Tahu Cibuntu, Filosofi Identitas Bandung yang Mulai Memudar Warnanya

3 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Tahu Cibuntu, identitas BANDUNG (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Alfaritsi)
Tahu Cibuntu, identitas BANDUNG (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Alfaritsi)

Ada satu aroma yang khas ketika kita melewati kawasan Cibuntu, Bandung. Bau kedelai rebus yang samar-samar bercampur dengan asap pembakaran kayu, seperti mengirim sinyal ke hidung bahwa “di sini, budaya sedang bekerja.”

Ya, bukan museum, bukan teater, tapi dapur-dapur tahu yang berdenyut saban hari—menghidupkan ekonomi, tradisi, dan sedikit bau yang menempel di jaket sampai sore.

Saya pertama kali menjejakkan kaki ke kampung Cibuntu bukan karena lapar, tapi karena penasaran. Bagaimana mungkin sebuah kampung bisa begitu identik dengan tahu, seolah setiap warganya lahir dengan gen kedelai dalam DNA?

Begitu masuk gang-gang kecilnya, saya segera mengerti: hampir setiap rumah punya tanda-tanda aktivitas produksi tahu—ember besar berisi air, drum-drum fermentasi, dan tentu saja, tumpukan ampas kedelai yang jadi magnet alami bagi kucing kampung.

Etnografi Tahu Cibuntu

Secara etnografis, tahu Cibuntu menarik karena ia bukan sekadar produk ekonomi, melainkan hasil dari habitus—meminjam istilah Pierre Bourdieu—yang sudah terbentuk turun-temurun. Warga di sini tidak hanya “membuat tahu,” mereka menghidupi tahu.

Prosesnya seperti ritual: mulai dari merendam kedelai di malam hari, menggilingnya subuh-subuh, sampai memeras sari tahu dengan kain putih yang mungkin lebih tua dari sebagian peneliti antropologi lapangan.

Ada filosofi yang tersembunyi di balik tahu ini: kesabaran dan kejujuran. Karena jika terburu-buru atau curang sedikit saja—misalnya menambah bahan pengawet atau mencampur air terlalu banyak—rasa tahunya akan langsung “ketahuan.” Seolah tahu Cibuntu punya sistem keadilan sendiri.

Politik dan Ekonomi Bau Tahu

Suatu kali, di tengah penelitian lapangan kecil-kecilan, saya membayangkan tahu itu bisa bicara. Ia mungkin akan berkata, “Saya ini sederhana, tapi jangan remehkan saya. Dari kedelai, saya berubah jadi sumber penghidupan. Saya saksi dari kerja keras manusia yang setiap hari bergulat dengan panas, air, dan waktu.”

Lalu saya membalas dalam hati, “Benar juga. Kamu ini bukan cuma makanan, tapi teks sosial yang bisa dibaca lewat rasa.”

Tahu, dalam bentuk paling lembutnya, adalah bentuk konkret dari gotong royong ekologis: kedelai dari petani, air dari sungai sekitar, kayu bakar dari hutan, dan tenaga dari manusia yang tahu (pun intended) kapan harus berhenti menekan kain agar tekstur tidak pecah. Dalam setiap potongannya, ada jejak tangan-tangan lokal yang sabar.

Satu hal yang sering dikeluhkan orang luar adalah bau. “Aduh, Cibuntu mah bau tahu banget!” katanya. Tapi coba pikirkan dari perspektif antropologi — bau itu bahasa sosial. Ia menjadi penanda ruang, tanda identitas. Seperti halnya kopi punya aroma yang menenangkan, tahu punya aroma yang menegaskan keberadaan.

Bau di Cibuntu bukan gangguan, tapi index of authenticity. Kalau tidak ada bau, justru patut curiga: jangan-jangan ini tahu instan dari pabrik besar yang kehilangan sentuhan manusia.

Dalam konteks itu, “bau tahu” bisa dibaca sebagai perlawanan halus terhadap modernitas yang serba steril. Cibuntu mempertahankan keotentikan lewat aroma. Kalau Bandung punya kopi kekinian di Dago, Cibuntu punya tahu yang melawan lupa.

Ekonomi Emosional dan Nostalgia Kedelai

Yang membuat saya terharu adalah bagaimana tahu Cibuntu mengandung ekonomi emosional. Banyak perajin yang mengaku, mereka tidak bisa lepas dari pekerjaan ini meski margin-nya kecil. “Kalau nggak bikin tahu, kayak ada yang hilang,” kata seorang bapak sambil menatap uap yang mengepul dari kuali besar.

Kalimat itu seperti tesis mini tentang relasi manusia dan kerja. Bahwa bagi sebagian orang, bekerja bukan sekadar cari uang, tapi menjaga kesinambungan makna hidup. Di tengah dunia urban yang makin cepat, tahu Cibuntu mengajarkan ritme lambat—bahwa setiap potong tahu harus melalui waktu, tangan, dan cinta yang konkret.

Ketika saya pulang dari Cibuntu sore itu, bau kedelai masih menempel di rambut dan baju. Saya sempat ingin cepat-cepat mandi, tapi lalu terhenti di depan cermin. Bukankah kita semua, dengan cara masing-masing, sedang mencari cara untuk “berbau lokal”? Untuk tetap punya aroma yang menandakan siapa kita, di tengah derasnya modernitas yang memutihkan semua menjadi seragam?

Cibuntu, lewat tahunya, mengingatkan saya bahwa lokalitas bukan tentang nostalgia, tapi tentang kontinuitas. Tentang keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri meski dunia terus berubah.

Dan, kalau suatu hari Bandung benar-benar menjadi kota futuristik tanpa bau dan tanpa rasa, saya tahu (lagi-lagi pun intended), saya akan kembali ke Cibuntu—mencari tahu yang sebenarnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ikon 27 Agu 2026, 13:40

Gedung Sate Cikajang Garut, Bangunan Unik di Tengah Perkebunan Teh

Di pelosok Cikajang, Garut, berdiri Gedung Sate Cikajang yang dibuat mirip ikon Jawa Barat dan digunakan untuk kegiatan warga.

Bangunan miniatur Gedung Sate di Cikajang, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)