Bandung, Antara Heritage dan Hype

4 menit baca
Guruh Muamar Khadafi
Ditulis oleh Guruh Muamar Khadafi diterbitkan
Salah satu gedung terbengkalai di pusat Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Muhamad Firdaus)
Salah satu gedung terbengkalai di pusat Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Muhamad Firdaus)

Bandung sepertinya sedang mengalami krisis identitas kecil-kecilan. Dulu dikenal sebagai kota budaya, kini mungkin lebih tepat disebut kota “ngopi estetik sambil macet”.

Setiap sudut yang dulunya menyimpan jejak sejarah kini berubah jadi latar konten TikTok. Gedung-gedung bergaya kolonial jadi background outfit of the day.

Dan di antara hiruk-pikuk kafe baru, pertunjukan wayang golek nyaris tak terdengar lagi,  kalah volume dari live music lagu-lagu Top 40.

***

Coba jalan kaki di sekitar Braga atau Asia-Afrika. Di situ, masa lalu Bandung berdiri gagah tapi dengan aroma kopi modern dan papan nama yang bersinar dari LED.

Bangunan tua tampak terawat dari luar, tapi isinya sering sudah berubah jadi toko baju, restoran fusion, atau kafe yang menjual nostalgia versi premium.

Tak salah tentu. Ekonomi kreatif butuh ruang, dan pariwisata perlu berkembang. Tapi di sisi lain, kita pelan-pelan menjadikan warisan budaya bukan untuk dipelajari, melainkan untuk dijual.

Seperti seseorang yang mencintai Bandung hanya karena tampilannya yang “vintage”, tapi tak tahu kisah di balik tiap dinding tuanya.

Ada lebih dari 1.200 bangunan cagar budaya di kota ini. Tapi hanya sekitar 30 persen yang benar-benar dipelihara dengan baik. Sisanya entah rusak, dialihfungsikan, atau terlupakan.

Tampaknya, yang paling terawat justru papan nama “Cagar Budaya”-nya.

Budaya Sunda dan Panggung TikTok

Bandung dikenal sebagai pusat kreativitas, tapi juga kota di mana budaya lokal sering kehilangan panggungnya sendiri.

Coba cari pertunjukan wayang golek di pusat kota, bisa jadi lebih sulit daripada mencari tempat parkir di Dago saat weekend.

Seni tradisi seperti karinding, jaipongan, atau angklung buhun kini lebih sering tampil di acara seremonial atau festival tahunan, bukan bagian dari keseharian kota.

Sementara itu, busana kebaya Sunda munculnya hanya saat 17 Agustus atau wisuda.

Minat generasi muda Bandung terhadap seni tradisional menurun sekitar 40 persen dalam lima tahun terakhir. Alasannya? “Kurang relevan dan kurang hits.”

Padahal, di saat yang sama, konten “tutorial make up ala mojang Sunda” di TikTok bisa menembus ratusan ribu views. Ironi yang cukup manis-pahit, bukan?

Masalah budaya di Bandung bukan hanya persoalan selera, tapi juga kesejahteraan.

Pentas wayang golek tak bisa bersaing dengan konser indie pop di kafe rooftop. Satu tiket konser Rp150 ribu, sementara nonton kacapi suling masih dianggap “hiburan gratisan”. Kita semua cinta budaya, sampai waktunya bayar tiketnya.

Padahal, jika dikelola dengan cara yang kreatif, budaya bisa menjadi daya tarik wisata kelas dunia. Lihat saja Yogyakarta dengan gamelan dan batiknya, atau Bali dengan ritual dan keseniannya yang hidup berdampingan dengan pariwisata.

Bandung juga bisa. Tapi perlu pergeseran cara pandang, budaya jangan hanya dijadikan pelengkap brosur wisata, melainkan jiwa dari kota itu sendiri.

Dago, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Dago, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Heritage yang Jadi Hiasan

Beberapa tahun terakhir, muncul fenomena “heritage tourism” di Bandung, wisata sejarah yang dikemas modern. Kegiatan walking tour bersama komunitas seperti Aleut atau Heritage Walk mulai diminati. Tapi masih terbatas pada kalangan muda yang haus pengalaman, bukan kebijakan besar yang mendukung pelestarian secara sistemik.

Belum lagi persoalan ekonomi, banyak bangunan tua yang dikuasai swasta, sehingga pelestarian sering tergantung pada “niat baik pemilik gedung”. Dan niat baik itu, seperti promo hotel saat liburan, sering datang musiman.

Tantangan terbesar Bandung adalah menjaga keseimbangan antara ekonomi kreatif dan ekologi budaya. Karena kalau terlalu fokus mengejar hype, kita bisa kehilangan heritage; dan kalau terlalu sibuk dengan heritage, kita bisa tertinggal dari hype.

Baca Juga: Mengintip Cara Pengobatan Hikmah Therapy yang 'Nyentrik' di Bandung

Meski begitu, Bandung belum kehilangan napas budayanya. Masih ada komunitas yang rutin menggelar ngadu tembang Sunda, pementasan teater rakyat, atau workshop aksara Sunda digital.
Seniman muda mulai memadukan karinding dengan musik elektronik, menulis puisi Sunda di Instagram, atau melukis wayang golek dalam gaya street art.

Budaya tak mati, ia hanya sedang berganti platform. Pemerintah Kota Bandung pun mulai menyiapkan revitalisasi ruang budaya publik, dari Gedung YPK, Taman Cikapayang, sampai pendirian pusat seni kontemporer. Tapi semua ini baru awal.

Karena pelestarian budaya bukan sekadar proyek, melainkan proses seperti menghidupkan rasa bangga dan rasa memiliki di hati warga.

Baca Juga: Potret Inspiratif Cipadung Kidul dari Sales Keliling hingga Kepala Seksi Kelurahan

Bandung memang indah, tapi keindahan sejati tak cuma soal bangunan dan lampu. Kota ini pernah menjadi pusat ide besar mulai dari Konferensi Asia-Afrika sampai lahirnya musik indie pop pertama di Indonesia. Kini, tantangannya bukan hanya menjaga warisan fisik, tapi juga ruh di baliknya.

Kita boleh punya 1.200 bangunan cagar budaya, tapi kalau tak ada yang memahami ceritanya, semua itu cuma dekorasi mahal. Dan seperti kata pepatah Sunda, “Mun teu ngarti kana sajarah, moal ngarti kana arah.” Kalau kita tak mengerti asal, bagaimana bisa menentukan masa depan?

Jadi, Bandung tersayang, jangan biarkan dirimu jadi kota yang hanya dikenang, tapi tak lagi dihayati. Sebab kota tanpa budaya ibarat kopi tanpa aroma, masih bisa diminum, tapi kehilangan rasa yang membuatnya istimewa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)