Koh Sonny, Peneratas Lintas Agama, dan Petualangan ‘Hidden Gem’ di Bandung

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Minggu 01 Feb 2026, 12:07 WIB
Sonny dan Dua Rekan Lintas Agamanya (Sumber: Dokumentasi Pribadi Sonny | Foto: Salah Seorang Kawan Sonny)

Sonny dan Dua Rekan Lintas Agamanya (Sumber: Dokumentasi Pribadi Sonny | Foto: Salah Seorang Kawan Sonny)

Ia tidak makan babi—menentang stereotip umum tentang menjadi Tionghoa Kristen—namun juga bukan karena alasan teologis seperti ahimsa dalam Jain atau gaya hidup Advent. Sekedar kebiasaan sejak kecil, yang entah sulit dijelaskan katanya. Karma atau takdirnya saja. “Saya makan telor kok,” di samping favoritnya pada tahu dan tempe.

Akrab disapa Koh Sonny, adalah sosok yang mudah dikenali dari perawakannya yang berisi dan pendar matanya yang khas. Ignatius, yang merangkai nama depannya, menunjukkan ciri baptisan Katolik yang diterimanya. Ini adalah kisah kecil yang besar, dari Ciroyom, Andir. Dari masa-masa ketika ia lari-lari di sekitar klenteng dan vihara dekat pasar, menatap hio dan lilin yang menyala, sambil meresapi kehidupan lewat lapak-lapak dagang dan banyak wajah. Hingga hasratnya yang sempat menaruh hati pada kaul seorang pastor.

Sembari mengabdikan diri sebagai seorang guru bahasa Inggris di sekolah Protestan—akrab menatap salib tanpa corpus. Sejak 2023 Sonny Hermawan melanjutkan studi pascasarjana di Religious Studies, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan beasiswa dari Keuskupan Bandung, sebagai pengakuan atas dedikasinya dalam membangun dialog lintas agama. Di kampus yang pernah salah sangka mengenalnya, ketika seleksi masuk di tes mengaji.

Kiprahnya dalam gerakan lintas iman di Bandung dan Jawa Barat memang tak bisa diragukan. Dan justru itulah alasan tulisan ini hadir. Ayah dengan tiga orang putri ini menjabat ketua lingkungan umat, di Paroki Gereja St. Mikael ia mengatur acara buka bersama bulan puasa termasuk menemani berbagai mahasiswa yang ingin mengenal keragaman gereja bahkan agama-agama lain, dan menjadi saksi soal penerimaan angket azan yang memancing percakapan pengalaman toleransi sehari-hari di dalam gang. Ia juga duduk di Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan di Keuskupan Bandung.

Ambil Peran dalam Gerakan

Jika di dunia, percikan dialog lintas agama muncul pertama kali di Kongres Agama-Agama Dunia 1893 di Chicago, dan kemudian disemai lebih jauh melalui gema Konsili Vatikan II (1962-1965), maka di Indonesia benihnya ditanam lewat Musyawarah Antarumat Beragama 30 November 1967, dan tumbuh subur dalam tangan masyarakat sipil melalui lembaga seperti DIAN/Interfidei (1992), MADIA (1995), dan LKiS (1980-an) (J.B. Banawiratma, dkk., Dialog Antarumat Beragama: Gagasan dan Praktik di Indonesia, 2010).

Di Jawa Barat, khususnya Bandung, percikan lintas agama menemukan wajahnya sendiri. Pada 2000, melalui Lembaga Pengajian Umum Keislaman UIN Sunan Gunung Djati, lahir komunitas PAKUAN—Paguyuban Anti Diskriminasi Agama, Adat, dan Kepercayaan—yang menitikberatkan pada hubungan dengan agama leluhur. Dari lokakarya MADIA dan Desantara Institute muncul JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama), forum yang lebih luas, fokus pada dialog lintas agama, perdamaian, dan pembelajaran lintas generasi, merespons konflik di Maluku, Ambon, dan Aceh. PAKUAN dan JAKATARUB awalnya berjalan beriringan dengan kader NU dan PMII, tapi seiring waktu JAKATARUB di Bandung menjadi lebih aktif, melibatkan generasi muda dan bekerja sama dengan forum seperti FLADS yang lahir pada 2010 (Dwi Wahyuni, Gerakan Dialog Keagamaan: Ruang Perjumpaan Antar Umat Beragama Di Kota Bandung, 2019).

Dalam dinamika dialog lintas agama di Bandung, JAKATARUB muncul bukan hanya sebagai komunitas, tapi sebagai ruang perjumpaan untuk orang-orang yang ingin saling memahami. Salah satu tokoh penting dalam perjalanan ini adalah Sonny Hermawan. Sejak mengikuti perkemahan Youth Interfaith Camp pada 2005, Sonny perlahan menempati posisi strategis dalam generasi baru JAKATARUB. Periode itu bukanlah saat yang mudah—JAKATARUB sempat redup, jejaring lama terputus, dan generasi baru harus menyalakan kembali semangat dialog yang sempat padam.

“Saya termasuk orang yang kasih warna khas, komunitas ini akhirnya punya karakter lintas agama yang unik.” Ungkapnya.

Sonny hadir sebagai penghubung bagi gereja-gereja non-mainstream dan komunitas Barat yang sebelumnya jarang tersentuh dialog. Dengan langkahnya, JAKATARUB mampu menjangkau kelompok yang kerap berada di pinggiran perhatian, membuka ruang untuk pengenalan agama-agama yang sensitif termasuk ateisme, Yahudi, dan Ahmadiyah. Peran Sonny menjadi jembatan yang membuat dialog hidup, hangat, dan berani menghadirkan keragaman ke ranah nyata di tengah masyarakat (Dwi Wahyuni, Gerakan Dialog Keagamaan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) dan Kontribusinya terhadap Kerukunan Hidup Umat Beragama di Kota Bandung, 2018).

Metode Eksplorasi Luar-Dalam 

Bagi Sonny Hermawan, lintas agama adalah sebuah lakon—sebuah cara mengada yang berada di antara perspektif dan praksis, antara gagasan dan tindakan. Pendekatan lintas agama adalah praktik nyata yang menuntut analisis, kepekaan, dan kemampuan membangun hubungan. Arahnya tidak hanya keluar, menjangkau orang lain, tetapi juga ke dalam, menggali kompleksitas internal satu agama sendiri. Inilah yang ia sebut sebagai, “Saya mah pendekatan agama-agama dan ekumenis.”

Ide dan praktik Sonny menekankan pentingnya mengenal dan memberi ruang bagi identitas-identitas religius yang sering berada di pinggiran perhatian. Keberaniannya menjangkau Yahudi, misalnya, selaras dengan pengalamannya yang menjumpai seorang Jain di Bandung melalui Facebook, lalu bertamu dan makan bersama. Ia juga ikut terlibat di tengah-tengah komunitas Sikhi, menyanyikan Gurbani dan membaca kitab suci Guru Granth Sahib di Gurdwara. Dengan cara ini, Sonny menunjukkan kepada kita bahwa agama-agama yang jarang dikenal tetap hadir di sekitar kita, dan penting untuk diakui. Menurutnya, “12 agama-agama dunia—selain yang dikenal di Indonesia—ada juga Zoroaster, Jain, Shinto, atau Baha’i.”

Jangkauannya terhadap kelompok-kelompok liminal tidak hanya pada Ahmadiyah, juga Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir (Mormon), I Kuan Tao (Buddha Maitreya), atau Kepercayaan Parmalim ‘diaspora’ di Bandung, menunjukkan bahwa bagi Sonny, minoritas bukan sekadar kelompok yang hak-haknya perlu dilindungi, tetapi juga simbol keragaman internal yang harus diperhitungkan. Mereka menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dialog untuk melampaui kategori agama yang mapan, sekaligus menegaskan pentingnya memahami keragaman yang tersembunyi, sensitif, dan kompleks.

Peringatan Paskah Ke-75 Perwakilan Gereja-Gereja dan Perkumpulan Kristen Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Sonny | Foto: Salah Seolah Kawan Sonny)
Peringatan Paskah Ke-75 Perwakilan Gereja-Gereja dan Perkumpulan Kristen Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Sonny | Foto: Salah Seolah Kawan Sonny)

Metode Sonny dalam menjembatani perbedaan terlihat sederhana, tapi sangat strategis. Ia menghubungkan yang ‘resmi’ dengan yang ‘non-resmi’, yang mainstream dengan yang ultra-minoritas, yang keluar dengan yang dalam. Praktiknya menuntut ketekunan, menyisir lanskap keragaman internal seperti mengupas bawang, langkah demi langkah, mengajak dialog, menemui orang, dan menjalin perkenalan langsung. Ia menolak tergesa-gesa untuk menyamakan semua fenomena beragama, selalu melihat sisi pengecualian, dan mengeksplorasi bentuk-bentuk yang tidak mudah dikategorisasi.

Ia bisa sekritis melihat ada aras Kristen nasional yang kerap dilupakan, seperti Persekutuan Gereja-Gereja Tionghoa di Indonesia, “Tapi ini perbedaannya bukan berbasis pandangan teologis lebih ke identitas etnis-primordial.” Sonny menegaskan, “Kita kan biasanya hanya tahu Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), KWI, PGLII, PGPI, PBI, GMAHK, Bala Keselamatan, GOI… tapi masih ada yang lain.” Sonny juga jeli memberi masukan untuk acara lintas agama. Saat teman-teman Konghucu ingin mengundang pihak lain, ia mengingatkan agar tidak hanya mengundang WALUBI, karena banyak vihara di Bandung justru tidak terhubung dengan organisasi itu—ia ingin keragaman terwakili secara nyata.

Semua ini dilakukan Sonny melalui literasi yang tajam dan kepekaan tinggi. Dengan membaca, meneliti, mengamati, dan selalu mengajak berdialog secara langsung. Ia melakukannya di mana saja, bersama siapa saja. Laboratorium utamanya adalah JAKATARUB, yang sejauh ini menjadi komunitas lintas agama tertua dengan signifikan di Bandung dan Jawa Barat. Di mana peran Sonny memberi warna signifikan bagi gerakan lintas agama lokal.

Merefleksikannya

Dari sinilah terlihat bahwa posisi dan peran Sonny Hermawan sangat strategis. Ia bukan sekadar pemikir atau fasilitator, ia adalah praktisi yang secara nyata membawa gagasan lintas agama ke ranah tindakan. Lakon dan desain lintas imannya jarang terdokumentasi, karena ia lebih banyak bertindak daripada menulis—tetapi justru di situlah keunikannya.

Di tengah dialog lintas agama yang sering berhenti pada slogan atau retorika yang diulang-ulang, tindakan Sonny adalah sesuatu yang mahal. Bahwa ini nyata, langsung, dan efektif. Ia hadir untuk menunjukkan peta keragaman secara konkret—di mana keberagaman itu bersarang, di mana kelompok-kelompok yang kaya itu hadir, dan bagaimana berbagai identitas religius saling berinteraksi di Bandung.

Secara konsep, pendekatan Sonny otentik dan punya daya praktis yang kuat. Kejujurannya dalam menggali kebinekaan membuatnya mampu menyingkap lapisan-lapisan keragaman yang biasanya terlewat atau tersembunyi. Bersamanya, seseorang bisa mengalami eureka moment berkali-kali—menyadari bahwa keragaman adalah realitas hidup yang bisa dipahami dan ditemui. Dia seperti membimbing kita dalam wisata agama-agama di Bandung, mengenali wajah-wajah yang jarang diperhatikan, memetakan lokasi sosial-religius mereka, dan meneguk kompleksitas kehidupan beragama yang tiada habisnya.

Karena itulah, Sonny bukan hanya relevan bagi kalangan pegiat toleransi, mediator konflik, atau pengurus FKUB, tetapi juga aset yang wajib dijangkau bagi pemuka agama, tokoh adat, pengurus organisasi keagamaan, para cendekia, akademisi studi agama-humaniora, bahkan staf dan kabid di Bakesbangpol. Pengalaman dan metode Sonny menunjukkan bahwa gagasan lintas agama bisa diubah menjadi strategi praktis, solusi nyata, dan ruang dialog yang hidup—sesuatu yang jarang ditemukan di ranah teori semata. Keberadaannya adalah pengingat bahwa keragaman Bandung, dengan segala peliknya, membutuhkan pendekatan yang tidak hanya dipahami tapi dijalani.

Baca Juga: Dari Jubileumpark ke Kebun Binatang Bandung, Sejarawan Kritik Pengelolaan Warisan Kota

Buat Kita Hari Ini

Kehadiran Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 13 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Toleransi Kehidupan Bermasyarakat menegaskan urgensi praktik nyata dalam membangun keragaman yang harmonis. Di sinilah metode dan pengalaman Sonny Hermawan menjadi sangat relevan. Gagasan lintas agama yang ia jalankan secara konsisten sejak lama tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga aplikatif dan mampu menguji implementasi perda, merancang rencana aksi daerah, serta memberikan panduan nyata bagi pengelolaan keragaman di lapangan.

Dalam tren global yang kini ramai membicarakan dekolonialisasi studi agama dan dialog lintas agama, Sonny telah melakukan hal serupa jauh sebelumnya, dengan gaya khas yang kontekstual dan sangat terikat pada realitas lokal Bandung. Alih-alih mencari teori-teori yang rumit atau jargon akademis yang njelimet, pendekatan Sonny menawarkan model langsung dan relevan bagaimana mengidentifikasi keragaman tersembunyi dan menghadirkan praktik toleransi yang nyata.

Orang Sunda mengenal istilah taratas/naratas—membuka jalan baru—atau ngababakan, membangun kampung baru. Sonny kiranya berperan seperti itu seorang penjelajah dari sebuah ekspedisi yang menembus rimba raya lintas agama, sekaligus menandai dan membangun ‘pemukiman’ yang kini bisa dilalui, disinggahi oleh orang lain. Ia bukan sekadar pengamat, ia pelopor yang membuka jalur praktis dan membumikan dialog lintas iman di Bandung. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)