Koh Sonny, Peneratas Lintas Agama, dan Petualangan ‘Hidden Gem’ di Bandung

8 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Sonny dan Dua Rekan Lintas Agamanya (Sumber: Dokumentasi Pribadi Sonny | Foto: Salah Seorang Kawan Sonny)
Sonny dan Dua Rekan Lintas Agamanya (Sumber: Dokumentasi Pribadi Sonny | Foto: Salah Seorang Kawan Sonny)

Ia tidak makan babi—menentang stereotip umum tentang menjadi Tionghoa Kristen—namun juga bukan karena alasan teologis seperti ahimsa dalam Jain atau gaya hidup Advent. Sekedar kebiasaan sejak kecil, yang entah sulit dijelaskan katanya. Karma atau takdirnya saja. “Saya makan telor kok,” di samping favoritnya pada tahu dan tempe.

Akrab disapa Koh Sonny, adalah sosok yang mudah dikenali dari perawakannya yang berisi dan pendar matanya yang khas. Ignatius, yang merangkai nama depannya, menunjukkan ciri baptisan Katolik yang diterimanya. Ini adalah kisah kecil yang besar, dari Ciroyom, Andir. Dari masa-masa ketika ia lari-lari di sekitar klenteng dan vihara dekat pasar, menatap hio dan lilin yang menyala, sambil meresapi kehidupan lewat lapak-lapak dagang dan banyak wajah. Hingga hasratnya yang sempat menaruh hati pada kaul seorang pastor.

Sembari mengabdikan diri sebagai seorang guru bahasa Inggris di sekolah Protestan—akrab menatap salib tanpa corpus. Sejak 2023 Sonny Hermawan melanjutkan studi pascasarjana di Religious Studies, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan beasiswa dari Keuskupan Bandung, sebagai pengakuan atas dedikasinya dalam membangun dialog lintas agama. Di kampus yang pernah salah sangka mengenalnya, ketika seleksi masuk di tes mengaji.

Kiprahnya dalam gerakan lintas iman di Bandung dan Jawa Barat memang tak bisa diragukan. Dan justru itulah alasan tulisan ini hadir. Ayah dengan tiga orang putri ini menjabat ketua lingkungan umat, di Paroki Gereja St. Mikael ia mengatur acara buka bersama bulan puasa termasuk menemani berbagai mahasiswa yang ingin mengenal keragaman gereja bahkan agama-agama lain, dan menjadi saksi soal penerimaan angket azan yang memancing percakapan pengalaman toleransi sehari-hari di dalam gang. Ia juga duduk di Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan di Keuskupan Bandung.

Ambil Peran dalam Gerakan

Jika di dunia, percikan dialog lintas agama muncul pertama kali di Kongres Agama-Agama Dunia 1893 di Chicago, dan kemudian disemai lebih jauh melalui gema Konsili Vatikan II (1962-1965), maka di Indonesia benihnya ditanam lewat Musyawarah Antarumat Beragama 30 November 1967, dan tumbuh subur dalam tangan masyarakat sipil melalui lembaga seperti DIAN/Interfidei (1992), MADIA (1995), dan LKiS (1980-an) (J.B. Banawiratma, dkk., Dialog Antarumat Beragama: Gagasan dan Praktik di Indonesia, 2010).

Di Jawa Barat, khususnya Bandung, percikan lintas agama menemukan wajahnya sendiri. Pada 2000, melalui Lembaga Pengajian Umum Keislaman UIN Sunan Gunung Djati, lahir komunitas PAKUAN—Paguyuban Anti Diskriminasi Agama, Adat, dan Kepercayaan—yang menitikberatkan pada hubungan dengan agama leluhur. Dari lokakarya MADIA dan Desantara Institute muncul JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama), forum yang lebih luas, fokus pada dialog lintas agama, perdamaian, dan pembelajaran lintas generasi, merespons konflik di Maluku, Ambon, dan Aceh. PAKUAN dan JAKATARUB awalnya berjalan beriringan dengan kader NU dan PMII, tapi seiring waktu JAKATARUB di Bandung menjadi lebih aktif, melibatkan generasi muda dan bekerja sama dengan forum seperti FLADS yang lahir pada 2010 (Dwi Wahyuni, Gerakan Dialog Keagamaan: Ruang Perjumpaan Antar Umat Beragama Di Kota Bandung, 2019).

Dalam dinamika dialog lintas agama di Bandung, JAKATARUB muncul bukan hanya sebagai komunitas, tapi sebagai ruang perjumpaan untuk orang-orang yang ingin saling memahami. Salah satu tokoh penting dalam perjalanan ini adalah Sonny Hermawan. Sejak mengikuti perkemahan Youth Interfaith Camp pada 2005, Sonny perlahan menempati posisi strategis dalam generasi baru JAKATARUB. Periode itu bukanlah saat yang mudah—JAKATARUB sempat redup, jejaring lama terputus, dan generasi baru harus menyalakan kembali semangat dialog yang sempat padam.

“Saya termasuk orang yang kasih warna khas, komunitas ini akhirnya punya karakter lintas agama yang unik.” Ungkapnya.

Sonny hadir sebagai penghubung bagi gereja-gereja non-mainstream dan komunitas Barat yang sebelumnya jarang tersentuh dialog. Dengan langkahnya, JAKATARUB mampu menjangkau kelompok yang kerap berada di pinggiran perhatian, membuka ruang untuk pengenalan agama-agama yang sensitif termasuk ateisme, Yahudi, dan Ahmadiyah. Peran Sonny menjadi jembatan yang membuat dialog hidup, hangat, dan berani menghadirkan keragaman ke ranah nyata di tengah masyarakat (Dwi Wahyuni, Gerakan Dialog Keagamaan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) dan Kontribusinya terhadap Kerukunan Hidup Umat Beragama di Kota Bandung, 2018).

Metode Eksplorasi Luar-Dalam 

Bagi Sonny Hermawan, lintas agama adalah sebuah lakon—sebuah cara mengada yang berada di antara perspektif dan praksis, antara gagasan dan tindakan. Pendekatan lintas agama adalah praktik nyata yang menuntut analisis, kepekaan, dan kemampuan membangun hubungan. Arahnya tidak hanya keluar, menjangkau orang lain, tetapi juga ke dalam, menggali kompleksitas internal satu agama sendiri. Inilah yang ia sebut sebagai, “Saya mah pendekatan agama-agama dan ekumenis.”

Ide dan praktik Sonny menekankan pentingnya mengenal dan memberi ruang bagi identitas-identitas religius yang sering berada di pinggiran perhatian. Keberaniannya menjangkau Yahudi, misalnya, selaras dengan pengalamannya yang menjumpai seorang Jain di Bandung melalui Facebook, lalu bertamu dan makan bersama. Ia juga ikut terlibat di tengah-tengah komunitas Sikhi, menyanyikan Gurbani dan membaca kitab suci Guru Granth Sahib di Gurdwara. Dengan cara ini, Sonny menunjukkan kepada kita bahwa agama-agama yang jarang dikenal tetap hadir di sekitar kita, dan penting untuk diakui. Menurutnya, “12 agama-agama dunia—selain yang dikenal di Indonesia—ada juga Zoroaster, Jain, Shinto, atau Baha’i.”

Jangkauannya terhadap kelompok-kelompok liminal tidak hanya pada Ahmadiyah, juga Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir (Mormon), I Kuan Tao (Buddha Maitreya), atau Kepercayaan Parmalim ‘diaspora’ di Bandung, menunjukkan bahwa bagi Sonny, minoritas bukan sekadar kelompok yang hak-haknya perlu dilindungi, tetapi juga simbol keragaman internal yang harus diperhitungkan. Mereka menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dialog untuk melampaui kategori agama yang mapan, sekaligus menegaskan pentingnya memahami keragaman yang tersembunyi, sensitif, dan kompleks.

Peringatan Paskah Ke-75 Perwakilan Gereja-Gereja dan Perkumpulan Kristen Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Sonny | Foto: Salah Seolah Kawan Sonny)
Peringatan Paskah Ke-75 Perwakilan Gereja-Gereja dan Perkumpulan Kristen Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi Sonny | Foto: Salah Seolah Kawan Sonny)

Metode Sonny dalam menjembatani perbedaan terlihat sederhana, tapi sangat strategis. Ia menghubungkan yang ‘resmi’ dengan yang ‘non-resmi’, yang mainstream dengan yang ultra-minoritas, yang keluar dengan yang dalam. Praktiknya menuntut ketekunan, menyisir lanskap keragaman internal seperti mengupas bawang, langkah demi langkah, mengajak dialog, menemui orang, dan menjalin perkenalan langsung. Ia menolak tergesa-gesa untuk menyamakan semua fenomena beragama, selalu melihat sisi pengecualian, dan mengeksplorasi bentuk-bentuk yang tidak mudah dikategorisasi.

Ia bisa sekritis melihat ada aras Kristen nasional yang kerap dilupakan, seperti Persekutuan Gereja-Gereja Tionghoa di Indonesia, “Tapi ini perbedaannya bukan berbasis pandangan teologis lebih ke identitas etnis-primordial.” Sonny menegaskan, “Kita kan biasanya hanya tahu Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), KWI, PGLII, PGPI, PBI, GMAHK, Bala Keselamatan, GOI… tapi masih ada yang lain.” Sonny juga jeli memberi masukan untuk acara lintas agama. Saat teman-teman Konghucu ingin mengundang pihak lain, ia mengingatkan agar tidak hanya mengundang WALUBI, karena banyak vihara di Bandung justru tidak terhubung dengan organisasi itu—ia ingin keragaman terwakili secara nyata.

Semua ini dilakukan Sonny melalui literasi yang tajam dan kepekaan tinggi. Dengan membaca, meneliti, mengamati, dan selalu mengajak berdialog secara langsung. Ia melakukannya di mana saja, bersama siapa saja. Laboratorium utamanya adalah JAKATARUB, yang sejauh ini menjadi komunitas lintas agama tertua dengan signifikan di Bandung dan Jawa Barat. Di mana peran Sonny memberi warna signifikan bagi gerakan lintas agama lokal.

Merefleksikannya

Dari sinilah terlihat bahwa posisi dan peran Sonny Hermawan sangat strategis. Ia bukan sekadar pemikir atau fasilitator, ia adalah praktisi yang secara nyata membawa gagasan lintas agama ke ranah tindakan. Lakon dan desain lintas imannya jarang terdokumentasi, karena ia lebih banyak bertindak daripada menulis—tetapi justru di situlah keunikannya.

Di tengah dialog lintas agama yang sering berhenti pada slogan atau retorika yang diulang-ulang, tindakan Sonny adalah sesuatu yang mahal. Bahwa ini nyata, langsung, dan efektif. Ia hadir untuk menunjukkan peta keragaman secara konkret—di mana keberagaman itu bersarang, di mana kelompok-kelompok yang kaya itu hadir, dan bagaimana berbagai identitas religius saling berinteraksi di Bandung.

Secara konsep, pendekatan Sonny otentik dan punya daya praktis yang kuat. Kejujurannya dalam menggali kebinekaan membuatnya mampu menyingkap lapisan-lapisan keragaman yang biasanya terlewat atau tersembunyi. Bersamanya, seseorang bisa mengalami eureka moment berkali-kali—menyadari bahwa keragaman adalah realitas hidup yang bisa dipahami dan ditemui. Dia seperti membimbing kita dalam wisata agama-agama di Bandung, mengenali wajah-wajah yang jarang diperhatikan, memetakan lokasi sosial-religius mereka, dan meneguk kompleksitas kehidupan beragama yang tiada habisnya.

Karena itulah, Sonny bukan hanya relevan bagi kalangan pegiat toleransi, mediator konflik, atau pengurus FKUB, tetapi juga aset yang wajib dijangkau bagi pemuka agama, tokoh adat, pengurus organisasi keagamaan, para cendekia, akademisi studi agama-humaniora, bahkan staf dan kabid di Bakesbangpol. Pengalaman dan metode Sonny menunjukkan bahwa gagasan lintas agama bisa diubah menjadi strategi praktis, solusi nyata, dan ruang dialog yang hidup—sesuatu yang jarang ditemukan di ranah teori semata. Keberadaannya adalah pengingat bahwa keragaman Bandung, dengan segala peliknya, membutuhkan pendekatan yang tidak hanya dipahami tapi dijalani.

Baca Juga: Dari Jubileumpark ke Kebun Binatang Bandung, Sejarawan Kritik Pengelolaan Warisan Kota

Buat Kita Hari Ini

Kehadiran Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 13 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Toleransi Kehidupan Bermasyarakat menegaskan urgensi praktik nyata dalam membangun keragaman yang harmonis. Di sinilah metode dan pengalaman Sonny Hermawan menjadi sangat relevan. Gagasan lintas agama yang ia jalankan secara konsisten sejak lama tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga aplikatif dan mampu menguji implementasi perda, merancang rencana aksi daerah, serta memberikan panduan nyata bagi pengelolaan keragaman di lapangan.

Dalam tren global yang kini ramai membicarakan dekolonialisasi studi agama dan dialog lintas agama, Sonny telah melakukan hal serupa jauh sebelumnya, dengan gaya khas yang kontekstual dan sangat terikat pada realitas lokal Bandung. Alih-alih mencari teori-teori yang rumit atau jargon akademis yang njelimet, pendekatan Sonny menawarkan model langsung dan relevan bagaimana mengidentifikasi keragaman tersembunyi dan menghadirkan praktik toleransi yang nyata.

Orang Sunda mengenal istilah taratas/naratas—membuka jalan baru—atau ngababakan, membangun kampung baru. Sonny kiranya berperan seperti itu seorang penjelajah dari sebuah ekspedisi yang menembus rimba raya lintas agama, sekaligus menandai dan membangun ‘pemukiman’ yang kini bisa dilalui, disinggahi oleh orang lain. Ia bukan sekadar pengamat, ia pelopor yang membuka jalur praktis dan membumikan dialog lintas iman di Bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)