Bandung Menjaga Hangatnya Kuliner Sunda Klasik di Tengah Gempuran Tren Modern

Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ditulis oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil diterbitkan Senin 29 Des 2025, 17:53 WIB
Di balik geliat kafe modern dan restoran fusion yang terus bermunculan, kuliner Sunda tetap berdiri kokoh sebagai pilihan utama masyarakat. (Sumber: Sangu Haneut)

Di balik geliat kafe modern dan restoran fusion yang terus bermunculan, kuliner Sunda tetap berdiri kokoh sebagai pilihan utama masyarakat. (Sumber: Sangu Haneut)

AYOBANDUNG.ID -- Bandung selalu punya cara mempertahankan pesonanya. Di balik geliat kafe modern dan restoran fusion yang terus bermunculan, kuliner Sunda tetap berdiri kokoh sebagai pilihan utama masyarakat. Sajian sederhana seperti nasi, sambal, dan lalapan masih menjadi magnet yang tak tergantikan.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Kuliner Sunda telah menjadi bagian dari identitas kota, menyatu dengan kehidupan sehari-hari warganya. Di setiap sudut Bandung, dari warung kaki lima hingga restoran berkonsep, makanan Sunda hadir sebagai pengingat akan kehangatan rumah.

Pasar kuliner Sunda di Bandung terus bergeliat. Data informal dari pelaku usaha menunjukkan bahwa permintaan terhadap makanan Sunda tidak pernah surut, bahkan meningkat seiring bertambahnya wisatawan domestik yang mencari pengalaman kuliner otentik.

Di kawasan Dago, misalnya, restoran Sunda menjamur dengan berbagai konsep. Ada yang mempertahankan gaya tradisional, ada pula yang menggabungkan sentuhan modern. Namun benang merahnya tetap sama yakni menghadirkan rasa akrab yang dekat dengan lidah masyarakat.

Salah satu contoh kecil dari fenomena ini adalah Sangu Haneut, restoran yang baru resmi dibuka pada 29 Desember 2025. Kehadirannya menambah warna baru dalam lanskap kuliner Sunda di Bandung.

F&B Holding Manager Sangu Haneut, Satrio Bayu Hadi, menjelaskan bahwa konsep restoran ini berangkat dari filosofi Tri Tangtu. “Definisi Sangu Haneut sebenarnya kita based on dari tiga poin saja atau judulnya Tritangtu. Di mana Tritangtu ini sebenarnya filosofi Sunda mengenai keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna,” ujarnya.

Tri Tangtu diwujudkan dalam sajian paling akrab di meja makan Sunda: nasi, sambal, dan lalapan. Bagi masyarakat Sunda, ketiga elemen ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan.

“Ada istilahnya kalau makan Sunda tanpa sambel tuh terasa kurang. Definisinya itu sebenarnya, jadi kita lebih ke makna atau konsep makanan yang sederhana,” tambah Satrio.

Sangu Haneut, restoran yang baru resmi dibuka pada 29 Desember 2025. Kehadirannya menambah warna baru dalam lanskap kuliner Sunda di Bandung. (Sumber: Sangu Haneut)
Sangu Haneut, restoran yang baru resmi dibuka pada 29 Desember 2025. Kehadirannya menambah warna baru dalam lanskap kuliner Sunda di Bandung. (Sumber: Sangu Haneut)

Namun, Sangu Haneut hanyalah satu ilustrasi kecil dari gelombang besar restoran Sunda yang terus bermunculan di Bandung. Banyak restoran lain mengusung konsep serupa, menekankan kesederhanaan dan kehangatan sebagai daya tarik utama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Bandung, sekalipun terbuka pada kuliner global, tetap mencari akar budaya mereka melalui makanan. Kuliner Sunda menjadi ruang nostalgia, tempat orang kembali merasakan kebersamaan yang sederhana.

Di sisi lain, bisnis kuliner Sunda juga terus beradaptasi. Restoran baru tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menjual pengalaman. Sangu Haneut, misalnya, menghadirkan konsep semi-buffet dengan welcome food berupa kerupuk bonteng.

“Ketika tamu datang, sambil menunggu makanan, kita offering kerupuk bonteng. Itu konsep semi-buffet kita, jadi tamu tetap merasa disambut hangat,” jelas Satrio.

Strategi seperti ini mencerminkan bagaimana pelaku usaha kuliner Sunda berusaha menyesuaikan diri dengan ekspektasi konsumen modern. Mereka tidak meninggalkan akar tradisi, tetapi menambahkan sentuhan baru agar tetap relevan.

Pasar kuliner Sunda di Bandung juga ditopang oleh faktor geografis. Kota ini menjadi destinasi wisata utama, sehingga restoran Sunda tidak hanya melayani warga lokal, tetapi juga wisatawan yang ingin merasakan cita rasa khas Jawa Barat.

Harga yang kompetitif menjadi alasan lain mengapa kuliner Sunda tetap diminati. Di Sangu Haneut, menu sederhana seperti tahu dan tempe dibanderol mulai Rp6 ribu, sementara menu premium seperti ayam utuh bisa mencapai di atas Rp100 ribu. “Kalau dari sisi harga tuh masih kompetitif dan masih affordable,” kata Satrio.

Di balik geliat kafe modern dan restoran fusion yang terus bermunculan, kuliner Sunda tetap berdiri kokoh sebagai pilihan utama masyarakat. (Sumber: Sangu Haneut)
Di balik geliat kafe modern dan restoran fusion yang terus bermunculan, kuliner Sunda tetap berdiri kokoh sebagai pilihan utama masyarakat. (Sumber: Sangu Haneut)

Keterjangkauan harga membuat kuliner Sunda mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Dari mahasiswa hingga keluarga besar, semua bisa menikmati sajian yang akrab tanpa harus merogoh kocek dalam.

Selain itu, variasi menu juga menjadi daya tarik. Sangu Haneut menyiapkan 94 menu dengan sistem siklus, di mana 40 persen menu berganti setiap hari. Hal ini membuat pengalaman makan selalu terasa segar.

Namun, fenomena serupa juga terlihat di restoran Sunda lain. Banyak pelaku usaha yang menghadirkan menu rotasi untuk menjaga antusiasme konsumen. Strategi ini terbukti efektif dalam mempertahankan loyalitas pelanggan.

Dari sisi desain ruang, restoran Sunda di Bandung cenderung memadukan elemen alam dengan nuansa hangat. Sangu Haneut, misalnya, menggunakan bambu sebagai elemen utama. “Secara konsep tuh kita sebenarnya lebih ke secara bambu. Jadi lebih ke mix sih sebenarnya. Bukan otentik tapi kita berdasarkan Tritangtu itu,” ujar Satrio.

Pendekatan ini sejalan dengan tren masyarakat yang semakin menghargai suasana makan sebagai bagian dari pengalaman. Restoran tidak lagi sekadar tempat makan, tetapi juga ruang untuk berbagi cerita dan membangun kenangan.

Fenomena menjamurnya restoran Sunda di Bandung juga mencerminkan arah bisnis kuliner ke depan. Pelaku usaha semakin sadar bahwa kekuatan utama kuliner lokal terletak pada kesederhanaan dan kedekatan emosional dengan konsumen.

Sangu Haneut hanyalah satu contoh kecil dari tren besar ini. Kehadirannya menegaskan bahwa kuliner Sunda tidak pernah kehilangan relevansi, bahkan di tengah persaingan ketat dengan kuliner modern.

Alternatif kuliner Sunda atau produk kuliner serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/70DShnXUUT
  2. https://s.shopee.co.id/70DShp3XDf
  3. https://s.shopee.co.id/7KqJ6SHk4f
  4. https://s.shopee.co.id/BN8ZK4HiA

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)