Melintasi Waktu Menyoal Ruang untuk Pertumbuhan Anak di Kota Bandung

5 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Menikmati suasana taman kota. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Menikmati suasana taman kota. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Masih terbayang dalam ingatan penulis ketika menginjakkan kaki pertama kali di Kota Bandung tepatnya di Stasiun KA Kiaracondong. Setelah perjalanan semalam dalam gerbong KA Mutiara Selatan relasi Surabaya-Bandung.

Pada tahun 90-an bangunan Stasiun Kiaracondong belum sebagus saat ini. Saat itu masih seperti stasiun kecil dengan tanah yang luas dikelilingi bangunan kumuh. Turun dari stasiun saya naik becak menuju Jalan Jembatan Opat yang terletak di sebelah selatan rel KA.  Terlihat betapa semrawut dan macet parah lalu lintas di kawasan stasiun dan Pasar Kircon.

Becak yang saya tumpangi menyusuri Jembatan Opat lalu memasuki gang sempit. Menuju rumah saudara tua Ibu ( Pakde ) untuk menumpang sementara sebelum dapat tempat kost. Karena becak tidak bisa masuk dalam gang yang sempit tersebut maka saya jalan kaki menyusuri gang sempit dengan permukiman yang sangat padat. Tampak bocah kecil yang sedang bermain bersama di gang sempit itu menghentikan permainan ketika saya lewat.  

Terbayang dalam pikiran tentang anak-anak saya kelak dengan kondisi Kota Bandung yang ternyata tidak seindah yang saya bayangkan sebelumnya. Karena kota yang disebut Paris van Java dan Kota kembang, ternyata sejak saya ”mendarat” di Bandung jarang menemui bunga-bunga di rumah penduduk dan jarang ada ruang terbuka hijau (RTH) tempat anak-anak bermain, bersosialisasi serta mengasah imajinasi. Sangat berbeda dengan rumah-rumah di kampung halaman saya yang setiap rumah memiliki pelataran yang luas.

Melihat Patung Dewi Sartika di taman kota (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Melihat Patung Dewi Sartika di taman kota (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Kapan Kota Bandung Melunasi Hak Anak?

Sejak saya datang di Kota Bandung hingga saat ini ternyata  masih kekurangan ruang terbuka hijau dan jauh dari persentase yang sesuai dengan ketentuan luas ideal RTH di setiap kota. Dari waktu ke waktu para petinggi Kota Bandung belum mampu melunasi hak anak terkait dengan ruang.

Sungguh memprihatinkan karena Kota Bandung belum memenuhi kriteria ruang terbuka hijau yang ramah anak dikarenakan kurangnya ruang terbuka hijau seperti taman kota, serta kurangnya fasilitas bermain anak yang dapat membantu tumbuh-kembang anak baik dari segi pendidikan maupun psikologis.

Perlu dicatat, ketidakoptimalan pengelolaan taman dan ruang terbuka hijau dapat membawa akibat serius terhadap perkembangan sosial dan psikologis anak.

Menurut peraturan RTH mencakup habitat alami, kawasan konservasi, taman kota,fasilitas olahraga, dan pemakaman, yang terletak di atas lahan publik atau milik pemerintah, serta pada lahan-lahan milik pribadi.

Merujuk pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008 tentang “Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan”, ruang terbuka hijau diartikan sebagai “area yang berbentuk memanjang atau berkelompok, bersifat terbuka, dan menjadi tempat tumbuhnya tanaman, baik yang tumbuh secara alami maupun yang ditanam secara sengaja.”

Perlu dicatat oleh para pejabat Kota Bandung bahwa sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ruang terbuka hijau (RTH) harus memenuhi persyaratan alokasi minimal 30 persen dari total luas wilayah. Dari alokasi tersebut, setidaknya 20 persen harus difungsikan sebagai RTH publik.

Untuk memenuhi kebutuhan seluruh kalangan, terutama anak-anak, RTH mesti dilengkapi dengan fasilitas yang layak pakai dan aksesibilitas yang memadai. Hal ini sangat penting agar RTH dapat menjadi ruang publik yang ramah anak, mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Persentase RTH di Kota Bandung merujuk laman resmi pemkot Bandung, memiliki sekitar 1.700 hektar RTH. Sementara itu, luas ideal ruang terbuka hijau (RTH) untuk Kota Bandung, yang memiliki total area 16.729,65 hektar, seharusnya mencapai  sekitar 6.000 hektar. Namun, saat ini RTH yang tersedia di Bandung hanya sekitar 8,76 persen dari total luas wilayah. Padahal, sesuai ketentuan, sebuah kota seharusnya menyediakan setidaknya 30 persen dari luas wilayah untuk pengembangan ruang terbuka hijau.

Perlu Tata Kelola Taman Kota yang Ideal

Merujuk informasi yang tercantum pada Buku Bandung Dalam Angka Tahun 2022 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung, tercatat bahwa Kota Bandung memiliki 759 taman kota dengan total luas mencapai 2.170.134,11 m².

Taman-taman ini tersebar di 30 kecamatan yang ada di Kota Bandung. Kecamatan Bandung Wetan memiliki jumlah taman terbanyak, yaitu 60 taman dengan luas total 321.062,33 m². Kecamatan Buah Batu menempati posisi kedua dengan 47 taman yang mencakup area seluas 30.322,31 m². Sementara itu, Kecamatan Arcamanik memiliki luas taman terbesar, yakni 689.090,23 m², yang tersebar di 45 taman.

Baru-baru ini penulis mendatangi sebagian taman kota yang perlu dikelola lebih baik untuk kebutuhan anak-anak dan perlu dijaga kelestariannya. Yakni Taman Balai Kota yang terletak di kawasan pusat pemerintahan. Dan Taman Cibeunying.

Menurut data dari Dinas Pertamanan, luas taman Balai Kota tercatat sebesar 13.800 m². Namun, area yang sebenarnya merupakan ruang hijau diperkirakan hanya sekitar 1.500-2.000 m². Taman ini memiliki bentuk persegi panjang dengan dimensi panjang dan lebar yang hampir sama, sehingga menyerupai bentuk persegi, di mana seluruh areanya dipenuhi oleh hamparan rumput.

Sedangkan Taman Cibeunying dikenal sebagai salah satu ruang hijau yang menjadi paru-paru untuk kota Bandung sejak era kolonial Belanda, yang mana pada saat itu dikenal dengan nama Tjibeunjing Plantsoen. Taman ini berlokasi di jalur Jalan Cibeunying Utara dan Selatan. Sejak pembangunnya pada masa pemerintahan Belanda, taman ini mengalami berbagai perubahan dan perkembangan.

Keniscayaan, ruang publik ramah anak merupakan elemen penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara fisik, sosial, dan emosional. Namun, banyak taman kota di Indonesia, termasuk Taman Balai Kota dan Taman Cibeunying Bandung, belum sepenuhnya memenuhi standar ramah anak.

Berdasarkan pedoman Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) yang dibuat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa RBRA adalah ruang yang dirancang untuk mendukung aktivitas bermain anak dengan menjamin kenyamanan, keamanan, serta  bebas dari ancaman bahaya, kekerasan, dan diskriminasi. Ruang ini dapat dibangun dan dikembangkan dengan berbagai cara untuk mendukung perkembangan anak secara optimal, mencakup aspek fisik, spiritual, intelektual, sosial, moral, mental, emosional, dan bahasa. Namun menurut pengamatan penulis kedua taman kota diatas seringkali terlihat aktivitas orang dewasa yang kurang pantas dilihat oleh anak-anak. Bahkan para penyandang masalah sosial juga sering berada di taman sehingga kondisinya cukup rawan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)