Ketik, Kurir, dan Kupon

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Senin 13 Apr 2026, 15:12 WIB
Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)

Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)

Malam yang dingin itu, bada salat isya. Hembusan angin yang menusuk kalbu.

Saat asyik tenggelam dalam lembaran buku lawas Quantum Writing: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis karya Hernowo yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2004.

Aa Akil, anak kedua (11 tahun) tiba-tiba bertanya, “Bah, gimana belajar cepat ngetik?”

Sambil tersenyum kututup buku jadoel itu, lalu bertanya balik, “Kunaon, A?

Bocah kelas lima SD itu dengan wajah sedikit kesal, “Tadi di sekolah ada pelajaran TIK. Disuruh nulis di komputer, Aa masih pakai dua jari.”

“Aa, pami kitu kedah sering diajar ngetikna,” jelasku.

Memang di tengah zaman serba digital, ternyata pelajaran paling mendasar tetap sama, ya sepuluh jari harus belajar menemukan iramanya sendiri di atas papan keyboard. Teknologi boleh berubah secepat cahaya, tetapi keterampilan tetap tumbuh lewat kebiasaan, bukan keajaiban. Warisan apalagi.

Pertanyaan yang justru menghentak lebih dalam terucap dengan polos, “Emang Babah belajar nulis komputer di mana?”

Awal 2000-an jadi salah satu masa paling ikonik buat remaja milenial. Banyak hal sederhana yang dulu terasa seru mulai dari nongkrong berjam-jam di warnet sampai ngumpulin kertas binder bergambar lucu. (Sumber: Facebook @Iwan Hermawan)
Awal 2000-an jadi salah satu masa paling ikonik buat remaja milenial. Banyak hal sederhana yang dulu terasa seru mulai dari nongkrong berjam-jam di warnet sampai ngumpulin kertas binder bergambar lucu. (Sumber: Facebook @Iwan Hermawan)

Hikayat Anak Rantau

Rupanya, kalimat itu seakan-akan mengetuk ingat masa lalu. Ibarat menekan enter di keyboard. Pikiran seketika melayang ke era 2000-an, awal-awal kuliah, sekitar tahun 2002, selepas enam tahun mondok di Garut.

Kawasan Cibiru yang selalu ramai oleh mahasiswa (baru, lama dan abadi), kios fotokopi (Sae, Pelangi, Manisi 45), warung nasi (Bahari, Mekdok, Pondok Biru), rental komputer (Bios, Babon, Ibnu Sina, Zenit), Warnet (Kampus, Al-Jamiah), lalu-lalang Damri dan hilir mudik angkot yang tak pernah benar-benar sepi selama 24 jam.

Ketika kemampuan mengetik belum dianggap biasa, apalagi sepele. Dulu, di masa itu, ke(cepat)an mengetik bukan hanya soal tugas kampus, malahan bisa menjadi jalan bertahan hidup.

Keahlian sekecil apa pun, bila diasah dengan tekun, telaten, selalu punya nilai sosial, ekonomi dan kemandirian.

Saat itu, kemampuan mengetik menjadi semacam modal sosial. Pasalnya, dengan terbiasa menulis yang (sedikit) cepat di keyboard, sering nongkrong (begadang menulis untuk dikirim ke koran) di rental komputer dan di warnet Kampus.

Walhasil, untuk di tempat ngetik Obos, biasa dipanggil yang berada di depan kosan PSM (Pondok Sisieu Makam) malah dipercaya (bantu-bantu) membuka jasa ketik sederhana dan alakadarnya.

Waktu itu, jasa ngetik tugas, makalah, paper, karya tulis ilmiah, Skripsi, Tesis, Disertasi dibayar per lembar. Hasilnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk keperluan makan nasi kuning, ceplok telor, menambah uang fotokopi, membeli buku pelajaran, mata kuliah, asupan bacaan (di toko Iqra, Palasari, bazar buku Mizan).

Sesekali membeli nasi goreng tengah malam selepas lembur tugas, termasuk gorengan Bala-bala Ajat yang berada di depan Gang Kujang dan buka 24 jam. Pingin besar Goreng Gangster di Ujungberung jadi pilihan perut keroncongan. Hingga ongkos pelesiran naik Damri (Cibiru- Cicaheum–Alun-alun- Leuwipanjang) yang sering penuh mahasiswa membawa map dan buku.

Ternyata, dari bunyi tombol-tombol keyboard komputer rental dan warnet, kita belajar soal keterampilan kecil sering kali menjadi pintu rezeki yang tidak disangka dan terduga.

Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)
Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Untuk di lingkungan Kampus (Fakultas Ushuluddin), sering menjadi semacam kurir kecil pengetahuan. Dengan mengambil bahan dari dosen, membawanya ke kios fotokopi, menunggu lembar demi lembar keluar dari mesin yang panas, lalu membagikannya ke kawan-kawan kelas.

Maklum sejak aktif di organisasi (intra dan ekstra Kampus) dan dipercaya menjadi kosma (yang sering dipelesetkan menjadi Korban Suruhan Mahasiswa, bukan Komisariat Mahasiswa, Koordinator Mahasiswa, apalagi Komisaris Kelas). Amanah ini berakhir sampai lulus kuliah.

Suara mesin fotokopi yang berdetak tanpa henti, antrean mahasiswa yang berjejal menjelang ujian (UTS, UAS, Komprehensif, Sidang, Munaqosah). Semuanya menjadi hiburan gratis yang tak terpisahkan dari suasana belajar dan ngampus di IAIN Bandung.

Ada kebahagiaan sederhana ketika menjadi orang pertama yang menyentuh bahan bacaan baru, terkadang mendapat kesempatan membaca gratis lebih dulu, sebelum lembarannya lusuh berpindah tangan.

Dari suasana itu kita belajar, pengetahuan sering tumbuh dari peran-peran kecil yang tampak biasa. Ilmu, ide, gagasan terkadang hadir melalui jalan (ruang) perjumpaan dan pelayanan terbaik.

Waktu itu, memang segala sesuatu diganjar dengan kupon. Setiap beli serba dapat tiket. Ketika sudah terkumpul 10 (20) tiket (kupon) bisa ditukarkan dan gratis 1 yang dibeli. Siklusnya memang begitu.

Ada member (anggota) untuk pelanggan setia, termasuk dalam urusan pembeli buku. Setiap tulisan yang dimuat (Koran, Majalah) bukan hanya menghadirkan rasa bangga, tetapi bernilai ekonomis dan menjadi tiket belanja yang bisa ditukar dengan bacaan bekas (baru) di toko buku tertentu sekitar Kampus.

Dalam tujuan mengapreasiasi netizen yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)
Dalam tujuan mengapreasiasi netizen yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)

Merawat Ingatan Literasi

Rasanya, siklus pengetahuan yang utuh terus tumbuh berkembang dan dijaga keutuhannya. Dengan membiasakan menulis dapat melahirkan kupon, tiket berubah menjadi diktat, buku kembali merangsang untuk tulisan. Begitulah ekosistem kecil yang memperlihatkan ihwal literasi bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan hidup yang saling menghidupi dan melengkapi anak rantau.

Saat Aa Akil bertanya tentang cara cepat mengetik, justru tersadarkan bahwa setiap generasi punya pintu masuknya sendiri menuju dunia menulis.

Bila dulu generasi kolonial berteman dengan keyboard (komputer) warnet, mesin fotokopi, dan kupon buku. Hari ini generasi milenial akrab dengan laptop sekolah, Google Docs, dan layar sentuh.

Kendati pada hakikatnya kita belajar sama-sama soal tradisi menulis yang selalu dimulai dari kesabaran jari-jari yang terus dilatih, diasah belajar mencari alur dan tempatnya.

Ingat, setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Dengan demikian, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan perjalanan hidup yang merekam zaman melintas ruang dan waktu. Dari dua jari yang kaku, ke keyboard rental, warnet, kita belajar telaten. Berawal dari kurir diktat fotokopian menjadi kupon, buku-buku hadiah tulisan, kita belajar dipercaya, terus mencari dan menggali ilmu, wawasan, hingga kini asyik berselancar ria di era digital dengan segala kecerdasan buatannya. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Apr 2026, 16:11

Bandung dalam Novel ‘Dilan ITB 1997’

Mari kita telusuri jejak-jejak Dilan dan Ancika di Bandung tahun 1997.

Poster film 'Dilan ITB 1997'. (Sumber: Falcon Pictures)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 15:12

Ketik, Kurir, dan Kupon

Setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)
Linimasa 13 Apr 2026, 14:00

Sejarah dan Kontroversi Konversi Gas Elpiji di Indonesia

Program konversi minyak tanah ke LPG sejak 2007 mengubah pola energi rumah tangga, namun menyisakan kontroversi, kecelakaan, dan polemik kebijakan

Sejumlah warga mengantre untuk membeli gas elpiji di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 12:43

Potret Bandung Era 90-an dalam Kenangan 

Bandung pada awal 1990-an adalah kota yang bergerak dengan irama pelan.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 10:24

Intelektual, Masyarakat Sipil, dan Perubahan Sosial

Di tengah kondisi yang tidak pasti saat ini, kita membutuhkan intelektual yang mampu berpikir jernih, masyarakat sipil yang kuat, dan keberanian untuk melakukan perubahan sosial.

Calon jemaah haji saat kegiatan pelepasan manasik haji di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Rabu (1/4/2026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 13 Apr 2026, 09:11

Masagi Tjibogo, Kekuatan Warga Lokal Mengolah Sampah Hingga Produknya Tembus Pasar Global

Komunitas Masagi Tjibogo mengolah sampah berbasis budaya lokal, membangun kesadaran warga, sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi yang menembus pasar global.

Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Komunitas 13 Apr 2026, 05:25

Bandung Berpuisi Buka Panggung, Siapa Saja Bisa Bersuara Lewat Kata

Komunitas Bandung Berpuisi menghadirkan panggung terbuka melalui Open Mic Vol. 17 sebagai ruang ekspresi bagi siapa saja untuk membacakan karya, sekaligus mendekatkan puisi kepada masyarakat.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 12 Apr 2026, 14:38

Sejarah Letusan Galunggung 1982, Sembilan Bulan Bencana Vulkanik di Jawa Barat

Letusan Galunggung 1982 berlangsung sembilan bulan, memicu pengungsian massal, kerusakan luas, dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Jawa Barat.

Letusan Galunggung 1982. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 13:26

4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

Kita berdiri di kota tempat lahir, tapi merasa seperti tamu.

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 12 Apr 2026, 09:39

Hikayat Kampung Adat Mahmud, Penyebaran Islam hingga Larangan Menabuh Gong

Kampung Adat Mahmud di Bandung menyimpan sejarah penyebaran Islam, tradisi rumah panggung, dan larangan menabuh gong yang masih dijaga.

Kampung Mahmud, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 08:52

Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)