Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu: Mengapa Peribahasa Mulai Mati di Tangan Generasi 2026?

Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Kamis 29 Jan 2026, 12:02 WIB
Ilustrasi anjing. (Sumber: Pexels)

Ilustrasi anjing. (Sumber: Pexels)

Siang itu di ruang kelas, saya ingin menguji sebuah hipotesis sederhana: apakah nilai-nilai lama masih punya tempat di telinga generasi masa kini? Sebagai mahasiswa PPK (Praktik Profesi Keguruan), saya mencoba membuka kelas dengan sebuah amunisi klasik yang dulu menjadi pegangan hidup saya saat menghadapi badai kegalauan memilih PTN hingga karya yang tak terapresiasi kawan sebaya.
Saya pun berujar dengan mantap: 'Ingat ya, anjing menggonggong kafilah berlalu.'

Saya menunggu binar di mata mereka—sebuah tanda pemahaman. Namun, yang saya temukan justru deretan tatapan kosong yang menerka-nerka, seolah saya baru saja merapalkan mantra dari bahasa asing yang sudah punah. Saya mengerutkan dahi, setengah tak percaya, 'Kalian ... benar-benar nggak tahu peribahasa ini?'

Kompak, mereka menggeleng. Ruang kelas seketika hening, menyisakan jarak literasi yang terasa makin lebar. Saya pun mencoba memutar otak, mencari jembatan agar nilai ini sampai ke dunia mereka.
'Lalu, kalau Stoik kalian tahu tidak? Itu loh, yang sering seliweran di TikTok!'

Barulah satu-dua kepala mulai mengangguk. Di sinilah saya tersadar: mereka mungkin tahu trennya, tapi mereka telah kehilangan akarnya.

Saya sadar bahwa bahasa gaul atau slang internet bukanlah sebuah dosa. Seperti yang pernah diulas National Geographic, penggunaan slang justru menunjukkan kreativitas bahasa anak-anak kita dalam merespons zamannya. Namun, masalah intinya bukan pada munculnya deretan kata baru, melainkan pada hilangnya kata-kata lama yang memiliki kedalaman makna—seperti peribahasa.

Beberapa murid saya mungkin pernah mendengar kata 'Stoik' lewat potongan konten di TikTok yang estetik. Namun, seperti yang diperingatkan dalam ulasan Holopis, ajaran ini kerap disalahpahami oleh Gen Z hanya sebagai sikap 'bodo amat' atau mati rasa. Padahal, esensi Stoikisme sebenarnya sangat dekat dengan kearifan lokal kita: Anjing menggonggong kafilah berlalu. Keduanya sama-sama mengajarkan ketangguhan mental dan fokus pada tujuan, bukan sekadar ketidakpedulian yang kosong.

Jika kita bedah lebih dalam, peribahasa 'Anjing menggonggong kafilah berlalu' sebenarnya adalah ilmu tingkat tinggi tentang bagaimana menjaga fokus di tengah noise atau kebisingan dunia digital. Masalahnya, ketika murid-murid kita kehilangan peribahasanya, mereka sebenarnya sedang kehilangan senjatanya.

Baca Juga: Zaman Sudah Serba Digital, Penjual Arloji Lawas Masih Bertahan di Jalan ABC

Banyak dari mereka hanya mengenal 'Stoik' sebatas tren permukaan yang mungkin saja hanya dipakai untuk caption Instagram. Namun, jika mereka benar-benar paham akan makna peribahasa kita, mereka akan memiliki akar budaya untuk tetap tangguh. Mereka tidak akan mudah tumbang atau depresi hanya karena satu komentar miring di akun media sosialnya. Mengapa? Karena mereka menyadari identitas diri mereka yang sebenarnya: mereka adalah 'kafilah' yang sedang menempuh perjalanan menuju tujuan besar, dan gonggongan di pinggir jalan tidak akan pernah bisa menghentikan langkah mereka.

Memang benar bahwa bahasa itu dinamis dan terus berkembang, namun jangan sampai akar (peribahasa) dicabut demi daun (kata viral) yang cepat layu. Terkadang kita terlalu sibuk mendigitalisasi kelas, namun lupa memanusiakan pemikiran.

Pemerintah melalui Balai Bahasa sebenarnya sudah berupaya serius, salah satunya lewat inovasi seperti Krida Kartu Sanusa untuk meningkatkan literasi sastra secara interaktif. Namun di lapangan, sebagai mahasiswa PPK, saya melihat tantangannya jauh lebih besar dari sekadar ketersediaan alat peraga. Ini adalah soal bagaimana kita, sebagai pendidik, mampu mengembalikan 'rasa' pada bahasa dan logika pada setiap kata yang mereka ucapkan.

Resolusi saya untuk tahun 2026 sederhana saja: saya ingin murid-murid di Indonesia bukan hanya cerdas dalam menggunakan gawai, tapi juga tangguh dalam prinsip. Saya ingin mereka menjadi 'kafilah' yang terus melaju, meski 'gonggongan' di dunia digital tak pernah berhenti. Karena pada akhirnya literasi bukan soal seberapa banyak kata viral yang kita tahu, tapi seberapa dalam makna yang sanggup kita genggam. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)