Urug Cisarua

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Jumat 30 Jan 2026, 13:06 WIB
Terlihat punggungan di antara lembah yang curam dan dalam. Longsor terjadi ketika ada gangguan kestabilan lereng. (Sumber: Istimewa)

Terlihat punggungan di antara lembah yang curam dan dalam. Longsor terjadi ketika ada gangguan kestabilan lereng. (Sumber: Istimewa)

Lereng-lereng selatan Gunung Burangrang (+2.064 m dpl) tampak geroak, berlembah-lembah dalam di antara punggungannya. Rona bumi lereng gunung ini, di antara satu punggungan dengan punggungan sebelahnya terlihat jarang, karena dipisahkan oleh lembah-lembah yang dalam. Sangat mungkin, keadaan ronabumi inilah yang menyebabkan gunung ini dinamai Gunung Burangrang.

Toponimi Burangrang, akar katanya rang atau rangrang. Menurut S Wojowasito (1977) dalam Kamus Kawi – Indonesia, kata rangrang bermakna jarang. Jadi sangat tepat, keadaan rona bumi yang terlihat jelas punggungan-punggungannya sangat jarang di antara lembah-lembah yang dalam.

Dalam ilmu-ilmu kebumian, keadaan rona bumi seperti lereng Gunung Burangrang itu disebut barranco (dibaca barrangko), istilah yang diadopsi dari bahasa Spanyol. Istilah itu digunakan untuk menamai lembah yang mirip parit yang dalam, bertebing curam, jurang, ngarai, sebagai hasil erosi dalam waktu yang lama. Di salah satu lembah yang dalam dan besar di antara gawir-gawir punggungan yang terjal, oleh karuhun di sana dinamai Legok Haji, mungkin bermakna lembah yang besar. Di ketinggian lereng +1.500 m dpl, ada yang lebar antar punggungannya mencapai 535 m, dengan kedalaman lembah lebih 100 m. 

Di sebelah timur Gunung Burangrang ada Gunung Tangkuban Perahu (+2,073 m dpl), dengan ronabumi lereng yang berbeda. Lerengnya masih terlihat masih mulus, kebalikan dari Gunung Burangrang. Keadaan ronabumi ini merupakan salah satu yang menjadi penanda, bahwa usia kedua gunung ini berbeda. Gunung Tangkuban Perahu usianya lebih muda, yang membangun dirinya dari kaldera Gunung Sunda sejak 90.000 tahun yang lalu.

Sedangkan Gunung Burangrang yang berada di tepian kaldera Gunung Sunda, sudah lahir pada periode letusan-letusan Gunung Sunda yang terjadi antara 210.000 – 105.000 tahun yang lalu. Atau, Gunung Burangrang itu lahir membangun dirinya pascaletusan Gunung Sunda yang membentuk kaldera 105.000 tahun yang lalu. Jadi ada perbedaan umur sekitar 15.000 tahun antara Gunung Burangrang dengan Gunung Tangkuban Perahu. Selama 105.000 tahun itulah, di lereng Gunung Burangrang pernah terjadi gejala kebumian, seperti denudasi, yang menyebabkan ronabuminya seperti sekarang.

Pada musim kawalu dalam kalender masyarakat Baduy, Sabtu (24/1/2026, pukul 03.00), terjadi longsor besar di lereng selatan Gunung Burangrang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Dalam Bahasa Sunda, urug atau longsor dalam bahasa Indonesia, terjadi bukan hanya karena sebab tunggal. Tapi terjadi karena terlampauinya keadaan kritis dari berbagai faktor, atau multi faktor pada musim dan waktu yang bersamaan.

Inilah beberapa skenario umum, bagaimana mekanisme terjadinya urug. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, seperti: pertama keadaan tutupan lahan – pengelolaannya, kedua jenis batuan – tanah – lapisannya, ketiga kemiringan lahan, keempat tekanan – getaran beban, kelima berada di jalur sesar – gempa bumi, dan keenam curah hujan – waktu jenuh. Beberapa atau gabungan beragam faktor yang melampaui daya kritis lahan inilah, yang menyebabkan urug terjadi secara sempurna. 

Keadaan tutupan lahan dan pengelolaannya, akan sangat mempengaruhi gaya dorong geser (dari lereng atas) dan gaya tahan geser (dari lereng bawah). Misalnya tutupan lahan di puncak gunung masih bagus, tapi di lereng bawah, tutupan lahannya sudah berganti menjadi kebun sayur musiman, yang setiap panen dicerabut. Sayur itu ditanam di tanah gembur hasil letusan Gunung Burangrang dan kemudian dari letusan Gunung Tangkuban Perahu. Sifat tanah hasil letusan gunungapi yang gembur itu daya ikat antar butir tanahnya longgar, sehingga ketika hujan turun di lahan yang tanpa tutupan pohon, air akan meresap dengan cepat, dan tanah pucuknya yang terciprat, akan hanyut bersama limpasan air. Bila curahan air meteorik terus membesar, maka air itu akan semakin terkumpul di dalam tanah gembur yang tanpa tutupan, tanpa pelukan akar, sehingga air berfungsi menjadi pengencer ikatan tanah gembur tersebut, yang berubah menjadi bubur tanah. Titik jenuhnya yang paling sempurna terjadi pada malam hari, ketika tidak ada penguapan.

Dalam keadaan titik jenuh tanah inilah gaya tahan geser menjadi sangat menurun ketahanannya, menyebabkan munculnya retakan-retakan yang berkembang menjadi rekahan, menjadi torehan yang sejajar dengan garis kontur. Air meteorik dengan leluasa meresap melalui sobekan-sobekan tanah, dan pada titik jenuh yang melampaui gaya tahan gesernya, terjadilah urug.

Longsor yang diawali terjadi di punggungan gunung itu, akan menyebabkan kestabilan lereng berkurang, bahkan hilang. Keadaan ini yang menyebabkan gaya tahan gesernya akan semakin mengecil, semakin melemah, bahkan hilang, sementara gaya dorong gesernya berubah menjadi semakin membesar, semakin menguat. Ditambah faktor kemiringan lereng yang curam, jenis tanah yang gembur dan berada di atas lapisan batuan yang keras tak tembus air, maka longsor yang terjadi itu akan menarik bagian atas atau kawasan berada di atas di lereng yang lebih tinggi, walaupun tutupan lahannya masih berupa pohon kayu yang kuat.

Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Begitulah mekanisme alam berlangsung. Kait mengait. Dalam kasus yang lain, walau tutupan lahan di lereng bawah masih relatif bagus, namun di lereng atasnya terjadi gangguan, menyebabkan kestabilan lereng menjadi terganggu. Hal ini akan menyebabkan gaya dorong gesernya menjadi menguguat, sementara gaya tahan gesernya akan semakin lemah karena adanya desakan itu.

Bila hujan terus berlangsung, air meteorik dapat lebih leluasa meresap, menyebabkan tanah semakin menjadi bubur yang ikatannya sangat lemah. Di atas lereng yang curam, di atas ketinggian +1.400 m dpl, masih ada bagian tanah yang sudah melorot, namun tidak terlongsorkan. Inilah salah satu yang harus diwaspadai adanya luncuran lahar purba Gunung Burangrang.

Urug Cisarua merupakan prototipe longsor yang bisa saja terjadi di lereng-lereng gunung di Jawa Barat, yang keadaan tutupan lahannya sudah sangat kritis. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita, bahwa nilai ekonomi dari lahan kritis tidak sebanding dengan nilai kemanusiaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)