Sejarah Jalan ABC Bandung, Benarkah Rasis?

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Toko ABC di sekitar Pasar Baru bandung tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Toko ABC di sekitar Pasar Baru bandung tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Bandung sejak lama dikenal sebagai kota perdagangan. Letaknya di dataran tinggi membuat kota ini sejuk dan nyaman, sehingga sejak abad ke-19 banyak orang datang, tinggal, dan berdagang di sana. Di sekitar Pasar Baru, ada satu jalan kecil yang sampai sekarang namanya tetap melekat: Jalan ABC. Namanya pendek, gampang diingat, dan punya kisah yang tak sesederhana tiga huruf itu. Jalan ini bukan hanya urusan dagang, tapi juga urusan sejarah, identitas kota, bahkan perdebatan akademis tentang dari mana asal namanya.

Orang Bandung tahu, Jalan ABC sejak dulu sudah ramai. Pedagang dari berbagai latar belakang menjajakan dagangan di sekitarnya. Orang Arab datang dengan kain dan minyak wangi. Orang China membawa barang impor, peralatan rumah tangga, hingga kebutuhan grosir. Orang Sunda yang disebut Bumiputra di masa kolonial, mengisi pasar dengan hasil bumi dan makanan. Tiga kelompok inilah yang sering disebut sebagai asal-usul nama “ABC”: A untuk Arab, B untuk Bumiputra, dan C untuk China.

Versi populer ini memang terdengar logis. Jalan itu berada di jantung pasar, dan tiga komunitas tadi jelas paling berpengaruh di kawasan itu. Tak heran kalau narasi ini menyebar luas. Dalam banyak artikel sejarah populer maupun cerita mulut ke mulut, “ABC” dianggap singkatan dari etnis. Tiga huruf yang mewakili tiga kelompok besar. Simbol keragaman, simbol harmoni, dan tentu saja simbol perdagangan Bandung sejak abad ke-19.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Tapi sejarah JalanABC ternyata taksesederhana itu. Ada yang mengulik lebih dalam, mencari arsip, dan menemukan cerita lain. Atep Kurnia, penulis sejarah Bandung, meragukan narasi etnis tadi. Ia menelusuri arsip koran Belanda dan menemukan bahwa nama “ABC Straat” baru muncul resmi belakangan, sekitar tahun 1919. Sebelum itu, belum ditemukan keterangan jalan ini memang bernama ABC. Lalu dari mana datangnya? Menurut Atep, jawabannya ada pada sebuah toko besar: Toko ABC.

Toko ini milik Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang legendaris di Batavia. Ia mendirikan usahanya tahun 1902 di Weltevreden. Tak lama, ia membuka cabang di Bandung, tepat menghadap Pasar Baru. Nama tokonya simpel, gampang diingat, dan segera populer.

Iklan di koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 4 Oktober 1905 menegaskan keberadaan Toko ABC di Bandung, yang kala itu menjual kipas kertas. Dari sana, nama toko ini makin dikenal. Sampai akhirnya, orang-orang mulai menyebut jalan di depannya sebagai ABC Straat. Menurut Atep, baru pada 1919 nama itu banayk ditemukan di dokumen arsip.

Dalam peta tahun 1921, nama ABC-Straat sudah tercatat sebagai perpanjangan dari Achter Pasar-Straat menuju kawasan Pasar Baru. Catatan koran De Preanger-bode pada Juni 1919 menunjukkan bahwa Dewan Kota Bandung membahas permohonan untuk memperpanjang jalan ini ke arah Pasar Baru. Penamaan ABC-Straat disebut erat kaitannya dengan Toko ABC, cabang Toko Tio Tek Hong dari Batavia yang berdiri di Bandung sejak 1905.

Perdebatan soal asal-usul nama makin rumit ketika ada klaim bahwa “ABC Straat” sudah muncul sejak 1892. Klaim ini bersumber dari buku Bandoeng: The Mountain City of Netherlands India karya Steven Anne Reitsma. Beberapa penulis populer menyebut buku itu terbit 1892, sehingga nama ABC diyakini sudah ada sejak saat itu.

Jalan ABC Bandung hari ini. (Sumber: Ayobandung)
Jalan ABC Bandung hari ini. (Sumber: Ayobandung)

Tapi catatan sejarah tak sesederhana itu. Reitsma lahir tahun 1875, dan mustahil ia menulis buku tebal tentang Bandung di usia 17 tahun. Lebih masuk akal jika bukunya baru terbit pada 1926. Bibliografi dan data yang lebih solid juga mendukung tahun 1926.

Baca Juga: Hikayat Pasar Baru Bandung, Bermula dari Kerusuhan Ciguriang 1842

Jika benar terbitan awalnya adalah 1926, maka klaim bahwa nama ABC sudah eksis sejak 1892 jelas rapuh. Sebaliknya, hal ini memperkuat argumen Atep Kurnia bahwa nama “ABC Straat” baru digunakan setelah 1919. Apalagi, keberadaan Toko ABC di Bandung sudah terbukti lewat iklan 1905.

Jadi, nama jalan kemungkinan besar memang terinspirasi dari toko, bukan dari singkatan etnis. Versi etnis bisa jadi hanyalah narasi belakangan yang lahir dari kebiasaan masyarakat mencari makna di balik tiga huruf sederhana.

Setelah Indonesia merdeka, Jalan ABC tetap bertahan dengan namanya. Tidak seperti banyak jalan lain yang berganti nama menjadi nama pahlawan, Jalan ABC seakan terlalu melekat untuk diganti. Kawasan ini berkembang menjadi pusat perdagangan yang selalu hidup. Orang Bandung biasa membeli alat rumah tangga, kain, barang elektronik, hingga barang antik di sini.

Jalan ABC juga terkenal sebagai tempat berburu kuliner, terutama batagor dan siomay. Bangunan kolonial masih bisa ditemukan di sana, meski sebagian telah direnovasi. Jalan kecil ini seperti lorong waktu yang menghubungkan Bandung kolonial dengan Bandung modern.

Kini, Jalan ABC tetap berdiri di jantung kota. Namanya sederhana, tapi kisahnya panjang: dari pedagang Arab, Bumiputra, dan China yang sibuk berdagang di Pasar Baru; dari Toko ABC yang melegenda sejak 1905; dari perdebatan buku Reitsma yang ternyata baru terbit 1926; hingga warisan kolonial yang bertahan di tengah geliat modern. Jalan ABC bukan sekadar alamat, melainkan potret bagaimana sejarah kota bisa tersimpan dalam tiga huruf sederhana.

Baca Juga: Jejak Samar Sejarah Pecinan Bandung, dari Chineesche Kamp ke Ruko Klasik Pasar Baru

Bagi sebagian orang, versi akronim etnis terasa romantis: seolah Bandung sejak dulu adalah ruang harmoni Arab, Bumiputra, dan China. Bagi sebagian lain, versi Toko ABC lebih masuk akal: sejarah harus ditopang oleh arsip, bukan sekadar cerita populer. Dua versi ini berjalan berdampingan. Tidak ada yang benar-benar mutlak, tapi keduanya sama-sama memperkaya narasi tentang kota.

Yang jelas, Jalan ABC bukan sekadar jalan belanja. Ia adalah simbol keberagaman, simbol perdagangan, dan simbol sejarah Bandung. Nama tiga huruf itu menyimpan makna lebih besar dari yang terlihat. Dari kolonial sampai merdeka, dari peta lama sampai iklan koran, Jalan ABC tetap hadir, menjadi bagian dari denyut nadi kota. Tiga huruf, seribu cerita.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)