Solah, JI/NII, dan Kamus

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Rabu 31 Des 2025, 08:25 WIB
Solahudin penulis buku “JI sampai NKRI” usai acara bedah buku di Aula MUI Kota Tangerang, Kamis (19/9/2025). (Sumber: Diskominfo | Foto: ABDUL HAKIM FAJARULLAH)

Solahudin penulis buku “JI sampai NKRI” usai acara bedah buku di Aula MUI Kota Tangerang, Kamis (19/9/2025). (Sumber: Diskominfo | Foto: ABDUL HAKIM FAJARULLAH)

Saat pulang kerja, seorang kawan menyapaku di pengkolan jalan menuju Manisi Cibiru. Laki-laki bertubuh gemuk itu berkata, “Kenapa tidak menulis tentang sosok Solahudin, pengamat terorisme yang meninggal hari Jumat? Bukankah pernah berdiskusi bersama?”

Jawabku singkat, “Muhun, Nyerat!”

Pikiranku melayang pada masa sebelum tragedi covid-19. Tergambar jelas sosok yang kerap disapa Kang Solah, teringat dengan tegas pendapatnya saat membahas terorisme, ekstremisme, fundamentalisme, radikalisme. Ingatanku menyeruak pada dua maha karya monumentalnya, seperti buku NII sampai JI : Salafy Jihadisme di Indonesia, (Komunitas Bambu, 2011), JI sampai NKRI: Deradikalisasi Kolektif Jemaah Islamiyah, (Komunitas Bambu, 2025).

Ya, kabar wafatnya memang tersebar beruntun melalui pesan singkat, media sosial, dan berbagai situs web.

Yayasan Fahmina turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya Bapak Solahudin, Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia (UI), wafat Jumat, 26 Desember 2025. Almarhum telah mendedikasikan ilmu dan pemikirannya bagi upaya memahami, mencegah, dan menanggulangi terorisme serta konflik sosial dengan pendekatan akademik yang jernih dan berperspektif kemanusiaan. Semoga segala amal kebaikan beliau diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kekuatan.

Keluarga Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merasakan kehilangan dan ikut berbelasungkawa atas berpulangnya kawan kami, Solahudin. Doa-doa terbaik buat kawan Solahudin. 🥀

Keluarga besar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) berduka atas wafatnya Pendiri dan Pembina kami, Solahudin Bin Udju Hartman. Terima kasih atas ilmu dan keteladanan dalam bersama-sama membangun perdamaian di Indonesia. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Aamiin.

Kabar wafatnya memang tersebar di media sosial (Sumber: Instagram @aji.indonesia dan @yayasanfahmina | Foto: Istimewa)
Kabar wafatnya memang tersebar di media sosial (Sumber: Instagram @aji.indonesia dan @yayasanfahmina | Foto: Istimewa)

Kamus Berjalan Jaringan Terorisme

Mari kita baca tulisan Hasibullah Satrawi, Direktur Eksekutif Aliansi Indonesia Damai (AIDA) berjudul “Sang Kamus” Jaringan Terorisme dan Ekstremisme.

Kesaksian terhadap sosok Solahudin, seorang peneliti dan pegiat isu ekstremisme yang dikenalnya sejak awal 2010-an melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Jakarta. Dari perjumpaan profesional itu berkembang hubungan yang lebih dekat, intim, termasuk silaturahmi ke rumahnya di Depok dan keterlibatannya dalam pelbagai kegiatan sosial, termasuk di Pondok Pesantren Yatim.

Interaksi yang semakin intens, baik dalam aktivitas lembaga lain maupun di AIDA (Aliansi Indonesia Damai) yang turut didirikan Solahudin, sungguh memperlihatkan konsistensi dan dedikasinya dalam kerja-kerja perdamaian.

Betapa tidak, di matanya Kang Solah yang akrab disapa, sebagai figur yang sangat mendalam pengetahuannya mengenai jaringan terorisme dan ekstremisme di Indonesia. Bukan tanpa alasan untuk di lingkungan AIDA dikenal sebagai “kamus berjalan” karena penguasaan detail tokoh, jaringan, dan dinamika kelompok ekstrem.

Keahlian ini tercermin dalam karya-karyanya, terutama buku NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia yang menjadi rujukan luas di kampus dan pusat riset, yang mengantarkannya bekerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah, pendidikan, dan masyarakat sipil.

Meski kapasitasnya tinggi, Solahudin tetap humble, rendah hati, sederhana dan jarang tampil di media, dengan alasan khasnya sebagai seorang jurnalis yang enggan mewawancarai sesama wartawan.

Kepergiannya dipandang sebagai kehilangan besar, tidak hanya bagi rekan-rekan dekatnya, melainkan bagi Indonesia dalam upaya memahami dan menanggulangi ekstremisme dan terorisme. Keteladanan dan segala kontribusinya menjadi energi positif dalam membangun bumi Nusantara yang lebih damai, toleran, inklusif dan sejahtera. (www.aida.or.id).

“Sang Kamus” Jaringan Terorisme dan Ekstremisme (Sumber: www.aida.or.id | Foto: Redaksi AIDA)
“Sang Kamus” Jaringan Terorisme dan Ekstremisme (Sumber: www.aida.or.id | Foto: Redaksi AIDA)

Pembubaran JI Otentik Kesadaran Kolektif

Saat memberikan Pelatihan Pembangunan Perdamaian yang diselenggarakan AIDA di Kota Surakarta, Jawa Tengah, pertengahan Oktober lalu.

Solahudin mengungkapkan ancaman terorisme di Indonesia saat ini telah menurun secara signifikan. Ini terlihat dari tidak adanya serangan terorisme sejak 2023-2024, dan hingga Oktober 2025 belum terjadi serangan teror. Kondisi ini dapat terus terjaga, sehingga Indonesia mencatatkan hattrick, yakni tiga tahun berturut-turut tanpa serangan terorisme.

Diakuinya penurunan ancaman terorisme ini tercermin dari menurunnya jumlah penangkapan tersangka terorisme. Bila pada 2023, jumlah tersangka yang ditangkap mencapai 150 orang, turun menjadi 49 orang pada 2024, dan hingga Oktober 2025 tercatat sekitar 30 orang. Terlebih dengan adanya pembubaran Jemaah Islamiyah (JI) pada 30 Juni 2024. Ini menjadi fakta paling signifikan yang menandai hilangnya sebagian besar ancaman terorisme di Indonesia dan menjadi indikator kuat soal ancaman terorisme memang telah menurun secara nyata. (www.aida.or.id)

Bedah buku bertajuk “JI The Untold Story (Perjalanan Kisah Jamaah Islamiyah) (Sumber: Humas UM Surabaya | Foto: Istimewa)
Bedah buku bertajuk “JI The Untold Story (Perjalanan Kisah Jamaah Islamiyah) (Sumber: Humas UM Surabaya | Foto: Istimewa)

Ketika membedakan buku “JI The Untold Story (Perjalanan Kisah Jamaah Islamiyah)” karya Irjen Pol. Sentot Prasetyo, S.I.K. yang menjadi bagian dari upaya literasi kontra narasi radikal terorisme melalui pendekatan ilmiah dan terbuka di lingkungan perguruan tinggi.

Solahudin, pengamat terorisme dan penulis buku “NII sampai JI dan JI sampai NKRI”, mengulas transformasi ideologi Jamaah Islamiyah sejak masa transnasional hingga keputusan resmi pembubaran kelompok tersebut. Ustadz Imtihan, mantan anggota Dewan Fatwa Jamaah Islamiyah, memberikan refleksi mendalam.

Dengan tegas membeberkan keputusan pembubaran JI merupakan kesadaran kolektif yang lahir dari evaluasi mendalam atas perjuangan yang keliru.

“Banyak dari kami dulu berpikir bahwa jalan perjuangan bisa dilewati dengan kekerasan, padahal Islam mengajarkan dakwah yang damai. Kini saatnya generasi muda belajar dari kesalahan kami agar tidak mengulang jalan yang sama,” ungkapnya. (www.um-surabaya.ac.id).

Solahudin menilai pembubaran Jamaah Islamiyah (JI) terjadi melalui tiga fase penting, yaitu perubahan ideologi, penghentian kekerasan, dan transformasi organisasi. JI yang sebelumnya memandang kekerasan sebagai cara sah untuk mencapai tujuan politik dan keagamaan, kini secara tegas menolak metode tersebut. Perubahan ideologi ini diikuti dengan langkah-langkah demiliterisasi, seperti penyerahan senjata, amunisi, dan bahan peledak kepada aparat keamanan.

Transformasi organisasi menjadi bukti paling nyata dari arah baru JI. “Mereka membubarkan organisasi beserta sayap militernya dan melakukan restrukturisasi besar-besaran,” ujar Solahudin. Menurutnya, proses ini sejalan dengan teori deradikalisasi kolektif yang telah lama dikenal dalam kajian akademik.

Meski demikian, tidak sedikit pihak yang meragukan ketulusan transformasi ideologi JI dan membandingkannya dengan pengalaman organisasi lain di Indonesia, seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), yang pernah menempuh jalur serupa. Pada 1962, sebanyak 32 unsur pimpinan DI/TII menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, delapan tahun kemudian, sebagian dari mereka kembali menempuh jalan kekerasan dan terlibat dalam sejumlah aksi teror pada era 1970–1980-an.

Ihwal transformasi JI berbeda dengan DI/TII. Mantan Sekjen AJI ini menilai perubahan JI lebih paripurna karena tidak hanya mencakup demiliterisasi dan restrukturisasi organisasi, justru penegasan perubahan ideologi. Konteks sosial-politik yang kini lebih terbuka dan demokratis turut berperan penting dalam mengakomodasi perubahan dinamika dan jaringan tersebut.

Atas dasar itu, Solahudin optimistis proses transformasi JI dapat berjalan dengan baik tanpa kembali ke lingkaran kekerasan. “Kalaupun muncul konflik internal di antara mantan petinggi JI, hal itu tidak akan menggagalkan proses reintegrasi selama perubahan ideologi telah diterima secara kolektif,” ujarnya. (Kompas, 9 Oktober 2025).

Bila Solahudin telah berjibaku dan memotret jejaring JI, NII, mari kita isi kamus menanggulangi terorisme, ekstremisme, radikalisme dengan literasi damai. Pasalnya, ikhtiar ini sudah menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan paham radikal, teroris.

Tentunya generasi muda perlu dibekali pemahaman tentang bahaya laten radikalisme dan diperkenalkan pada narasi-narasi kebangsaan, nasionalisme, nilai-nilai NKRI. Dengan literasi damai, anak muda tidak hanya memahami ancaman ideologi ekstrem, tetapi memiliki landasan kuat untuk mencintai keberagaman dan persatuan bangsa.

Ingat, literasi damai mendorong generasi muda bersikap kritis, bijak, cerdas dalam menyaring informasi, terutama yang beredar di media sosial. Sikap kehati-hatian sebelum menerima dan menyebarkan informasi akan mencegah meluasnya konten bermuatan kebencian dan nilai-nilai negatif.

Kemampuan memilih dan memilah narasi yang menyesatkan dari narasi yang membangun menjadi benteng penting agar generasi muda tidak mudah terpengaruh propaganda radikal. Walhasil, literasi damai diharapkan dapat mengajak kaula muda, gen z, milenial, alpha, untuk berperan aktif menyebarkan pesan-pesan positif dan menyejukkan di ruang digital.

Caranya dengan mengisi media sosial, website melalui konten yang menampilkan kekayaan budaya, wisata, kuliner, keragaman etnik, suku agama, kepercayaan di Indonesia. Saatnya anak muda dapat menyeimbangkan sekaligus melawan narasi radikal yang dapat merusak persatuan, kesatuan dan keutuhan NKRI.

Mari kita berperan aktif ini dalam menjadikan generasi penerus bangsa bukan sekadar penonton, melainkan pelaku utama dalam membangun perdamaian dan menjaga keutuhan Indonesia. Selamat jalan Kang Solah. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Jan 2026, 14:32 WIB

Resolusi Menjaga Kesehatan Mata dalam Keluarga dan Tempat Kerja

Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa.
Masih banyak perilaku warga Kota Bandung yang bisa merusak mata orang lain namun tidak merasa berdosa. (Sumber: Pexels/Omar alnahi)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 13:09 WIB

Wargi Bandung 'Gereget' Pelayanan Dasar Masyarakat Tidak Optimal

Skeptis terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandung demi pelayanan yang lebih baik.
Braga pada malam hari dan merupakan salah satu icon Kota Bandung, Rabu (3/12/2024). (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Nayla Andini)
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 11:01 WIB

Kabupaten Brebes Pasar Raya Geowisata Kelas Dunia

Kabupaten Brebes di Provinsi Jawa Tengah, memenuhi banyak kriteria untuk menjadi destinasi geowisata.
Fauna awal yang menjelajah Brebes sejak 2,4 juta tahun yang lalu. (Sumber: Istimewa)
Ayo Jelajah 11 Jan 2026, 11:00 WIB

Riwayat Bandit Kambuhan yang Tumbang di Cisangkuy

Cerita kriminal 1941 tentang Soehali residivis yang tewas tenggelam saat mencoba melarikan diri dari pengawalan.
Ilustrasi
Ayo Netizen 11 Jan 2026, 09:51 WIB

Merawat Tradisi, Menebar Kebaikan

Jumat Berkah bukan sekadar soal memberi dan menerima, menjadi momentum yang tepat untuk terus menebar kebaikan dan kebenaran.
Pelaksanaan Jumat Berkah dilakukan secara bergantian oleh masing-masing DWP unit fakultas, pascasarjana, dan al-jamiah (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)
Beranda 11 Jan 2026, 08:09 WIB

Cerita Warga Jelang Laga Panas Persib vs Persija, Euforia Nobar Menyala di Kiaracondong dan Cigereleng

Menurutnya, menyediakan ruang nobar justru menjadi cara paling realistis untuk mengelola antusiasme bobotoh dibandingkan berkumpul tanpa fasilitas atau memaksakan datang ke stadion.
Wildan Putra Haikal bersama kawan-kawannya di Cigereleng bersiap menggelar nobar Persib vs Persija. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 19:34 WIB

Pisau Bermata Dua Naturalisasi: Prestasi, Bisnis, dan Tantangan Olahraga Indonesia

Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia.
Naturalisasi atlet asing kini bukan sekadar isu teknis, melainkan fenomena yang mengubah wajah industri olahraga Indonesia. (Sumber: Satria Muda Bandung)
Ayo Biz 10 Jan 2026, 16:11 WIB

Ribuan Sepeda Motor Menumpang Kereta, Tren Baru Mobilitas Masyarakat di Libur Panjang

Keramaian di stasiun besar pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan wajah baru. Tidak hanya penumpang yang berdesakan menunggu keberangkatan, tetapi juga deretan sepeda motor.
Ilustrasi pengiriman sepeda motor melalui layanan kereta api menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tetap praktis, aman, dan efisien dalam perjalanan liburan panjang. (Sumber: KAI Logistik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)