Melintasi Waktu Menyoal Ruang untuk Pertumbuhan Anak di Kota Bandung

Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan Selasa 14 Apr 2026, 10:23 WIB
Menikmati suasana taman kota. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Menikmati suasana taman kota. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Masih terbayang dalam ingatan penulis ketika menginjakkan kaki pertama kali di Kota Bandung tepatnya di Stasiun KA Kiaracondong. Setelah perjalanan semalam dalam gerbong KA Mutiara Selatan relasi Surabaya-Bandung.

Pada tahun 90-an bangunan Stasiun Kiaracondong belum sebagus saat ini. Saat itu masih seperti stasiun kecil dengan tanah yang luas dikelilingi bangunan kumuh. Turun dari stasiun saya naik becak menuju Jalan Jembatan Opat yang terletak di sebelah selatan rel KA.  Terlihat betapa semrawut dan macet parah lalu lintas di kawasan stasiun dan Pasar Kircon.

Becak yang saya tumpangi menyusuri Jembatan Opat lalu memasuki gang sempit. Menuju rumah saudara tua Ibu ( Pakde ) untuk menumpang sementara sebelum dapat tempat kost. Karena becak tidak bisa masuk dalam gang yang sempit tersebut maka saya jalan kaki menyusuri gang sempit dengan permukiman yang sangat padat. Tampak bocah kecil yang sedang bermain bersama di gang sempit itu menghentikan permainan ketika saya lewat.  

Terbayang dalam pikiran tentang anak-anak saya kelak dengan kondisi Kota Bandung yang ternyata tidak seindah yang saya bayangkan sebelumnya. Karena kota yang disebut Paris van Java dan Kota kembang, ternyata sejak saya ”mendarat” di Bandung jarang menemui bunga-bunga di rumah penduduk dan jarang ada ruang terbuka hijau (RTH) tempat anak-anak bermain, bersosialisasi serta mengasah imajinasi. Sangat berbeda dengan rumah-rumah di kampung halaman saya yang setiap rumah memiliki pelataran yang luas.

Melihat Patung Dewi Sartika di taman kota (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Melihat Patung Dewi Sartika di taman kota (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Kapan Kota Bandung Melunasi Hak Anak?

Sejak saya datang di Kota Bandung hingga saat ini ternyata  masih kekurangan ruang terbuka hijau dan jauh dari persentase yang sesuai dengan ketentuan luas ideal RTH di setiap kota. Dari waktu ke waktu para petinggi Kota Bandung belum mampu melunasi hak anak terkait dengan ruang.

Sungguh memprihatinkan karena Kota Bandung belum memenuhi kriteria ruang terbuka hijau yang ramah anak dikarenakan kurangnya ruang terbuka hijau seperti taman kota, serta kurangnya fasilitas bermain anak yang dapat membantu tumbuh-kembang anak baik dari segi pendidikan maupun psikologis.

Perlu dicatat, ketidakoptimalan pengelolaan taman dan ruang terbuka hijau dapat membawa akibat serius terhadap perkembangan sosial dan psikologis anak.

Menurut peraturan RTH mencakup habitat alami, kawasan konservasi, taman kota,fasilitas olahraga, dan pemakaman, yang terletak di atas lahan publik atau milik pemerintah, serta pada lahan-lahan milik pribadi.

Merujuk pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008 tentang “Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan”, ruang terbuka hijau diartikan sebagai “area yang berbentuk memanjang atau berkelompok, bersifat terbuka, dan menjadi tempat tumbuhnya tanaman, baik yang tumbuh secara alami maupun yang ditanam secara sengaja.”

Perlu dicatat oleh para pejabat Kota Bandung bahwa sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ruang terbuka hijau (RTH) harus memenuhi persyaratan alokasi minimal 30 persen dari total luas wilayah. Dari alokasi tersebut, setidaknya 20 persen harus difungsikan sebagai RTH publik.

Untuk memenuhi kebutuhan seluruh kalangan, terutama anak-anak, RTH mesti dilengkapi dengan fasilitas yang layak pakai dan aksesibilitas yang memadai. Hal ini sangat penting agar RTH dapat menjadi ruang publik yang ramah anak, mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Persentase RTH di Kota Bandung merujuk laman resmi pemkot Bandung, memiliki sekitar 1.700 hektar RTH. Sementara itu, luas ideal ruang terbuka hijau (RTH) untuk Kota Bandung, yang memiliki total area 16.729,65 hektar, seharusnya mencapai  sekitar 6.000 hektar. Namun, saat ini RTH yang tersedia di Bandung hanya sekitar 8,76 persen dari total luas wilayah. Padahal, sesuai ketentuan, sebuah kota seharusnya menyediakan setidaknya 30 persen dari luas wilayah untuk pengembangan ruang terbuka hijau.

Perlu Tata Kelola Taman Kota yang Ideal

Merujuk informasi yang tercantum pada Buku Bandung Dalam Angka Tahun 2022 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung, tercatat bahwa Kota Bandung memiliki 759 taman kota dengan total luas mencapai 2.170.134,11 m².

Taman-taman ini tersebar di 30 kecamatan yang ada di Kota Bandung. Kecamatan Bandung Wetan memiliki jumlah taman terbanyak, yaitu 60 taman dengan luas total 321.062,33 m². Kecamatan Buah Batu menempati posisi kedua dengan 47 taman yang mencakup area seluas 30.322,31 m². Sementara itu, Kecamatan Arcamanik memiliki luas taman terbesar, yakni 689.090,23 m², yang tersebar di 45 taman.

Baru-baru ini penulis mendatangi sebagian taman kota yang perlu dikelola lebih baik untuk kebutuhan anak-anak dan perlu dijaga kelestariannya. Yakni Taman Balai Kota yang terletak di kawasan pusat pemerintahan. Dan Taman Cibeunying.

Menurut data dari Dinas Pertamanan, luas taman Balai Kota tercatat sebesar 13.800 m². Namun, area yang sebenarnya merupakan ruang hijau diperkirakan hanya sekitar 1.500-2.000 m². Taman ini memiliki bentuk persegi panjang dengan dimensi panjang dan lebar yang hampir sama, sehingga menyerupai bentuk persegi, di mana seluruh areanya dipenuhi oleh hamparan rumput.

Sedangkan Taman Cibeunying dikenal sebagai salah satu ruang hijau yang menjadi paru-paru untuk kota Bandung sejak era kolonial Belanda, yang mana pada saat itu dikenal dengan nama Tjibeunjing Plantsoen. Taman ini berlokasi di jalur Jalan Cibeunying Utara dan Selatan. Sejak pembangunnya pada masa pemerintahan Belanda, taman ini mengalami berbagai perubahan dan perkembangan.

Keniscayaan, ruang publik ramah anak merupakan elemen penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara fisik, sosial, dan emosional. Namun, banyak taman kota di Indonesia, termasuk Taman Balai Kota dan Taman Cibeunying Bandung, belum sepenuhnya memenuhi standar ramah anak.

Berdasarkan pedoman Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) yang dibuat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa RBRA adalah ruang yang dirancang untuk mendukung aktivitas bermain anak dengan menjamin kenyamanan, keamanan, serta  bebas dari ancaman bahaya, kekerasan, dan diskriminasi. Ruang ini dapat dibangun dan dikembangkan dengan berbagai cara untuk mendukung perkembangan anak secara optimal, mencakup aspek fisik, spiritual, intelektual, sosial, moral, mental, emosional, dan bahasa. Namun menurut pengamatan penulis kedua taman kota diatas seringkali terlihat aktivitas orang dewasa yang kurang pantas dilihat oleh anak-anak. Bahkan para penyandang masalah sosial juga sering berada di taman sehingga kondisinya cukup rawan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sri Maryati
Tentang Sri Maryati
Pemerhati sosial, penikmat destinasi wisata

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)