Ketika Iklan Sirup Jadi Penanda Ramadan Sudah Dekat

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Senin 09 Feb 2026, 10:29 WIB
Iklan sirup Marjan di bulan puasa (Sumber: YouTube.com/Marjan Boudoin)

Iklan sirup Marjan di bulan puasa (Sumber: YouTube.com/Marjan Boudoin)

Setiap tahun, ada satu momen sakral yang tidak tercatat dalam kalender Hijriah, tidak diumumkan Kementerian Agama, dan tidak menunggu sidang isbat. Ia datang diam-diam, tapi dampaknya nyata. Ya, iklan sirup Marjan muncul di televisi. Bagi banyak orang Indonesia, itulah pertanda paling jujur bahwa Ramadan sudah dekat. Bahkan, kadang lebih dipercaya daripada ramalan cuaca atau notifikasi aplikasi jadwal puasa.

Saya masih ingat, sebagai anak kecil, Ramadan bukan dimulai oleh niat, melainkan oleh suara khas iklan sirup yang berulang-ulang menjelang azan magrib di televisi tabung ruang keluarga. Dari situlah puasa memperoleh rasa, warna, dan—anehnya—makna.

Puasa pertama saya tidak diingat karena keberhasilan menahan lapar, melainkan karena kegagalan menahan imajinasi. Iklan sirup bekerja seperti mantra. Dalam kondisi tenggorokan kering dan perut kosong, segelas sirup di layar kaca tampak lebih jujur daripada realitas. Ia dingin, penuh es, berkilau, dan selalu diminum dengan ekspresi bahagia yang berlebihan.

Padahal, di rumah, yang tersedia sering kali hanya air putih atau teh manis yang gulanya “disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga.” Namun, di situlah puasa mulai mengajarkan filsafat hidup: antara yang ditampilkan dan yang dialami, selalu ada jarak. Dan jarak itulah yang harus diterima dengan ikhlas.

Ketika Iklan Lebih Puasa dari Kita

Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)

Ada humor kolektif yang terus berulang setiap Ramadan. Orang-orang bercanda, “Kalau belum lihat iklan Marjan, berarti belum sah Ramadan.” Iklan itu seolah lebih rajin berpuasa daripada kita—selalu tepat waktu, selalu konsisten, dan tidak pernah bolong.

Lucunya, iklan tersebut tidak pernah menyuruh kita membeli secara eksplisit. Ia hanya hadir, mengalir, dan menanamkan rasa. Ini bukan sekadar strategi pemasaran; ini adalah permainan bahasa yang canggih.

Filsuf bahasa, Ferdinand de Saussure membagi tanda menjadi dua unsur: penanda (signifier) dan petanda (signified). Iklan sirup adalah penanda. Ia berupa gambar, suara, dan narasi visual. Petandanya bukan sekadar minuman manis, melainkan Ramadan itu sendiri: kebersamaan, berbuka, keluarga, dan jeda dari hiruk-pikuk dunia.

Namun, makna tidak pernah berdiri sendiri. Ludwig Wittgenstein menyebut bahasa sebagai language of game — permainan yang maknanya ditentukan oleh konteks penggunaannya. Dalam konteks Indonesia, iklan sirup menjelang Ramadan bukan lagi iklan biasa. Ia adalah sinyal budaya. Ketika ia muncul, publik langsung memahami aturannya: waktu menahan diri akan segera dimulai.

Puasa sejatinya adalah latihan semiotika. Kita belajar membaca tanda-tanda: jam dinding, azan, cahaya senja, bahkan iklan. Kita menunda respon terhadap penanda lapar dan haus, karena memahami petanda yang lebih besar: disiplin, empati, dan kesadaran diri.

Iklan sirup menjadi ironis sekaligus relevan. Ia menggoda, tetapi juga mengingatkan. Ia menunjukkan apa yang belum boleh kita miliki sekarang, tetapi akan tiba pada waktunya. Dalam permainan bahasa puasa, menunda adalah bagian dari makna.

Setiap keluarga punya versi sendiri tentang Ramadan. Namun, iklan sirup menjadi semacam narasi bersama yang menyatukan pengalaman itu. Ia seperti lagu kebangsaan tak resmi bulan puasa—diputar berulang, kadang membosankan, tapi selalu dirindukan ketika tidak ada.

Di media sosial, orang menertawakan kemunculannya, membuat meme, dan mengaitkannya dengan usia: “Kalau iklan ini muncul, berarti saya sudah setahun lebih tua.” Humor ini bekerja karena kita berbagi penanda yang sama dan memahami petanda yang serupa.

Pada akhirnya, iklan sirup Marjan bukan sekadar iklan. Ia adalah teks budaya yang kaya. Ia mengajarkan bahwa makna tidak selalu datang dari hal yang serius. Kadang, makna justru muncul dari hal yang kita anggap remeh temeh dan berulang.

Ramadan mengajarkan kita untuk membaca dunia dengan lebih pelan, lebih sadar. Dan entah mengapa, pelajaran itu sering kali dimulai bukan dari mimbar, melainkan dari layar televisi—saat segelas sirup tampak lebih filosofis daripada buku tebal di rak. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Mei 2026, 20:08

'Jejak Rupa', Ruang Refleksi Perjalanan Seni Tjetjep Rohendi Rohidi

Pameran “Jejak Rupa” menghadirkan 123 karya Tjetjep Rohendi Rohidi yang merekam hubungan manusia dengan alam, ingatan, dan perubahan zaman.

Poster Jejak Rupa. (Sumber: Galeri Dago Thee Huis)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 17:11

Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia

Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.

Ilustrasi peristiwa Kenaikan Yesus Kristus yang dimaknai sebagai simbol pengorbanan, harapan, dan ketulusan dalam kehidupan manusia. (Sumber: Designed by Freepik)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 14:22

Media Liberal sebagai 'Sekolah Kedua' dan Krisis Moral Pelajar

Media liberal telah menjadi “sekolah kedua” yang membentuk pelajar dengan nilai kekerasan, hedonisme, dan kebebasan tanpa batas dalam sistem sekuler kapitalistik.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Wisata & Kuliner 15 Mei 2026, 10:56

Panduan Wisata Kebun Raya Cibodas, Taman Tertua di Kaki Gede Pangrango

Panduan wisata Kebun Raya Cibodas mencakup sejarah, koleksi tanaman, taman sakura, akses lokasi, harga tiket, serta tips berkunjung di kawasan dataran tinggi.

Kebun Raya Cibodas. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 15 Mei 2026, 10:49

Bandung dan Perjuangan Panjang Mengatasi Sampah

Kota Bandung tengah berjuang membenahi persoalan sampah lewat perubahan sistem, keterlibatan warga, dan upaya membangun budaya lingkungan yang berkelanjutan.

Warga RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani mengadaptasi pola penyelesaian sampah tanpa harus melakukan pengiriman ke TPA. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Beranda 15 Mei 2026, 10:34

Bandung, Dongeng, dan Cara Baru Menjinakkan Ketakutan akan Sesar Lembang

Komunitas Sesar Lembang Kalcer memakai dongeng, musik, dan seni untuk membangun kesadaran mitigasi gempa di Bandung tanpa menebar ketakutan.

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 10:25

Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit untuk Disimpulkan karena 'Omong Kosong'

Amat banyak kritik terlontar saat Pemprov Jabar secara resmi menetapkan 18 Mei sebagai Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Kabupaten Sumedang, Sabtu malam (2/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 15 Mei 2026, 09:12

Bandung sebagai Ensiklopedi Buku

Peringatan Hari Buku Nasional tidak hanya menjadi seremonial belaka tetapi bagaimana bisa menjadi refleksi dalam membangun citra kota Bandung

Pasar Buku Bekas Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 20:19

Ketika Kemacetan Bisa Ditembus dengan Pengawalan

Fenomena pengawalan kendaraan di tengah kemacetan memunculkan persoalan keadilan ruang jalan, keselamatan lalu lintas, dan budaya privilese dalam sistem transportasi.

Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)
Wisata & Kuliner 14 Mei 2026, 17:18

Wisata Karang Tawulan, Pantai Tebing di Tasikmalaya dengan Lanskap Samudra Hindia

Karang Tawulan menawarkan panorama tebing karang, ombak besar Samudra Hindia, serta spot melihat Pulau Nusa Manuk dan situs ziarah ulama di Tasikmalaya selatan.

Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 15:40

Ketika GOR Saparua Bandung Berguncang oleh Deretan Rocker Kawakan

Atmosfer rock Bandung yang sedang bergairah membuat “Super Rock ’84” menjadi salah satu pertunjukan paling semarak.

Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 11:37

Simfoni Hijau Tanah Priangan: Mengupas Cita Rasa Kearifan Lokal Gastronomi Sunda

Tanah Priangan tidak hanya menjanjikan pemandangan hijau yang memanjakan mata, tetapi juga simfoni rasa yang berakar kuat pada kearifan lokal.

Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ayo Netizen 14 Mei 2026, 10:49

6 Tahapan Sertifikasi Profesi BNSP, Fresh Graduate Wajib Tahu!

Masih bingung bagaimana alur sertifikasi profesi BNSP? Simak 6 tahapan sertifikasi profesi BNSP lengkap mulai dari pendaftaran, asesmen, hingga terbit sertifikat kompetensi resmi.

Ilustrasi wisuda kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Gül Işık)
Beranda 13 Mei 2026, 21:00

Satu Tahun ayobandung.id dan Krisis Ingatan Kota

Setahun ayobandung.id diperingati lewat seminar tentang krisis ingatan Kota Bandung, membahas toponimi, lingkungan, dan pentingnya menjaga hubungan warga dengan kotanya.

T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 20:39

KDM dan Mas Nunu di Tahun 1990-an

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore.

Tahun 1990-an dua model rambut Demi Moore dan Keanu Reeves menggila mempengaruhi kawula muda Bandung dan ada istilah KDM atau Korban Demi Moore. (Sumber: Facebook | Foto: Jadulover)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 18:37

Panduan Wisata Situ Gede Tasikmalaya, Botram di Danau Kota dengan Lanskap Tenang

Panduan wisata Situ Gede Tasikmalaya, danau alami dengan Pulau Nusa, perahu wisata, serta kisah tradisi lisan tentang Eyang Prabudilaya.

Wisata Situ Gede Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 16:58

Bandung Lautan Sampah

Kota Bandung masih menghadapi tantangan serius dengan 200 ton sampah per hari tidak terangkut.

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 14:15

Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

Kota Bandung tidak lepas dari peran seorang perempuan baik sebagai penggerak ekonomi kreatif maupun keterlibatannya dalam bidang sosial yang tidak luput dri tantangan sebagai perempuan multiidentitas.

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 06:42

5 Pantai Pilihan di Pelabuhan Ratu Sukabumi yang Wajib jadi Itinerary Wisata

Rekomendasi 5 pantai di Pelabuhan Ratu Sukabumi dengan karakter berbeda, dari pantai ramah keluarga hingga spot surfing terbaik.

Wisata Pantai Karang Hawu Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)