Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Melintasi Waktu Menyoal Ruang untuk Pertumbuhan Anak di Kota Bandung

5 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan Selasa 14 Apr 2026, 10:23 WIB
Menikmati suasana taman kota. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Menikmati suasana taman kota. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Masih terbayang dalam ingatan penulis ketika menginjakkan kaki pertama kali di Kota Bandung tepatnya di Stasiun KA Kiaracondong. Setelah perjalanan semalam dalam gerbong KA Mutiara Selatan relasi Surabaya-Bandung.

Pada tahun 90-an bangunan Stasiun Kiaracondong belum sebagus saat ini. Saat itu masih seperti stasiun kecil dengan tanah yang luas dikelilingi bangunan kumuh. Turun dari stasiun saya naik becak menuju Jalan Jembatan Opat yang terletak di sebelah selatan rel KA.  Terlihat betapa semrawut dan macet parah lalu lintas di kawasan stasiun dan Pasar Kircon.

Becak yang saya tumpangi menyusuri Jembatan Opat lalu memasuki gang sempit. Menuju rumah saudara tua Ibu ( Pakde ) untuk menumpang sementara sebelum dapat tempat kost. Karena becak tidak bisa masuk dalam gang yang sempit tersebut maka saya jalan kaki menyusuri gang sempit dengan permukiman yang sangat padat. Tampak bocah kecil yang sedang bermain bersama di gang sempit itu menghentikan permainan ketika saya lewat.  

Terbayang dalam pikiran tentang anak-anak saya kelak dengan kondisi Kota Bandung yang ternyata tidak seindah yang saya bayangkan sebelumnya. Karena kota yang disebut Paris van Java dan Kota kembang, ternyata sejak saya ”mendarat” di Bandung jarang menemui bunga-bunga di rumah penduduk dan jarang ada ruang terbuka hijau (RTH) tempat anak-anak bermain, bersosialisasi serta mengasah imajinasi. Sangat berbeda dengan rumah-rumah di kampung halaman saya yang setiap rumah memiliki pelataran yang luas.

Melihat Patung Dewi Sartika di taman kota (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Melihat Patung Dewi Sartika di taman kota (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Kapan Kota Bandung Melunasi Hak Anak?

Sejak saya datang di Kota Bandung hingga saat ini ternyata  masih kekurangan ruang terbuka hijau dan jauh dari persentase yang sesuai dengan ketentuan luas ideal RTH di setiap kota. Dari waktu ke waktu para petinggi Kota Bandung belum mampu melunasi hak anak terkait dengan ruang.

Sungguh memprihatinkan karena Kota Bandung belum memenuhi kriteria ruang terbuka hijau yang ramah anak dikarenakan kurangnya ruang terbuka hijau seperti taman kota, serta kurangnya fasilitas bermain anak yang dapat membantu tumbuh-kembang anak baik dari segi pendidikan maupun psikologis.

Perlu dicatat, ketidakoptimalan pengelolaan taman dan ruang terbuka hijau dapat membawa akibat serius terhadap perkembangan sosial dan psikologis anak.

Menurut peraturan RTH mencakup habitat alami, kawasan konservasi, taman kota,fasilitas olahraga, dan pemakaman, yang terletak di atas lahan publik atau milik pemerintah, serta pada lahan-lahan milik pribadi.

Merujuk pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008 tentang “Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan”, ruang terbuka hijau diartikan sebagai “area yang berbentuk memanjang atau berkelompok, bersifat terbuka, dan menjadi tempat tumbuhnya tanaman, baik yang tumbuh secara alami maupun yang ditanam secara sengaja.”

Perlu dicatat oleh para pejabat Kota Bandung bahwa sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ruang terbuka hijau (RTH) harus memenuhi persyaratan alokasi minimal 30 persen dari total luas wilayah. Dari alokasi tersebut, setidaknya 20 persen harus difungsikan sebagai RTH publik.

Untuk memenuhi kebutuhan seluruh kalangan, terutama anak-anak, RTH mesti dilengkapi dengan fasilitas yang layak pakai dan aksesibilitas yang memadai. Hal ini sangat penting agar RTH dapat menjadi ruang publik yang ramah anak, mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Persentase RTH di Kota Bandung merujuk laman resmi pemkot Bandung, memiliki sekitar 1.700 hektar RTH. Sementara itu, luas ideal ruang terbuka hijau (RTH) untuk Kota Bandung, yang memiliki total area 16.729,65 hektar, seharusnya mencapai  sekitar 6.000 hektar. Namun, saat ini RTH yang tersedia di Bandung hanya sekitar 8,76 persen dari total luas wilayah. Padahal, sesuai ketentuan, sebuah kota seharusnya menyediakan setidaknya 30 persen dari luas wilayah untuk pengembangan ruang terbuka hijau.

Perlu Tata Kelola Taman Kota yang Ideal

Merujuk informasi yang tercantum pada Buku Bandung Dalam Angka Tahun 2022 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung, tercatat bahwa Kota Bandung memiliki 759 taman kota dengan total luas mencapai 2.170.134,11 m².

Taman-taman ini tersebar di 30 kecamatan yang ada di Kota Bandung. Kecamatan Bandung Wetan memiliki jumlah taman terbanyak, yaitu 60 taman dengan luas total 321.062,33 m². Kecamatan Buah Batu menempati posisi kedua dengan 47 taman yang mencakup area seluas 30.322,31 m². Sementara itu, Kecamatan Arcamanik memiliki luas taman terbesar, yakni 689.090,23 m², yang tersebar di 45 taman.

Baru-baru ini penulis mendatangi sebagian taman kota yang perlu dikelola lebih baik untuk kebutuhan anak-anak dan perlu dijaga kelestariannya. Yakni Taman Balai Kota yang terletak di kawasan pusat pemerintahan. Dan Taman Cibeunying.

Menurut data dari Dinas Pertamanan, luas taman Balai Kota tercatat sebesar 13.800 m². Namun, area yang sebenarnya merupakan ruang hijau diperkirakan hanya sekitar 1.500-2.000 m². Taman ini memiliki bentuk persegi panjang dengan dimensi panjang dan lebar yang hampir sama, sehingga menyerupai bentuk persegi, di mana seluruh areanya dipenuhi oleh hamparan rumput.

Sedangkan Taman Cibeunying dikenal sebagai salah satu ruang hijau yang menjadi paru-paru untuk kota Bandung sejak era kolonial Belanda, yang mana pada saat itu dikenal dengan nama Tjibeunjing Plantsoen. Taman ini berlokasi di jalur Jalan Cibeunying Utara dan Selatan. Sejak pembangunnya pada masa pemerintahan Belanda, taman ini mengalami berbagai perubahan dan perkembangan.

Keniscayaan, ruang publik ramah anak merupakan elemen penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara fisik, sosial, dan emosional. Namun, banyak taman kota di Indonesia, termasuk Taman Balai Kota dan Taman Cibeunying Bandung, belum sepenuhnya memenuhi standar ramah anak.

Berdasarkan pedoman Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) yang dibuat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa RBRA adalah ruang yang dirancang untuk mendukung aktivitas bermain anak dengan menjamin kenyamanan, keamanan, serta  bebas dari ancaman bahaya, kekerasan, dan diskriminasi. Ruang ini dapat dibangun dan dikembangkan dengan berbagai cara untuk mendukung perkembangan anak secara optimal, mencakup aspek fisik, spiritual, intelektual, sosial, moral, mental, emosional, dan bahasa. Namun menurut pengamatan penulis kedua taman kota diatas seringkali terlihat aktivitas orang dewasa yang kurang pantas dilihat oleh anak-anak. Bahkan para penyandang masalah sosial juga sering berada di taman sehingga kondisinya cukup rawan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sri Maryati
Tentang Sri Maryati
Pemerhati sosial, penikmat destinasi wisata

Berita Terkait

News Update

Ikon 30 Mei 2026, 15:27

Bunga Rawa Rancaupas, Tanaman Langka Penjaga Ekosistem Rawa Dataran Tinggi

Bunga rawa di Rancaupas dikenal sebagai bunga abadi yang tidak mudah layu dan hanya ditemukan di lokasi tertentu di Indonesia.

Bunga rawa di Rancaupas. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 30 Mei 2026, 10:48

Kekerasan terhadap Perempuan Tak Selalu Berdarah, Kadang Hadir dalam Bentuk yang Dianggap Biasa

Pameran NeoFemisida di Bandung mengajak publik melihat kekerasan terhadap perempuan yang tak selalu berupa luka fisik, tetapi juga pembungkaman, stigma, dan penghi

Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 30 Mei 2026, 10:06

Menelusuri Sejarah, Filosofi, dan Kehidupan Baru Karinding di Tangan Generasi Muda

Buku “Sejarah Karinding Priangan” dan “Dangiang Karinding” terpampang di antara jajaran karinding tersebut.

Buku Sejarah Karinding Priangan memuat hasil penelitian Kimung mengenai jejak sejarah dan perkembangan karinding di Tatar Sunda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 13:28

Kweekschool Goenoeng Sarie dan Legenda Persib di Lembang

Beberapa legenda Persib lahir dari sebuah lapangan sederhana di utara Pasar Panorama Lembang.

Keadaan kelas di Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang 1920-an. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 10:43

Hutan dalam Toponim, Indah, Damai, dan Menyejahterakan

Masyarakat Sunda, pada mulanya melebur dengan alam, dengan hutan.

Hutan yang terjaga memberikan kelimpahan sumberdaya alam. Masyarakat memanfaatkan tanpa merusak. (Foto: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 09:45

Serpihan Napas Kehidupan bagi Penarik Becak di Bandung

Bandung terus berjalan cepat mengikuti arus perkembangan zaman.

Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)
Beranda 29 Mei 2026, 08:43

Pengendara Ojol di Kota Bandung Mulai Beralih ke Motor Listrik, Nyaman tapi Belum Sepenuhnya Praktis

Pengemudi ojol di Bandung mulai mencoba motor listrik karena lebih nyaman dan hemat. Namun, keterbatasan infrastruktur baterai masih jadi tantangan utama.

Yusuf dan motor listriknya yang digunakannya untuk mengantar penumpang di kawasan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 19:21

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamdu.

Warga menggelar tradisi takbiran di Kampung Bunut, Margahurip, Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)