Ketik, Kurir, dan Kupon

5 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)
Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)

Malam yang dingin itu, bada salat isya. Hembusan angin yang menusuk kalbu.

Saat asyik tenggelam dalam lembaran buku lawas Quantum Writing: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis karya Hernowo yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2004.

Aa Akil, anak kedua (11 tahun) tiba-tiba bertanya, “Bah, gimana belajar cepat ngetik?”

Sambil tersenyum kututup buku jadoel itu, lalu bertanya balik, “Kunaon, A?”

Bocah kelas lima SD itu dengan wajah sedikit kesal, “Tadi di sekolah ada pelajaran TIK. Disuruh nulis di komputer, Aa masih pakai dua jari.”

“Aa, pami kitu kedah sering diajar ngetikna,” jelasku.

Memang di tengah zaman serba digital, ternyata pelajaran paling mendasar tetap sama, ya sepuluh jari harus belajar menemukan iramanya sendiri di atas papan keyboard. Teknologi boleh berubah secepat cahaya, tetapi keterampilan tetap tumbuh lewat kebiasaan, bukan keajaiban. Warisan apalagi.

Pertanyaan yang justru menghentak lebih dalam terucap dengan polos, “Emang Babah belajar nulis komputer di mana?”

Awal 2000-an jadi salah satu masa paling ikonik buat remaja milenial. Banyak hal sederhana yang dulu terasa seru mulai dari nongkrong berjam-jam di warnet sampai ngumpulin kertas binder bergambar lucu. (Sumber: Facebook @Iwan Hermawan)
Awal 2000-an jadi salah satu masa paling ikonik buat remaja milenial. Banyak hal sederhana yang dulu terasa seru mulai dari nongkrong berjam-jam di warnet sampai ngumpulin kertas binder bergambar lucu. (Sumber: Facebook @Iwan Hermawan)

Hikayat Anak Rantau

Rupanya, kalimat itu seakan-akan mengetuk ingat masa lalu. Ibarat menekan enter di keyboard. Pikiran seketika melayang ke era 2000-an, awal-awal kuliah, sekitar tahun 2002, selepas enam tahun mondok di Garut.

Kawasan Cibiru yang selalu ramai oleh mahasiswa (baru, lama dan abadi), kios fotokopi (Sae, Pelangi, Manisi 45), warung nasi (Bahari, Mekdok, Pondok Biru), rental komputer (Bios, Babon, Ibnu Sina, Zenit), Warnet (Kampus, Al-Jamiah), lalu-lalang Damri dan hilir mudik angkot yang tak pernah benar-benar sepi selama 24 jam.

Ketika kemampuan mengetik belum dianggap biasa, apalagi sepele. Dulu, di masa itu, ke(cepat)an mengetik bukan hanya soal tugas kampus, malahan bisa menjadi jalan bertahan hidup.

Keahlian sekecil apa pun, bila diasah dengan tekun, telaten, selalu punya nilai sosial, ekonomi dan kemandirian.

Saat itu, kemampuan mengetik menjadi semacam modal sosial. Pasalnya, dengan terbiasa menulis yang (sedikit) cepat di keyboard, sering nongkrong (begadang menulis untuk dikirim ke koran) di rental komputer dan di warnet Kampus.

Walhasil, untuk di tempat ngetik Obos, biasa dipanggil yang berada di depan kosan PSM (Pondok Sisieu Makam) malah dipercaya (bantu-bantu) membuka jasa ketik sederhana dan alakadarnya.

Waktu itu, jasa ngetik tugas, makalah, paper, karya tulis ilmiah, Skripsi, Tesis, Disertasi dibayar per lembar. Hasilnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk keperluan makan nasi kuning, ceplok telor, menambah uang fotokopi, membeli buku pelajaran, mata kuliah, asupan bacaan (di toko Iqra, Palasari, bazar buku Mizan).

Sesekali membeli nasi goreng tengah malam selepas lembur tugas, termasuk gorengan Bala-bala Ajat yang berada di depan Gang Kujang dan buka 24 jam. Pingin besar Goreng Gangster di Ujungberung jadi pilihan perut keroncongan. Hingga ongkos pelesiran naik Damri (Cibiru- Cicaheum–Alun-alun- Leuwipanjang) yang sering penuh mahasiswa membawa map dan buku.

Ternyata, dari bunyi tombol-tombol keyboard komputer rental dan warnet, kita belajar soal keterampilan kecil sering kali menjadi pintu rezeki yang tidak disangka dan terduga.

Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)
Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Untuk di lingkungan Kampus (Fakultas Ushuluddin), sering menjadi semacam kurir kecil pengetahuan. Dengan mengambil bahan dari dosen, membawanya ke kios fotokopi, menunggu lembar demi lembar keluar dari mesin yang panas, lalu membagikannya ke kawan-kawan kelas.

Maklum sejak aktif di organisasi (intra dan ekstra Kampus) dan dipercaya menjadi kosma (yang sering dipelesetkan menjadi Korban Suruhan Mahasiswa, bukan Komisariat Mahasiswa, Koordinator Mahasiswa, apalagi Komisaris Kelas). Amanah ini berakhir sampai lulus kuliah.

Suara mesin fotokopi yang berdetak tanpa henti, antrean mahasiswa yang berjejal menjelang ujian (UTS, UAS, Komprehensif, Sidang, Munaqosah). Semuanya menjadi hiburan gratis yang tak terpisahkan dari suasana belajar dan ngampus di IAIN Bandung.

Ada kebahagiaan sederhana ketika menjadi orang pertama yang menyentuh bahan bacaan baru, terkadang mendapat kesempatan membaca gratis lebih dulu, sebelum lembarannya lusuh berpindah tangan.

Dari suasana itu kita belajar, pengetahuan sering tumbuh dari peran-peran kecil yang tampak biasa. Ilmu, ide, gagasan terkadang hadir melalui jalan (ruang) perjumpaan dan pelayanan terbaik.

Waktu itu, memang segala sesuatu diganjar dengan kupon. Setiap beli serba dapat tiket. Ketika sudah terkumpul 10 (20) tiket (kupon) bisa ditukarkan dan gratis 1 yang dibeli. Siklusnya memang begitu.

Ada member (anggota) untuk pelanggan setia, termasuk dalam urusan pembeli buku. Setiap tulisan yang dimuat (Koran, Majalah) bukan hanya menghadirkan rasa bangga, tetapi bernilai ekonomis dan menjadi tiket belanja yang bisa ditukar dengan bacaan bekas (baru) di toko buku tertentu sekitar Kampus.

Dalam tujuan mengapreasiasi netizen yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)
Dalam tujuan mengapreasiasi netizen yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)

Merawat Ingatan Literasi

Rasanya, siklus pengetahuan yang utuh terus tumbuh berkembang dan dijaga keutuhannya. Dengan membiasakan menulis dapat melahirkan kupon, tiket berubah menjadi diktat, buku kembali merangsang untuk tulisan. Begitulah ekosistem kecil yang memperlihatkan ihwal literasi bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan hidup yang saling menghidupi dan melengkapi anak rantau.

Saat Aa Akil bertanya tentang cara cepat mengetik, justru tersadarkan bahwa setiap generasi punya pintu masuknya sendiri menuju dunia menulis.

Bila dulu generasi kolonial berteman dengan keyboard (komputer) warnet, mesin fotokopi, dan kupon buku. Hari ini generasi milenial akrab dengan laptop sekolah, Google Docs, dan layar sentuh.

Kendati pada hakikatnya kita belajar sama-sama soal tradisi menulis yang selalu dimulai dari kesabaran jari-jari yang terus dilatih, diasah belajar mencari alur dan tempatnya.

Ingat, setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Dengan demikian, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan perjalanan hidup yang merekam zaman melintas ruang dan waktu. Dari dua jari yang kaku, ke keyboard rental, warnet, kita belajar telaten. Berawal dari kurir diktat fotokopian menjadi kupon, buku-buku hadiah tulisan, kita belajar dipercaya, terus mencari dan menggali ilmu, wawasan, hingga kini asyik berselancar ria di era digital dengan segala kecerdasan buatannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)