KBBI Bukan Hakim Agung, Meski Hadirnya Kerap Menghakimi para Penulis

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Minggu 08 Feb 2026, 08:55 WIB
Potret wanita muda Asia yang cantik - konsep gaya hidup wanita bahagia (Sumber: freepik.com | Foto: jcomp)

Potret wanita muda Asia yang cantik - konsep gaya hidup wanita bahagia (Sumber: freepik.com | Foto: jcomp)

Bagi sebagian penulis Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kitab suci. Tebalnya mengintimidasi, bahasanya berwibawa, dan kehadirannya sering kali membuat kursor berkedip lebih lama dari yang seharusnya.

Ia duduk manis di rak atau tab browser, seolah berbisik, “Apakah kamu yakin kata itu benar?”

Sejak kapan menulis – yang seharusnya jadi aktus membebaskan berubah menjadi ujian benar-salah?

Jadi, pertanyaan mendasar dari saya, seorang penulis yang tak pernah membuka KBBI, cetak maupun online, memulai menulis dulu atau memilih taat pada definisi kata dulu? Btw, katanya udah nggak bisa diakses KBBI online teh nyak.

Alhamdulillah penyerapan kata dari bahasa lokal masih bisa hadir kapan saja dia mau tanpa nunggu rilis dari KBBI dong. Selain penyerapan kata, penulisan kata pun. Misalnya, Thailand akan bebas ditulis Thailand atau Tailan.

Bahasa Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, dll bakalan deras diserap oleh bahasa Indonesia, hingga ia kaya raya dengan kata.

Bukan Penulis, Tapi Penakut

Saya pernah punya teman semasa kuliah—sebut saja namanya A—yang hafal isi KBBI seperti hafal jadwal KRL. Sinonim, lema, kelas kata, bahkan etimologi, ia telan dengan ketelitian seorang arsiparis.

Ironisnya, A tak pernah benar-benar menulis. Setiap hendak memulai, ia berhenti di kata pertama. Lalu kedua. Lalu kembali ke KBBI. Bukan untuk mencari makna, melainkan untuk memastikan niatnya sesuai dengan maksud kata.

Menulis baginya bukan proses, melainkan sidang akademik tanpa palu hakim.

A takut. Bukan takut salah ketik, tapi takut salah makna. Takut jika rangkaian kata yang ia susun tak sepenuhnya patuh pada definisi resmi. Akibatnya, gagasan yang seharusnya lincah justru lumpuh oleh ketertiban. KBBI, yang mestinya menjadi alat bantu, menjelma pagar listrik.

Di sisi lain, saya menulis dengan cara yang lebih berantakan. Kata-kata datang tanpa izin. Kalimat meloncat-loncat. Paragraf kadang tersandung logika. Lebih banyak lateral tinimbang linear. Tapi saya tetap menulis. Tanpa rasa bersalah pada KBBI. Tanpa takut dimarahi lema atau ditegur kelas kata.

Isi kepala saya tumpah dulu; urusan rapi belakangan. Anehnya, dari ketidakteraturan itu, tulisan lahir—utuh, bernapas, dan punya nyawa.

Di sinilah saya mulai curiga: jangan-jangan KBBI bukan penghalang menulis, melainkan ketakutan kita sendiri yang menyamar sebagai disiplin. Kita terlalu cepat ingin benar, padahal belum sempat selesai.

Terlalu sibuk membincangkan tulisan—dengan diri sendiri, dengan kamus, dengan bayangan editor—alih-alih duduk dan menuliskannya.

Guru menulis saya, Budhiana Kartawijaya, jurnalis senior HU Pikiran Rakyat pernah berkata dengan santai tapi kejam, “Cara menyelesaikan artikel itu sederhana: duduk cantik dan tulis. Bukan membincangkannya.”

Kalimat itu menampar saya dengan elegan. Menulis bukan soal menang debat dengan kamus, melainkan menyelesaikan satu halaman penuh kejujuran. KBBI akan selalu ada untuk merapikan. Tapi ia tak pernah dimaksudkan untuk mematikan keberanian dan kebebasan.

Maka saya belajar berdamai: menulis dulu, benar kemudian. Biarkan KBBI menjadi sahabat di tahap akhir, bukan satpam di pintu masuk. Sebab tulisan yang hidup lahir dari keberanian untuk salah—dan kesediaan untuk selesai.

Angle berita dimulai dari cara menulismu yang akan memakai kalimat aktif atau pasif. (Sumber: Pexels | Foto: Suzy Hazelwood)
Angle berita dimulai dari cara menulismu yang akan memakai kalimat aktif atau pasif. (Sumber: Pexels | Foto: Suzy Hazelwood)

Inilah 3 Tips Menulis

Menulis dulu, diedit belakangan. Berpikir lateral, bukan legal.

1. Tulis dengan Otak Kotor Dulu, Bukan Otak Hakim

Saat mulai menulis, jangan bawa mental editor. Editor itu seperti jaksa: tugasnya mencari kesalahan. Kalau ia dihadirkan terlalu awal, tulisanmu akan mati sebelum lahir.

  • Biarkan kalimat berantakan
  • Abaikan ejaan, diksi, dan struktur
  • Fokus satu hal saja: isi kepala keluar semua

Menulis tahap awal bukan soal benar, tapi selesai. Kerapian adalah urusan sesi berikutnya.

2. Berpikir Lateral, Bukan Linear

Menulis esai tidak harus rapi dari A ke Z. Otak manusia jarang berpikir lurus; ia melompat, memutar, dan menyimpang. Ikuti itu.

  • Mulai dari tengah jika perlu
  • Lompat ke contoh, lalu kembali ke gagasan
  • Gunakan asosiasi, pengalaman, dan analogi liar

Esai yang hidup sering lahir dari jalur menyamping, bukan dari kerangka kaku.

3. Duduk dan Tulis, Jangan Diskusikan di Kepala

Semakin lama esai dibicarakan di kepala, semakin kecil kemungkinan ia selesai. Pikiran suka merasa produktif, padahal itu hanya berisik.

  • Tetapkan waktu duduk
  • Tulis tanpa berhenti
  • Jangan membuka kamus, catatan, atau teori

Seperti kata guru menulis saya yang tadi disebutkan: artikel selesai bukan karena pintar berpikir, tapi karena mau duduk dan menuliskannya. Menulis itu kerja fisik: jari bergerak, kata muncul, titik ditaruh. Jangan lupa squat ya per 30 menit agar tubuhmu tetap bugar.

Urusan bagus atau jelek? Itu kerja editor—nanti.

Jangan jadikan KBBI sebagai dewa. Ia bukan pemilik makna, apalagi penentu sah atau tidaknya pikiran kita. KBBI hanyalah peta—berguna ketika kita sudah berjalan, bukan alasan untuk tak pernah melangkah.

Menyembahnya sejak kalimat pertama justru membuat menulis berubah menjadi ritual ketakutan: takut salah, takut melenceng, takut tidak “resmi, de-es-be weh”.

Menulis seharusnya kerja keberanian, bukan kepatuhan buta. Pikiran manusia bergerak liar, lateral, penuh asosiasi, sementara KBBI datang belakangan untuk merapikan jejak. Jika sejak awal kita sibuk menengok kamus, yang lahir bukan esai, melainkan keraguan yang tersusun rapi.

Baca Juga: Bukan di Studio Mahal: Pengantin dan Wisudawan Pilih Jalan ABC buat Pamer Cinta dan Gelar

Gunakan KBBI sebagai alat, bukan hakim. Sebagai teman diskusi di tahap akhir, bukan satpam di pintu masuk. Karena tulisan yang hidup lahir dari keberanian menuangkan isi kepala apa adanya—baru kemudian disisir, dibersihkan, dan dipoles.

Menulis dulu. Benar mah belakangan.

Jika harus memilih di awal: pilihlah menulis berantakan. KBBI tidak ke mana-mana. Tapi ide—kalau terlalu lama ditertibkan—bisa keburu menghilang.(*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 15 Mei 2026, 10:49

Bandung dan Perjuangan Panjang Mengatasi Sampah

Kota Bandung tengah berjuang membenahi persoalan sampah lewat perubahan sistem, keterlibatan warga, dan upaya membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Beranda 15 Mei 2026, 10:34

Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

Komunitas Sesar Lembang Kalcer memakai dongeng, musik, dan seni untuk membangun kesadaran mitigasi gempa di Bandung tanpa menebar ketakutan.

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 10:25

Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit untuk Disimpulkan karena 'Omong Kosong'

Amat banyak kritik terlontar saat Pemprov Jabar secara resmi menetapkan 18 Mei sebagai Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 09:12

Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

Peringatan Hari Buku Nasional tidak hanya menjadi seremonial belaka tetapi bagaimana bisa menjadi refleksi dalam membangun citra kota Bandung

Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 20:19

Ketika Kemacetan Bisa Ditembus dengan Pengawalan

Fenomena pengawalan kendaraan di tengah kemacetan memunculkan persoalan keadilan ruang jalan, keselamatan lalu lintas, dan budaya privilese dalam sistem transportasi.

Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)
Wisata & Kuliner 14 Mei 2026, 17:18

Wisata Karang Tawulan, Pantai Tebing di Tasikmalaya dengan Lanskap Samudra Hindia

Karang Tawulan menawarkan panorama tebing karang, ombak besar Samudra Hindia, serta spot melihat Pulau Nusa Manuk dan situs ziarah ulama di Tasikmalaya selatan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 15:40

Ketika GOR Saparua Bandung Berguncang oleh Deretan Rocker Kawakan

Atmosfer rock Bandung yang sedang bergairah membuat “Super Rock ’84” menjadi salah satu pertunjukan paling semarak.

Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 11:37

Simfoni Hijau Tanah Priangan: Mengupas Cita Rasa Kearifan Lokal Gastronomi Sunda

Tanah Priangan tidak hanya menjanjikan pemandangan hijau yang memanjakan mata, tetapi juga simfoni rasa yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 10:49

6 Tahapan Sertifikasi Profesi BNSP, Fresh Graduate Wajib Tahu!

Masih bingung bagaimana alur sertifikasi profesi BNSP? Simak 6 tahapan sertifikasi profesi BNSP lengkap mulai dari pendaftaran, asesmen, hingga terbit sertifikat kompetensi resmi.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Beranda 13 Mei 2026, 21:00

Satu Tahun ayobandung.id dan Krisis Ingatan Kota

Setahun ayobandung.id diperingati lewat seminar tentang krisis ingatan Kota Bandung, membahas toponimi, lingkungan, dan pentingnya menjaga hubungan warga dengan kotanya.

T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 20:39

KDM dan Mas Nunu di Tahun 1990-an

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore.

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore. (Sumber: Facebook | Foto: Jadulover)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 18:37

Panduan Wisata Situ Gede Tasikmalaya, Botram di Danau Kota dengan Lanskap Tenang

Panduan wisata Situ Gede Tasikmalaya, danau alami dengan Pulau Nusa, perahu wisata, serta kisah tradisi lisan tentang Eyang Prabudilaya.

Wisata Situ Gede Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 16:58

Bandung Lautan Sampah

Kota Bandung masih menghadapi tantangan serius dengan 200 ton sampah per hari tidak terangkut.

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 14:15

Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

Kota Bandung tidak lepas dari peran seorang perempuan baik sebagai penggerak ekonomi kreatif maupun keterlibatannya dalam bidang sosial yang tidak luput dri tantangan sebagai perempuan multiidentitas.

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 06:42

5 Pantai Pilihan di Pelabuhan Ratu Sukabumi yang Wajib jadi Itinerary Wisata

Rekomendasi 5 pantai di Pelabuhan Ratu Sukabumi dengan karakter berbeda, dari pantai ramah keluarga hingga spot surfing terbaik.

Wisata Pantai Karang Hawu Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)