Zaman Sudah Serba Digital, Penjual Arloji Lawas Masih Bertahan di Jalan ABC

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Lapak penjual dan service arloji di Jalan ABC. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lapak penjual dan service arloji di Jalan ABC. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Terletak di jantung Kota Kembang, tepat di jalur penghubung antara Jalan Otista dan Jalan Suniaraja, terdapat sebuah ruas jalan yang dipenuhi deretan penjual barang antik, pernak-pernik, hingga barang elektronik. Jalan itu bernama Jalan ABC. Selain namanya yang unik dan mudah diingat, Jalan ABC kerap disebut sebagai lorong waktu yang merekam transformasi sejarah perdagangan arloji di Kota Bandung.

Jalan ABC telah melegenda sejak 1905. Di kalangan masyarakat, beredar cerita bahwa nama ABC merupakan singkatan dari Arab (A), Bumiputra (B), dan Cina (C), yang sejak dahulu hidup berdampingan dan mengisi ruang-ruang lapak di jalan ini. Namun, temuan arsip koran Belanda yang diungkap Atep Kurnia, penulis sejarah Bandung, menyebutkan asal-usul penamaan Jalan ABC sebenarnya berasal dari sebuah toko bernama Toko ABC milik Tio Tek Hong, yang berdiri di Bandung sejak 1905.

Kini, Jalan ABC masih menyisakan banyak kenangan. Bangunan bergaya era Belanda masih terlihat mengisi sepanjang ruas jalan, meski sebagian telah dipoles mengikuti tren arsitektur masa kini. Menjelang petang, suasana jalan tetap ramai. Pedagang arloji dan kacamata yang menghiasi bahu jalan tampak sibuk dengan dagangannya. Sebagian merapikan lapak, sebagian lain menatap lalu lintas sambil menawarkan barang kepada pejalan kaki, berharap satu-dua orang melirik dan tertarik pada isi bilik kecil mereka.

Tepat di sebuah perempatan, terlihat seorang kakek tengah mengemas dagangannya. Lapaknya kecil, berdampingan dengan lapak penjual yang usianya jauh lebih muda. Sosok itu bernama Jana (67), penjual arloji jadul yang telah berjualan di Jalan ABC sejak 1985. Usianya yang sudah lawas membuatnya tak lagi secekatan dulu saat bermain dengan obeng kecil untuk memperbaiki arloji.

Jana (67) sudah berjualan arloji di sekitaran Jalan ABC sejak 1980-an. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Jana (67) sudah berjualan arloji di sekitaran Jalan ABC sejak 1980-an. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Berangkat dari pekerjaan awal sebagai buruh tani, Jana merantau ke Bandung sejak usia 16 tahun bersama rekan sebayanya. Ia belajar cara memperbaiki arloji secara otodidak. Puluhan tahun kemudian, Jana menjadi saksi hidup perubahan dunia perdagangan arloji di Jalan ABC.

“Ya, dulu kerja di toko. Sekarang sudah agak tua, ah, mandiri aja di sini,” ucap Jana sambil merapikan jam-jam dagangannya.

Selama 40 tahun berjualan, Jana mengaku kerap mendapat permintaan untuk mengajarkan cara memperbaiki arloji atau sekadar berbagi ilmu dasar tentang permesinan arloji. Menariknya, permintaan itu justru datang dari pembeli asal Tailan, bukan dari anak muda lokal.

“Orang Tailan pernah minta diajarin. Arlojinya ada di sini. Minta diajarin gitu,” aku Jana sambil menunjukkan arloji berwarna emas milik pembelinya.

Menggantungkan hidup dari lapak kecil ini selama puluhan tahun bukan perkara mudah. Jana menyadari betul tantangan bertahan di tengah gempuran smart watch. Ia menyimpan harapan untuk bisa bekerja di tempat lain, sebab dari usaha arlojinya ini, Jana tak selalu pulang membawa uang.

“Kadang dapat uang, kadang nggak. Barang bapak dari toko diambil ke sini,” ujarnya lirih.

Bagi para penjual arloji di sepanjang jalan bersejarah ini, Jalan ABC bukan lagi sekadar deretan lapak trotoar. Ia telah berevolusi menjadi ruang pertemuan antara keahlian jemari masa lalu dan kecepatan algoritma masa kini. Sebagian bertahan dari pagi hingga petang seperti Jana, menawarkan arloji dan jasa servis. Sebagian lain memilih beradaptasi dengan membuka lapak di layar gawai.

“Awalnya saya kerja dulu. Tapi memang hobi koleksi jam tangan. Kayaknya lebih menjanjikan jual jam. Saya terjun akhirnya. Dijual sama saya, ‘oh, ada untungnya ini,’” ungkap Gugun Wiguna (38), yang menekuni usaha ini sejak 2020.

Gugun Wiguna, generasi muda penjual arloji di Jalan ABC. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Gugun Wiguna, generasi muda penjual arloji di Jalan ABC. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Jana dan Gugun sama-sama bercerita soal tren jam tangan yang kini menguasai pasar. Menurut mereka, ada dua negara asal jam yang paling diminati konsumen: Jepang dan Swiss. Jam tangan asal Jepang seperti Seiko, Casio, dan Citizen dikenal unggul dalam inovasi teknologi. Sementara jam asal Swiss—Rolex, TAG Heuer, hingga Omega—memiliki nilai prestise yang kuat.

“Konsumen sekarang lagi banyak ke Swiss. Harga yang saya jual ada yang Rp1.000.000, Rp500.000, paling murah Rp200.000–Rp300.000,” ujar Gugun.

“Pengunjung sekarang berkurang, mungkin karena pengaruh Covid kemarin. Makanya saya jualan online, karena cari pasarnya lebih gampang,” tambahnya.

Meski memilih peruntungan di pasar daring, Gugun mengaku hampir setiap hari tetap nongkrong di Jalan ABC bersama para penjual lain. Dalam bisnis ini, pemasukan sangat tak menentu. Ada hari-hari sepi tanpa transaksi, namun di lain waktu satu penjualan besar bisa menutup kebutuhan berbulan-bulan.

“Kalau jam tuh nggak bisa dipukul rata. Sekalinya dapat, bisa nutup 3–4 bulan. Tapi perputarannya tetap ada, karena ada lelang juga,” beber Gugun, disambut sahutan pedagang lain.

Lebih dari sekadar fungsi teknis, arloji mekanik atau vintage yang dijajakan di trotoar ini adalah pernyataan tentang kelas dan identitas pemakainya. Bagi kolektor dan mereka yang paham mesin, arloji bukan sekadar penunjuk waktu dari etalase toko mewah. Ada kebanggaan tersendiri mengenakan merek legendaris yang daya tahannya teruji puluhan tahun.

“Daya tahan dan umur pakainya. Branding juga. Yang pakai TAG Heuer pasti bukan orang biasa, itu nunjukin identitas,” seru Gugun.

Arloji jadul di lapak milik Jana. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Arloji jadul di lapak milik Jana. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Namun, zaman terus bergerak. Di pergelangan tangan anak muda masa kini, arloji perlahan digantikan layar digital yang memantau detak jantung hingga langkah kaki. Para pedagang di Jalan ABC menyadari pergeseran ini sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Meski teknologi menawarkan fungsi yang lebih beragam untuk olahraga dan kesehatan, bagi mereka arloji klasik tetap memiliki tempat tersendiri sebagai simbol.

“Kalau menurut saya sih nggak ada salahnya. Jam tangan buat saya lebih ke hiasan. Balik lagi ke kebutuhan. Orang sekarang kan pengennya olahraga, jadi yang all in one,” ujar Gugun.

Bagi mereka yang setiap hari duduk bersila di sana, Jalan ABC bukan hanya saksi sejarah panjang peradaban urban Bandung, melainkan juga panggung utama perjuangan hidup.

“Menurut saya, ini jalan dengan sejarah panjang jam tangan di Bandung. Tempat palugada. Orang mau cari jam, kacamata, dan lain-lain. Bagi kami, Jalan ABC adalah tempat kami mencari nafkah,” tutup Gugun.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Sep 2026, 10:03

Waspadai Sindikat Penjualan Bayi dan Perbaiki Tata Kelola Adopsi

Pembentukan keluarga melalui jalur adopsi, proses ini masih sering dihadapkan pada tantangan yang rumit.

Ilustrasi adopsi bayi dalam sebuah keluarga (Sumber: dokpri dengan bantuan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 08:29

Manusia Gerobak, Manusia Statistik, Manusia Bandung

Istilah manusia gerobak mungkin terdengar seperti deskripsi visual. Padahal, ia membawa beban moral yang tidak enteng.

Manusia gerobak. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ANTARA via ayobandung.com)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 20:52

200 Ikon Bandung #3: Medan Prijaji, Koran Bandung Pelopor Nasionalisme Indonesia

Pada 22 Agustus 1912 Medan Prijaji harus tutup karena intervensi pemerintah kolonial, dan Tirto Adhi Soerjo pun harus dibuang ke Ambon.

Koran "Medan Prijaji" 1910. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 15:36

Menggabungkan OPD, Menggabungkan Kekuasaan?

Penggabungan OPD bakal menjadi lebih dari sekadar merapikan bagan organisasi. Ia bisa menjadi contoh bahwa birokrasi daerah dapat dibuat lebih sederhana.

Kantor Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Instagram/@dihubjabar via ayobandung.com)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 12:47

Seandainya Saya Jadi Presiden (bagian 1)

Setiap orang memiliki mimpi besar, tetapi tidak semua impian itu bisa terwujud. Minimal jadi perenungan tentang pemikiran apa yang bisa kita sumbangkan kepada bangsa dan negara.

Bendera Merah Putih. (Sumber: Pexels | Foto: Irgi Nur Fadil)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 10:40

Miliaran Pemirsa Saksikan Pemakaman Lady Di

Ketika Lady Diana atau Lady Di dimakamkan, 6 September 1997, miliaran orang menyaksikan prosesinya melalui siaran tv

Putri Diana. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: John MacIntyre)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 09:54

Tren Operasi Bariatrik untuk Penuhi Standar Kecantikan yang Semu

Bariatrik menjadi tren operasi yang sedang happening baik di kalangan masyarakat maupun influencer untuk menurunkan berat badan secara instan.

Antara diet sehat dengan operasi bariatrik (Sumber: Pexels)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 22:18

Siaga pada Musim Peralihan

Peralihan musim inilah yang harus diwaspadai dan melakukan upaya mitigasi agar sehat dan selamat.

Pohon tumbang di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 17:12

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian

Sulit menemukan research gap untuk skripsi? Pelajari cara menemukannya dari jurnal, melihat celah penelitian, hingga mengubahnya menjadi ide penelitian.

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 16:57

Sekali di Udara, Tetap di Hati: 81 Tahun Perjalanan RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) memperingati hari jadinya setiap 11 September.

Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 14:04

Komunikasi di Era AI: Mengapa Suara Manusia di Radio Tak Tergantikan

Di era AI, radio bertahan sebagai benteng keaslian manusia. Hari Radio Nasional mengingatkan bahwa kehangatan dan koneksi emosional dari suara penyiar tak tergantikan oleh algoritma.

Ilustrasi ruangan siaran radio. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Linimasa 11 Sep 2026, 14:02

Dulu Sempat Viral, Apa Kabar Odading Mang Oleh?

Odading Mang Soleh pernah viral berkat video Ade Londok. Kini usaha tersebut diteruskan anak-anak dan memiliki cabang di luar Bandung.

Odading Mang Oleh yang dulu sempat viral. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 13:27

Menghidupkan Siaran RRI Bandung dengan Kreativitas Siniar

Alih wahana oleh RRI Bandung membutuhkan platform digital karya anak bangsa yang multifungsi.

Gedung Radio Republik Indonesia Bandung di Jalan Diponegoro No.61 Kota Bandung (Sumber: RRI | Foto: Atep)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 10:16

Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kebudayaan yang bertugas merawat dan memajukan kebudayaan serta cagar budaya di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 09:00

Mengapa Laga Persib–Persija Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Para pemain Persib tidak hanya bermain untuk klub, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan sebagian masyarakat Jawa Barat. 

Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)