Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

6 menit baca
Kathryn Nauli Magdalena Siregar Sormin
Ditulis oleh Kathryn Nauli Magdalena Siregar Sormin diterbitkan
Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)

Tari Pendet bukanlah sekedar tarian yang memiliki estetika Bali yang dapat mudah memikat perhatian banyak kalangan masyarakat luas. Tari Pendet merupakan tarian yang memiliki unsur ritual sakral yang berdasarkan akar teologi keagamaan Hindu. Dasar tarian ini diciptakan sebagai bentuk persembahan kepada para dewata yang datang ke bumi (Sang Hyang Widhi Wasa).

Tarian ini oleh 4 penari perempuan dengan busana dan perabotan yang cukup sederhana namun indah untuk dipandang. Iringan musik yang mendukung keindahan tarian ini membuat Tari Pendet semakin menarik lagi untuk diketahui oleh dunia global. Semenjak era globalisasi, tarian ini dijadikan sebuah hiburan bagi para tamu atau wisatawan yang berdatangan ke Bali dan tarian ini sampai sekarang dikenal oleh masyarakat luas, baik dalam negeri maupun negara asing.

Tari Pendet merupakan tari tradisional Bali yang dapat dibilang cukup tua umurnya. Tari ini diciptakan sekitar tahun 1950-1967 oleh salah satu seniman berasal dari Bali bernama I Wayan Rindi. Beliau yang mempunyai penguasaan dalam menciptakan seluruh gerakan tariannya (Cipta Anggra, 2018).

Tarian ini tidak dapat terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali karena tarian ini ditampilkan sebagai sebuah pelengkap di dalam upacara-upacara yang sakral seperti piodalan yang dilaksanakan di dalam pura-pura atau tempat suci keluarga sebagai ungkapan rasa syukur dan juga sukacita atas kedatangan para dewata yang telah turun dari kayangan ke Bumi (Liputan6, 2024).

Tari Pendet ini dilakukan oleh 4 orang perempuan dengan busana kemben merah emas. Kemben merah emas yang digunakan melambangkan api suci/teja dan emasnya melambangkan kemakmuran ilahi. Mereka juga menggunakan sebuah kain panjang yang berwarna hijau dengan motif crap-crap yang disebut tapih. Dibagian pinggang mereka, dikenakan sabuk prada yang berwarna emas untuk mengencangkan kemben dan juga tapih yang mereka gunakan. Ada juga selendang yang ditaruh di pinggang mereka dan dibiarkan menjuntai begitu saja.

Tentunya mereka juga menggunakan aksesoris sebagai perhiasan yang membuat semakin indah kostum para penari. Mulai dari bagian kepala, mereka mengenakan bancangan (hiasan yang berbentuk mahkota) dan bunga (hiasan rambut berupa kamboja, mawar, dan jepun). Di bagian pergelangan tangan, mereka mengenakan gelang yang bernama gelang kana. Mereka juga menggunakan anting-anting tradisional Bali yang bernama subeng.

Para penari juga menggunakan peralatan seperti membawa bokor yang berisi canang sari, aneka bunga, dan kwangen sebagai pelengkap ritual. Sebagian diantaranya juga membawa berbagai peralatan upacara yang sakral seperti sangku, kendi, serta pasepan untuk mendukung kekhidmatan prosesi tersebut. Tarian ini dipandu oleh seorang pemangku/pemimpin upacara yang membawa pasepan (wadah pendupaan berisi kemenyan) yang akan dibakar untuk menyucikan suasana upacara (Cipta Anggara, 2018).

Iringan musik merupakan komponen yang sangat penting di dalam sebuah tarian karena dapat menentukan tempo dan dinamika setiap gerakan yang dilakukan oleh para penari. Iringan alat musik yang digunakan dalam Tari Pendet adalah gamelan Bali, gong kebyar, gendang, gangsa, reyong, suling, ceng-ceng, dan juga kajar. Setiap tempo yang dimainkan dalam tarian ini sangat bervariasi menyesuaikan bagian-bagian di dalam tarian tersebut, kadang lambat dan kadang cepat juga.

Komposisi tempo iringan musik terdapat bagian-bagiannya, yaitu pengawit (bagian pembuka dengan tempo irama yang lambat), pengentrag 1 (bagian tempo yang lebih cepat), pengadeg (bagian pertengahan dengan tempo yang lambat), dan pengentrag 2 (bagian akhir dengan irama cepat dan juga keras).

Gerakan dalam tarian ini sangatlah bervariasi dan memiliki banyak sekali makna yang mendalam, dari gerakan tangan hingga gerakan kakinya. Makna-makna tersebut tentunya tidak jauh dari ajaran keagamaan teologi Hindu Bali dan juga sosial masyarakat Bali. Ada gerakan yang paling unik dalam Tari Pendet adalah gerakan nyeregseg, yaitu gerakan melangkah kecil dengan posisi kaki yang ditekuk.

Gambaran para Penari Pendet dalam posisi berdiri (Sumber: Arsip Nasional)

Gerakan ini melambangkan nilai kerendahan hati, kesantunan, dan juga wujud penghormatan yang tulus kepada para dewa dan sesama manusia. Selain itu, ada juga gerakan ngumbang, yaitu gerakan memutar tubuh dengan halus yang melambangkan keharmonisan dan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Pola gerakan tangan dalam Tari Pendet juga mengandung makna spiritual yang mendalam, seperti gerakan ulap-ulap yang menyimbolkan penyambutan dan rasa hormat, serta gerakan nyelip yang merepresentasikan sisi estetika dan keanggunan seorang penari (Media Indonesia, 2025).

Selain variasi gerakan tubuh, ekspresi wajah atau seledet juga merupakan komponen yang penting di dalam pementasan Tari Pendet. Para penari diwajibkan untuk tampil dengan aura yang ceria, ramah, serta penuh dengan sukacita yang mendalam. Ekspresi tersebut melambangkan rasa semangat kebersamaan dan rasa syukur dalam menyambut kedatangan tamu maupun saat merayakan prosesi upacara suci.

Ada dua seniman, bernama I Wayan Rindi dan Ni Ketut Rendeng yang memasukkan suatu unsur yang membuat Tari Pendet menjadi populer di era modern. Dua seniman tersebut mengembangkan tarian ini, dari awalnya hanya untuk upacara yang bersifat sakral menjadi tarian pertunjukkan kepariwisataan di hotel hingga di bandara bagi para tamu asing yang berdatangan. Tari Pendet juga menjadi tarian pembukaan di berbagai pertunjukkan tari-tarian Bali. Tari Pendet ini juga pernah ditampilkan sebagai bentuk penyambutan di acara Asian Games pada tahun 1962 secara perdana, yang dibuka oleh Presiden Soekarno pada masa itu (Detik Bali, Delweys Octoria, 2022).

Namun, seiring perkembangannya zaman Tari Pendet ini banyak mengandung unsur (akrobatik hingga iringan musik elektronik) yang bertentangan dengan aturan desakala (ketepatan waktu dan tempat) yang sangat dijunjung tinggi dalam akar tradisi spiritual keagamaan Hindu.

Beberapa komunitas masyarakat Bali, seperti lembaga Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) ingin mendorong dan mengadakan pelatihan di berbagai institusi pendidikan seni, salah satunya ISI Denpasar. Tindakan tersebut diambil sebagai wujud pelestarian Tari Pendet sebagai bagian dari warisan budaya dunia di bawah perlindungan UNESCO. Pengakuan resmi sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity sendiri telah dicantumkan pada tarian ini sejak tahun 2015.

Dari Tari Pendet kita mendapatkan pelajaran yang berharga mengenai keberadaan keseimbangan antara warisan tradisi dan tuntutan modernitas. Di tengah arusnya era globalisasi, tarian ini menjadi peringatan yang krusial bagi kita akan pentingnya dalam memelihara akar spiritual keagamaan Hindu Bali, yang bukan sekadar memperkuat identitas lokal tetapi juga memberikan kontribusi terhadap kekayaan ragam budaya di era global sekarang. Melalui pendekatan yang cukup intens, Tari Pendet mampu berkembang menjadi penghubung antara masa lampau dan masa depan untuk memastikan aliran ritual sakralnya yang mengalir.

Tari Pendet merupakan salah satu budaya tradisional  Indonesia yang dikenal oleh banyak orang dan keberagaman budaya yang indah. Gerakan, kostum, perhiasan, hingga iringan musik yang digunakan untuk menyempurnakan tarian ini memiliki makna yang mendalam berdasarkan keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat Hindu Bali, yang dapat dijadikan juga pembelajaran bagi mereka untuk dapat hidup dalam ketentraman dan damai antara manusia dengan para dewata.

Tari Pendet ini juga banyak berkembang mengikuti alur zaman, awalnya sebagai bentuk persembahan terhadap para dewa dan sekarang juga digunakan sebagai penyambutan dan penghormatan terhadap para tamu-tamu yang berdatangan. Walaupun tarian ini banyak mengalami ancaman dikarenakan era modernisasi, banyak sekali masyarakat yang turun tangan secepatnya untuk dapat membuat sebuah kegiatan untuk membantu pelestarian Tari Pendet tersebut.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kathryn Nauli Magdalena Siregar Sormin
Mahasiswa Sejarah S1 Universitas Padjajaran
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)