Malam yang dingin itu, bada salat isya. Hembusan angin yang menusuk kalbu.
Saat asyik tenggelam dalam lembaran buku lawas Quantum Writing: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis karya Hernowo yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2004.
Aa Akil, anak kedua (11 tahun) tiba-tiba bertanya, “Bah, gimana belajar cepat ngetik?”
Sambil tersenyum kututup buku jadoel itu, lalu bertanya balik, “Kunaon, A?”
Bocah kelas lima SD itu dengan wajah sedikit kesal, “Tadi di sekolah ada pelajaran TIK. Disuruh nulis di komputer, Aa masih pakai dua jari.”
“Aa, pami kitu kedah sering diajar ngetikna,” jelasku.
Memang di tengah zaman serba digital, ternyata pelajaran paling mendasar tetap sama, ya sepuluh jari harus belajar menemukan iramanya sendiri di atas papan keyboard. Teknologi boleh berubah secepat cahaya, tetapi keterampilan tetap tumbuh lewat kebiasaan, bukan keajaiban. Warisan apalagi.
Pertanyaan yang justru menghentak lebih dalam terucap dengan polos, “Emang Babah belajar nulis komputer di mana?”

Hikayat Anak Rantau
Rupanya, kalimat itu seakan-akan mengetuk ingat masa lalu. Ibarat menekan enter di keyboard. Pikiran seketika melayang ke era 2000-an, awal-awal kuliah, sekitar tahun 2002, selepas enam tahun mondok di Garut.
Kawasan Cibiru yang selalu ramai oleh mahasiswa (baru, lama dan abadi), kios fotokopi (Sae, Pelangi, Manisi 45), warung nasi (Bahari, Mekdok, Pondok Biru), rental komputer (Bios, Babon, Ibnu Sina, Zenit), Warnet (Kampus, Al-Jamiah), lalu-lalang Damri dan hilir mudik angkot yang tak pernah benar-benar sepi selama 24 jam.
Ketika kemampuan mengetik belum dianggap biasa, apalagi sepele. Dulu, di masa itu, ke(cepat)an mengetik bukan hanya soal tugas kampus, malahan bisa menjadi jalan bertahan hidup.
Keahlian sekecil apa pun, bila diasah dengan tekun, telaten, selalu punya nilai sosial, ekonomi dan kemandirian.
Saat itu, kemampuan mengetik menjadi semacam modal sosial. Pasalnya, dengan terbiasa menulis yang (sedikit) cepat di keyboard, sering nongkrong (begadang menulis untuk dikirim ke koran) di rental komputer dan di warnet Kampus.
Walhasil, untuk di tempat ngetik Obos, biasa dipanggil yang berada di depan kosan PSM (Pondok Sisieu Makam) malah dipercaya (bantu-bantu) membuka jasa ketik sederhana dan alakadarnya.
Waktu itu, jasa ngetik tugas, makalah, paper, karya tulis ilmiah, Skripsi, Tesis, Disertasi dibayar per lembar. Hasilnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk keperluan makan nasi kuning, ceplok telor, menambah uang fotokopi, membeli buku pelajaran, mata kuliah, asupan bacaan (di toko Iqra, Palasari, bazar buku Mizan).
Sesekali membeli nasi goreng tengah malam selepas lembur tugas, termasuk gorengan Bala-bala Ajat yang berada di depan Gang Kujang dan buka 24 jam. Pingin besar Goreng Gangster di Ujungberung jadi pilihan perut keroncongan. Hingga ongkos pelesiran naik Damri (Cibiru- Cicaheum–Alun-alun- Leuwipanjang) yang sering penuh mahasiswa membawa map dan buku.
Ternyata, dari bunyi tombol-tombol keyboard komputer rental dan warnet, kita belajar soal keterampilan kecil sering kali menjadi pintu rezeki yang tidak disangka dan terduga.

Untuk di lingkungan Kampus (Fakultas Ushuluddin), sering menjadi semacam kurir kecil pengetahuan. Dengan mengambil bahan dari dosen, membawanya ke kios fotokopi, menunggu lembar demi lembar keluar dari mesin yang panas, lalu membagikannya ke kawan-kawan kelas.
Maklum sejak aktif di organisasi (intra dan ekstra Kampus) dan dipercaya menjadi kosma (yang sering dipelesetkan menjadi Korban Suruhan Mahasiswa, bukan Komisariat Mahasiswa, Koordinator Mahasiswa, apalagi Komisaris Kelas). Amanah ini berakhir sampai lulus kuliah.
Suara mesin fotokopi yang berdetak tanpa henti, antrean mahasiswa yang berjejal menjelang ujian (UTS, UAS, Komprehensif, Sidang, Munaqosah). Semuanya menjadi hiburan gratis yang tak terpisahkan dari suasana belajar dan ngampus di IAIN Bandung.
Ada kebahagiaan sederhana ketika menjadi orang pertama yang menyentuh bahan bacaan baru, terkadang mendapat kesempatan membaca gratis lebih dulu, sebelum lembarannya lusuh berpindah tangan.
Dari suasana itu kita belajar, pengetahuan sering tumbuh dari peran-peran kecil yang tampak biasa. Ilmu, ide, gagasan terkadang hadir melalui jalan (ruang) perjumpaan dan pelayanan terbaik.
Waktu itu, memang segala sesuatu diganjar dengan kupon. Setiap beli serba dapat tiket. Ketika sudah terkumpul 10 (20) tiket (kupon) bisa ditukarkan dan gratis 1 yang dibeli. Siklusnya memang begitu.
Ada member (anggota) untuk pelanggan setia, termasuk dalam urusan pembeli buku. Setiap tulisan yang dimuat (Koran, Majalah) bukan hanya menghadirkan rasa bangga, tetapi bernilai ekonomis dan menjadi tiket belanja yang bisa ditukar dengan bacaan bekas (baru) di toko buku tertentu sekitar Kampus.

Merawat Ingatan Literasi
Rasanya, siklus pengetahuan yang utuh terus tumbuh berkembang dan dijaga keutuhannya. Dengan membiasakan menulis dapat melahirkan kupon, tiket berubah menjadi diktat, buku kembali merangsang untuk tulisan. Begitulah ekosistem kecil yang memperlihatkan ihwal literasi bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan hidup yang saling menghidupi dan melengkapi anak rantau.
Saat Aa Akil bertanya tentang cara cepat mengetik, justru tersadarkan bahwa setiap generasi punya pintu masuknya sendiri menuju dunia menulis.
Bila dulu generasi kolonial berteman dengan keyboard (komputer) warnet, mesin fotokopi, dan kupon buku. Hari ini generasi milenial akrab dengan laptop sekolah, Google Docs, dan layar sentuh.

Kendati pada hakikatnya kita belajar sama-sama soal tradisi menulis yang selalu dimulai dari kesabaran jari-jari yang terus dilatih, diasah belajar mencari alur dan tempatnya.
Ingat, setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.
Dengan demikian, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan perjalanan hidup yang merekam zaman melintas ruang dan waktu. Dari dua jari yang kaku, ke keyboard rental, warnet, kita belajar telaten. Berawal dari kurir diktat fotokopian menjadi kupon, buku-buku hadiah tulisan, kita belajar dipercaya, terus mencari dan menggali ilmu, wawasan, hingga kini asyik berselancar ria di era digital dengan segala kecerdasan buatannya. (*)
