AYOBANDUNG.ID - Berangkat dari kritik atas cara pemerintah daerah memperlakukan warisan sejarah dan ingatan kolektif warga, sejarawan asal Bandung Yudi Hamzah merilis buku “Kado Untuk Bandung: Taman Menjadi Kebun Binatang”. Buku ini diterbitkan bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-215 Kota Bandung dan menyoroti makna historis Kebun Binatang Bandung sebagai bagian dari identitas kota.
Yudi menjelaskan, gagasan buku tersebut berangkat dari peristiwa pada 1931. Saat itu, dalam rangka ulang tahun ke-25 Kota Bandung, Dewan Kota memberikan “kado” kepada warga berupa pembangunan taman kota berskala besar yang diberi nama Jubileumpark, kawasan yang kini dikenal sebagai Kebun Binatang Bandung.
“Dulu, pihak pemkot mengambil inisiatif untuk memberikan kado kepada masyarakat saat merayakan hari jadi kota, bukan meminta sumbangan dari warga. Mereka sepakat untuk menciptakan taman sebagai kenang-kenangan yang dapat dinikmati dalam waktu yang lama,” ungkap Yudi saat dijumpai di Gedung Indonesia Menggugat, Jumat (30/1/2026).

Dalam penelitiannya, Yudi menelusuri perubahan Jubileumpark seluas sekitar lima hektare di lembah Sungai Cikapundung yang pada 1933 kemudian difungsikan sebagai rumah permanen bagi satwa-satwa dari Kebun Binatang Dago dan Cimindi. Ia menilai kawasan tersebut tidak sekadar ruang hijau, melainkan sebuah “Museum Alam Kota”.
“Terdapat pohon-pohon Karet Kebo yang sangat besar, serta berbagai tanaman tropis yang sengaja dihimpun sejak era kolonial Belanda. Jika kebun binatang tersebut hilang dan hanya berubah jadi taman biasa, maka identitas Bandung sebagai kota taman yang komprehensif akan lenyap,” jelasnya.
Yudi juga mengulas julukan lama Bandung sebagai “Meksiko di Priangan”, sebutan yang muncul karena banyaknya taman kota meskipun pepohonan saat itu belum tumbuh besar. Menurutnya, pohon-pohon yang kini memberi keteduhan di Bandung merupakan hasil penanaman pada rentang 1920–1930-an, yang manfaat ekologisnya baru terasa puluhan tahun kemudian.

Peluncuran buku ini juga menjadi respons atas wacana kebijakan pemerintah kota yang mengajukan tiga opsi terkait masa depan Kebun Binatang Bandung, termasuk kemungkinan penutupan total dan pengalihfungsian kawasan tersebut menjadi ruang terbuka hijau murni.
Yudi menilai opsi tersebut berisiko menghapus ingatan bersama warga kota. Ia membandingkan Kebun Binatang Bandung dengan Persib atau Gedung Sate sebagai simbol kultural yang lahir dari sejarah dan dimiliki secara kolektif oleh masyarakat.
“Jika kebun binatang itu hilang, maka salah satu ciri khas Bandung akan lenyap. Saya menulis ini sebagai kado saya untuk ulang tahun ke-215 Bandung, dengan harapan agar pemerintah lebih menyadari pentingnya sejarah kota ini. Jangan sampai kita terus kehilangan landmark, setelah sebelumnya kehilangan Pemandian Cihampelas dan bangunan sejarah lainnya,” tutup Yudi.
