Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Terkadang bahasa simbolik terlalu santun untuk menjelaskan ruang peradaban yang mulai kehilangan bentuknya. Acapkali, tradisi hanya menjadi perayaan seremonial tanpa lagi menghadirkan nilai-nilai kebudayaan yang melahirkannya. Di tengah percepatan teknologi, manusia justru semakin sulit membedakan mana kemajuan dan mana sekadar ilusi tentang kemajuan.

Revolusi logika yang menjadi simbol perubahan zaman seakan diposisikan sebagai puncak modernisasi yang selalu memperbarui era sebelumnya. Meski demikian, dalam kajian sejarah maupun sosiologi, tidak pernah terdapat konvensi ilmiah yang benar-benar menetapkan batas-batas suatu era berdasarkan hitungan kalender semata. Istilah seperti era milenial, Generasi Z, atau berbagai label generasi lainnya lebih banyak merupakan konstruksi sosial yang dipakai untuk membaca kecenderungan budaya, ekonomi, dan teknologi daripada kategori ilmiah yang bersifat absolut.

Dunia ini selalu dibangun oleh impian. Sayangnya, mimpi tidak pernah hadir secara simultan kepada semua orang. Dalam setiap revolusi, selalu ada kelompok yang menikmati hasil perubahan dan ada pula kelompok yang menanggung ongkosnya. Di titik inilah sejarah memperlihatkan wajah yang paradoksal. Revolusi sering dipahami sebagai jalan menuju kebebasan, tetapi pada saat yang sama melahirkan bentuk-bentuk kekuasaan baru yang menggantikan kekuasaan lama.

Karl Marx dalam Capital menunjukkan bahwa perkembangan kapitalisme selalu menghasilkan kontradiksi antara akumulasi modal dan kesejahteraan pekerja. Namun, perkembangan kapitalisme abad ke-21 melahirkan fenomena yang lebih kompleks daripada sekadar kelas buruh industri sebagaimana dibayangkan Marx. Fleksibilitas kerja, digitalisasi, ekonomi platform, serta kontrak jangka pendek menciptakan kelas sosial baru yang hidup dalam ketidakpastian permanen.

Kelas inilah yang oleh Guy Standing dalam bukunya The Precariat: The New Dangerous Class disebut sebagai prekariat.

Standing menjelaskan bahwa prekariat bukan hanya kelompok miskin. Mereka adalah individu-individu yang kehilangan kepastian hidup. Mereka bekerja tanpa jaminan sosial yang memadai, tanpa kepastian karier, tanpa perlindungan tenaga kerja yang kuat, bahkan tanpa identitas profesional yang stabil. Mereka dapat berupa pengemudi aplikasi, pekerja lepas, tenaga kontrak, pekerja kreatif, lulusan universitas yang berpindah dari satu pekerjaan sementara ke pekerjaan sementara lainnya, hingga kaum muda yang terus mengejar sertifikat tetapi tidak pernah benar-benar memperoleh kepastian ekonomi.

Dengan kata lain, kemiskinan bukan lagi sekadar persoalan pendapatan, melainkan hilangnya rasa aman terhadap masa depan.

Fenomena ini semakin relevan ketika dikaitkan dengan gagasan Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity. Bauman menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat cair, yaitu masyarakat yang seluruh institusinya kehilangan kestabilan. Pekerjaan menjadi sementara, hubungan sosial menjadi rapuh, bahkan identitas pribadi terus berubah mengikuti kebutuhan pasar. Dalam masyarakat cair, ketidakpastian bukan lagi penyimpangan, melainkan norma baru.

Di sisi lain, Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa ketimpangan tidak hanya diproduksi melalui modal ekonomi, tetapi juga melalui modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Mereka yang tidak memiliki akses terhadap jaringan, pendidikan berkualitas, atau legitimasi sosial akan semakin mudah terdorong ke dalam kondisi prekariat. Karena itu, menjadi prekariat sering kali bukan hasil dari kurangnya kerja keras, melainkan akibat struktur sosial yang memang menghasilkan ketidaksetaraan kesempatan.

Mengapa kaum prekariat selalu hadir di tengah impian-impian besar?

Jawabannya sederhana tetapi getir. Setiap proyek besar peradaban selalu membutuhkan biaya sosial (social cost). Ketika revolusi industri lahir, jutaan petani kehilangan tanahnya. Ketika revolusi digital berkembang, jutaan pekerjaan konvensional menghilang. Ketika kecerdasan buatan mulai menggantikan pekerjaan administratif, sebagian besar pekerja kembali dipaksa menyesuaikan diri tanpa jaminan bahwa mereka akan memperoleh tempat di masa depan.

Puluhan warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Puluhan warga Dago Elos yang tergabung dalam Forum Dago Melawan melakukan aksi memperingati hari buruh internasional atau MayDay di Taman Cikapayang, Kota Bandung, Rabu 1 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Joseph Schumpeter menyebut proses ini sebagai creative destruction—penghancuran kreatif. Inovasi memang menciptakan kemajuan, tetapi pada saat yang sama menghancurkan struktur ekonomi lama. Persoalannya, yang sering dibicarakan hanyalah keberhasilan inovasi, sementara mereka yang menjadi korban transisi jarang memperoleh perhatian yang setara.

Dalam perspektif Michel Foucault, kekuasaan modern bekerja secara lebih halus dibandingkan masa lalu. Kekuasaan tidak selalu hadir melalui paksaan fisik, tetapi melalui mekanisme pasar, standar produktivitas, algoritma, dan disiplin kerja yang membuat individu terus merasa harus meningkatkan dirinya. Akibatnya, kegagalan struktural sering dipersepsikan sebagai kegagalan pribadi.

Di sinilah lahir paradoks terbesar masyarakat modern. Manusia didorong untuk percaya bahwa siapa pun dapat berhasil jika bekerja keras, padahal struktur ekonomi sendiri tidak menyediakan ruang yang cukup bagi semua orang untuk berhasil secara bersamaan. Meritokrasi akhirnya berubah menjadi narasi yang sering kali menyembunyikan ketimpangan struktural.

Indonesia pun tidak berada di luar dinamika tersebut. Pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan transformasi digital memang menghasilkan peluang baru. Namun, bersamaan dengan itu, jumlah pekerja informal tetap tinggi, kontrak kerja semakin fleksibel, dan banyak lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif. Di satu sisi, pembangunan menciptakan optimisme. Di sisi lain, sebagian masyarakat hidup dalam kecemasan yang terus-menerus karena masa depan mereka bergantung pada kontrak yang dapat berakhir kapan saja.

Prekariat bukanlah kelompok yang menolak kemajuan. Mereka justru sering menjadi penggerak utama ekonomi digital. Akan tetapi, mereka bekerja di dalam sistem yang belum sepenuhnya memberikan perlindungan. Mereka menjadi fondasi dari impian kolektif masyarakat modern, tetapi jarang menikmati hasilnya secara proporsional.

Karena itu, tantangan terbesar abad ke-21 bukan hanya menciptakan pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan bahwa kemajuan tidak menghasilkan manusia-manusia yang semakin rapuh. Negara perlu memperkuat sistem perlindungan sosial, memperluas akses pendidikan yang relevan dengan perubahan teknologi, meningkatkan kualitas pekerjaan, serta memastikan transformasi digital berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat manusia.

Amartya Sen melalui pendekatan Capability Approach mengingatkan bahwa pembangunan seharusnya diukur dari kemampuan manusia menjalani kehidupan yang bernilai, bukan semata-mata dari pertumbuhan produk domestik bruto. Kemajuan ekonomi kehilangan maknanya apabila manusia kehilangan kebebasan untuk hidup dengan rasa aman dan bermartabat.

Pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa setiap peradaban besar selalu dibangun oleh mereka yang namanya tidak tercatat. Kaum prekariat adalah para penyangga peradaban modern. Mereka mengantarkan masyarakat menuju masa depan, tetapi sering kali tidak memperoleh tiket untuk memasuki masa depan itu sendiri.

Mungkin karena itulah mimpi-mimpi besar selalu tampak megah dari kejauhan. Namun, jika kita melihat lebih dekat, di bawah fondasi setiap kemajuan terdapat jutaan manusia yang menggantungkan harapan pada hari esok yang belum pernah benar-benar dijanjikan kepada mereka. Selama pembangunan hanya menghitung angka, bukan martabat manusia, selama itu pula kaum prekariat akan terus hadir sebagai bayangan yang mengikuti setiap impian besar zaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Wisata & Kuliner 05 Jul 2026, 17:23

Cara Berkunjung ke Suku Baduy Banten, Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Datang ke Kanekes

Berencana ke Baduy? Ketahui rute menuju Ciboleger, larangan di Baduy Dalam, masa Kawalu, penginapan rumah warga, dan tips perjalanan sebelum berangkat.

Pemukiman di Desa Knekes, Banten, yang popular dengan sebutan Baduy. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 17:10

Merebut Simpati Masyarakat Desa dalam Ketahanan Pangan Bergizi

Ketercapaian pemerintah dapat dilihat ketika masyarakat di desa antusias untuk mempertahankan pangan yang aman dan amanah. 

Program makan bergizi gratis (MBG). (Sumber: kebumenkab.go.id)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 13:22

Sering Dianggap Lemah, Sains Buktikan Perempuan Lebih Kuat Tahan Rasa Sakit

Ungkap fakta sains tentang mekanisme proteksi saraf unik pada tubuh perempuan.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)