KBBI Bukan Hakim Agung, Meski Hadirnya Kerap Menghakimi para Penulis

4 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Potret wanita muda Asia yang cantik - konsep gaya hidup wanita bahagia (Sumber: freepik.com | Foto: jcomp)
Potret wanita muda Asia yang cantik - konsep gaya hidup wanita bahagia (Sumber: freepik.com | Foto: jcomp)

Bagi sebagian penulis Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kitab suci. Tebalnya mengintimidasi, bahasanya berwibawa, dan kehadirannya sering kali membuat kursor berkedip lebih lama dari yang seharusnya.

Ia duduk manis di rak atau tab browser, seolah berbisik, “Apakah kamu yakin kata itu benar?”

Sejak kapan menulis – yang seharusnya jadi aktus membebaskan berubah menjadi ujian benar-salah?

Jadi, pertanyaan mendasar dari saya, seorang penulis yang tak pernah membuka KBBI, cetak maupun online, memulai menulis dulu atau memilih taat pada definisi kata dulu? Btw, katanya udah nggak bisa diakses KBBI online teh nyak.

Alhamdulillah penyerapan kata dari bahasa lokal masih bisa hadir kapan saja dia mau tanpa nunggu rilis dari KBBI dong. Selain penyerapan kata, penulisan kata pun. Misalnya, Thailand akan bebas ditulis Thailand atau Tailan.

Bahasa Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, dll bakalan deras diserap oleh bahasa Indonesia, hingga ia kaya raya dengan kata.

Bukan Penulis, Tapi Penakut

Saya pernah punya teman semasa kuliah—sebut saja namanya A—yang hafal isi KBBI seperti hafal jadwal KRL. Sinonim, lema, kelas kata, bahkan etimologi, ia telan dengan ketelitian seorang arsiparis.

Ironisnya, A tak pernah benar-benar menulis. Setiap hendak memulai, ia berhenti di kata pertama. Lalu kedua. Lalu kembali ke KBBI. Bukan untuk mencari makna, melainkan untuk memastikan niatnya sesuai dengan maksud kata.

Menulis baginya bukan proses, melainkan sidang akademik tanpa palu hakim.

A takut. Bukan takut salah ketik, tapi takut salah makna. Takut jika rangkaian kata yang ia susun tak sepenuhnya patuh pada definisi resmi. Akibatnya, gagasan yang seharusnya lincah justru lumpuh oleh ketertiban. KBBI, yang mestinya menjadi alat bantu, menjelma pagar listrik.

Di sisi lain, saya menulis dengan cara yang lebih berantakan. Kata-kata datang tanpa izin. Kalimat meloncat-loncat. Paragraf kadang tersandung logika. Lebih banyak lateral tinimbang linear. Tapi saya tetap menulis. Tanpa rasa bersalah pada KBBI. Tanpa takut dimarahi lema atau ditegur kelas kata.

Isi kepala saya tumpah dulu; urusan rapi belakangan. Anehnya, dari ketidakteraturan itu, tulisan lahir—utuh, bernapas, dan punya nyawa.

Di sinilah saya mulai curiga: jangan-jangan KBBI bukan penghalang menulis, melainkan ketakutan kita sendiri yang menyamar sebagai disiplin. Kita terlalu cepat ingin benar, padahal belum sempat selesai.

Terlalu sibuk membincangkan tulisan—dengan diri sendiri, dengan kamus, dengan bayangan editor—alih-alih duduk dan menuliskannya.

Guru menulis saya, Budhiana Kartawijaya, jurnalis senior HU Pikiran Rakyat pernah berkata dengan santai tapi kejam, “Cara menyelesaikan artikel itu sederhana: duduk cantik dan tulis. Bukan membincangkannya.”

Kalimat itu menampar saya dengan elegan. Menulis bukan soal menang debat dengan kamus, melainkan menyelesaikan satu halaman penuh kejujuran. KBBI akan selalu ada untuk merapikan. Tapi ia tak pernah dimaksudkan untuk mematikan keberanian dan kebebasan.

Maka saya belajar berdamai: menulis dulu, benar kemudian. Biarkan KBBI menjadi sahabat di tahap akhir, bukan satpam di pintu masuk. Sebab tulisan yang hidup lahir dari keberanian untuk salah—dan kesediaan untuk selesai.

Angle berita dimulai dari cara menulismu yang akan memakai kalimat aktif atau pasif. (Sumber: Pexels | Foto: Suzy Hazelwood)
Angle berita dimulai dari cara menulismu yang akan memakai kalimat aktif atau pasif. (Sumber: Pexels | Foto: Suzy Hazelwood)

Inilah 3 Tips Menulis

Menulis dulu, diedit belakangan. Berpikir lateral, bukan legal.

1. Tulis dengan Otak Kotor Dulu, Bukan Otak Hakim

Saat mulai menulis, jangan bawa mental editor. Editor itu seperti jaksa: tugasnya mencari kesalahan. Kalau ia dihadirkan terlalu awal, tulisanmu akan mati sebelum lahir.

  • Biarkan kalimat berantakan
  • Abaikan ejaan, diksi, dan struktur
  • Fokus satu hal saja: isi kepala keluar semua

Menulis tahap awal bukan soal benar, tapi selesai. Kerapian adalah urusan sesi berikutnya.

2. Berpikir Lateral, Bukan Linear

Menulis esai tidak harus rapi dari A ke Z. Otak manusia jarang berpikir lurus; ia melompat, memutar, dan menyimpang. Ikuti itu.

  • Mulai dari tengah jika perlu
  • Lompat ke contoh, lalu kembali ke gagasan
  • Gunakan asosiasi, pengalaman, dan analogi liar

Esai yang hidup sering lahir dari jalur menyamping, bukan dari kerangka kaku.

3. Duduk dan Tulis, Jangan Diskusikan di Kepala

Semakin lama esai dibicarakan di kepala, semakin kecil kemungkinan ia selesai. Pikiran suka merasa produktif, padahal itu hanya berisik.

  • Tetapkan waktu duduk
  • Tulis tanpa berhenti
  • Jangan membuka kamus, catatan, atau teori

Seperti kata guru menulis saya yang tadi disebutkan: artikel selesai bukan karena pintar berpikir, tapi karena mau duduk dan menuliskannya. Menulis itu kerja fisik: jari bergerak, kata muncul, titik ditaruh. Jangan lupa squat ya per 30 menit agar tubuhmu tetap bugar.

Urusan bagus atau jelek? Itu kerja editor—nanti.

Jangan jadikan KBBI sebagai dewa. Ia bukan pemilik makna, apalagi penentu sah atau tidaknya pikiran kita. KBBI hanyalah peta—berguna ketika kita sudah berjalan, bukan alasan untuk tak pernah melangkah.

Menyembahnya sejak kalimat pertama justru membuat menulis berubah menjadi ritual ketakutan: takut salah, takut melenceng, takut tidak “resmi, de-es-be weh”.

Menulis seharusnya kerja keberanian, bukan kepatuhan buta. Pikiran manusia bergerak liar, lateral, penuh asosiasi, sementara KBBI datang belakangan untuk merapikan jejak. Jika sejak awal kita sibuk menengok kamus, yang lahir bukan esai, melainkan keraguan yang tersusun rapi.

Baca Juga: Bukan di Studio Mahal: Pengantin dan Wisudawan Pilih Jalan ABC buat Pamer Cinta dan Gelar

Gunakan KBBI sebagai alat, bukan hakim. Sebagai teman diskusi di tahap akhir, bukan satpam di pintu masuk. Karena tulisan yang hidup lahir dari keberanian menuangkan isi kepala apa adanya—baru kemudian disisir, dibersihkan, dan dipoles.

Menulis dulu. Benar mah belakangan.

Jika harus memilih di awal: pilihlah menulis berantakan. KBBI tidak ke mana-mana. Tapi ide—kalau terlalu lama ditertibkan—bisa keburu menghilang.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)