kampus dan pusat riset, yang mengantarkannya bekerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah, pendidikan, dan masyarakat sipil.

Meski kapasitasnya tinggi, Solahudin tetap humble, rendah hati, sederhana dan jarang tampil di media, dengan alasan khasnya sebagai seorang jurnalis yang enggan mewawancarai sesama wartawan.

Kepergiannya dipandang sebagai kehilangan besar, tidak hanya bagi rekan-rekan dekatnya, melainkan bagi Indonesia dalam upaya memahami dan menanggulangi ekstremisme dan terorisme. Keteladanan dan segala kontribusinya menjadi energi positif dalam membangun bumi Nusantara yang lebih damai, toleran, inklusif dan sejahtera. (www.aida.or.id).

“Sang Kamus” Jaringan Terorisme dan Ekstremisme (Sumber: www.aida.or.id | Foto: Redaksi AIDA)
“Sang Kamus” Jaringan Terorisme dan Ekstremisme (Sumber: www.aida.or.id | Foto: Redaksi AIDA)

Pembubaran JI Otentik Kesadaran Kolektif

Saat memberikan Pelatihan Pembangunan Perdamaian yang diselenggarakan AIDA di Kota Surakarta, Jawa Tengah, pertengahan Oktober lalu.

Solahudin mengungkapkan ancaman terorisme di Indonesia saat ini telah menurun secara signifikan. Ini terlihat dari tidak adanya serangan terorisme sejak 2023-2024, dan hingga Oktober 2025 belum terjadi serangan teror. Kondisi ini dapat terus terjaga, sehingga Indonesia mencatatkan hattrick, yakni tiga tahun berturut-turut tanpa serangan terorisme.

Diakuinya penurunan ancaman terorisme ini tercermin dari menurunnya jumlah penangkapan tersangka terorisme. Bila pada 2023, jumlah tersangka yang ditangkap mencapai 150 orang, turun menjadi 49 orang pada 2024, dan hingga Oktober 2025 tercatat sekitar 30 orang. Terlebih dengan adanya pembubaran Jemaah Islamiyah (JI) pada 30 Juni 2024. Ini menjadi fakta paling signifikan yang menandai hilangnya sebagian besar ancaman terorisme di Indonesia dan menjadi indikator kuat soal ancaman terorisme memang telah menurun secara nyata. (www.aida.or.id)

Bedah buku bertajuk “JI The Untold Story (Perjalanan Kisah Jamaah Islamiyah) (Sumber: Humas UM Surabaya | Foto: Istimewa)
Bedah buku bertajuk “JI The Untold Story (Perjalanan Kisah Jamaah Islamiyah) (Sumber: Humas UM Surabaya | Foto: Istimewa)

Ketika membedakan buku “JI The Untold Story (Perjalanan Kisah Jamaah Islamiyah)” karya Irjen Pol. Sentot Prasetyo, S.I.K. yang menjadi bagian dari upaya literasi kontra narasi radikal terorisme melalui pendekatan ilmiah dan terbuka di lingkungan perguruan tinggi.

Solahudin, pengamat terorisme dan penulis buku “NII sampai JI dan JI sampai NKRI”, mengulas transformasi ideologi Jamaah Islamiyah sejak masa transnasional hingga keputusan resmi pembubaran kelompok tersebut. Ustadz Imtihan, mantan anggota Dewan Fatwa Jamaah Islamiyah, memberikan refleksi mendalam.

Dengan tegas membeberkan keputusan pembubaran JI merupakan kesadaran kolektif yang lahir dari evaluasi mendalam atas perjuangan yang keliru.

“Banyak dari kami dulu berpikir bahwa jalan perjuangan bisa dilewati dengan kekerasan, padahal Islam mengajarkan dakwah yang damai. Kini saatnya generasi muda belajar dari kesalahan kami agar tidak mengulang jalan yang sama,” ungkapnya. (www.um-surabaya.ac.id).

Solahudin menilai pembubaran Jamaah Islamiyah (JI) terjadi melalui tiga fase penting, yaitu perubahan ideologi, penghentian kekerasan, dan transformasi organisasi. JI yang sebelumnya memandang kekerasan sebagai cara sah untuk mencapai tujuan politik dan keagamaan, kini secara tegas menolak metode tersebut. Perubahan ideologi ini diikuti dengan langkah-langkah demiliterisasi, seperti penyerahan senjata, amunisi, dan bahan peledak kepada aparat keamanan.

Transformasi organisasi menjadi bukti paling nyata dari arah baru JI. “Mereka membubarkan organisasi beserta sayap militernya dan melakukan restrukturisasi besar-besaran,” ujar Solahudin. Menurutnya, proses ini sejalan dengan teori deradikalisasi kolektif yang telah lama dikenal dalam kajian akademik.

Meski demikian, tidak sedikit pihak yang meragukan ketulusan transformasi ideologi JI dan membandingkannya dengan pengalaman organisasi lain di Indonesia, seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), yang pernah menempuh jalur serupa. Pada 1962, sebanyak 32 unsur pimpinan DI/TII menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, delapan tahun kemudian, sebagian dari mereka kembali menempuh jalan kekerasan dan terlibat dalam sejumlah aksi teror pada era 1970–1980-an.

Ihwal transformasi JI berbeda dengan DI/TII. Mantan Sekjen AJI ini menilai perubahan JI lebih paripurna karena tidak hanya mencakup demiliterisasi dan restrukturisasi organisasi, justru penegasan perubahan ideologi. Konteks sosial-politik yang kini lebih terbuka dan demokratis turut berperan penting dalam mengakomodasi perubahan dinamika dan jaringan tersebut.

Atas dasar itu, Solahudin optimistis proses transformasi JI dapat berjalan dengan baik tanpa kembali ke lingkaran kekerasan. “Kalaupun muncul konflik internal di antara mantan petinggi JI, hal itu tidak akan menggagalkan proses reintegrasi selama perubahan ideologi telah diterima secara kolektif,” ujarnya. (Kompas, 9 Oktober 2025).

Bila Solahudin telah berjibaku dan memotret jejaring JI, NII, mari kita isi kamus menanggulangi terorisme, ekstremisme, radikalisme dengan literasi damai. Pasalnya, ikhtiar ini sudah menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan paham radikal, teroris.

Tentunya generasi muda perlu dibekali pemahaman tentang bahaya laten radikalisme dan diperkenalkan pada narasi-narasi kebangsaan, nasionalisme, nilai-nilai NKRI. Dengan literasi damai, anak muda tidak hanya memahami ancaman ideologi ekstrem, tetapi memiliki landasan kuat untuk mencintai keberagaman dan persatuan bangsa.

Ingat, literasi damai mendorong generasi muda bersikap kritis, bijak, cerdas dalam menyaring informasi, terutama yang beredar di media sosial. Sikap kehati-hatian sebelum menerima dan menyebarkan informasi akan mencegah meluasnya konten bermuatan kebencian dan nilai-nilai negatif.

Kemampuan memilih dan memilah narasi yang menyesatkan dari narasi yang membangun menjadi benteng penting agar generasi muda tidak mudah terpengaruh propaganda radikal. Walhasil, literasi damai diharapkan dapat mengajak kaula muda, gen z, milenial, alpha, untuk berperan aktif menyebarkan pesan-pesan positif dan menyejukkan di ruang digital.

Caranya dengan mengisi media sosial, website melalui konten yang menampilkan kekayaan budaya, wisata, kuliner, keragaman etnik, suku agama, kepercayaan di Indonesia. Saatnya anak muda dapat menyeimbangkan sekaligus melawan narasi radikal yang dapat merusak persatuan, kesatuan dan keutuhan NKRI.

Mari kita berperan aktif ini dalam menjadikan generasi penerus bangsa bukan sekadar penonton, melainkan pelaku utama dalam membangun perdamaian dan menjaga keutuhan Indonesia. Selamat jalan Kang Solah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 26 Agu 2026, 12:42

Jelajah Goa Sunyaragi, Labirin Batu Karang di Jantung Kota Cirebon

Jelajahi Goa Sunyaragi Cirebon, kompleks bersejarah dengan lorong batu karang, arsitektur unik, tiket masuk, dan tips berkunjung.

Wisata Goa Sunyaragi Cirebon. (Sumber: Instagram @goasunyaragi)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 12:23

Peringkat Nabi Muhammad saw. Dalam Kasus Tabloid Monitor Tahun 1990

Kisah tahun 1990 ini, berawal dari survei 50 tokoh yang dikagumi oleh pembaca tabloid Monitor dan memunculkan demonstrasi masyarakat

Klarifikasi dan permintaan Tabloid Monitor atas edisi 15 Oktober 1990 yang kontroversial. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 10:28

Pasar Baru Bandung dan Penyakit 'Kota Branding'

Upaya pem-branding-an memang penting. Kota perlu dikenal. Kawasan perlu memiliki daya tarik. Tetapi, branding hanyalah lapisan paling luar dari sebuah ekosistem. 

Pasar Baru Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Regia Ramadhina Revalgian/Magang)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 08:44

Jika Pohon-Pohon di Kalimantan Bisa Bernyanyi dan Hewan di Dalamnya Bisa Bicara

Manusia seringkali lupa bahwa di bumi ini mereka hidup tidak sendirian melainkan berdampingan dengan mahluk hidup lainnya yang juga harus dijaga kelestariannya.

Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)
Ayo Netizen 26 Agu 2026, 07:38

Nama, Doa, dan Ikhtiar

Yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa sebagai kehidupan.

Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)