Ketika Iklan Sirup Jadi Penanda Ramadan Sudah Dekat

3 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Iklan sirup Marjan di bulan puasa (Sumber: YouTube.com/Marjan Boudoin)
Iklan sirup Marjan di bulan puasa (Sumber: YouTube.com/Marjan Boudoin)

Setiap tahun, ada satu momen sakral yang tidak tercatat dalam kalender Hijriah, tidak diumumkan Kementerian Agama, dan tidak menunggu sidang isbat. Ia datang diam-diam, tapi dampaknya nyata. Ya, iklan sirup Marjan muncul di televisi. Bagi banyak orang Indonesia, itulah pertanda paling jujur bahwa Ramadan sudah dekat. Bahkan, kadang lebih dipercaya daripada ramalan cuaca atau notifikasi aplikasi jadwal puasa.

Saya masih ingat, sebagai anak kecil, Ramadan bukan dimulai oleh niat, melainkan oleh suara khas iklan sirup yang berulang-ulang menjelang azan magrib di televisi tabung ruang keluarga. Dari situlah puasa memperoleh rasa, warna, dan—anehnya—makna.

Puasa pertama saya tidak diingat karena keberhasilan menahan lapar, melainkan karena kegagalan menahan imajinasi. Iklan sirup bekerja seperti mantra. Dalam kondisi tenggorokan kering dan perut kosong, segelas sirup di layar kaca tampak lebih jujur daripada realitas. Ia dingin, penuh es, berkilau, dan selalu diminum dengan ekspresi bahagia yang berlebihan.

Padahal, di rumah, yang tersedia sering kali hanya air putih atau teh manis yang gulanya “disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga.” Namun, di situlah puasa mulai mengajarkan filsafat hidup: antara yang ditampilkan dan yang dialami, selalu ada jarak. Dan jarak itulah yang harus diterima dengan ikhlas.

Ketika Iklan Lebih Puasa dari Kita

Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)

Ada humor kolektif yang terus berulang setiap Ramadan. Orang-orang bercanda, “Kalau belum lihat iklan Marjan, berarti belum sah Ramadan.” Iklan itu seolah lebih rajin berpuasa daripada kita—selalu tepat waktu, selalu konsisten, dan tidak pernah bolong.

Lucunya, iklan tersebut tidak pernah menyuruh kita membeli secara eksplisit. Ia hanya hadir, mengalir, dan menanamkan rasa. Ini bukan sekadar strategi pemasaran; ini adalah permainan bahasa yang canggih.

Filsuf bahasa, Ferdinand de Saussure membagi tanda menjadi dua unsur: penanda (signifier) dan petanda (signified). Iklan sirup adalah penanda. Ia berupa gambar, suara, dan narasi visual. Petandanya bukan sekadar minuman manis, melainkan Ramadan itu sendiri: kebersamaan, berbuka, keluarga, dan jeda dari hiruk-pikuk dunia.

Namun, makna tidak pernah berdiri sendiri. Ludwig Wittgenstein menyebut bahasa sebagai language of game — permainan yang maknanya ditentukan oleh konteks penggunaannya. Dalam konteks Indonesia, iklan sirup menjelang Ramadan bukan lagi iklan biasa. Ia adalah sinyal budaya. Ketika ia muncul, publik langsung memahami aturannya: waktu menahan diri akan segera dimulai.

Puasa sejatinya adalah latihan semiotika. Kita belajar membaca tanda-tanda: jam dinding, azan, cahaya senja, bahkan iklan. Kita menunda respon terhadap penanda lapar dan haus, karena memahami petanda yang lebih besar: disiplin, empati, dan kesadaran diri.

Iklan sirup menjadi ironis sekaligus relevan. Ia menggoda, tetapi juga mengingatkan. Ia menunjukkan apa yang belum boleh kita miliki sekarang, tetapi akan tiba pada waktunya. Dalam permainan bahasa puasa, menunda adalah bagian dari makna.

Setiap keluarga punya versi sendiri tentang Ramadan. Namun, iklan sirup menjadi semacam narasi bersama yang menyatukan pengalaman itu. Ia seperti lagu kebangsaan tak resmi bulan puasa—diputar berulang, kadang membosankan, tapi selalu dirindukan ketika tidak ada.

Di media sosial, orang menertawakan kemunculannya, membuat meme, dan mengaitkannya dengan usia: “Kalau iklan ini muncul, berarti saya sudah setahun lebih tua.” Humor ini bekerja karena kita berbagi penanda yang sama dan memahami petanda yang serupa.

Pada akhirnya, iklan sirup Marjan bukan sekadar iklan. Ia adalah teks budaya yang kaya. Ia mengajarkan bahwa makna tidak selalu datang dari hal yang serius. Kadang, makna justru muncul dari hal yang kita anggap remeh temeh dan berulang.

Ramadan mengajarkan kita untuk membaca dunia dengan lebih pelan, lebih sadar. Dan entah mengapa, pelajaran itu sering kali dimulai bukan dari mimbar, melainkan dari layar televisi—saat segelas sirup tampak lebih filosofis daripada buku tebal di rak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)