Burayot, Camilan Legit Khas Priangan yang Tersimpan Rahasia Kuliner Sunda

4 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Burayot. (Foto: Dok. Ayobandung.com)
Burayot. (Foto: Dok. Ayobandung.com)

Bagi kalian pecinta kuliner Sunda pastinya tahu dong dengan pepatah “Anu amis teu kudu mahal, asal ngahudang rasa syukur.” Artinya, Yang manis tharus mahal, asal membangkitkan rasa syukur.

Di balik sejuknya angin pegunungan dan hamparan sawah hijau di tanah Priangan, tersimpan cerita tentang bagaimana masyarakat Sunda hidup berdampingan dengan alam. Tanah yang subur memberi padi, singkong, kelapa, dan gula aren — bahan-bahan yang kelak menjadi dasar dari camilan tradisional yang melegenda.

Bagi orang Sunda, masakan dan jajanan bukan sekadar pengisi perut. Ia adalah bagian dari kehidupan sosial. Setiap camilan punya momen: ada yang disajikan untuk tamu, ada yang dibuat bersama keluarga menjelang hari raya, ada pula yang hanya muncul saat panen tiba. Dari situ, lahirlah budaya rasa yang erat kaitannya dengan nilai silih asih, silih asah, silih asuh — saling menyayangi, belajar, dan membimbing dalam kebersamaan.

Kehidupan agraris orang Sunda melahirkan kreativitas luar biasa dalam mengolah hasil bumi. Saat panen padi berlimpah, muncul opak dan rangginang. Ketika singkong tumbuh subur di ladang, jadilah peuyeum, keripik singkong, dan burayot. Dari gula aren di pegunungan, lahirlah rasa manis alami yang kemudian menjadi ciri khas camilan dari tatar Priangan. Bahan-bahan ini diolah dengan alat sederhana — wajan tanah, kukusan bambu, dan tungku kayu — tapi menghasilkan cita rasa yang tak tertandingi. Bukan sekadar karena resepnya, tapi karena dibuat dengan rasa ikhlas dan gotong royong.

Jadilah dapur di rumah Sunda bukan sekadar tempat memasak. Ia adalah pusat kehidupan. Di sanalah ibu-ibu dan anak gadis belajar mengenal rasa, bercakap sambil menyiapkan adonan, dan tertawa bersama di antara kepulan asap wajan. Camilan seperti burayot tidak pernah lahir dari satu tangan, melainkan dari kebersamaan. Proses pembuatannya yang panjang — dari menyiapkan bahan, menggoreng, hingga melapisi dengan gula merah panas — dilakukan bersama. Tak heran jika setiap gigitan burayot membawa kenangan tentang tawa dan cerita.

Seiring waktu, banyak camilan tradisional mulai tergeser oleh makanan instan. Tapi bagi masyarakat Sunda, tradisi rasa tak mudah hilang. Di pasar-pasar tradisional, aroma manis borayot dan wajit masih setia menggoda. Di rumah-rumah kampung, kue awug masih dikukus dalam wadah anyaman bambu. Semua itu menjadi bukti hidup bahwa tradisi masih bernafas di dapur sederhana.

Asal-Usul Burayot

Burayot (Foto: Dok. Ayobandung.com)
Burayot (Foto: Dok. Ayobandung.com)

Jika kamu berkunjung ke Garut atau Tasikmalaya, jangan heran kalau di beberapa pasar tradisional masih terlihat jajanan berwarna cokelat keemasan yang tergantung manis di etalase warung. Itulah burayot — camilan khas Sunda yang namanya unik dan rasanya legit hingga sulit dilupakan.

Burayot bukan hanya soal rasa manisnya, tetapi juga tentang bagaimana sebuah camilan sederhana mampu menyimpan sejarah panjang, filosofi hidup, dan kehangatan tradisi masyarakat Sunda. Nama burayot berasal dari bahasa Sunda yang berarti menggantung atau menjuntai. Nama ini muncul karena cara penyajiannya yang khas: potongan kue digantung menggunakan tusuk bambu panjang setelah digoreng dan dilapisi gula merah.

Konon, burayot pertama kali muncul di wilayah Garut bagian selatan pada masa ketika gula aren menjadi komoditas utama di pedesaan. Para ibu rumah tangga yang memiliki sisa bahan seperti tepung singkong dan gula merah mencoba mengolahnya menjadi camilan untuk anak-anak mereka.

Karena proses pembuatannya mudah dan bahan-bahannya murah, burayot cepat populer di kalangan masyarakat kampung. Maka, seiring waktu berjalan, burayot menjadi camilan yang selalu hadir saat acara hajatan, syukuran panen, dan hari raya. Bentuknya yang menggantung, mengilap, dan manis menjadi simbol rejeki yang menetes tanpa henti — seperti harapan agar keberkahan hidup selalu mengalir.

Membuat burayot bukan sekadar memasak — tapi ngaruat rasa nu aya. Prosesnya sederhana namun penuh makna filosofi: burayot dibiarkan menggantung di atas bambu agar kering dan tidak saling menempel. Dari sinilah muncul arti filosofis: “Hirup kudu borayot” — hidup itu harus bergantung kepada yang benar, kepada nilai, kepada Gusti Nu Maha Kawasa.

Bagi sebagian masyarakat, menggantung burayot juga punya makna spiritual: mengingatkan manusia untuk tidak serakah, sebab rejeki akan datang bila dijalani dengan ikhlas dan sabar — seperti gula yang meleleh perlahan menempel pada setiap adonan.

Bagi orang Sunda, makanan bukan hanya untuk dimakan, tapi untuk dirasakan dengan hati.
Borayot mengajarkan nilai-nilai kehidupan:

  • Kesabaran, karena proses membuatnya tidak bisa tergesa.
  • Kerendahan hati, karena dibuat dari bahan sederhana.
  • Kebersamaan, karena dikerjakan bersama.
  • Syukur, karena setiap hasilnya adalah pemberian alam.

Semua itu menjadikan camilan ini bukan sekadar produk budaya, tapi juga guru kehidupan kecil yang manis. Ketika tangan menjemput sepotong burayot, sesungguhnya kita sedang menyentuh sejarah dan kebersamaan. Dalam setiap gigitan, ada tawa masa kecil, doa orang tua, dan kehangatan kampung halaman. Itulah kekuatan kuliner tradisional Sunda — sederhana tapi bermakna, manis tapi mendalam. Dan seperti gula yang menempel di setiap adonan, rasa kebersamaan itu akan terus melekat di hati siapa pun yang mengenalnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)