Mahalnya Ongkos Kemerdekaan

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beragam bendera merah putih yang dijual para pedagang selama bulan Agustus. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Perjalanan panjang bumi pertiwi kita tidak bisa dilepaskan dari semangat perjuangan masyarakat kota Bandung.

Dalam meraih kemerdekaan masyarakat kota Bandung bahkan menjadi nama gelanggang, agar penerus bangsa di kota Bandung dapat mempelajari dan meneladani perjuangan pahlawan.

Pada titik tahun ini yang menjadi pertanyaan apakah generasi kini masih ingin menoleh ke pahlawan saat itu? Kemerdekaan Indonesia diraih dengan susah payah, apakah generasi saat ini telah memberikan kontribusi yang terbaru bagi negeri tercinta?

Pertanyaan sederhana ini ditujukan kepada pemerintah, pemangku kebijakan, pengelola negeri ini dan orang-orang yang merasakan kenikmatan kebijakan. Bukankah generasi milenial dan baby boomerlah yang telah menikmati indahnya bumi pertiwi?

Tak lantas lupa bahwa kemerdekaan yang didapat hanya menjadi beban. Masyarakat hanya menonton perilaku tak beradab mereka karena korupsi yang tak usai, korupsi yang menghabiskan banyak uang masyarakat demi perut mereka dan golongannya.

Mari mengibarkan kemerdekaan negeri ini dengan mengurai kembali makna kemerdekaan yang masih belum selesai laksana benang kusutnya.

Faktanya bisa kita lihat. Menjelang bulan Agustus, betapa kita mendapatkan suguhan atau tontonan yang tidak menghibur bahkan menjadi kenyataan pahit.

Rakusnya kebijakan yang tumpang tindih. Korupsinya ugal-ugalan. Masyarakat masih sengsara. Tak ubahnya kekalutan mental yang tak putus-putusnya.

Kembali ke Buku Sejarah

Kita mendapatkan pembelajaran sejarah yang panjang dari awal sampai akhir tentang bagaimana Indonesia dilahirkan dari rahim ibu kenegaraan. Namun sebaliknya sikap negarawan sering tak muncul di tangan pemangku kepentingan.

Menghapuskan karakter masyarakat yang ingin kembali ke sejarah tidak segampang itu. Negeri kita memiliki sejarah yang wajib diproklamirkan tidak hanya di bulan kemerdekaan. Sejatinya mesti dijaga dan dirawat dengan sangat baik di pikiran bukan sekadar di buku pelajaran.

Termasuk juga, menumbuhkan dan memupuknya pada saat mendapat jabatan baik di tingkat rumah tangga sampai ke pemerintahan. Kesempatan mendengar kembali sejarah Republik Indonesia di bulan ini menepiskan bahwa sejarah dari penjajahan saat itu benar adanya.

Mestinya juga, buku-buku sejarah tidak tunggal. Anak-anak diberikan buku sejarah Republik Indonesia ini dengan lebih banyak dibanding mengutuk sejarah itu sendiri.

Kebebasan anak dalam mempelajari buku sejarah tidak tampak. Buku sejarah tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti buku yang lain yang telah diedarkan.

Kerinduan masyarakat yang menyaksikan sejarah negeri ini agar anak-anaknya mendapatkan kesempatan belajar sejarah. Hausnya menggali sejarah bagi anak-anak akan berdampak positif bagi nasionalismenya di masa mendatang. Bukan sekadar diberi pengertian dan definisi sejarah yang singkat. Terlebih jika buku sejarah masih harus ditulis ulang tanpa mengenalkan sejarah yang sesungguhnya. Bahkan adanya pengaruh yang besar namun tak relevan dengan situasi saat itu kembali menuai pro dan kontra.

Monju menjulang dengan gagah, seolah menantang waktu, mengingatkan setiap mata yang memandang bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari darah dan air mata rakyat Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Monju menjulang dengan gagah, seolah menantang waktu, mengingatkan setiap mata yang memandang bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari darah dan air mata rakyat Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Misalnya, kebenaran tentang penjajahan tiga ratus lima puluh tahun dari pasukan Belanda di Indonesia yang cukup heroik itu dianggap tidak benar-benar terjadi. Tidak selama itu. Tidak mungkin. Penyangkalan ini sudah dibenarkan oleh pemangku kepentingan. Namun kita sejak duduk di bangku sekolah diberi ilmu sejarah yang tidak sama.

Ketidaksesuaian ini punya kecenderungan yang tidak dapat diterima. Meski pada akhirnya bab buku sejarah menghilang dari perbincangan tergantikan kasus korupsi dan kasus perebutan hak asuh keluarga artis. Duh, nestapa.

Lanskap Kemandirian Sebenarnya

Kembalilah kita pada masyarakat yang sibuk merangkai agenda kemerdekaan. Sejarah bahwa masyarakatlah yang suka cita dengan cara yang paling banyak dinanti. Tidak cukup agendanya. Tapi siapakah pejabat yang sadar dan mau memberikan jalan kemerdekaan tanpa membebani masyarakat?

Kemandirian masyarakat sudah terbukti. Jika tahun ke tahun merayakan kemerdekaan benar terwujud. Sukarela dalam menjalankan kegiatan kemerdekaan.

Masyarakat tidak mengandalkan anggaran negara, melainkan iuran asli dari masyarakat. Iuran yang dimaksud sebagai pembuktian bahwa kita benar-benar merdeka. Tidak ada paksaan atau intimidasi. Ekspos kegiatan murni dari inisiasi masyarakat sendiri.

Dana swadaya masyarakat ini menggambarkan bahwa kemandirian masyarakat untuk mengelola kegiatan demi kemerdekaan jauh lebih proporsional dibandingkan dengan banyaknya anggaran untuk kemerdekaan yang tidak pernah sampai pada masyarakat dan prinsip inilah yang membuat miris.

Di satu sisi, pajak dibayarkan atas nama pengelolaan negara namun di sisi lain masyarakat tidak memiliki hak apapun untuk merancang kemerdekaan yang sesungguhnya.

Demi kemerdekaan, masyarakat harus tergopoh-gopoh menganggarkan sendiri demi menjalankan kemeriahan perayaan.

Sekiranya kita mengandalkan anggaran negara apakah mungkin perayaan kemerdekaan kita berjalan maksimal? Rasanya kita merefleksi bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak bagi kita semua. Hak yang mesti didapatkan. Sebagaimana disebutkan sedari dulu semboyan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Dengan demikian, kita menyadari bahwa pajak yang sudah dibayarkan bukan sekadar membangun infrastruktur dan tata kelola melainkan merayakan kemerdekaan seharusnya diberikan anggaran untuk masyarakat.

Hajat rakyat bagi kemerdekaan yang semestinya tidak boleh dari iuran melainkan anggaran yang sudah ditata dan sudah seharusnya dikelola oleh masyarakat. Kembalikan makna kemerdekaan bukan hanya menjadikan kegiatan kemerdekaan dari kantong pribadi lagi. Merdeka! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Mitra 04 Nov 2026, 20:29

Dari 475 Pendaftar, 35 Jurnalis Terpilih Raih Beasiswa S2 BRI Fellowship Journalism 2026

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026. (Sumber: Dok. BRI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 19:59

Setelah Kedua Arca Kebun Binatang Ditemukan, Lantas Apa dan Bagaimana?

Berbulan-bulan lamanya kita seolah sibuk mencari, lalu apa? Kenapa kita mencari? Apa yang kita cari? Apa bedanya saat "hilang" dan saat sudah ditemukan jika perlakuan terhadapnya tak banyak berubah?

(Ilustrasi Arca) Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:40

Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

Di hadapan Indonesia yang kian karut-marut, penampilan Tigapagi di NDBF 7.0 menjadi ruang merawat akal sehat dan luka sejarah, mengajak kita menatap trauma tanpa kehilangan harapan untuk bertahan.

Penampilan Tigapagi pada malam penutupan Nusantara Dharma Book Festival 7.0 (Sumber: NDBF 7.0 | Foto: Tim dokumentasi NDBF 7.0)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:11

Bandung dan Hujannya yang Selalu Bikin Was-Was

Bandung di musim hujan memang memberikan kesegaran udara tapi selalu menunjukkan was-was karena menyebabkan banjir dan potensi kehilangan nyawa.

Kondisi  Langit Bandung menjelang Hujan di Soekarno Hatta. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 15:19

Review Film The Love Hypothesis: Film Rom-com Kampus yang Menguji Cinta

Review film The Love Hypothesis yang memadukan pola fake dating dan grumpy x sunshine dengan latar akademik. Meski alurnya mudah ditebak, kedekatan tokohnya tetap menghibur.

Poster Film The Love Hypothesis. (Sumber: Primevideo)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 14:12

Jabar Juara Judol, Sungguh Memprihatinkan dan Mencemaskan

Besarnya jumlah pemain judol di Jabar semakin terasa ketika melihat duit yang terlibat. Sepanjang tahun 2024, ditaksir deposit judol di Jabar mencapai Rp5,97 triliun.

Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)