Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu: Mengapa Peribahasa Mulai Mati di Tangan Generasi 2026?

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Ilustrasi anjing. (Sumber: Pexels)
Ilustrasi anjing. (Sumber: Pexels)

Siang itu di ruang kelas, saya ingin menguji sebuah hipotesis sederhana: apakah nilai-nilai lama masih punya tempat di telinga generasi masa kini? Sebagai mahasiswa PPK (Praktik Profesi Keguruan), saya mencoba membuka kelas dengan sebuah amunisi klasik yang dulu menjadi pegangan hidup saya saat menghadapi badai kegalauan memilih PTN hingga karya yang tak terapresiasi kawan sebaya.
Saya pun berujar dengan mantap: 'Ingat ya, anjing menggonggong kafilah berlalu.'

Saya menunggu binar di mata mereka—sebuah tanda pemahaman. Namun, yang saya temukan justru deretan tatapan kosong yang menerka-nerka, seolah saya baru saja merapalkan mantra dari bahasa asing yang sudah punah. Saya mengerutkan dahi, setengah tak percaya, 'Kalian ... benar-benar nggak tahu peribahasa ini?'

Kompak, mereka menggeleng. Ruang kelas seketika hening, menyisakan jarak literasi yang terasa makin lebar. Saya pun mencoba memutar otak, mencari jembatan agar nilai ini sampai ke dunia mereka.
'Lalu, kalau Stoik kalian tahu tidak? Itu loh, yang sering seliweran di TikTok!'

Barulah satu-dua kepala mulai mengangguk. Di sinilah saya tersadar: mereka mungkin tahu trennya, tapi mereka telah kehilangan akarnya.

Saya sadar bahwa bahasa gaul atau slang internet bukanlah sebuah dosa. Seperti yang pernah diulas National Geographic, penggunaan slang justru menunjukkan kreativitas bahasa anak-anak kita dalam merespons zamannya. Namun, masalah intinya bukan pada munculnya deretan kata baru, melainkan pada hilangnya kata-kata lama yang memiliki kedalaman makna—seperti peribahasa.

Beberapa murid saya mungkin pernah mendengar kata 'Stoik' lewat potongan konten di TikTok yang estetik. Namun, seperti yang diperingatkan dalam ulasan Holopis, ajaran ini kerap disalahpahami oleh Gen Z hanya sebagai sikap 'bodo amat' atau mati rasa. Padahal, esensi Stoikisme sebenarnya sangat dekat dengan kearifan lokal kita: Anjing menggonggong kafilah berlalu. Keduanya sama-sama mengajarkan ketangguhan mental dan fokus pada tujuan, bukan sekadar ketidakpedulian yang kosong.

Jika kita bedah lebih dalam, peribahasa 'Anjing menggonggong kafilah berlalu' sebenarnya adalah ilmu tingkat tinggi tentang bagaimana menjaga fokus di tengah noise atau kebisingan dunia digital. Masalahnya, ketika murid-murid kita kehilangan peribahasanya, mereka sebenarnya sedang kehilangan senjatanya.

Baca Juga: Zaman Sudah Serba Digital, Penjual Arloji Lawas Masih Bertahan di Jalan ABC

Banyak dari mereka hanya mengenal 'Stoik' sebatas tren permukaan yang mungkin saja hanya dipakai untuk caption Instagram. Namun, jika mereka benar-benar paham akan makna peribahasa kita, mereka akan memiliki akar budaya untuk tetap tangguh. Mereka tidak akan mudah tumbang atau depresi hanya karena satu komentar miring di akun media sosialnya. Mengapa? Karena mereka menyadari identitas diri mereka yang sebenarnya: mereka adalah 'kafilah' yang sedang menempuh perjalanan menuju tujuan besar, dan gonggongan di pinggir jalan tidak akan pernah bisa menghentikan langkah mereka.

Memang benar bahwa bahasa itu dinamis dan terus berkembang, namun jangan sampai akar (peribahasa) dicabut demi daun (kata viral) yang cepat layu. Terkadang kita terlalu sibuk mendigitalisasi kelas, namun lupa memanusiakan pemikiran.

Pemerintah melalui Balai Bahasa sebenarnya sudah berupaya serius, salah satunya lewat inovasi seperti Krida Kartu Sanusa untuk meningkatkan literasi sastra secara interaktif. Namun di lapangan, sebagai mahasiswa PPK, saya melihat tantangannya jauh lebih besar dari sekadar ketersediaan alat peraga. Ini adalah soal bagaimana kita, sebagai pendidik, mampu mengembalikan 'rasa' pada bahasa dan logika pada setiap kata yang mereka ucapkan.

Resolusi saya untuk tahun 2026 sederhana saja: saya ingin murid-murid di Indonesia bukan hanya cerdas dalam menggunakan gawai, tapi juga tangguh dalam prinsip. Saya ingin mereka menjadi 'kafilah' yang terus melaju, meski 'gonggongan' di dunia digital tak pernah berhenti. Karena pada akhirnya literasi bukan soal seberapa banyak kata viral yang kita tahu, tapi seberapa dalam makna yang sanggup kita genggam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)