Selama ini perayaan tahun baru identik dengan petasan kembang api. Pesta pora di tempat (panggung musik) hiburan. Turun ke jalan-jalan menggunakan mobil, motor, konvoi sambil meniup terompet. Kumpul bareng keluarga, kolega, saudara sambil bakar-bakar ikan, ayam, daging dan jagung.
Dalam liputan Kompas bertajuk Tahun Baru, Pesta Kembang Api, dan Kontroversinya dijelaskan meski indah dan menarik, kembang api memiliki dampak besar terhadap kesehatan, lingkungan, dan satwa liar.
Kembang api digunakan sebagai simbol kemegahan untuk menandai momen penting, khususnya pergantian tahun. Sejumlah sejarawan menilai tradisi ini lahir dari keinginan universal manusia untuk mengakhiri tahun dengan rasa takjub dan memulai tahun baru dengan kegembiraan.
Untuk di Indonesia, kembang api tidak hanya hadir saat tahun baru, termasuk dalam konser musik, pesta pernikahan, khitanan, hingga peluncuran produk dan tempat baru.

Sisi Gelap Pesta Kembang Api
Namun, perayaan Tahun Baru 2026 di Bumi Pertiwi berlangsung berbeda. Pasalnya, sejumlah pemerintah kota seperti Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta membatalkan pesta kembang api pada malam 31 Desember 2025 hingga dini hari 1 Januari 2026.
Kebijakan ini diambil sebagai bentuk solidaritas, kepedulian terhadap para korban bencana di Sumatera, Aceh dan daerah lain. Meskipun, di tingkat masyarakat, kembang api tetap digunakan secara luas dengan ukurannya yang kecil, mudah dinyalakan, relatif dianggap aman, yang digemari anak-anak hingga orang dewasa.
Rupanya di balik keindahannya, pesta kembang api justru memicu kontroversi serius, terutama berdampak terhadap lingkungan. Jutaan kembang api yang dibakar secara bersamaan dapat memicu kebakaran hutan dan polusi udara. Riset selama 37 tahun di Amerika Serikat mencatat lebih dari 11.000 kebakaran hutan dipicu kembang api.
Polusi dari kebakaran ini dapat naik ke atmosfer tinggi, menyebar hingga ribuan kilometer, dan dapat meningkatkan kadar racun di udara. Ironisnya, sebagian polutan kembang api bertahan jauh lebih lama dibandingkan asap dan suara ledakannya.
Parahnya, dampak kembang api ini dirasakan oleh satwa liar. Suara ledakan keras membuat anjing ketakutan dan mengganggu pola tidur burung, bahkan memaksa mereka mengungsi. Dalam beberapa kasus ekstrem, pesta kembang api menyebabkan kematian massal burung. Misalnya di Roma pada Tahun Baru 2021 dan di Arkansas, AS, pada 2011, ribuan burung jalak mati karena terbang panik di malam hari hingga menabrak pohon dan bangunan.
Dengan demikian, fakta-fakta ini menunjukkan di balik kemeriahan kembang api, justru terdapat konsekuensi serius bagi kesehatan, lingkungan dan makhluk hidup lainnya. (Kompas, 31 Desember 2025 19:31 WIB).

Melingkar Menutup Jangkar
Malam mulai terasa dingin akibat hujan yang mengguyur sejak sore. Genangan air di tanah, jalan, lantai masih terlihat menetes dari genteng dan plafon rumah.
Untuk di lingkungan Babakan Dangdeur Pasir Biru Cibiru ada yang mengisi pergantian tahun baru ini dengan melaksanakan pengajian, doa bersama di masjid Ar Rahman. Sambil muhasabah diri dan memohon pertolongan dari Allah SWT atas segala musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra, Aceh.
Pergantian tahun di keluarga kecil kami tidak dipenuhi dentuman suara kembang api, hiruk-pikuk keramaian, termasuk lalu-lalang motor. Penutup akhir tahun 2025 justru dihabiskan di rumah saja, bersama keluarga. Tahun baru 2026 disambut dengan cara yang sederhana.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya selalu ada acara bakar-bakaran menggunakan tungku tanah, oleh-oleh khas dari Yogyakarta. Untuk tahun ini kami cukup membakar jagung, sosis, dan daging di atas kompor gas. Hujan yang terus turun membuat kayu basah, bara (arang) sudah mulai sulit didapatkan di warung tetangga.
Tepat di halaman depan kamar, kompor kecil mulai menyala. Jagung, daging, dan sosis tersusun rapi, siap dibakar. Asap tipis mengepul ke udara, membawa aroma yang kian akrab dan menenangkan jiwa, hati, pikiran. Tawa ringan terdengar silih berganti, bercampur dengan suara hembusan angin menerpa daun pisang, desis api dan cipratan mentega. Setiap anggota keluarga memiliki peran masing-masing. Istri membolak-balik bakaran jagung, sosis, dan daging. Kaka Fia menyiapkan bumbu sambil membalur kecap dan mentega. Aa Akil dan Kakang lebih banyak duduk, bercerita, dan menikmati suasana. Sesekali terjadi keributan kecil soal olesan bumbu, termasuk yang ditunggu-tunggu saat sosis matang lebih dulu, lalu langsung dicicipi. Enak Bah!
Baca Juga: Bandung yang Tenang tanpa Gangguan Modus Penipuan
Malam itu, lelah dari rutinitas kerja seakan-akan luruh bersama asap bakaran yang sederhana. Penat yang selama ini dipendam perlahan mencair dalam obrolan ringan. Ya tentang hari-hari yang telah dilewati, tantangan yang berhasil dilalui, harapan kecil untuk tahun yang akan datang. Sungguh tak ada yang terburu-buru. Waktu terasa berjalan lebih pelan, memberi ruang untuk saling mendengarkan, menerima, dan benar-benar hadir satu sama lain.
Saat jam mendekati pergantian tahun, jagung bakar, daging dan sosis hangat tersaji di piring. Kami duduk bersama, menikmati hasil bakaran dengan senyum puas. Bukan soal mewah atau megahnya perayaan, melainkan rasa kebersamaan yang terasa utuh. Menjelang tengah malam, satu per satu terlelap karena kantuk yang tak tertahankan. Kakang lebih dulu, disusul istri, Aa, dan Kaka. Efek kawaregan teuing yeuh! Tinggallah sendiri, mengucap harap dan doa dengan hati yang lebih ringan.
Tahun baru datang tanpa gegap gempita, justru penuh makna dan membekas. Suasana malam yang sunyi, sepi dan sederhana itu mengingatkan ihwal kebahagiaan hidup sering kali hadir dan perlu diciptakan sendiri, dimulai dari yang paling dekat (rumah, keluarga, dan kebersamaan). Semuanya itu diharapkan dapat mengobati penat dari segala aktivitas kerja yang panjang demi hidup yang lebih baik dan terarah. (*)
