Terkadang bahasa simbolik terlalu santun untuk menjelaskan ruang peradaban yang mulai kehilangan bentuknya. Acapkali, tradisi hanya menjadi perayaan seremonial tanpa lagi menghadirkan nilai-nilai kebudayaan yang melahirkannya. Di tengah percepatan teknologi, manusia justru semakin sulit membedakan mana kemajuan dan mana sekadar ilusi tentang kemajuan.
Revolusi logika yang menjadi simbol perubahan zaman seakan diposisikan sebagai puncak modernisasi yang selalu memperbarui era sebelumnya. Meski demikian, dalam kajian sejarah maupun sosiologi, tidak pernah terdapat konvensi ilmiah yang benar-benar menetapkan batas-batas suatu era berdasarkan hitungan kalender semata. Istilah seperti era milenial, Generasi Z, atau berbagai label generasi lainnya lebih banyak merupakan konstruksi sosial yang dipakai untuk membaca kecenderungan budaya, ekonomi, dan teknologi daripada kategori ilmiah yang bersifat absolut.
Dunia ini selalu dibangun oleh impian. Sayangnya, mimpi tidak pernah hadir secara simultan kepada semua orang. Dalam setiap revolusi, selalu ada kelompok yang menikmati hasil perubahan dan ada pula kelompok yang menanggung ongkosnya. Di titik inilah sejarah memperlihatkan wajah yang paradoksal. Revolusi sering dipahami sebagai jalan menuju kebebasan, tetapi pada saat yang sama melahirkan bentuk-bentuk kekuasaan baru yang menggantikan kekuasaan lama.
Karl Marx dalam Capital menunjukkan bahwa perkembangan kapitalisme selalu menghasilkan kontradiksi antara akumulasi modal dan kesejahteraan pekerja. Namun, perkembangan kapitalisme abad ke-21 melahirkan fenomena yang lebih kompleks daripada sekadar kelas buruh industri sebagaimana dibayangkan Marx. Fleksibilitas kerja, digitalisasi, ekonomi platform, serta kontrak jangka pendek menciptakan kelas sosial baru yang hidup dalam ketidakpastian permanen.
Kelas inilah yang oleh Guy Standing dalam bukunya The Precariat: The New Dangerous Class disebut sebagai prekariat.
Standing menjelaskan bahwa prekariat bukan hanya kelompok miskin. Mereka adalah individu-individu yang kehilangan kepastian hidup. Mereka bekerja tanpa jaminan sosial yang memadai, tanpa kepastian karier, tanpa perlindungan tenaga kerja yang kuat, bahkan tanpa identitas profesional yang stabil. Mereka dapat berupa pengemudi aplikasi, pekerja lepas, tenaga kontrak, pekerja kreatif, lulusan universitas yang berpindah dari satu pekerjaan sementara ke pekerjaan sementara lainnya, hingga kaum muda yang terus mengejar sertifikat tetapi tidak pernah benar-benar memperoleh kepastian ekonomi.
Dengan kata lain, kemiskinan bukan lagi sekadar persoalan pendapatan, melainkan hilangnya rasa aman terhadap masa depan.
Fenomena ini semakin relevan ketika dikaitkan dengan gagasan Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity. Bauman menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat cair, yaitu masyarakat yang seluruh institusinya kehilangan kestabilan. Pekerjaan menjadi sementara, hubungan sosial menjadi rapuh, bahkan identitas pribadi terus berubah mengikuti kebutuhan pasar. Dalam masyarakat cair, ketidakpastian bukan lagi penyimpangan, melainkan norma baru.
Di sisi lain, Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa ketimpangan tidak hanya diproduksi melalui modal ekonomi, tetapi juga melalui modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Mereka yang tidak memiliki akses terhadap jaringan, pendidikan berkualitas, atau legitimasi sosial akan semakin mudah terdorong ke dalam kondisi prekariat. Karena itu, menjadi prekariat sering kali bukan hasil dari kurangnya kerja keras, melainkan akibat struktur sosial yang memang menghasilkan ketidaksetaraan kesempatan.
Mengapa kaum prekariat selalu hadir di tengah impian-impian besar?
Jawabannya sederhana tetapi getir. Setiap proyek besar peradaban selalu membutuhkan biaya sosial (social cost). Ketika revolusi industri lahir, jutaan petani kehilangan tanahnya. Ketika revolusi digital berkembang, jutaan pekerjaan konvensional menghilang. Ketika kecerdasan buatan mulai menggantikan pekerjaan administratif, sebagian besar pekerja kembali dipaksa menyesuaikan diri tanpa jaminan bahwa mereka akan memperoleh tempat di masa depan.

Joseph Schumpeter menyebut proses ini sebagai creative destruction—penghancuran kreatif. Inovasi memang menciptakan kemajuan, tetapi pada saat yang sama menghancurkan struktur ekonomi lama. Persoalannya, yang sering dibicarakan hanyalah keberhasilan inovasi, sementara mereka yang menjadi korban transisi jarang memperoleh perhatian yang setara.
Dalam perspektif Michel Foucault, kekuasaan modern bekerja secara lebih halus dibandingkan masa lalu. Kekuasaan tidak selalu hadir melalui paksaan fisik, tetapi melalui mekanisme pasar, standar produktivitas, algoritma, dan disiplin kerja yang membuat individu terus merasa harus meningkatkan dirinya. Akibatnya, kegagalan struktural sering dipersepsikan sebagai kegagalan pribadi.
Di sinilah lahir paradoks terbesar masyarakat modern. Manusia didorong untuk percaya bahwa siapa pun dapat berhasil jika bekerja keras, padahal struktur ekonomi sendiri tidak menyediakan ruang yang cukup bagi semua orang untuk berhasil secara bersamaan. Meritokrasi akhirnya berubah menjadi narasi yang sering kali menyembunyikan ketimpangan struktural.
Indonesia pun tidak berada di luar dinamika tersebut. Pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan transformasi digital memang menghasilkan peluang baru. Namun, bersamaan dengan itu, jumlah pekerja informal tetap tinggi, kontrak kerja semakin fleksibel, dan banyak lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif. Di satu sisi, pembangunan menciptakan optimisme. Di sisi lain, sebagian masyarakat hidup dalam kecemasan yang terus-menerus karena masa depan mereka bergantung pada kontrak yang dapat berakhir kapan saja.
Prekariat bukanlah kelompok yang menolak kemajuan. Mereka justru sering menjadi penggerak utama ekonomi digital. Akan tetapi, mereka bekerja di dalam sistem yang belum sepenuhnya memberikan perlindungan. Mereka menjadi fondasi dari impian kolektif masyarakat modern, tetapi jarang menikmati hasilnya secara proporsional.
Karena itu, tantangan terbesar abad ke-21 bukan hanya menciptakan pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan bahwa kemajuan tidak menghasilkan manusia-manusia yang semakin rapuh. Negara perlu memperkuat sistem perlindungan sosial, memperluas akses pendidikan yang relevan dengan perubahan teknologi, meningkatkan kualitas pekerjaan, serta memastikan transformasi digital berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat manusia.

Amartya Sen melalui pendekatan Capability Approach mengingatkan bahwa pembangunan seharusnya diukur dari kemampuan manusia menjalani kehidupan yang bernilai, bukan semata-mata dari pertumbuhan produk domestik bruto. Kemajuan ekonomi kehilangan maknanya apabila manusia kehilangan kebebasan untuk hidup dengan rasa aman dan bermartabat.
Pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa setiap peradaban besar selalu dibangun oleh mereka yang namanya tidak tercatat. Kaum prekariat adalah para penyangga peradaban modern. Mereka mengantarkan masyarakat menuju masa depan, tetapi sering kali tidak memperoleh tiket untuk memasuki masa depan itu sendiri.
Mungkin karena itulah mimpi-mimpi besar selalu tampak megah dari kejauhan. Namun, jika kita melihat lebih dekat, di bawah fondasi setiap kemajuan terdapat jutaan manusia yang menggantungkan harapan pada hari esok yang belum pernah benar-benar dijanjikan kepada mereka. Selama pembangunan hanya menghitung angka, bukan martabat manusia, selama itu pula kaum prekariat akan terus hadir sebagai bayangan yang mengikuti setiap impian besar zaman. (*)